Dear Diary (Oneshoot)

Dear Diary

Title: Dear Diary

Author: D.O.ssy

Cast: Do Kyung Soo (D.O EXO), Seo Yoori (OC), Oh Sehun (Sehun EXO)

Genre: Angst, Romance, Sad

Rating: PG 15

Background Song: EXO – Baby Don’t Cry, Kris Allen – The Truth

Poster Credit: HRa @ Poster Channel

Sore hari yang sangat mendung menghiasi langit Seoul. Angin kencang bertiup menerbangkan dedaunan yang gugur berserakan di tepi jalanan. Awan tebal telah menaungi ibukota Korea itu sejak siang hari tadi. Tidak banyak orang yang berkeliaran tanpa membawa payung dan jas hujan karena diprediksikan hujan akan turun tak lama lagi.

Dan benar saja, rintik-rintik hujan mulai muncul membasahi setiap benda yang berada dibawah gumpalan kapas kelabu di angkasa itu. Rintik-rintik itu semakin banyak beberapa menit kemudian. Dan sekarang jalanan, taman, atap-atap rumah juga gedung bertingkat, taman bermain, dan seluruh permukaan kota Seoul sudah basah dibuatnya.

Di sebuah apartemen kecil dipinggiran kota, duduklah seorang yeoja disebuah kursi santai yang menghadap ke arah jendela yang beruap akibat perbedaan suhu di luar dengan suhu di dalam ruangan yang yeoja itu tempati.

Setelah beberapa lama memandangi pemandangan di luar jendela dengan wajah sendunya, yeoja itu mengeluarkan sebuah buku harian kecil. Ia mulai membuka lembaran-lembaran buku catatan berwarna biru yang sudah lusuh tersebut kemudian membaca isinya satu persatu. Tak jarang ia mengeluarkan air mata saat membaca kata demi kata yang tertulis disana. Buku itu membawanya kembali pada ingatan masa lalunya.

–**–

-FLASHBACK-

March 21st, 2012

Dear Diary.

Sudah 2 bulan lamanya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disini. Di sebuah bangunan kecil tempatku tinggal sampai saat ini. Tempatku bernaung dari teriknya sang raja siang, dinginnya udara saat hujan, dan ganasnya kehidupan malam. Betapa beruntungnya aku dipertemukan dengannya, seseorang yang baik hati yang mengulurkan bantuannya padaku yang kala itu sedang dirundung kebingungan.

Yeoja itu menghentikan sebentar kegiatannya, menulis buku hariannya. Ia teringat kembali akan kejadian 2 bulan lalu yang membawanya kesini.

-Flashback-

Hujan deras mengguyur kawasan kota Seoul malam hari ini. Dingin, itulah yang dirasakan orang-orang. Terlihat seorang yeoja manis berlari-lari menembus guyuran hujan. Segera ia berteduh di sebuah pohon besar menunggu hujan segera berhenti. Namun tetap saja sang pohon tidak bisa menaunginya dengan sempurna, percikan air hujan masih dapat mengenai tubuhnya yang kini menggigil kedinginan. Bukannya reda, hujan justru bertambah deras.

Ia terduduk sambil memeluk lututnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin yang ia rasakan. Entah apa yang dipikirkan yeoja itu, tapi raut kesedihan yang begitu mendalam terlukis jelas di wajah cantiknya.

“Biarlah hujan turun begini derasnya saja. Sekalipun ia reda aku tidak punya tempat tujuan untuk pergi,” rintihnya sambil terisak tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya.

Sudah 20 menit berlalu, hujan masih saja belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Yeoja yang berteduh dibawah pohon karena tidak ada tempat berteduh lain itu semakin menggigil luar biasa. Bagaimana tidak, suhu di tempat itu 46.8 Fahrenheit saat ini, ditambah lagi balutan jaket tebal berbulu yang dikenakannya sudah basah terkena guyuran hujan yang semakin lama semakin deras itu.

Namun tak terdengar satupun keluhan dari yeoja itu. Ya, beban di pikirannya jauh lebih berat sehingga tak ada waktu baginya untuk memikirkan kondisi tubuhnya yang luar biasa kedinginan.

“Agassi, sedang apa malam-malam begini? Kenapa kau tidak pulang?” tanya seorang namja yang datang tiba-tiba dari arah utara. Yeoja itu hanya menggelengkan kepalanya tanpa sedikitpun menoleh ke arah orang yang menanyainya.

“Ya ampun kau menggigil. Ayo ikut aku!” Namja itu menarik tangan sang yeoja untuk masuk ke bawah naungan payung biru besarnya kemudian membawanya pergi. Sedangkan sang yeoja hanya bisa diam dan menurutinya.

*

“Ayo masuklah. Kau basah kuyup, cepat mandi dan ganti bajumu. Nanti kau bisa masuk angin. Biar kusiapkan air panas untukmu.” Ternyata namja itu mengajak sang yeoja ke apartemennya. Sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Seoul. Apartemen yang sederhana namun sangat rapi dan nyaman untuk ditinggali. Tanpa banyak bicara, yeoja itu menuruti apa kata namja baik hati itu.

“Sekarang katakan dimana rumahmu? Biar kuantar kau pulang,” tanya namja itu setelah sang yeoja selesai mandi dan mengganti pakaian basahnya dengan pakaian milik sang namja. Kembali yeoja itu menggelengkan kepalanya.

“A.. aku tidak punya tempat tinggal..” jawab yeoja cantik berambut panjang itu parau. Ia mulai menangis.

“Ssshhhuutt.. Jangan menangis, tenanglah. Ini minumlah…” Yeoja itu mengangguk dan mulai menyeruput coklat hangatnya.

“Aku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa. Appa dan eommaku sudah lama bercerai. Aku memilih untuk tinggal bersama appa. Namun seminggu yang lalu ia meninggalkanku. Ia pergi entah kemana dan meninggalkan hutang yang besar. Aku terpaksa menjual rumahku untuk membayar hutang appa dan berhenti sekolah karena tidak punya biaya. Aku sedang mencari pekerjaan untuk biaya hidupku, tapi ternyata susah sekali apalagi aku ini belum lulus SMA. Aku juga tidak punya tempat tinggal,” cerita yeoja itu sambil terisak.

“Kalau begitu tinggallah disini..”

“Mwo?” Yeoja itu terkejut dengan penawaran sang namja.

“Kau bisa gunakan kamarku. Kajja!” Namja itu menarik tangan sang yeoja menuju ke sebuah kamar yang terletak di dekat ruang tengah.

“Whooaaa..” Yeoja itu tertegun begitu melihat kamar namja itu. Ya, kamar bercat putih yang tidak terlalu luas itu tertata sangat rapi, terdapat sebuah ranjang dengan sprei berwarna hitam-putih yang berada disamping sebuah laci kecil dengan sebuah lampu tidur dan beberapa buah foto sang namja yang terpampang disana. Meja belajar diletakkan tepat menghadap ke arah jendela. Buku-buku tertata rapi sesuai dengan kategori. Sebuah lemari dengan cermin yang besar meyatu dengan dinding di sudut ruangan. Adapula beberapa tanaman hias yang dipajang melengkapi ruangan yang tampak asri dengan konsep hitam-putih tersebut.

Tetapi raut wajah kebingungan masih terlihat di wajah sang yeoja. Masih ada keraguan baginya untuk menerima tawaran dari sang namja. Bagaimana bisa ia tinggal satu apartemen dengan seorang namja yang bahkan belum ia kenal.

“Tenang saja aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu kok,” ucap sang namja tiba-tiba seperti dapat membaca pikiran sang yeoja.

“Sekarang beristirahatlah. Kau pasti lelah,” sambungnya.

“Ne, gamsahamnida..” Namja itu tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar.

“Ah.. Chamkkanman!” teriak yeoja itu menghentikan langkah sang namja.

“Ne?”

“Aku belum tahu siapa kamu dan kenapa kau menolongku?”

“Ahh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Choneun Do Kyungsoo imnida. Kau?”

“Choneun Seo Yoori imnida.”

“Yoori, nama yang cantik. Ayo tidur-lah, ini sudah terlalu malam.”

“Kau belum menjawab semua pertanyaanku. Kenapa kau menolongku?” protes sang yeoja.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menolongmu. Memang kau tidak ingin ditolong?”

“Bukan begitu. Aku kaget saja karena tiba-tiba ada orang yang menolongku seperti ini, padahal kan kita belum saling mengenal.”

“Berbuat baik itu harus ditujukan untuk semua orang, bukan untuk orang yang dikenal saja kan?”

“Ne, kau benar. Gomawo, Kyungsoo-ssi.”

“Cheonma. Ahh, malah jadi ngobrol deh. Ayo tidur-tidur,” ucap namja itu sambil tersenyum menyuruh sang yeoja yang baru dikenalnya itu untuk lekas tidur. Kemudian ia keluar dari kamar.

-Flashback End-

Yeoja itu menghela nafas, kemudian ia meneruskan kalimatnya dalam buku harian berwarna birunya itu.

Awalnya aku merasa sangat canggung padanya. Bagaimana tidak? Dia bahkan orang yang sama sekali belum kukenal. Namun sekarang aku sudah bisa mengobrol akrab dengannya, ia baik sekali. Aku sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan dan sifatnya itu. Kyungsoo orang yang apik dan bersih, ia menata semua perabotan di apartemennya dengan sangat teratur. Ia juga jago memasak, masakannya lezat sekali. Oh ya, ia baru saja menerima kelulusan dari sekolahnya bulan Februari lalu. Seharusnya saat itu aku juga naik ke kelas 3 SMA, namun karena keadaanku, aku terpaksa berhenti sekolah. Sekarang aku bekerja sebagai petugas di sebuah perpustakaan dekat dengan pusat kota, sedangkan Kyungsoo melanjutkan kuliah sambil bekerja di sebuah restoran.

PPRRRAAANGGG…!!!

Terdengar suara dari arah dapur. Segera yeoja itu menutup buku catatan kesayangannya, menaruhnya di laci dan pergi ke arah sumber suara.

“Ada apa ini oppa?” Terlihat seorang namja tengah sibuk mencari sesuatu. Mata besarnya terlihat semakin bulat, tubuhnya penuh keringat, nafasnya terengah-engah, ekspresi wajahnya tidak karuan antara kaget, takut, kesal dan frustasi. Sungguh ekspresi yang terlihat sangat lucu di mata sang yeoja.

“Yoori-ya bantu aku. Ada tikus!” ucap namja itu sambil ngos-ngosan.

“Mwo? Tikus?! Mana mana?”

“Itu, itu…! Dia berlari ke arahmu!”

“Kyaaa…..!!!!” Yoori berteriak panik sambil meloncat-loncat takut kalau tikus itu menyentuh kakinya.

“Hiiaaahhhh…” Kyungsoo berusaha memukul tikus itu menggunakan sapu.

“Ahh sial! Tidak kena!”

“Rasakan tikus sialan!” kini giliran Yoori yang mencoba menangkap tikus itu.

Pprraaannggg.. Bbruukkk.. Bbraaakkk.. Ggubbraakkk.. Jjddeerrr.. Duaaarrrr (?)

Peperangan dimulai..

*

“Huaahhh oppa. Melelahkan sekali!” teriak Yoori puas setelah selama tiga setengah jam berburu tikus bersama Kyungsoo, akhirnya tikus nakal tersebut berhasil dilumpuhkan. Yah meskipun dapur jadi berantakan luar biasa seperti rumah yang habis terkena gempa.

“Ne, dasar tikus sialan. Bahan makanan di lemari habis semua deh!” Rupanya Kyungsoo masih kesal ternyata.

“Yang penting kan tikusnya sudah tertangkap, oppa. Hhmm.. Aku jadi heran kenapa bisa ada tikus? Padahal apartemen ini kan selalu bersih.”

“Molla. Mungkin karena ada kamu, tikus-tikus jadi datang kemari.”

“Iihh oppa jahat!” Yoori mempoutkan bibir mungilnya.

“Haha.. Ya sudah kau mandi duluan sana. Badanmu sudah banjir keringat begitu. Aku akan mandi setelah menyiapkan makan malam.”

“Ne..”

*

“Mwo? Sup tomat? Oppa kan tahu aku tidak suka tomat!” protes Yoori begitu melihat hidangan yang tersedia di meja makan.

“Yoori-ya tomat itu baik untuk kesehatan, terutama untuk kulitmu. Kau harus memakannya,” jawab Kyungsoo santai.

“Uukkhh dasar oppa jelek!” cibir yeoja itu lalu dengan berat hati mulai mencicipi hidangan tomatnya.

“Bagaimana? Enak, kan?”

“Hmmmm.. Ne, enak sekali oppa. Padahal aku tidak suka sup tomat, tapi kenapa sup tomat buatan oppa bisa seenak ini ya? Aneh sekali!”

“Tentu saja. Bahan makanan apapun kalau aku yang memasak pasti jadi enak. Haha..”

“Iya deh iya, koki muda jenius” ucap Yoori pasrah.

“Kelak kalau aku punya kekasih, aku akan memasakkan makanan pagi, siang dan malam yang lezat untuknya setiap hari..” Kyungsoo menghela nafas panjang.

“Aku akan menjaganya selalu, dan tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Aku akan menyuruhnya untuk diam di rumah, karena akulah yang akan bekerja mencari uang untuknya,” sambungnya sambil terus mengaduk-aduk supnya yang belum ia makan.

“Wah, gadis yang menjadi yeojachingumu pasti akan sangat beruntung.”

“Ya, kuharap begitu.” Senyum tipis tersungging di wajah namja itu.

“Ne, dia pasti akan sangat beruntung karena tidak usah memasak dan bersih-bersih karena semuanya ditanggung olehmu. Haha..”

“Aku ingin melakukan semua itu untukmu.”

“Mwo?”

“Yoori-ya, maukah kau menjadi yeojachinguku?”

–**–

Diary.. Hari ini benar-benar penuh kejutan. Sungguh benar-benar hal yang tidak terduga. Kyungsoo oppa memintaku untuk menjadi yeojachingunya. Bagaimana bisa? Kami baru 2 bulan saling mengenal, banyak yang belum kuketahui tentang dirinya, begitu pula sebaliknya, ia pun belum sepenuhnya mengenalku.

“Menjadi yeojachingumu?”

“Ne, kau mau kan?” Sesaat Yoori terdiam, yeoja itu tampak gelisah memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Kyungsoo.

“Ahh mianhae, aku tidak bermaksud untuk membuatmu bingung. Tak perlu kau jawab pun tak apa,” ucap Kyungsoo tersenyum kecut.

“Aniyo.. Oppa, aku mau kok jadi yeojachingumu,” jawab Yoori pelan sambil menunduk.

“Jeongmal?” tanya Kyungsoo setengah tak percaya. Yoori hanya mengangguk pelan tanpa menatap namja dihadapannya itu.

“Gomawo Yoori-ya..” Senyum kebahagiaan terlukis jelas di wajah polos Kyungsoo.

Ne, aku menerimanya untuk menjadi namjachinguku, meskipun sebenarnya aku ragu akan jawabanku sendiri. Ya, aku sayang padanya, tapi.. aku belum mencintainya dan tak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi yeojachingunya. Jujur aku menerimanya karena aku tak bisa menolaknya. Selama ini aku banyak berhutang budi padanya. Ya, aku merasa bersalah, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Entah apa yang terjadi jika aku menolaknya. Diary, aku memang jahat ya?

Yoori menutup buku diarynya. Kemudian ia merebahkan diri di kasur empuk milik Kyungsoo. “Apakah aku bisa mencintai Kyungsoo oppa seperti aku mencintai dia?” gumam yeoja itu kemudian menarik selimut hingga menutupi setengah bagian tubuhnya.

–**–

Tokk.. Tokk.. Tookkk…

“Yoori-ya, bangun sudah pagi! Sarapan sudah siap!” teriak Kyungsoo membangunkan yeojachingunya sambil mengetuk pintu kamar.

“Ne, oppa. Aku sudah bangun. Sebentar lagi aku kesana,” jawab Yoori dari dalam kamar.

“Wajahmu berantakan sekali, ada apa?” tanya Kyungsoo begitu melihat yeoja itu keluar menuju ruang makan.

“Ani.. Gwaenchana, oppa. Aku cuma tidak bisa tidur saja.” Yoori duduk di kursinya menghadap ke meja makan yang sudah tersedia makanan yang dimasak Kyungsoo. Semalam Yoori tak bisa tidur sama sekali. Seberapa kalipun ia mencoba menutup mata, ia tetap tidak bisa tidur. Ia merasa sangat gelisah memikirkan kejadian saat makan malam kemarin.

“Oh begitu. Kenapa kau tak bangunkan aku saja? Jadi aku bisa menemanimu semalaman.”

“Ani, aku tidak mau mengganggu tidur oppa.” Ia menyeruput susu coklat hangatnya.

Kyungsoo menggeleng. “Ani, kau tak akan pernah menggangguku kok chagi.” Yoori terdiam sejenak mendengar pernyataan yang dikatakan namja yang sudah resmi menjadi namjachingunya itu.

“Emm.. Gomawo oppa,” jawab Yoori gugup, ia tertunduk tak berani menatap Kyungsoo.

Mereka berdua mulai memakan sarapan mereka.

Hening..

Tak seperti biasanya, suasana makan terasa hening saat ini. Tidak ada yang memulai pembicaraan, tidak ada obrolan dan canda tawa yang biasa mereka lakukan, yang terasa hanyalah suasana canggung diantara mereka berdua. Hingga akhirnya Kyungsoo mulai bersuara.

“Emm, Yoori-ya..”

“Ne?”

“Berhentilah bekerja dan lanjutkan sekolahmu.”

“Mwo?”

“Ne, aku tidak ingin melihatmu dalam keadaan putus sekolah seperti ini. Kebetulan aku punya uang simpanan, jadi kau bisa menggunakannya untuk biaya sekolahmu,” ucap namja itu tulus.

“Jeongmal?”

Kyungsoo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Gomawo oppa!” teriak Yoori riang. Kyungsoo pun ikut tertawa senang.

“Tapi aku tidak akan berhenti bekerja, oppa. Aku juga ingin membantu oppa.”

“Tidak perlu Yoori-ya. Biar aku saja yang bekerja.”

“Tapi oppa…”

“Tidak apa-apa kok, Yoori-ya. Aku kan pernah bilang, kalau aku punya yeojachingu aku akan menyuruhnya untuk diam di rumah, karena akulah yang akan bekerja mencari uang untuknya. Kau ingat?”

“Ne, mianhae oppa. Aku sudah terlalu banyak merepotkan oppa.”

“Aku tidak keberatan kok dibuat repot oleh yeoja yang kusukai.”

Deg..

Entah kenapa perkataan Kyungsoo tadi terasa sesak di hati Yoori. Ia menyadari betapa tulusnya Kyungsoo menyukainya, membuatnya merasa bersalah menerima pernyataan cinta namja itu karena sebuah alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.

“Kajja!” ajak Kyungsoo setelah makanan di piringnya telah habis disantap.

“Mwo? Mau kemana, oppa?”

“Ke sekolah barumu.”

“Aku akan masuk sekolah sekarang?”

“Ya sekarang lah. Kapan lagi? Tahun depan?”

“Ahh.. Chamkkanmanyo!” buru-buru Yoori berlari kecil mengejar namjachingunya yang sudah menunggu di depan apartemen untuk pergi menuju sekolahnya.

-2 Months Later-

“Aku pulang..” teriak Yoori sambil berlari masuk ke apartemen mungil yang ia dan Kyungsoo tinggali.

“Bagaimana sekolahmu?” sambut Kyungsoo.

“Iih oppa gayanya udah kaya eomma-eomma yang nanyain anaknya yang masih TK.” Yoori sedikit risih dengan pertanyaan yang selalu namjachingunya lontarkan setiap hari sepulangnya dari sekolah.

“Haha.. Aku kan hanya ingin menanyai keadaan yeojachinguku yang cantik. Memangnya tidak boleh?”

“Kenapa tidak antar aku ke sekolah tiap hari dan awasi aku selama di sekolah sekalian?” Yoori memanyunkan bibirnya.

“Haha.. Kau ini. Ya sudah, aku berangkat dulu ya..”

“Ne, paii paii oppa.. Hati-hati!” Yoori melambaikan tangannya mengantar kepergian Kyungsoo menuju tempat kerjanya seperti biasa.

Dari jendela apartemen Yoori hanya bisa menatap namjachingunya yang berlalu meninggalkan tempatnya. Segera ia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang berkeringat. Ia menyantap makanan yang dibuatnya kemudian masuk ke kamarnya.

May 18h, 2012

Dear Diary.

Musim semi berjalan sangat cerah. Dua bulan yang menyenangkan di SMA. Aku bertemu teman-teman baru. Ada Jung Eun Ri yang cerewet, Kang Ji Yoo yang pendiam, Kim Jong In yang tampan dan Huang Zi Tao yang seram. Mereka semua teman-teman yang baik. Aku juga punya wali kelas yang luar biasa baik hati, Kim Jong Dae seonsaengnim. Oh ya, entah kenapa Jongin selalu caper padaku. Eunri bilang sih, Jongin menyukaiku. Apa benar? Haha.. Sudahlah.

Di apartemen, hubunganku dengan Kyungsoo baik-baik saja. Kami jadi semakin akrab. Dia mengajariku memasak. Sekarang kami sering masak bersama. Rasanya sangat menyenangkan. Meskipun sampai saat ini hatiku masih belum bisa menganggapnya sebagai namjachinguku, tapi aku bertekad untuk berusaha mencintainya. Aneh memang, karena cinta itu tidak untuk dipaksakan. Tapi kupikir inilah jalan terbaik untuk kelangsungan hubungan kami. Aku akan berusaha!

Yoori menarik nafas panjang. Pikirannya terbawa imajinasi sekarang. ‘Appa, eomma.. kalian sedang apa? Apa kalian baik-baik saja? Aku merindukan kalian,’ batin Yoori.

Ya, memang sudah lama sekali rasanya Yoori tidak merasakan belaian kasih sayang kedua orang tuanya semenjak mereka bercerai. Tidak bisa dipungkiri ada sedikit rasa kecewa, kesal dan marah yang timbul di hati Yoori atas nasibnya akibat perceraian kedua orang tuanya. Ditambah lagi appanya yang pergi begitu saja meninggalkannya dengan hutang yang sangat besar yang membuatnya harus kehilangan tempat tinggal. Tapi dibalik semua itu, Yoori merasa sangat bersyukur. Mungkin ini cara Tuhan mempertemukannya dengan Kyungsoo, namja pendiam, baik hati, jago memasak, yang sangat peduli padanya, yang memberikan kasih sayang menggantikan kedua orangtuanya.

Tapi entah mengapa hati Yoori masih belum bisa terbuka untuk menerima Kyungsoo. Padahal selama ini Kyungsoo lah yang selalu ada untuknya, yang merangkulnya untuk bangkit dan melupakan kesedihannya, menemaninya dalam keadaan apapun, mencintai dan memberinya kasih sayang yang tulus.

‘Kenapa aku belum bisa mencintai Kyungsoo seperti dia mencintaiku?’ batin Yoori. ‘Apa karena dia?’

Bayang-bayang masa lalu Yoori merasuki pikirannya. Masa lalu yang masih tersimpan di hati dan pikiran yeoja itu selalu saja mengikuti langkahnya, seperti hantu yang menggentayanginya setiap malam. Apa benar ‘dia’ yang menyebabkan Yoori tidak bisa membuka hatinya untuk Kyungsoo?

“Arrrgghhh.. Andwae, andwae.. Kau harus melupakannya Yoori!” yeoja itu meneriaki dirinya sendiri.

“Ahh.. Daripada berpikiran yang tidak-tidak lebih baik aku berbelanja bahan makanan untuk nanti malam,” gumam yeoja itu. Kemudian ia segera beranjak dari tempat tidurnya.

–**–

“Uugghh.. Berat sekali!” gerutu Yoori. Ia menjinjing 2 bungkusan besar belanjaan yang baru dibelinya di supermarket. Dengan susah payah ia menyeret langkahnya untuk kembali ke apartemen dengan membawa bungkusan besar berisi berbagai macam bahan makanan itu.

“Seo Yoori…!” langkah Yoori terhenti ketika mendengar seorang namja memanggil namanya dari arah belakang. Suara itu.. Suara yang sangat familiar di telinga Yoori. Bukan! Bukan suara Kyungsoo! Tapi..

Yoori terbelalak kaget setelah ia membalikkan badannya untuk menengok siapa yang memanggilnya tadi. Seketika tangan dan kakinya bergetar hebat, begitu pula dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia masih berdiri mematung melihat namja itu. Sosok namja tampan dengan milky skin-nya yang sedang tersenyum begitu menyadari bahwa yeoja yang ia cari sudah ditemukannya.

“Yoori-ya…” Dengan cepat namja tadi memeluk yeoja dihadapannya.

“Aku merindukanmu Yoori-ya.. Apa kau juga merindukanku?”

‘Ya aku juga merindukanmu Oh Sehun,’ ucap Yoori dalam hati karena bibirnya serasa terkunci tak kuasa mengatakannya langsung pada namja bernama Oh Sehun itu.

Oh Sehun, namja yang sangat Yoori cintai. Dulu..

Ya, dia lah yang selama ini menghantui pikiran Yoori, yang membuat Yoori sangat kesulitan untuk membukakan pintu hatinya untuk siapapun, bahkan untuk namjachingunyasendiri, Kyungsoo.

Sehun adalah mantan kekasih Yoori saat masih SMP. Ia sangat tampan, baik hati, pintar dan kaya raya. Sungguh sosok namja impian bagi semua yeoja. Betapa beruntungnya Yoori bisa mendapatkan hati namja itu. Meskipun akhirnya hubungan mereka kandas karena sang namja harus menuntut ilmu di luar negeri.

Tak dapat disangkal lagi bahwa Yoori memang masih menyimpan perasaan pada namja itu. Tapi kenapa dia muncul di saat seperti ini? Di saat Yoori sudah memiliki namjachingu.

-Yoori POV-

“Wah sekitar sini sudah banyak yang berubah ya! Padahal aku baru meninggalkan Korea 3 tahun,” ucap Sehun padaku.

“Ne, ngomong-ngomong kapan kau kembali ke Korea? Bagaimana sekolahmu di Jepang?” tanyaku penasaran sambil sibuk menghabiskan es krimku. Ya, kami sedang mampir di sebuah cafe tak jauh dari sana.

“Seminggu yang lalu. Kebetulan aku sedang liburan sekolah, makanya aku kemari. Setelah lulus nanti aku akan kembali ke Korea dan kuliah disini. Oh ya, bagaimana keadaan eomma dan appamu? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka.”

“Uhhukkk..” pertanyaan Sehun membuatku tersedak. Iya ya, dia pasti belum tahu keadaan orangtuaku yang bercerai dan appa yang meninggalkanku.

“Ehhmm.. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Karena letak SMA ku jauh dari rumah, aku pindah ke sebuah apartemen dekat sekolah,” lanjutku berbohong. Aku tidak ingin dia tahu keadaanku sekarang.

“Begitu.. Jadi kau tinggal sendirian?”

“Ehhmm.. N.. nee..” jawabku gugup.

“Emm.. Yoori-ya, kau sudah punya namjachingu?” kembali aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Sehun.

“Ehhmmm.. Be.. belum, memangnya kenapa?” Aku gelagapan. Astaga, apa yang sudah aku katakan?

“Ahh, gwaenchana. Aku cuma takut kalau kau sudah punya namjachingu, nanti dia marah karena aku malah mengajakmu makan seperti ini. Ternyata belum rupanya. Haha.. Aku juga belum punya yeojachingu lagi semenjak kau memutuskan aku waktu itu,” tambahnya.

“Begitu.. Haha..” aku hanya bisa tertawa-tawa garing.

“Emm.. dimana apartemenmu? Biar kuantar kau pulang ya!”

“Ahh tidak perlu, tidak jauh kok..”

“Oke baiklah, kapan-kapan kita ketemu lagi ya.” Namja itu tersenyum.

Hari sudah semakin larut, kujinjing barang belanjaanku masuk ke apartemen. Kyungsoo oppa sudah pulang. Tanpa bicara apapun kumasukkan bahan makanan itu ke dalam lemari es kemudian aku langsung masuk ke dalam kamar. Kyungsoo oppa terlihat bingung melihat sikapku, tapi aku tidak mempedulikannya. Segera kurebahkan tubuh lelahku.

Kedatangan Sehun sungguh tak terduga. Sesaat aku merasa sangat senang atas kehadirannya yang sungguh aku tunggu-tunggu, mengisi kerinduan yang selama ini kurasakan. Tapi disaat yang bersamaan aku menyadari, ini semua salah.

Tuhan.. Kenapa ia harus muncul di saat seperti ini? Di saat aku ingin melupakannya, di saat aku ingin membukakan pintu hatiku untuk namja lain. Kenapa aku berbohong padanya tentang keadaan keluargaku, tentang kehidupanku sekarang, tentang Kyungsoo namjachinguku? Arrgghh.. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Aku sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi.. Menyesal, bingung.. Itulah yang kurasakan saat ini.

 

–**–

Hari sudah malam, kenapa Kyungsoo oppa belum pulang juga ya? Ahh, kuputuskan untuk menjemputnya di tempat kerjanya. Kulangkahkan kakiku cepat menuju halte bus yang ada di persimpangan jalan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, aku sampai di sebuah restoran tempat Kyungsoo oppa bekerja. Segera kumasuki bangunan tersebut.

“Sudah malam, sudah waktunya pulang, Kyungsoo-shi. Jam kerja lemburmu hari ini juga sudah selesai.” Terdengar dua orang namja tengah berbincang-bincang.

“Ne.. Sebentar lagi, aku sedang bersih-bersih,” jawab namja bermata bulat disana sambil sibuk mengelap meja dan sesekali menyeka peluh di wajahnya, ia yang tak lain adalah Kyungsoo oppa.

“Kau bekerja keras sekali hari ini,” ucap namja yang satunya lagi, yang memiliki lesung di pipinya.

“Ah iya. Aku ingin memberikan sesuatu untuk Yoori makanya aku kerja lembur.”

“Sampai segitunya ya kau menyayangi yeojachingumu itu?”

“Ne, Lay-shi. Aku sangat menyayanginya. Kalau bisa aku ingin memberikan segala yang kumiliki untuknya.”

Degg..

Aku tertegun mendengar perkataan yang meluncur manis dari bibir Kyungsoo. Sampai sebegitunya kah dia menyukaiku?

“Lho, Yoori-ya kenapa kau ada disini?” teriak Kyungsoo terkejut, begitu menyadari keberadaanku disini.

“Lay-ssi, aku pulang duluan ya! Kajja, Yoori-ya!” namja itu berpamitan pada temannya kemudian menarikku keluar dari restoran.

Kyungsoo membawaku ke sebuah toko boneka. Ia membelikanku sebuah boneka penguin yang cukup besar. Kemudian kami membeli es krim dan menikmatinya sambil berjalan-jalan kecil di sekitar sungai Han. Entah mengapa Kyungsoo tiba-tiba mengajakku jalan-jalan seperti ini.

“Yoori-ya, kau tahu tidak mengapa aku memberikanmu boneka penguin itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

“Ani..” jawabku sambil menggelengkan kepalaku.

“Soalnya aku seperti penguin.”

“Maksudmu?”

“Ah, tidak. Lupakan saja,” jawabnya.

“Oppa.. Mengapa oppa menyukaiku?” tanyaku penuh tanda tanya. Kulihat Kyungsoo oppa sedikit terkejut dengan pertanyaanku.

“Aku sendiri tidak tahu..” jawabnya seadanya. Suasana jadi berubah canggung.

“Emm.. Oppa, ceritakan dong tentang pengalaman hidupmu.” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Mwo? Untuk apa?”

“Ya, aku penasaran saja, habis kau tidak pernah sekalipun menceritakan apa-apa tentang dirimu. Aku juga kan ingin mengenalmu.”

Ia hanya tersenyum tipis, lalu mulai berbicara.

“Nasibmu dan nasibku tidak jauh berbeda. Ditinggal appa dan eomma. Bedanya, appa dan eommaku tidak akan pernah bisa kutemui lagi. Mereka berdua meninggal ketika menyelamatkanku dari bencana yang hampir merenggut nyawaku.” Kyungsoo menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan kembali ceritanya.

“Seperti yang kau ketahui, aku suka memasak, eommaku mengajariku memasak sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga suatu saat aku membuat kesalahan. Rumahku kebakaran karena ulahku, appa sekuat tenaga menyelamatkanku. Ia melindungiku ketika aku hampir tertimpa bongkahan kayu besar dengan bara api, akhirnya aku berhasil terselamatkan, namun tidak dengan appaku. Begitu juga dengan eommaku. Ia meninggal karena terkurung di lantai 2 dan belum sempat appa selamatkan karena appa menyelamatkanku terlebih dahulu,” Kyungsoo bercerita padaku panjang lebar, kulihat wajahnya sudah basah oleh air mata. Entah apa yang merasuki pikiranku tapi dengan refleksnya aku memeluk namja itu. Ia pun membalas pelukanku dengan eratnya seolah tidak ingin kehilanganku, seolah aku adalah keluarga terakhir yang ia miliki.

“Mianhae oppa. Sudah mengingatkanmu tentang hal itu.” Tanpa kusadari air mataku ikut menetes membasahi bajunya.

–**–

Lyin’ next to you, wishing I could disappear

Let you fall asleep and vanish out into thin air

It’s the elephant in the room and we pretend that we don’t see it

It’s the avalanche that looms above our heads, but we don’t believe it

Tryin’ to be perfect. Tryin’ not to let you down

Honesty is honestly the hardest thing for me right now

While the floors underneath our feet are crumblin’

The walls we built together tumblin’

I still stand here holdin’ up the roof

‘Cause it’s easier than telling the truth

“Ya, Yoori-ya habis dari mana saja kau? Kenapa tengah malam begini baru pulang?” seru Kyungsoo begitu aku melangkahkan kaki masuk ke apartemen.

“Aku habis mengerjakan tugas di rumah Eunri, oppa.”

“Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Kau seharusnya memberitahuku dulu, aku mengkhawatirkanmu, Yoori-ya!” Kyungsoo sedikit kesal.

“Ne, arraseo. Mianhae oppa, aku lelah, aku ingin tidur..” jawabku kemudian berlalu begitu saja menuju kamar meninggalkan namja yang masih kesal itu. Kembali kubuka buku diaryku.

May 27th, 2012

Dear Diary.

Hari Minggu yang cerah ini aku memenuhi ajakan Sehun untuk pergi berjalan-jalan bersamanya. Ia mengajakku ke Seoul Grand Park. Sebuah taman besar di kota Seoul dengan segala macam fasilitas hiburan dan kebun binatang yang indah dikelilingi oleh alam.

-Flashback-

“Sehun-ah ayo kita naik kereta gantung itu!” seruku sambil menarik tangan namja berambut cokelat tersebut.

“Ne.. Sabar, sabar.. Kau semangat sekali hari ini,” ucap namja itu menuruti keinginanku untuk segera naik ke wahana kereta gantung tersebut.

“Wahh.. Lihat-lihat.. Pemandangannya indah sekali dari atas sini!” ucapku dengan gembira.

Ya, memang pemandangan di Seoul Grand Park tampak sangat indah dari dalam kereta gantung. Warna-warni bunga sakura, forsythia dan azalea yang sudah mekar di musim semi ini menghiasi bentangan lahan yang entah berapa hektar luasnya itu. Terlihat orang-orang yang berkunjung kemari berkerumun di sepanjang jalan taman wisata untuk merayakan pesta musim semi. Kualihkan pandanganku ke arah lain. Terlihat biri-biri sedang berlari-lari di hamparan rerumputan karena dikejar anak-anak kecil yang bermain disana, sedangkan para orang tua mereka sibuk mengawasi. Terlihat pula beberapa orang seniman sedang melukis pemandangan dihadapannya, seorang namja yang memetik bunga mawar untuk yeojanya dan beberapa orang pengunjung memberi makan gajah dengan buah-buahan segar yang dibelinya.

Sungguh pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya, ini adalah pertama kalinya aku ke taman wisata itu. Kyungsoo oppa belum pernah mengajakku kesana, tentu saja karena kami memang belum pernah pergi berkencan.

Grepp..

Aku terkesiap bukan main. Ya, aku sangat terkejut ketika Sehun mendekap tubuhku tiba-tiba. Ia memelukku erat dan membenamkan wajahnya di pundakku.

“Yoori-ya, kembalilah.. Kembalilah menjadi yeojachinguku, jebal.. Aku tidak sanggup lagi jika harus kehilanganmu,” bisiknya tepat di telingaku.

Tuhan.. Apa benar ini nyata? Katakan padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi.

Perlahan Sehun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat.. Terus mendekat. Hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku. Ia menutup matanya. Jantungku berdetak cepat.

Aarrgghh..

Apa yang kulakukan? Kudorong tubuh Sehun. Aku diam menunduk dan mencoba mengendalikan perasaan dan emosi di hatiku.

“Ahh.. Mianhae Yoori-ya. Kau tidak perlu memberikan jawabanmu sekarang. Pikirkanlah baik-baik. Aku akan menunggumu,” katanya sambil tersenyum.

-Flashback End-

Saat itu rasanya bagai tertimpa durian runtuh. Bagaimana tidak, selama ini Sehun lah namja yang sangat kucintai dan selalu kunanti. Dan sekarang dia memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali. Aku benar-benar senang, sangat senang, apalagi ketika ia akan menciumku. Namun pada saat itu pula aku sadar, aku tidak boleh melakukannya!

Tuhan.. Apa yang sebenarnya harus kulakukan? Aku sudah terlampau jauh melakukan hal yang salah. Apakah aku harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Sehun bahwa aku sudah mempunyai Kyungsoo oppa, namjachingu yang sebenarnya tidak kucintai? Ataukah aku putuskan saja hubunganku dengan Kyungsoo oppa, lalu kembali pada Sehun?

Kupejamkan mataku yang sudah mengantuk. Hari ini terasa panjang dan melelahkan sekali.

–**–

Aku berada di sebuah ladang. Ladang yang luas dan dipenuhi semak dan ilalang. Aku berdiri seorang diri disana. Kuputar pandanganku ke segala arah. Samar-samar kulihat ada dua orang dari kejauhan. Aku berjalan mendekati kedua orang tersebut dan betapa terkejutnya aku.. Dua orang itu adalah appa dan eommaku.

“Yeobo, kumohon jangan tinggalkan aku!” Terlihat appa memohon-mohon kepada eomma.

“Andwae! Dari dulu aku tidak pernah mencintaimu! Kalau bukan karena hamil, aku tidak akan pernah menerimamu! Aku ingin kita pisah! Aku tak tahan hidup bersamamu! Bawa pergi anakmu!” teriak eomma kalap kemudian berlari meninggalkan appa.

Apa ini? Apa yang terjadi? Eomma,, appa.. Apa benar itu? Apa benar aku adalah anak yang tidak kalian harapkan? Kakiku bergetar hebat.. Air mata mulai menetes deras membanjiri wajahku.

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa.

Ppllaasssshhhhh..

Setelah beberapa menit berlalu suasana terang kembali. Sekarang aku sudah berada di sebuah ruangan kecil. Disana ada appa, ia menghadap sebuah meja milik seseorang yang menggunakan jas hitam. Terdapat dua orang pengawal berdiri di belakang orang yang berjas itu.

“Tuan Seo, batas waktu perjanjian sudah habis. Cepat lunasi semua hutang-hutangmu!” bentak orang itu.

“Maafkan saya Tuan Kim, saya mohon beri saya waktu sedikit lagi!” pinta appaku.

Brraaakkkkk…..

“Apa!! Ini sudah kesekian kalinya anda meminta kelonggaran waktu!” Orang yang bernama Kim itu menggebrak mejanya.

“Tuan Kim saya mohon sekali lagi. Saya janji akan melunasi hutang-hutang itu secepatnya!”

“Tidak ada tapi-tapian….!!!!!!”

Aku hanya bisa diam menyaksikan kejadian didepanku. Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba salah seorang pengawal tuan Kim memukul wajah appa hingga ia terpelanting jatuh ke lantai. Kemudian pengawal yang satunya lagi menendang perut appa membuat darah segar menyembur dari mulutnya. Ya Tuhan, apa yang mereka lakukan pada appa?

Hingga akhirnya aku terperanjat hebat ketika tuan Kim berdiri dan menodongkan pistol di kepala appa.

Dddoooorrrr!!!!!!!!!!

“Aaaapppppaaaaaaaaa………!!!” aku berteriak kencang. Dan saat itu pula aku tersadar dari mimpi burukku. Wajahku sudah banjir keringat dan air mata. Badanku terasa lemas sekali. Apa semua yang kulihat itu benar? Apa benar aku adalah anak buangan? Apa benar appa sudah tidak ada lagi di dunia ini?

Tanpa sadar, kuseret langkahku menuju ruang tengah. Kulihat Kyungsoo oppa tertidur diatas sofa.

“Oppa..” Entah apa yang membuatku ingin membangunkan namja itu.

“Hmm.. Ada apa chagi?” Kyungsoo bangun sambil mengucek-ngucek matanya.

“Oppa, aku takut. Temani aku tidur..”

“Ne, baiklah..” jawabnya sambil mengusap lembut rambutku yang basah oleh keringat.

Aku membaringkan kembali tubuhku di atas kasur sambil memeluk erat boneka penguin pemberian Kyungsoo oppa. Namja itu menyelimutiku, kemudian ia duduk di sebuah kursi di tepi ranjang menghadap ke arahku. Kugenggam erat tangan lembutnya. Kucoba kembali memejamkan mataku.

Baby don’t cry, tonight

Eodumi geodhigo namyeon

Baby don’t cry, tonight

Eobseotdeon il-i dwell geoya

Baby don’t cry, tonight

After the darkness has lifted

Baby don’t cry, tonight

It’ll be like nothing ever happened

Kudengar Kyungsoo bersenandung, menyanyikan sebuah lagu untukku.

Moolgeo-poom-i dueneun geoseun niga aniya,

Ggeutnae molla ya hae deon

So baby don’t cry, cry

Nae sarangi neol jikilteni

You will never become a bubble,

In the end you don’t have to know

So baby don’t cry, cry

For my love will protect you.

Ia mencium keningku lembut. Kemudian ia kembali dalam tidurnya dengan tanganku yang masih bertautan dengan tangannya.

Air mataku menetes kembali.

Kyungsoo oppa, gomawo..

Gomawo, sudah mengkhawatirkanku hari ini. Mianhae, aku berbohong padamu, mengatakan belajar bersama Eunri padahal pergi bersama Sehun.

Gomawo, sudah memberikan tempat tinggal dan meminjamkan kamarmu untukku. Mianhae, karena itulah kau harus tidur di sofa ruang tengah selama ini. Mianhae, aku selalu mengacak-acak kamarmu.

Gomawo, sudah menyisihkan uangmu untuk membiayai sekolahku. Mianhae, aku tidak bisa membantumu bekerja. Mianhae, aku selalu merepotkanmu.

Gomawo, sudah memberikan segalanya untukku. Gomawo, sudah menyayangiku, mengasihiku, mencintaiku sepenuh hatimu. Mianhae, aku.. aku…..

–**–

May 30th, 2012

Dear Diary.

Hari ini sudah kuputuskan semuanya. Keputusan atas semua kebimbangan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa salah satu pihak pasti akan tersakiti. Itu tidak bisa dielakkan lagi. Tapi kuharap inilah jalan yang terbaik.

 

“Oppa.. Aku akan pergi, mianhaeyo..”

“Kenapa kau minta maaf? Memangnya kau mau pergi ke mana?” tanya Kyungsoo tidak mengerti dengan ucapanku.

“Aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi, oppa. Aku ingin semua ini berakhir,” jawabku terbata-bata.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Aku ingin kita putus. Kita tidak mungkin bersama lagi, oppa.” Kyungsoo tampak sangat terkejut.

“Wa.. Waeyo?” tayanya seakan tak percaya dengan pernyataanku.

“A.. Aku.. Aku menyukai namja lain..” jawabku pelan.

Kulihat Kyungsoo terdiam, ia menunduk. Tangan dan kakinya bergetar hebat. Cukup lama ia hanya diam seperti itu. Namun kemudian ia menengadahkan kepalanya.

“Arraseo..” jawabnya yang membuatku terkejut.

“Oppa…” Kutatap wajahnya dalam-dalam.

“Gwaenchana. Aku mengerti. Pergilah..” sambungnya sambil tersenyum. Senyuman yang sungguh sangat dipaksakan.

“Gomawo, oppa..” aku membungkukkan badan kemudian melangkah pergi membawa barang-barangku yang telah kukemas tadi malam.

Kupercepat langkahku. Kemudian aku menengok lagi ke belakang, bermaksud untuk melihat Kyungsoo oppa untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan aku melihat namja itu kini terduduk di depan pintu. Wajahnya merah dan penuh air mata. Ya, dia menangis sambil memegangi dadanya. Aku tak dapat mendengarnya tapi kuyakin ia sedang menangis keras, ia terisak tak karuan. Sungguh, aku tak sanggup untuk melihatnya lagi.

Diary, hari ini bisa jadi hari terberat dalam hidupku. Dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya. Kau bisa bilang aku tega, tidak punya perasaan, kejam, egois, tidak tahu balas budi, tidak tahu malu. Namun inilah keputusanku. Aku tahu ini tidaklah mudah tapi mau-tidak mau aku harus segera melakukannya. Aku tidak bisa lagi membohongi Kyungsoo, Sehun juga perasaanku sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan bersama Kyungsoo, membiarkan dia terus mencurahkan kasih sayangnya padaku padahal aku sendiri tidak pernah mencintainya dan malah menyukai orang lain. Bayangkan betapa terluka hatinya jikalau aku terus membiarkannya seperti itu. Walau kutahu ini akan sangat menyakitkan, tapi mungkin inilah jalan yang terbaik. Mianhae, Kyungsoo oppa. Jeongmal mianhaeyo..

Kubalikkan badanku dan terus berjalan. Tak terasa air mataku mulai menetes. Kenapa kakiku terasa berat sekali?

Tokk.. Tookkk.. Tookkk..

“Yoori-ya, bangun, sudah pagi! Sarapan sudah siap!”

“Tomat itu baik untuk kesehatan, terutama untuk kulitmu. Kau harus memakannya!”

“Yoori-ya, bantu aku. Ada tikus!”

Langkahku semakin berat. Kenapa ini? Kenapa bayangan Kyungsoo terus berputar di kepalaku?

“Kelak kalau aku punya kekasih, aku akan memasakkan makanan pagi, siang dan malam yang lezat untuknya setiap hari..”

“Berhentilah bekerja dan lanjutkan sekolahmu!”

“Aku kan hanya ingin menanyai keadaan yeojachinguku yang cantik. Memangnya tidak boleh?”

Jantungku berdetak sangat cepat.

Aaarrgghh.. Kenapa ini?

Perasaan apa ini?

Mungkinkah aku…?

Tidak mungkin!

“Ayo Yoori.. Kau harus kuat! Inilah keputusanmu! Bukankah kau akan kembali bersama Sehun, namja yang kau cintai?” Sekuat tenaga kuyakinkan diriku sendiri. Meskipun berat, kucoba untuk terus berjalan meninggalkan semuanya. Meninggalkan kenanganku bersama Kyungsoo-oppa.

–**–

“Gomawo, Yoori-ya.. Saranghae..!” teriak Sehun girang setelah kukatakan padanya bahwa aku menerimanya kembali menjadi namjachinguku. Ya, taman ini akan menjadi saksi bisu kisah cintaku yang akan kurajut kembali dengan Sehun. Ia memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya. Tapi entah mengapa ada yang aneh disini. Aku tidak merasakan apa-apa saat Sehun memelukku. Aku tidak merasa senang, aku tidak merasa nyaman, aku tidak merasa berdebar-debar. Aku merasa hambar.

“Lho, ada apa chagi?” Pertanyaan Sehun membuyarkan lamunanku.

“Ahh.. Ani.. Tidak ada apa-apa..”

–**–

Malam ini Sehun mengajakku makan malam di sebuah restoran. Aku memenuhi ajakannya tentunya.

“Chagi, aku benar-benar tidak menyangka waktu kau mengatakan mau menjadi yeojachinguku kembali. Aku senang sekali!” ujar namja itu di sela-sela makan malam kami.

“Ne..” Aku hanya bisa tersenyum hambar menjawab pernyataannya.

“Ahh.. Pinjam ya!” Aku menunjuk iPhone Sehun yang tergeletak di atas meja.

“Ehh.. Mmm.. Ne..” Ia sedikit terkejut, namun akhirnya memperbolehkanku meminjamnya. Segera kuraih gadget itu.

“Siapa ini?” tanyaku begitu melihat banyak sekali selca Sehun bersama dengan seorang yeoja.

“Emm.. Itu sepupuku.”

“Ohh, begitu ya..”

Tiba-tiba datanglah seorang yeoja. Yeoja itu adalah yeoja yang ada di foto tadi! Ia tampak sangat marah, kemudian datang mendekati kami. Dan..

Pllaakkkk…

Astaga, ia menampar Sehun!

“Apa yang kau lakukan disini bersama yeoja itu Sehun? Kau selingkuh, hah?!!” teriaknya. Sehun terlihat sangat panik.

“Aku tak menyangka ternyata kau adalah namja brengsek!” yeoja itu terlihat kalap ia mulai memukuli dada namja itu. Aku hanya bisa diam menyaksikan peristiwa di depanku. Begitu ya?

Tanpa banyak bicara aku berdiri kemudian berlari keluar dari restoran.

“Yoori-yah..!!” teriak Sehunmemanggilku. Aku tidak mempedulikannya.

Sakit..

Dadaku sakit sekali. Aku menangis sejadinya sambil terus berlari.. Bukan! Bukan karena Sehun! Tapi karena Kyungsoo. Entah kenapa hanya ada Kyungsoo dipikiranku saat ini. Aku menyesal.. Sangat menyesal!

*

Malam semakin pekat. Aku berjalan gontai tanpa arah dan tujuan.

Tes.. Tes..

Hujan mulai turun, menimbulkan sensasi dingin bagi semua orang. Aku duduk berteduh di bawah sebatang pohon besar karena tidak ada tempat berteduh lain.

Rasanya aku kembali lagi ke masa itu. Masa sebelum aku bertemu namja itu..

“Agassi, sedang apa malam-malam begini? Kenapa kau tidak pulang?”

“Sshhhutt.. Jangan menangis. Tenanglah!”

“Kalau begitu tinggallah disini. Kau bisa gunakan kamarku.”

Bayangan Kyungsoo kembali bermain di pikiranku.

“Aku tidak keberatan kok dibuat repot oleh yeoja yang kusukai.”

“Ne, Lay-shi. Aku sangat menyayanginya. Kalau bisa aku ingin memberikan segala yang kumiliki untuknya.”

So baby don’t cry, cry. Nae sarangi neol jikilteni..

So baby don’t cry, cry. For my love will protect you.

Arrgghh.. Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus kembali pada Kyungsoo?

Tidak! Aku sudah sudah terlanjur melangkah.. Aku sudah terlanjur menyakitinya..

“Hai yeoja manis, sedang apa malam-malam begini?” Aku tersentak kaget melihat dua orang pria setengah baya sudah ada di hadapanku. Mereka membawa botol minuman keras.

Ya Tuhan, aku takut..

Salah seorang dari mereka mencoba mencolek pipiku. Secepat kilat kutepis tangan besarnya. Aku berusaha menjauh.

Brakk..

Salah seorang lagi menggebrakku dan mengunciku di pohon besar itu. Ia semakin mendekatkan wajahnya padaku. Arrgghh.. Kutendang perut yankee itu lalu aku berlari sekencang-kencangnya, tak peduli dengan hujan yang turun sangat deras malam ini.

Nafasku terengah-engah. Akhirnya aku berhenti berlari. Dimana tempatku saat ini, aku tidak tahu. Beginikah rasanya pergi tanpa tujuan? Beginikah rasanya menghadapi ganasnya kehidupan malam? Aku.. Sangat takut..

Kuperhatikan sekelilingku, mobil-mobil berlalu lalang di jalanan, orang-orang berjas hujan berjalan kesana-kemari sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya akulah yang bingung. Bingung entah kemana harus kulangkahkan kaki ini. Bingung harus seperti apa aku menjalani hidup tanpa ada siapapun disampingku, tanpa ada atap yang menaungiku. Bodoh.. Betapa bodohnya aku ini! Aku mengambil keputusan yang sangat salah!

‘Untuk apa lagi aku mempertahankan hidupku, toh aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini?Aku hanya anak buangan yang tidak punya apa-apa, kalaupun aku mati saat ini juga, tidak akan ada yang khawatir padaku bukan?’ sekelibat pemikiran gila terlintas di benakku.

Terlihat sebuah truk besar dari arah timur melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tersenyum. Inilah saatnya.. Semuanya akan segera berakhir hari ini juga. Kulangkahkan kakiku cepat ke tengah jalan, berharap truk itu segera menghantam tubuhku.

Tiiiiiiinnnnn… Tiiiinnnnnnnnnnnnn…….

 

Bruuuukkkk…

Aku terseret ke trotoar. Seseorang menarikku.

“Pabo! Kau ingin mati, hah?!” teriaknya.

“Kyungsoo oppa?” Aku terkejut melihat seseorang yang tadi menolongku. Tiba-tiba ia memelukku erat.

Deg.. Deg..

Entah mengapa kurasakan sesuatu yang tak biasa. Jantungku berdebar dengan kencangnya. Apa aku mencintainya?

“Ke.. Kenapa? Kenapa kau ada disini?” tanyaku pelan. Lalu dengan refleksnya ia melepaskan pelukannya.

“Ahh.. Mianhae Yoori-ya.. Tidak seharusnya aku ada disini. Haha.. Mianhaeyo..” jawabnya sambil tertawa-tawa perih lalu berjalan pergi.

Grepp..

Langkahnya kini terhenti. Aku memeluk namja itu dari belakang. Rasanya, aku tidak sanggup lagi jauh darinya.

Tuhan.. Berikan aku kesempatan lagi untuk mengulangnya, mengulang saat-saat bersamanya. Aku sungguh-sungguh menyesal atas apa yang telah kulakukan.

Kurasakan badannya gemetaran, ia terisak dalam tangisannya.

“Yoori-ya..!!” Sayup-sayup terdengar lagi suara seseorang memanggilku. Orang itu.. Sehun!

“Hei apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh yeojachinguku!” teriak Sehun sambil mendorong keras tubuh Kyungsoo. Kulihat Kyungsoo hanya menunduk pasrah dan tersenyum getir. Sehun menarikku dan membawaku pergi, sedangkan Kyungsoo hanya diam mematung menatap kepergianku dengan wajah sendunya.

“Lepaskan aku!!” teriakku pada Sehun.

“Aku tidak akan melepaskanmu. Kau yeojachinguku sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu bersama namja lain!”

“Apa yeojachingu katamu? Berkencan dengan yeoja lain, begitu caramu memperlakukan yeojachingumu, hah?! Dasar namja berengsek!!” Ia tak peduli dan terus menarik tanganku dengan kasarnya.

“Ahh, sakit! Lepaskan Sehun! Lepaskan!!” Aku berontak. Air mataku sudah tak tertahan lagi. Tapi ia justru malah semakin menguatkan genggaman tangannya.

“Hei, kau dengar tidak? Lepas katanya!” ucap seseorang sambil menepuk pundak Sehun. Ya, dia Kyungsoo. Entah mengapa dia sudah ada di belakang kami.

“Heh, memang apa urusannya denganmu? Dia yeojachinguku!” bentak Sehun.

“Kau namjachingunya? Memang ada ya namjachingu yang memperlakukan kasar yeojachingunya? Lihat dia kesakitan tuh! Khajja Yoori-ya,” ucap Kyungsoo dengan santainya kemudian menarik lembut tanganku dan mengajakku pergi.

“Kurang ajar!”

Bugghhh…

Sehun memukul wajah Kyungsoo dengan sangat keras. Tak terima dengan perbuatan yang dilakukan Sehun, Kyungsoo membalas pukulannya. Perkelahian akhirnya terjadi.

“Hentikan kalian berdua!!” Sekuat tenaga aku berusaha menghentikan kedua orang namja itu.

“Aaaahhh…!” Aku tersungkur ke tanah setelah terkena pukulan Sehun dan membuat darah segar menetes dari sudut bibirku. Melihat itu, Kyungsoo menatap marah pada Sehun. Ia mendorong dan menendang perut Sehun bertubi-tubi membuat namja jangkung itu memuntahkan darahnya. Namun Sehun bangkit kemudian ia menjambak rambut Kyungsoo dan membentur-benturkannya ke tembok bangunan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku benar-benar seperti orang bodoh yang sedang menonton pertunjukan kedua orang petinju kelas teri yang sedang bertarung memperebutkanku. Untuk apa sebenarnya mereka berkelahi? Untukku? Bahkan aku pun merasa bahwa mereka juga sama-sama bodoh melakukan itu. Aku sama sekali bukan orang yang pantas..

Mereka berdua sudah benar-benar kalap. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka roboh, lebih tepatnya Kyungsoo yang roboh. Sebilah pisau tertancap di perutnya, merobek nadi dan organ yang ada di dalamnya. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Sehun tampak panik atas apa yang telah diperbuatnya dan segera melarikan diri.

“Oppa..!!” Aku berteriak histeris. Ia merintih menahan rasa sakit.

“Aku akan panggil bantuan!” Aku panik luar biasa.

“Jangan! Tetap disini!” Kyungsoo oppa menahan tanganku.

“Ke.. kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau melindungiku?”

“Karena aku tidak mau melihatmu terluka..” jawab Kyungsoo ditengah rintih kesakitannya.

“Bukan begini caranya! Kau tidak harus melakukan ini untukku! Aku sama sekali tidak pantas untukmu!” Aku sudah tidak bisa lagi menahan tangisku.

“Karena aku seperti penguin, kau ingat? Karena aku mencintaimu, Yoori-ya. Aku ingin melindungimu, aku tidak ingin kau terluka, aku ingin melihatmu bahagia..” lirihnya. “Kelak kalau aku tidak ada disampingmu lagi, carilah orang yang baik yang bisa menjagamu. Jangan seperti aku yang kalah dalam berkelahi. Haha..”

“Apa yang kau bicarakan? Ini sama sekali tidak lucu. Kau akan baik-baik saja, oppa. Kau akan sembuh!”

Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan. “Hiduplah dengan bahagia, Yoori-ya.. Saranghaeyo..” bisiknya lemah.

“Na.. Nado.. saranghaeyo, oppa…”

Ia tersenyum penuh arti ke arahku. Senyum termanis yang pernah kulihat. Senyum bahagia ditengah rasa sakit yang ia rasakan. Juga senyuman terakhir yang ia berikan untukku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Saat ini, ingin rasanya kuberlari dan mengubur diri.Namja yang telah kusakiti berkorban untukku, berkorban nyawanya untukku.

-FLASHBACK END-

Yeoja itu menutup buku harian birunya. Dipeluknya boneka penguin miliknya erat-erat.

“Yoori-ya.. Hujan sudah reda. Ayo kita pergi,” ujar seorang namja yang muncul dari arah pintu sambil mengulurkan tangannya. Yeoja itu tersenyum dan bangkit meraih tangan sang namja.

May 30th, 2013

Hari ini tepat setahun kepergianmu. Namun bayang-bayangmu masih terus melekat di hati dan pikiranku.

  

Yeoja itu menaruh rangkaian bunga di depan sebuah nisan. Ia menautkan jari-jari kedua tangannya dan mulai menunduk berdoa. Sama halnya dengan namja yang ada di sampingnya, Kim Jong In.

 

Penguin adalah makhluk yang setia. Jika pasangannya pergi, maka ia akan menderita bahkan sampai ia mati.

Merelakan seseorang yang dicintai pergi demi orang lain memang sangat menyakitkan.Tetapi rasa sakit itu terhapus sudah, setelah melihat orang itu bahagia. Itulah yang Kyungsoo lakukan. Demi kebahagiaan orang yang dicintainya ia sanggup mengorbankan apapun yang dimilikinya bahkan nyawanya sendiri.

 

Gomawo oppa, sudah mengajariku apa arti cinta sesungguhnya..

  

“Jongin-ah, aku sudah selesai berdoa. Ayo kita pergi,” ajak Yoori.

“Ahh.. Ne.. Kau mau kemana, chagi?”

“Hmm.. Aku ingin pergi ke taman..”

“Baiklah.. Kajja!”

Jongin menggenggam tangan Yoori. Mereka berduapun akhirnya pergi meninggalkan pusara yang bertuliskan Do Kyung Soo disana.

  

Jika kau menyukai seseorang karena ia tampan, itu bukanlah cinta melainkan nafsu. Jikakaumenyukai seseorang karena ia pintar melakukan sesuatu, itu bukanlah cinta tapi kagum. Jika kaumenyukai seseorang karena ia baik padamu, itu bukan cinta tapi balas budi. Jikakaumenyukai seseorang karena ia kaya, itu bukan cinta tapi matre. Tetapi jika kau menyukai seseorang padahal kau tak tahu mengapa kau menyukainya, itulah cinta.

Sosok Sehun memenuhi 4 kriteria tersebut. Tampan, pandai, baik hati, kaya raya. Sosok yang memang terlihat sempurna bagi semua yeoja, termasuk aku. Namun baru kusadari akan satu hal, jangan mencari orang yang sempurna untuk dicintai, tapi cintailah orang yang mencintaimu dengan sempurna. Itulah kesalahan terbesar yang pernah kuperbuat, aku menyia-nyiakan seseorang yang mencintaiku dengan sempurna demi orang yang sempurna. Sempat kuberpikir, andai aku bisa memutar waktuku kembali, aku ingin memperbaiki segalanya dari awal. Ah, sudahlah.. Tak ada gunanya kusesali karena jika semua ini tak terjadi aku tidak akan mengambil pelajaran darinya, bukan begitu?

Sekarang yang bisa kulakukan adalah menulis kembali lembaran-lembaran kisah hidupku yang baru di buku diary yang baru.

-THE END-

Ini ff udah lama banget. Diposting di page EXO Fan Fiction facebook bulan September 2012. Meskipun sudah lama, ff ini menginspirasi saya untuk membuat ff yang lainnya. Insya Allah ff ini bakalan lanjut dan dibikin versi setiap membernya.

Jadi mohon dukungannya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Dear Diary (Oneshoot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s