My Angel’s Smile (Chapter 2)

My Angel's Smile (1)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 2

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIAT!

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?


Hana terperangah. Badannya tiba-tiba gemetaran. Matanya membulat sempurna. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga tak percaya ketika itu. Ketika melihat Joonmyun menyibakkan selimutnya.

“J.. Jun.. Jun..myun.. Ka.. Kaki.. Kakimu……

ha.. ha..nya.. hanya.. s..satu???”

-My Angel’s Smile Chapter 2: His Past-

Dapat dengan jelas Hana melihat kaki kiri Joonmyun yang tidak ada pasangannya. Ya, kaki sebelahnya hanya tinggal selutut. Namja yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam itu bangkit dari tempat tidurnya. Meraih sambungan kaki kanan besinya lalu berjalan cepat menghapiri yeoja yang masih berdiri mematung di dekat pintu kamar itu.

Bruukkk..!!

Dengan kasarnya Joonmyun mendorong keras tubuh Hana hingga menghantam tembok. Yeoja itu diam saja. Shock. Itulah yang masih dirasakannya. Sakit ditubuhnya akibat membentur tembok dengan keras, tidak sebanding dengan sakit di hatinya. Sakit. Sakit sekali..

Joonmyun menarik kuat dagu Hana, mengangkatnya agar wajah yeoja mungil itu tepat menghadap wajahnya. Hana bergidik ngeri melihat seringai menakutkan namja yang kini tengah memandang geram padanya. Tatapan mata mereka saling bertemu. Wajah mereka sangat dekat. Tak pernah mereka berjarak sedekat ini sebelumnya. Tetesan bening semakin deras mengalir dari pelupuk mata Hana. Ia sungguh tak suka suasana seperti ini.

“Dengarkan aku yeoja manis. Kau sebaiknya tak usah mencampuri urusanku seperti ini lagi, tak usah mengikutiku, tak usah memberikan perhatian padaku, bahkan jika perlu tak usah ada lagi di hadapanku. Kau belum tahu bagaimana aku marah, kan? Jadi pergilah! Dan satu lagi, jika kau berani-beraninya menggembar-gemborkan masalah ini. Aku tak akan segan-segan melakukan hal yang lebih kasar padamu,” bisik lembut namja itu namun cukup membuat Hana tak mampu lagi berkutik.

Yeoja itu berlari keluar kamar.

Brakkk…!

Pintu tertutup kembali dengan kasarnya. Di luar, Hana merosot. Ia terduduk sambil memeluk lututnya dan menangis sejadinya. Dadanya bergemuruh hebat. Sakit, sedih, marah, kecewa, iba, penasaran, takut, bingung.. Semuanya bercampur aduk. Tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Hanya tangisan keraslah yang mampu menjelaskan perasaannya saat ini.

Dari dalam kamar, Joonmyun menghela nafas panjang. Ia diam berdiri sambil bersandar pada pintu kamar yang baru saja ia banting keras tadi. Tangisan pilu Hana yang terdengar sampai ke dalam, terngiang parau di gendang telinganya. Ia sangat tidak suka mendengar tangisan seorang yeoja.

“Myunnie, siapa yeoja tadi?” Lamunan Joonmyun buyar mendengar pertanyaan namja yang sedari tadi ada di kamarnya, menyaksikan perbuatan kasarnya pada Hana.

“Ahh.. Bukan siapa-siapa.”

—**—

Hari berganti hari. Sejak kejadian itu, Joonmyun tidak pernah masuk sekolah. Hana melangkah gontai sepanjang perjalanannya pulang dari tempatnya menuntut ilmu itu. Ia memegangi dadanya yang sepertinya sudah mati rasa. Ia benar-benar sudah ada di puncak. Puncak rasa sakit hatinya. Puncak rasa kecewanya. Puncak rasa penasarannya. Juga puncak rasa penyesalannya. Andai saja dulu ia mau mendengarkan nasihat sahabat-sahabatnya untuk tidak mendekati Joonmyun, pasti tidak akan seperti ini jadinya.

Mungkin sudah ke seribu kalinya Hana mencoba untuk melupakan Joonmyun, tapi tidak bisa! Perasaan itu masih bersarang di hatinya. Perasaan untuk terus memikirkan namja itu, bahkan untuk sedetik pun tidak pernah bisa hilang. Ia sudah terlanjur mencintainya.

Yeoja itu baru mengetahui sesuatu yang sepertinya semua teman-teman di sekolahnya belum mengetahuinya, bahwa Joonmyun hanya memiliki sebelah kaki. Ia berjalan hanya menggunakan kaki kiri dan dibantu oleh sambungan kaki sebelah kanannya yang tak akan mungkin disadari orang lain jika ia menggunakan celana panjang. Kecelakaan apa yang ia alami sebenarnya sampai ia bisa kehilangan sebelah kakinya?

Dan yang membuat perasaan Hana sangat kalut adalah ketika ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Joonmyun adalah…….. tidak usah dijelaskan lagi.

Memang terdengar sedikit berlebihan mengingat di dunia ini banyak sekali orang yang gay. Kau pun sepertinya tak akan heran jika menemukan kasus seorang namja yang lebih memilih namja lagi untuk menjadi kekasihnya dibandingkan dengan yeoja. Mungkin itu hal yang sudah biasa. Tapi jikalau ternyata namja yang kau cintai sendiri -lah yang gay, apakah kau akan bertindak biasa saja? Tidak, kan! Setidaknya itulah yang dialami Hana sekarang.

Ditambah lagi, ia tidak boleh menceritakan pada siapapun tentang masalah ini. Karena jikalau tidak, Joonmyun pasti tak akan segan melakukan hal yang lebih buruk padanya. Sungguh, Hana tak punya pilihan lain selain melupakan namja itu. Tapi bagaimana caranya?

Tiiinnnn… Tiiinnn…. Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnn……

Bruuuuuukkkkkkkkkkkk…….

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

—**—

Hana membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa terasa pusing sekali.

“Aahhhhh…” desisnya kesakitan ketika ia mencoba untuk bergerak. Tangan dan kakinya penuh dengan perban. Badannya sakit semua.

“Kau sudah sadar?” Terlihat pria paruh baya menghampirinya sambil membawa nampan dengan segelas teh hangat.

”Ini.. Ini dimana?”

“Ini di rumahku. Tenanglah. Minumlah dulu..” Ia duduk di tepi ranjang yang Hana tempati dan menyodorkan teh yang tadi dibawanya. Hana mengangguk lalu mulai menyesap teh hangat itu.

“Ahjussi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku ada disini?”

“Tadi kau mengalami kecelakaan kecil. Kau tertabrak sepeda motor saat menyebrangi jalan. Sebenarnya kau kenapa, agasshi? Sedang ada masalah? Kulihat saat itu kau berjalan sambil melamun..”

“Ahh.. Ani.. Tidak ada apa-apa. Hanya sedang memikirkan masalah kecil di sekolah. Aku Sawajiri Hana. Gamsahamnida sudah menolongku, ahjussi.” Hana tersenyum.

“Cheonmaneyo. Aku Kim Junho..” jawabnya membalas senyuman Hana.

Yeoja itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tiba-tiba matanya terhenti pada sebuah bingkai foto yang terpajang di meja kecil dekat dengan ranjang. Hana mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia pernah melihat namja yang terpampang di foto itu. Lho.. Dia.. Dia kan…

“Ahhh.. Dia keponakan kesayanganku. Kim Joonmyun,” ucap Kim ahjussi saat menyadari Hana terus mengamati foto itu.

“J.. Jeongmalyo?” Hana terperanjat kaget.

“Nae.. Kau mengenalnya?”

Hana mengangguk..

“Jinjja? Dari mana kau mengenalnya? Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya pria itu bertubi-tubi.

“Dia teman sekelasku, di Hannyoung High School. Dia.. dia baik-baik saja.. sepertinya.” Hana menunduk.

“Ah syukurlah kalau dia baik-baik saja,” ucap Kim ahjussi lega.

“Ahjussi.. Sebenarnya apa yang terjadi pada Joonmyun? Kenapa dia…..” Hana menghentikan sebentar perkataannya. “Ke.. Kenapa dia—-“

“Cacat..?” potong Kim ahjussi. Hana mengangguk pelan.

“Dia mengalamai kecelakaan saat sedang mengikuti balapan liar..”

“Balapan liar? Jadi memang sejak dulu ia sudah suka berbuat onar?” Uppsss.. Hana menutup mulutnya menggunakan tangannya, menyadari perkataannya yang mungkin menyinggung Kim ahjussi.

“Haha.. Aniyo..”

“Lalu?”

“Dulu Joonmyun anak yang baik.“ Kim ahjussi mulai bercerita. “Ia sangat menyayangi appanya, karena hanya appanya lah satu-satunya orangtuanya. Eommanya meninggal ketika ia masih kecil. Karena itulah ia begitu patuh pada appanya. Kecuali satu hal..”

“Satu hal?”

“Nae, appanya adalah pengusaha yang cukup sukses. Ia mendesak Joonmyun untuk melanjutkan bisnisnya. Namun Joonmyun selalu menolak. Itulah satu-satunya hal yang ia bantah dari appanya karena ia memiliki impian sendiri. Ia ingin menjadi pelari atletik. Tapi appanya tidak pernah menyetujui cita-citanya itu. Dan justru karena satu hal itulah, semua masalah bermula..” Kim ahjussi menghela nafas pelan.

“Frustasi menghadapi Joonmyun yang terus saja keras kepala, appanya jatuh sakit. Penyakit jantungnya kambuh. Karena tidak ada yang meneruskan, akhirnya perusahaannya bangkrut. Semua kekayaannya habis. Appanya terus menyalahkan namja itu. Ya, Joonmyun merasa bersalah tapi ia tetap tak menyerah dengan pendiriannya. Ia bertekad untuk menunjukkan pada appanya bahwa suatu saat nanti ia pasti akan sukses menjadi pelari atletik.. Namun biaya Rumah Sakit yang harus dibayar dengan segera membuatnya jengah. Ia sudah berusaha sekuat tenaga meminjam uang kesana kemari, tapi tetap saja itu tidak cukup mengingat biaya perawatan Rumah Sakit yang sangat mahal. Akhirnya ia nekat mengikuti balapan liar. Ia tidak tahu lagi dari mana ia bisa mendapatkan uang yang cukup besar dengan cepat, karena jika ia tidak segera melunasi biaya itu sesuai dengan ketentuan, pihak Rumah Sakit akan mencabut tanggung jawabnya untuk merawat appanya.”

“Naas.. Ia mengalami kecelakaan yang membuat kakinya harus diamputasi. Pada saat itu pula appanya meninggal. Ia benar-benar frustasi ketika mendengar kabar itu. Bisa kau bayangkan betapa terpuruknya Joonmyun. Ia harus kehilangan impiannya, juga appa yang sangat disayanginya. Ia kehilangan segalanya. Yang lebih parahnya ia sepertinya kehilangan tujuan hidupnya..” Kim ahjussi meneteskan air matanya. Hana hanya diam terpaku. Ini kah yang sebenarnya terjadi pada Joonmyun?

“Akhirnya aku yang membayar semua biaya perawatan dan penyambungan kaki Joonmyun. Setelah keluar dari Rumah Sakit, ia kubawa ke rumahku. Tapi semenjak itu Joonmyun berubah. Ia menjadi anak yang liar dan tidak mau diatur. Ya, aku tahu dia trauma berat. Hingga suatu saat dia kabur dari rumah. Entah mengapa.. Padahal aku selalu menjaganya dengan baik dan selalu memberinya masukan-masukan. Sampai saat ini pun aku tidak tahu dia pergi kemana. Sekolah dimana. Dan bagaimana keadaannya. Aku sungguh paman yang tidak berguna..” ucapnya lirih. Air mata pria itu semakin deras mengalir.

“Jangan berkata begitu, ahjussi. Ahjussi sudah menjaga Joonmyun dengan baik kok. Joonmyun.. Dia.. dia baik-baik saja. Malah dia menjadi wakil sekolah dalam ajang olimpiade matematika bersama denganku. Hanya saja——“ Hana menghentikan ucapannya. Ia tidak tega jika harus menceritakan yang sebenarnya pada Kim ahjussi yang telah menolongnya.

“Hanya saja kenapa? Kelakuannya masih belum berubah?” terka pria itu. Kembali Hana mengangguk pelan.

“Kumohon, Hana. Tolong sadarkan Joonmyun. Tolong bawa dia kemari. Aku sungguh-sungguh ingin bertemu dengannya. Aku benar-benar menyayanginya, keponakanku satu-satunya.” Kim ahjussi memegang kedua bahu Hana dan menatap yeoja itu dengan tatapan penuh pengharapan. Hana yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengangguk. Memang hal itu adalah yang diinginkan Hana. Ia ingin menyadarkan Joonmyun. Tapi ia juga bingung. Bagaimana caranya, sedangkan Joonmyun sendiri yang memintanya untuk tidak pernah mecampuri urusannya.

“Gamsahamnida, Sawajiri Hana.” Kim ahjussi memeluk Hana. Tubuhnya bergetar. Pria itu menangis sesenggukan.

“Uljima, ahjussi. Aku pasti akan membawa Joonmyun kembali!”

-A Few Days Later-

Hana berjalan cepat menuju rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang sangat larut bagi seorang yeoja SMA seperti dia untuk berkeliaran di luar rumah sendirian. Ia baru pulang dari toko buku untuk menghilangkan stressnya akibat terus-terusan memikirkan Joonmyun. Sampai saat ini pun, Joonmyun sama sekali tidak masuk sekolah. Kemana sebenarnya dia?

Untuk menghibur diri, akhirnya ia pergi ke toko buku. Tapi yah, beginilah Hana, kalau sudah melihat buku ia selalu lupa waktu. Apalagi toko buku itu sedang mengadakan obral besar-besaran. Itupun ia baru pulang karena eommanya menelponnya, kalau tidak bisa-bisa ia menginap di toko buku.

Sialnya, keluarganya tidak ada yang bisa menjemputnya karena mobil dibawa appanya bekerja dan ia baru pulang pagi hari nanti. Alhasil Hana harus pulang dengan berjalan kaki karena angkutan umum yang melintasi rumahnya sudah tidak beroperasi lagi mulai pukul sepuluh malam.

Suasana sudah sangat sepi. Hana sedikit takut saat itu. Bukan takut ada hantu, tapi takut jika ada orang jahat yang menghentikannya di tengah jalan.

Terdengar suara ribut dari kejauhan.

“Ya! Kau mau kemana?! Kita masih belum selesai..!!!”

“Kalian sudah kalah, masih mau menantangku heummm? Terima saja kekalahan kalian, pecundang!”

“Cihhh… Bajingan!!!! Rasakan ini!!”

Segerombolan namja sedang berkelahi. Hana yang tidak ingin ikut campur, mempercepat langkahnya. Takut jika ia pun akan jadi sasaran amukan orang-orang itu. Ia berjalan cepat melewati orang-orang itu.

“Kau pikir kami akan membiarkan uang kami jatuh ke tanganmu dengan mudahnya, Kim Joonmyun? Jangan harap! Dasar bodoh!!”

Deg…

Hana membalikkan badannya, menatap sekumpulan orang-orang itu. Benarkah yang ia dengar barusan? Kim Joonmyun?

Ia melihat namja-namja itu kini bubar, meninggalkan seorang namja babak belur tergeletak di jalan.

“Joonmyun??!!” Hana berlari menghampiri namja itu. Ya, benar dia Joonmyun!

“Ya, ampun. Joonmyun! Kau luka-luka!” Segera Hana memapah tubuh lemah Joonmyun ke tepi jalan.

“Apa yang kau lakukan tengah malam begini, yeoja aneh?”

“Aku baru pulang dari toko buku.”

“Dasar kutu buku. Ahhh…..” erang Joonmyun kesakitan ketika Hana membersihkan luka-luka di wajahnya menggunakan sapu tangan.

“Tahan sedikit, Joonmyun.. Mengapa mereka mengeroyokmu seperti ini?”

“Karena aku menang berjudi. Dan mereka tidak terima..” jawab Joonmyun sambil meringis menahan sakit.

“Aigoo, kau berjudi juga??!”

“Ciihhh.. Bukankah sudah kubilang kau tidak perlu mencampuri urusanku!” gertaknya.

“Mianhaeyo, Joonmyun. Tapi aku sudah berjanji pada Kim ahjussi untuk menjagamu,” ucap Hana pelan.

“Apa? Kim ahjussi?? Dari mana kau mengenalnya?!” tanya Joonmyun terkejut. Nada suaranya meninggi.

“Kumohon, Joonmyun. Kembalilah pada ahjussi. Dia mengkhawatirkanmu…”

“Tidak!! Kuperingatkan kau sekali lagi! Jangan pernah mencampuri urusanku!!!” Ia kalap.

“Tapi kenapa? Semua orang mengkhawatirkanmu. Kepala sekolah, Kim ahjussi, teman-teman sekelas.. Kenapa kau lebih memilih hidup seperti ini?”

“Karena mereka tidak mengerti..!!”

-Flashback-

-Joonmyun POV-

Brrmmm.. Brrmmm…

Kumainkan gas motorku sebelum dimulainya balapan. Asap yang dikeluarkan knalpot kini sudah membumbung tinggi. Jujur, sebenarnya aku tidak siap melakukan ini. Balapan liar ini terlalu beresiko. Tapi aku tak punya jalan lain. Yang aku inginkan hanyalah uang hadiah balapan ini yang akan aku gunakan untuk membayar biaya perawatan appa. Sudah 3 minggu ia terbaring di Rumah Sakit.

Kutengok sebentar kearah penonton di tepi jalanan. Ia tersenyum memberi semangat. Kulihat pergerakan bibir mungilnya seperti mengucapkan kata “hwaiting” padaku. Dia.. Song Ji Yoo. Kekasih yang sangat aku cintai. Ia lah yang selama ini mendukung cita-citaku untuk menjadi pelari atletik. Aku sangat menyayanginya. Dan aku berencana, jika aku menang pada balapan liar ini, aku akan menyisihkan sedikit uang hadiahnya untuk merayakan anniv kami yang menginjak 2 tahun.

Bendera putih hitam sudah terangkat. Menandakan balapan dimulai. Kutancap gas motorku dalam-dalam. Lalu dalam sekejap aku sudah berada di depan. Namun rupanya sainganku bermain curang. Aku disikutnya. Hampir saja aku terjatuh dari motorku. Aku tertinggal. Lawan-lawanku melaju sangat cepat. Sulit sekali aku menyusul mereka, jangankan menyusul mengejar pun sulit. Aku memang bukan pembalap, aku pelari atletik. Berbeda dengan rival-rivalku yang merupakan pembalap jalanan kelas kakap. Aku semakin tertinggal.

Garis finish tinggal beberapa putaran lagi. Aku hampir menyerah. Namun sekelibat bayangan appaku yang sedang terbaring di rumah sakit juga bayangan yeojachinguku yang sangat kucintai, melintas di pikiranku, membuat semangatku terbakar kembali. Tidak! Aku tak akan menyerah! Aku benar-benar membutuhkan uang hadiah dari balapan ini. Aku pasti bisa!

Kutancap lagi gasku. Dan benar apa kata orang, bahwa sugesti menentukan kemampuan manusia. Sungguh keajaiban aku bisa menyusul mereka. Kini akupun memimpin. Tinggal beberapa tikungan lagi. Aku akan memenangkan balapan. Kutengok ke belakang, bermaksud untuk melihat pembalap yang lain. Yeah! Aku sudah cukup jauh memimpin. Namun tiba-tiba kemudiku oleng. Keseimbanganku goyah.

Brruuggg…

Aku terjatuh di tengah lintasan.

“Arrrggghhhh..!” Kakiku tertindih body motorku. Sakit sekali! Sekuat tenaga, kucoba untuk menyingkirkan motorku, membebaskan kaki kananku yang terhimpit. Namun, sial aku terlambat. Pembalap-pembalap yang tadi ada di belakangku kini sudah ada di depan mata.

Bbbrrraaakkkkkk….!!!!!

Kecelakaan hebat tak bisa dihindari.

—**—

“Joonmyun.. Syukurlah kau sudah sadar!” Samar-samar kudengar suara seseorang ketika kubuka mataku.

“Paman.. Apa yang terjadi? Aku dimana? Kenapa paman ada disini?”

“Kau di Rumah Sakit Joonmyun. Kau sempat koma dan tak sadarkan diri. Untunglah kau bisa melawati masa kritismu. Aku benar-benar terkejut mendengar kabar kau kecelakaan.”

“Kecelakaan? Ahh ya.. Aku kecelakaan saat sedang balapan. Aku gagal mendapatkan uang hadiah yang akan kugunakan untuk—-“ Aku teringat sesuatu. “Appa! Dimana appaku, paman? Bagaimana keadaannya? Lalu bagaimana biaya Rumah Sakitnya?”

Kulihat pamanku terdiam. Ia menunduk lemas.

“Kenapa, paman?”

“Appa.. Appamu…”

“Kenapa? Appaku kenapa?”

“Appamu sudah meninggal..”

Aku terperanjat. Seketika tubuhku bergetar hebat. Kepalaku terasa pening. Air mataku meluncur cepat membasahi pipiku.

“Ini tidak mungkin! Appa, tidak mungkin meninggalkanku!!”

“Joonmyun.. Tenanglah!”

“Andwae!! Aku harus mencari appa!”

Aku bangun dari pembaringanku. Mencabut paksa semua selang infusku. Dan menyibakkan selimutku.

Degg..

Aku terhenyak. Kulirik pamanku yang berada di samping ranjang. Ia tertunduk sambil menangis. Aku menggelengkan kapalaku keras. Tidak! Aku tahu ini tidaklah nyata!

PLLAAAKKK..!!!

Kutampar wajahku sendiri. Berharap aku segera bangun dari mimpi burukku.

PLLAAAKKK..!!!

Kenapa? Kenapa aku tidak terbangun? Kenapa?

PLLAAAKKK..!!!

“Joonmyun! Hentikan!” Paman menahan tanganku.

“Andwae!! Aku pasti sendang bermimpi!!”

PLLAAAKKK..!!!

Aku terus menampari wajahku sendiri. Bahkan paman pun tak sanggup menahannya.

PLLAAAKKK..!!!

“Dokter.. Tolooonggg….!!” teriak namja paruh baya itu.

“Andwae.. Ini tidak mungkin terjadi! Aku sedang bermimpi, paman! Aku sedang bermimpi!!” Aku semakin kalap.

Kulihat dokter bersama beberapa orang suster datang membawa suntikan penenang.

—**—

Sore ini hujan turun. Aku duduk di atas kursi rodaku menghadap ke arah jendela. Kupandangi pemandangan di luar sana. Tampak tenang, hanya suara gemericik air yang bisa kudengar. Saat ini aku sudah mulai bisa menenangkan diri. Meski pada awalnya sangat berat menerima kenyataan bahwa aku kehilangan satu kakiku, yang berarti aku harus kehilangan impianku menjadi pelari atletik. Aku juga kehilangan appa yang sangat kucintai, yang berarti aku tidak punya orangtua lagi yang bisa memberikanku kasih sayang.

Namun aku masih bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya aku masih memiliki Ji Yoo, yeojachingu yang sangat sangat sangat aku cintai. Dia lah yang akan memberikanku kasih sayang menggantikan kedua orang tuaku. Aku sungguh beruntung memilikinya.

Aku baru saja menerima telepon darinya. Ia akan mengunjungiku sebentar lagi. Kini aku sedang menunggunya. Aku sungguh tak sabar. Aku begitu merindukannya. Hari ini tepat hari jadi kami yang ke-2, kuharap ia tidak marah karena aku tidak bisa merayakannya. Song Ji Yoo, cepatlah datang… Ingin rasanya aku memelukmu erat.

Ckklleekkkk…

Kudengar suara kenop pintu kamarku. Ahh, itu pasti Ji Yoo.. Buru-buru kudorong kursi rodaku sendiri mendekat ke arah pintu, bermaksud menyambut kedatangannya.

Degg…

Aku terkejut luar biasa. Ji Yoo datang bersama dengan seorang namja. Namja yang tinggi, dan tampan. Ia menggandeng lengan namja itu.

“Si.. Siapa dia??” ucapku gemetaran.

“Joonmyun, dia namjachingu baruku, namanya Chanyeol. Mianhae.. aku ingin mengakhiri hubungan kita..” ucap yeoja itu yang seketika membuat hatiku bagai tersambar petir.

“Ke.. Kenapa, Ji Yoo-ah. Kukira kau—-“

“Mianhae, Joonmyun-ah. Aku tidak bisa hidup dengan namja yang miskin dan cacat sepertimu.”

-Joonmyun POV End-

-Flashback End-

“Bisa kau bayangkan bagaimana terpuruknya aku saat itu, hah? Kepala Sekolah, ahjussi dan teman-teman.. Orang-orang itu hanya mengkhawatirkanku. Mereka memaksaku untuk kembali menata ulang hidupku. Tapi apakah mereka memikirkan perasaanku? Rasa sakit hati ku. Rasa maluku. Rasa putus asaku. Kau tidak pernah mengerti karena kau tidak pernah merasakannya. Kehilangan impian yang selama ini kau perjuangkan meskipun harus menentang kedua orangtuamu yang berujung pada malapetaka. Kau kehilangan orang yang kau cintai melebihi apapun di dunia. Dan yang lebih menyakitkan kau harus menahan rasa malu seumur hidup karena memiliki tubuh yang cacat. Ya, cacat sepertiku. Meski disambungpun kau hanya akan bisa berjalan tertatih, tanpa bisa berlari untuk meraih cita-citamu. Tidak akan ada yeoja yang menyukai namja dengan tubuh yang cacat, bukan? Bisakah kau bayangkan jika kau kehilangan segalanya sepertiku? Apa yang kau pikirkan? Jadi untuk apa lagi kau mempertahankan hidupmu? Apa alasanmu untuk memperbaiki kembali kehidupanmu kalau kau sendiri tidak punya tujuan untuk hidup?!” Joonmyun mengepalkan tangannya kuat, berusaha meredam semua emosinya. Namun, air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia menangis.

“Sekarang kau lihat aku.. Apa kau punya ide? Jika kau yang mengalaminya. Kau pasti akan melakukan hal yang sama denganku, kan?” suaranya bergetar.

“Bodoh!” ucap Hana enteng. Joonmyun mengernyitkan dahi.

“Kau benar-benar bodoh, Kim Joonmyun!”

“Apa maksudmu?!!”

“Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa sugesti berpengaruh pada kemampuan? Selama ini kau hanya berpikir, kau kehilangan segalanya. Kau tak mampu lagi mengejar impianmu. Lalu mengapa kau tidak pernah berpikir sebaliknya? Kau dikaruniai otak yang cerdas, Joonmyun! Aku percaya, kau—-“

“Hentikan semua omong kosong ini! Kau tidak usah so mengguruiku! Kenyataanya kau hanya menggangguku! Kau sama saja dengan mereka. Tidak pernah mau mengerti!”

“Aku mengerti…”

Entah keberanian dari mana, Hana menarik kuat kaos yang dikenakan Joonmyun. Menarik hingga wajah namja itu mendekat. Dan..

Cuupppp….

-To be Continued-

Advertisements

6 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s