My Angel’s Smile (Chapter 1)

My Angel's Smile (1)

Title : My Angel’s Smile

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC), Byun Baekhyun (Baekhyun EXO), Shin Minra (OC)

Genre : Angst, Friendship, Teen life, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Typo, Alur kecepetan, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts 🙂

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIATORS!

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

“Annyeonghaseyo.. Choneun Hana imnida.” Seorang yeoja berparas cantik, berambut hitam sebahu, dan berperawakan kecil mungil memperkenalkan dirinya di depan teman-teman barunya.

“Baiklah Hana. Kau duduk di bangku kosong disana!” ucap Park Seonsaengnim, sang wali kelas.

“Baik!” jawab yeoja itu ceria sambil berlari kecil menuju tempat duduknya.

Hari ini adalah hari pertama yeoja asal Jepang itu masuk ke sekolah ini, Hannyoung High School. Sekaligus juga sebagai hari keduanya berada di Korea. Sebelumnya Hana bersekolah di Horikoshi Gakuen, sebuah sekolah elit di Jepang, namun karena urusan keluarga ia pindah ke Seoul. Sebenarnya ia baru saja tiba di ibukota Korea itu kemarin malam dan baru akan sekolah seminggu lagi, namun bukan siswi Horikoshi Gakuen namanya kalau menunda-nunda waktu untuk menuntut ilmu. Itulah yang Hana lakukan, yeoja yang tergolong siswi teladan di sekolah lamanya itu memaksa untuk langsung mendaftar ke sebuah sekolah di Seoul dengan segera. Ia tidak sabar jikalau harus menunggu satu minggu lagi.

“Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan menghabiskan waktu untuk belajar di sekolah. Apalagi bertemu dengan teman-teman dan lingkungan sekolah yang baru. Eomma, appa, aku ingin sekolah besok! Aku sudah tidak sabar!” Begitulah rengeknya kepada orangtuanya kemarin malam tak lama setelah ia menginjakkan kaki di rumah barunya di Korea.

“Annyeong Hana. Cheoneun Shin Minra imnida..” sapa seorang yeoja yang duduk tepat di depan bangku Hana sambil tersenyum.

“Choneun Baekhyun imnida..” Seorang namja yang duduk dibelakang bangkunya ikut-ikutan memperkenalkan diri.

“Annyeong..” jawab Hana membalas senyuman Minra dan Baekhyun. Yeah, teman pertama di sekolah baru!

—**—

-A Few Days Later-

“Minra-ya, bangku di sampingku ini milik siapa? Sudah berapa hari aku disini tapi tidak ada yang menempati. Apa memang bangku ini tidak berpenghuni?” tanya Hana heran sambil menunjuk bangku kosong yang terletak di samping bangkunya.

“Ani. Bangku itu milik Joonmyun,” jawab Minra agak malas.

“Joonmyun? Kenapa ia tidak pernah masuk sekolah? Apa dia sakit? Lalu kenapa tidak dijenguk?”

“Aniyo.. Dia memang jarang masuk sekolah.”

“Nae, dalam sebulan mungkin ia hanya masuk seminggu. Sekalinya masuk pun paling-paling ia hanya akan membuat kelas menjadi kacau. Dia memang murid bermasalah,” timpal Baekhyun yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Hana dan Minra.

“Jinjjayo?” tanya Hana penasaran.

“Nae. Berkelahi dengan kakak kelas, tidak mengerjakan tugas, membolos, tidur saat pelajaran, berlaku seenaknya, tidak mematuhi tata tertib sekolah, merokok.. itu sudah menjadi kebiasaanya. Bahkan ia pernah beberapa kali ketahuan mencuri. Kami teman-teman sekelasnya sudah sering kali mencoba menegurnya, tapi hasilnya nihil. Jangankan kami, guru-guru dan kepala sekolah pun diabaikannya. Aku jadi heran deh, kenapa murid seperti dia tidak dikeluarkan saja sih. Benar-benar mencemarkan nama baik kelas 2-1 dan Hannyoung High School!” lanjut namja bermata sipit itu panjang lebar.

“Ah sudahlah Baekki, tidak usah membicarakan orang itu!” cetus Minra kesal.

“Waeyo?” Justru pernyataan Minra itu membuat Hana semakin penasaran.

“Minra pernah menjadi korban. Handphone kesayangannya dicuri,” balas Baekhyun.

“Jeongmal?” Baekhyun mengangguk.

Tak lama kemudian Park Seonsaengnim masuk ke kelas dan pelajaran akan segera dimulai. Semua murid mulai mempersiapkan otak untuk bertarung melawan buku-buku tebalnya.

Namun percakapan yang baru saja terjadi tadi, menyisakan sedikit tanda tanya di kepala Hana, seperti apa sih Joonmyun itu? Mengapa bahkan guru-guru dan kepala sekolah pun tak sanggup melerainya? Ternyata di sekolah yang terkenal disiplin ini, ada juga ya murid yang bermasalah seperti Joonmyun?

—**—

Sudah 2 minggu berlalu. Hari-hari yang dilalui Hana di sekolah barunya itu sangat menyenangkan. Tapi ada satu hal yang mengganjal hatinya. Entah mengapa, ia begitu penasaran dengan namja bernama Joonmyun. Seperti apa sih orang yang menjadi buah bibir di kalangan teman-temannya itu? Selama 2 minggu ini pula sosok Joonmyun tidak juga hadir mengisi buku absennya yang sudah barang tentu banyak terdapat tanda alpa nya.

Hana yang notabene adalah anak yang disiplin, rajin dan pintar terbukti dari kemampuannya menguasai bahasa Korea hanya dalam waktu 6 bulan saja, tentu merasa sangat tidak suka jika ada orang yang mencoreng nama baik sekolahnya, Hannyoung High School. Terlebih jika si pencoreng nama baik sekolah itu berasal dari kelasnya sendiri –kelas 2-1– yang memang menjadi kelas unggulan disana. Benar-benar memalukan.

“Joonmyun, aku tidak tahu seperti apa dirimu. Tinggi badan 2 meter? Otot binaraga? Leher besi? Tattoo sekujur tubuh? Atau taring harimau? Aku tidak takut! Pokoknya kalau kau masuk nanti, akan kuberi pelajaran!” dengusnya dalam hati.

Pelajaran sudah memasuki jam ke-3. Pelajaran favorite semua murid kelas 2-1, matematika. Terbukti, suasana sangat senyap kala Lee seonsaengnim sedang menerangkan bahan materi pelajaran itu. Semua murid terfokus pada papan tulis.

Bbraakkkk….!!!!

Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasarnya membuat semua penghuni kelas tersontak kaget. Kemudian seorang namja berpenampilan urakan masuk ke dalam, semua mata pun tertuju padanya. Namun tak berapa lama, semua murid juga Lee seonsaengnim melanjutkan kembali aktivitasnya belajar-mengajar matematika, seolah tak terjadi apa-apa barusan. Aneh, pikir Hana. Sudah jelas-jelas kan dia terlambat, tapi kenapa tidak ada yang memarahinya? Lee seonsaengnim yang terkenal killer pun kenapa hanya diam saja? Jangan-jangan dia itu…

“Dia Joonmyun..” bisik Baekhyun dari arah belakang tempat duduknya.

“Tuh kan benar dugaanku!” pikir Hana.

Joonmyun berjalan santai menuju bangkunya. Diam-diam Hana memperhatikan namja itu, mulai dari ujung sepatu hingga ujung rambutnya. Tsk, rambutnya dicat kemerahan berantakan tak beraturan, seragamnya kusut dan dipakai asal-asalan, sepatunya berwarna biru agak kotor dan dipakai dengan cara diinjak bagian belakangnya. Aiisshh.. Benar-benar tidak menaati peraturan sekolah yang mengharuskan semua siswa memakai seragam dengan rapi dan sepatu berwarna hitam.

Terlihat wajahnya penuh dengan luka memar, sepertinya dia habis berkelahi.

Tunggu..! Tapi, dia….

Deg..

Hana tercekat. Nafasnya seakan terhenti menyadari wajah yang sedari tadi diperhatikannya itu kini sudah ada di hadapannya. Seketika keringat dingin mengalir deras di pelipisnya, begitu pula dengan jantungnya yang berdegup kencang, entah mengapa.

“Apa lihat-lihat?!” ucap Joonmyun ketus.

“Ahh ani..” Hana menunduk tak berani menatap namja itu. Malu sekali.

“Ciiihhh..” Joonmyun pun duduk di bangkunya yang memang terletak tak jauh dari situ, lebih tepatnya di samping bangku Hana. Yeoja itu menghela nafas panjang. Wajahnya terasa panas sekali. Kenapa ini?

*

Jam istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Minra, Hana dan Baekhyun yang menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin.

“Kau menyukainya?” tanya Minra tiba-tiba.

“Mwo?” pekik Hana terkejut dengan pertanyaan itu.

“Kau tertarik pada Joonmyun ya? Selama pelajaran kau memperhatikannya terus,” ucap Baekhyun memperjelas pertanyaan yang tadi dilontarkan Minra sambil melahap ramyunnya. Dan bingo! Sepertinya tebakan kedua orang itu tidak meleset.

“N..nae.. Se..sepertinya begitu.. Baekki, apa benar dia Joonmyun yang kau ceritakan itu? Meskipun penampilannya bragajulan(?) tapi wajahnya sama sekali tidak mencerminkan dia murid yang bermasalah.” Hana terlihat sedikit gugup.

“Sudah kuduga, kau pasti bakalan berpendapat seperti itu. Aku juga seperti itu pada awalnya. Kukira Joonmyun itu orang yang tinggi besar dengan wajah yang menyeramkan, eh ternyata ia tidak seperti yang kubayangkan. Tubuhnya kecil, kulitnya putih dan wajahnya tampan. Dulu aku tidak percaya pada cerita orang bahwa ia suka berbuat onar, hingga akhirnya handphone kesayanganku raib diambilnya, barulah aku yakin bahwa dia itu memang Joonmyun si wajah malaikat berhati iblis. Ayolah, Hana! Jangan termakan hanya karena ketampanannya. Wajahnya itu berkebalikan dengan sifatnya.”

“Tapi Minra, ini berbeda. Aku bisa melihatnya. Dia sebenarnya bukan orang yang seperti itu, aku yakin!”

“Ahh Hana, ngga asyik deh. Masa baru lihat wajah tampan begitu saja sudah terpesona. Kau belum lihat secara langsung sifat aslinya sih. Sudahlah, toh aku jauh lebih tampan kan dibandingkan Joonmyun.” celoteh Baekhyun dengan mulut yang penuh dengan ramyun, membuat Minra tertawa renyah melihat tingkah lucu sahabatnya, sedangkan Hana hanya terdiam dengan berjuta pertanyaan yang berputar di kepalanya. Ia ingin tahu siapa Joonmyun sebenarnya.

“Hana, ayo kembali ke kelas. Bel masuk sudah berbunyi!” ajak Minra yang seketika itu membuyarkan lamunan Hana.

“Ah nae, khajja!”

—**—

“Ya anak-anak, setelah melalui seleksi yang ketat, bapak akan mengumumkan dua orang yang akan mewakili sekolah kita di ajang olimpiade matematika tahun ini,” ucap Pak Kepala Sekolah ditengah sambutannya.

Seperti akan menerima eksekusi mati, suasana di aula tempat seluruh murid dari kelas 1, 2 dan 3 dikumpulkan saat ini menjadi tegang. Menambah panas ruangan yang memang sudah panas oleh cuaca musim panas di bulan Juli ini. Bagaimana tidak, setiap tahun murid-murid sekolah Hannyoung High School yang notabene adalah salah satu sekolah ternama di Korea yang dihuni oleh siswa-siswi kelas atas yang berotak encer, selalu menantikan kesempatan ini. Ya, olimpiade menjadi ajang yang wajib bagi mereka untuk melihat siapakah murid paling pintar seantero sekolah. Maka dari itu, ajang ini selalu menjadi rebutan, dan kerap kali terjadi persaingan ketat antar siswa, terutama siswa di kelas 2-1, si kelas unggulan.

“Dan yang mewakili sekolah kita adalah.. Sawajiri Hana dan Kim Joonmyun dari kelas 2-1!”

“Mwo?” Hana terkejut. Ia melirik Baekhyun dan Minra yang duduk di sebelahnya. Merekapun menatap Hana dengan ekspresi yang terlihat sedikit kecewa karena tidak terpilih tapi juga senang karena dua wakil sekolah ternyata semuanya berasal dari kelas yang sama dengan mereka. Terlihat bibir kedua sahabat Hana tersebut seperti mengucapkan “Chukkae!” padanya.

Bukan! Yang membuat Hana terkejut bukan hanya karena terpilihnya dirinya, tapi.. karena Kim Joonmyun! Mengapa Kim Joonmyun terpilih juga? Bukannya dia adalah murid yang sering berbuat onar? Memang dia sepintar itu? Kalau memang iya, kapan ia melakukan tes seleksi, dia kan sering bolos? Lalu mengapa murid yang lain seperti tidak terkejut mendengar Joonmyun terpilih?

“Ya, selamat kepada Sawajiri Hana dan Kim Joonmyun. Setelah acara ini, kalian bapak tunggu di ruang kepala sekolah. Terimakasih.” Pak Kepala Sekolah mengakhiri pidatonya.

“Ya, tentu saja dia kan pintar. Dia selalu jadi perwakilan sekolah di ajang Olimpiade, cerdas cermat dan ajang-ajang murid berbakat lainnya. Tanpa mengikuti seleksipun dia akan langsung terpilih. Bagaiamana tidak, tahun lalu ia memenangkan juara ke-3 olimpiade matematika internasional, dan juara pertama fisika nasional. Memang aku akui dia itu hebat. Tapi tetap saja ini tidak adil. Seharusnya sekolah memberikan kesempatan bagi siswa yang lain dong! Masa namja urakan seperti dia selalu saja diberi kesempatan mengikuti olimpiade, sedangkan kita tidak? Menyebalkan!” rutuk Minra.

“Nae, maka dari itu dia menjadi murid kesayangan pak kepala sekolah. Meskipun kelakuannya sudah kaya preman kelas kakap. Seharusnya dia ikutan olimpiade preman internasional tuh!” tambah Baekhyun tak kalah sebalnya. Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.

“Begitukah?” tanya Hana.

“Nae! Maka dari itu Hana. Ayo balaskan dendam kami! Kau harus meraih peringkat lebih tinggi dari dia, OK?”

“Hahaha.. Arraseo, aku akan berusaha! Baiklah, aku harus ke ruang kepala sekolah dulu. Paii paii..” pamit Hana lalu berlari kecil menuju ruangan yang terletak di sebelah barat ruang kelas mereka.

Tookkk.. Tookkkk..

“Ahh ya. Siapa?”

“Ini saya. Sawajiri Hana, pak.”

“Masuklah, nak. Duduklah!” Kepala Sekolah mempersilakan yeoja mungil itu masuk ke ruangannya.

“Gamsahamnida..” Hana membungkuk lalu duduk di sofa ruangan itu.

“Selamat ya, nak. Kau sudah terpilih mewakili sekolah ini. Padahal kau baru saja masuk kesini dan baru beberapa bulan belajar bahasa Korea, tapi kau sudah sangat fasih. Kau bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Nilai-nilaimu pun bagus. Benar-benar anak yang hebat!”

“Anda terlalu memuji saya, pak.”

“Haha.. Ya untuk selanjutnya kau harus mengikuti pelajaran tambahan seperti yang sudah direncanakan sekolah ini. Ini jadwal pelajaran tambahanmu,” tutur Pak Kepala Sekolah sambil memberikan selembar kertas yang berisi jadwal-jadwal latihan, tambahan pelajaran dan tes-tes simulasi menjelang olimpiade.

“Ah nae. Oh ya, pak. Mengenai Kim Joonmyun—”

“Ah ya bapak sampai lupa, kemana dia? Pasti bolos sekolah lagi ya. Dasar anak itu memang susah diatur!”

“Pak, saya banyak mendengar bahwa Joonmyun itu pembuat onar di sekolah ini. Ia sudah banyak membuat kekacauan dimana-mana. Lalu mengapa bapak tetap membiarkan dia sekolah disini? Bukankah ini mencoreng nama baik sekolah kita, pak?” Entah keberanian dari mana akhirnya pertanyaan yang selama ini mengusik pikiran Hana -dan mungkin semua murid di sekolah juga berpikiran demikian- akhirnya keluar juga dari mulutnya.

“Hahaha.. Ya bapak sudah menduga kau akan menanyakannya, nak.” Pak kepala sekolah menghela nafas, “appa dan eomma Joonmyun adalah sahabat bapak dulu. Bapak banyak berhutang budi pada orangtuanya. Untuk itu bapak terus membiarkannya bersekolah disini.”

“Begitu. Tapi pak, kelakuannya itu sudah sangat keterlaluan. Apa bapak tidak pernah mencoba menasihatinya?”

“Itu sudah sangat sering dilakukan. Tetapi percuma saja. Ia justru malah memberontak dan semakin liar. Ia bahkan pernah hampir menghancurkan ruangan ini. Haha.. Benar-benar merepotkan.”

“Lalu apa orangtuanya mengetahui semua ini pak?”

“Dia tidak punya orangtua..”

“Mwo?” Hana terkejut.

“Ya, eommanya meninggal ketika ia masih kecil. Kemudian appanya menyusul ketika ia masih duduk di bangku SMP karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Ia sempat dirawat oleh pamannya namun kemudian ia melarikan diri dari rumah.”

“Jadi selama ini dia trauma karena ditinggal kedua orangtuanya?”

“Bukan hanya karena itu saja..”

“Maksud bapak?”

“Maaf. Bapak tidak bisa menceritakannya.. Ahh, bel sudah berbunyi. Sebaiknya kau kembali ke kelas.”

“Ah baik pak.” Hana sedikit kecewa.

“Untuk selanjutnya kau dan Joonmyun akan mengikuti pelajaran tambahan sesuai dengan yang tertera di jadwal. Jangan sampai lupa..”

“Baik!” Hana mengangguk lalu melangkah keluar dari ruangan itu untuk menuju ruang kelasnya.

Penjelasan dari Pak kepala sekolah menjawab sedikit pertanyaan di benak Hana. Tapi tetap saja itu tidak cukup. Ia masih penasaran dengan perkataan Kepala Sekolah “Bukan hanya karena itu saja..”

“Aiisshh.. Kenapa akhir-akhir ini aku terus memikirkan Joonmyun ya?” batin Hana.

 

—**—

“Joonmyunnie, kau mau makan siang bersamaku?” pinta Hana saat bel istirahat berbunyi. Ya, hari ini Joonmyun masuk sekolah.

“Aku harus memanfaatkan momen langka ini untuk mendekatinya!” batin Hana.

“Tidak perlu. Aku tidak lapar,” jawab namja itu dingin tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari majalah otomotif yang sedang ia baca.

“Tapi.. ini sudah saatnya makan siang. Aku sudah membuatkan makanan untukmu. Aku ingin kau mencicipinya,” ucap Hana memelas, namun terdengar sedikit memaksa di telinga Joonmyun.

Kesal, namja itu meletakkan majalah yang sedari tadi ia baca ke mejanya dengan kasar. Lalu menoleh ke arah yeoja yang cerewet itu menurutnya. “Kau tuli ya? Aku bilang aku tidak lapar!” bentaknya sarkas.

Hana yang terkaget mendengar jawaban ketus Joonmyun, hanya bisa pasrah.

“Ah, nae.. Mianhae, Joonmyunnie,” ucap Hana sambil membungkukkan badannya lalu berlari keluar kelas.

“Ah ya, aku lupa. Hari ini kau dan aku ada pelajaran tambahan untuk persiapan olimpiade. Aku harap sepulang sekolah nanti kau bisa datang. Gomawo..” ucap yeoja itu lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan kelas.

“Joonmyunnie? Seenaknya saja dia memanggilku begitu!” gumam Joonmyun.

Di kantin Baekhyun dan Minra sudah menunggu.

“Bagaimana? Kau berhasil mengajak Joonmyun? Lalu apa katanya?” tanya Minra.

Hana menggeleng lesu. “Dia malah membentakku.”

“Dia membentakmu? Aisshh.. Benar-benar malaikat berhati iblis!” kesal Baekhyun.

“Haduhh.. rasanya ingin nangis saja.”

“Sudahlah Hana. Apa kubilang, sebaiknya kau berhenti mendekatinya!”

“Andwae, Minra -ah. Aku tidak akan menyerah!” tekad Hana. Membuat kedua orang sahabatnya saling menatap kemudian menghela nafas panjang.

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi sebaiknya kau berhati-hati. Kudengar Joonmyun itu tidak suka yeoja.”

“Mwo? Maksudmu, Minra –ah?”

“Dia gay dasar pabo. Dia tidak suka yeoja. Dia berkencan dengan namja,” timpal Baekhyun.

“Jeongmalyo?” tanya Hana tak percaya.

“Yah, kami tidak tahu pasti. Itu hanya kata orang-orang. Tapi sebaiknya kau berhati-hati, nae?”

—**—

 

Tik, tok, tik, tok…

Ruangan terasa sepi. Yang terdengar hanyalah suara dentingan jam dinding yang terpasang di tembok bercat cream ruangan itu, juga suara ujung pensil yang bergesekan dengan kertas putih yang sudah tercetak angka juga rumus-rumus geometri di atasnya. Tidak ada siapapun di ruangan itu terkecuali dua orang manusia yang sedari tadi sibuk dengan gundukan soal-soal latihan olimpiade mereka. Ya benar, mereka Hana dan Joonmyun yang sedang mengikuti pelajaran tambahan. Mereka ditinggal berdua di ruangan kelas dengan setumpuk materi dan soal matematika yang harus mereka kerjakan.

Bukan hanya sepi, tapi suasana canggung terjadi. Lebih tepatnya Hana yang merasa canggung. Ia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan soal-soal itu. Jantungnya terus saja berdebar dengan hebatnya. Aisshh..

Lain halnya dengan namja di sampingnya. Ia terlihat lancar-lancar saja mengerjakan soal matematika tingkat tinggi itu.

“Huuuhh.. bosan!” gerutu Joonmyun. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Perlahan ia menutup matanya. Tertidur.

Hana yang melihat itu hanya terkekeh pelan, “cepat sekali ia tertidur,” pikirnya. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya, sambil sesekali melirik sosok namja yang sedang tertidur pulas itu. Ekspresi tidur yang sangat lucu bagi Hana.

Lama-kelamaan, bukannya mengerjakan soal-soal yang diberikan Lee seonsaengnim, Hana justru sibuk memperhatikan Joonmyun. Ditelisiknya setiap lekuk wajah namja tampan yang menurutnya sangat misterius itu. Terdapat bercak luka di sekitar pelipis dan pipi kirinya. Mungkin itu luka yang didapat karena berkelahi. Tanpa ia sadari, tangannya kini sudah berada di puncak kepala Joonmyun, mengusap lebut rambut merah acak-acakannya.

Entah mengapa Hana berani melakukan itu. Rupanya keinginannya sudah sangat kuat. Ya, ia ingin sekali menyentuh namja itu. Ingin sekali..

“Joonmyunnie, aku tahu kau bukan namja yang sering dikatakan orang-orang. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu. Kau bukan orang yang seperti mereka bilang kan? Ya, kau bukan orang yang seperti itu. Aku yakin! Akan kubuktikan sendiri!” gumam Hana seraya merapikan poni yang menutupi kening Joonmyun.

“Huff.. Badannya sedikit panas. Apa dia sakit?” Hana menempelkan punggung tangan kanannya di kening namja yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertamanya itu.

“Gawat! Aku harus ke ruang kesehatan!” Ia pun beranjak pergi.

“Hmmm..” Joonmyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang dingin di dahinya.

“Joonmyunnie, sepertinya kau sakit. Badanmu panas. Tapi tenang saja, aku sudah menempelkan plester penghilang demam.” Hana menunjuk kening Joonmyun yang tertempel plaster lebar berwarna biru yang ia dapatkan dari ruang kesehatan.

“Cihh.. aku tidak sakit!” Joonmyun melepas plester itu dari dahinya dan melemparnya ke sembarang arah. Entah mengapa wajahnya terlihat jengkel mendapat perhatian dari Hana.

“Aku mau pulang! Bosan sekali!” Namja itu berdiri, menyelempangkan tas di bahu kanannya kemudian melangkah pergi.

“Ya, Joonmyunnie, chamkkanmanyo..! Jam pelajaran tambahan kita belum selesai!” teriak Hana, namun tak dipedulikannya. Dengan langkah yang agak terseok-seok, ia berjalan keluar kelas meninggalkan Hana sendirian.

“Aneh..” ucap Hana yang merasa heran dengan cara berjalan Joonmyun. Apa kakinya terluka karena berkelahi sampai-sampai ia berjalan terpincang begitu?

*

“Waahh.. Akhirnya dapat juga!!” seru Hana senang. Sepulangnya dari pelajaran tambahan barusan ia mampir di toko buku tak jauh dari sekolahnya. Ia membeli novel yang memang sudah lama ia incar, namun karena buku itu laris sekali dan harus mengantri jika ingin mendapatkannya, baru kali ini ia akhirnya berhasil membawa buku itu ke rumah.

Hana berjalan riang menuju rumahnya. Ia sengaja tidak menggunakan kendaraan untuk pulang karena ia memang sedang ingin berjalan kaki. Moodnya sedang baik sore ini. Bagaimana tidak, hari ini ia sudah menghabiskan waktu bersama Joonmyun. Yah, meskipun hanya sebentar soalnya namja itu langsung meninggalkannya sendirian saat pelajaran tambahan tadi, tapi setidaknya sudah bisa melihat wajahnya dari dekat dan menyentuh rambut serta keningnya saja itu sudah cukup membuat hati Hana sangat sangat sangat senang. Jarang-jarang kan terjadi hal seperti ini?

“Eh itu kan…” Panjang umur sekali. Baru saja Hana membayang-bayangkan wajah Joonmyun, orang itu sudah muncul lagi. Buru-buru Hana bersembunyi, ia tidak ingin Joonmyun melihatnya. Namja itu berjalan sendirian. Ah tidak! Ia berjalan berdua. Bersama seorang namja berambut kecokelatan.

“Siapa dia?” Hana belum pernah melihat namja yang berjalan bersama Joonmyun itu.

Hana menggigit bibir bawahnya. Ia teringat akan perkataan kedua orang sahabatnya beberapa waktu yang lalu.

“Joonmyun itu gay. Dia tidak suka yeoja. Dia berkencan dengan namja.”

Apa gossip itu memang benar?

Mengendap-endap, yeoja itu mengikuti Joonmyun. Sungguh ia terlalu penasaran. Sampailah akhirnya ia di sebuah bangunan. Bangunan yang terdiri dari beberapa kamar sewaan yang berjejer rapi. Dilihatnya namja itu merogoh saku celananya, mengambil sebuah kunci dan masuk ke dalam kamar nomor 12 bersama dengan namja berambut kecoklatan itu. Inikah tempat tinggal Joonmyun? Apa yang akan mereka berdua lakukan?

Hana menelan ludah. Terbesit di benaknya untuk mendobrak pintu itu.

“Andwae! Aku tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain. Tidak sopan. Mungkin saja itu teman Joonmyun. Aku kan murid teladan, tidak seharusnya aku melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti ini!” Ia memutuskan untuk pergi.

Namun rupanya hatinya berbanding terbalik dengan akal sehatnya. Ia berbalik kembali menuju bangunan tersebut. Dan dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, ia berusaha membuka pintu bernomor 12 itu.

Ckleekkk..

Mwo? Pintunya tidak terkunci!

Dengan langkah getir, Hana memasuki ruangan tersebut. Dan…

Benar apa yang kata orang bilang..

Gossip itu ternyata memang benar..

“YA JOONMYUN APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU BENAR-BENAR GAY, HAH? SUNGGUH MEMALUKAN!! APA KAU TIDAK SADAR PERBUATANMU ITU MENCORENG NAMA BAIK SEKOLAH YANG DIPIMPIN OLEH KERABAT MENDIANG ORANGTUAMU?!!! KAU TIDAK KASIHAN PADANYA YANG SETENGAH MATI SUDAH MEMPERTAHANKANMU DI HANNYOUNG HIGH SCHOOL MESKIPUN HARUS MENERIMA MALU AKIBAT KELAKUANMU, HANYA DEMI MEMBALAS BUDI KEBAIKAN ORANGTUAMU? APA KAU TIDAK PUNYA HATI, HAH?!! ORANGTUAMU PASTI SANGAT MENYESAL MEMILIKI ANAK YANG TIDAK TAHU MALU SEPERTIMU!!!!!” Hana mengepalkan kedua tangannya tak kuasa menahan amarahnya. Air mata berjatuhan membasahi pipinya. Ia kecewa. Teramat kecewa. Joonmyun, namja yang ia sukai benar-benar gay?

Joonmyun yang tadi terlihat sedang asyik berdua-duaan dengan namja itu, berpelukan di atas tempat tidur, dengan bertelanjang dada dan menggunakan selimut, kini terlonjak kaget. “Kenapa yeoja itu bisa ada disini?” pikirnya.

Mereka menghentikan aktivitasnya. Joonmyun menatap tajam yeoja di hadapannya itu. Ia juga terlihat sama emosinya.

Hana terperangah. Badannya tiba-tiba gemetaran. Matanya membulat sempurna. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga tak percaya ketika itu. Ketika melihat Joonmyun menyibakkan selimutnya.

“J.. Jun.. Jun..myun.. Ka.. Kaki.. Kakimu……

ha.. ha..nya.. hanya.. s..satu???”

-To be Continued-

Advertisements

9 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s