My Angel’s Smile (Chapter 3)

My Angel's Smile (1)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 3

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIAT!

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past


“Hentikan semua omong kosong ini! Kau tidak usah so mengguruiku! Kenyataanya kau hanya menggangguku! Kau sama saja dengan mereka. Tidak pernah mau mengerti!”

“Aku mengerti…”

Entah keberanian dari mana, Hana menarik kuat kaos yang dikenakan Joonmyun. Menarik hingga wajah namja itu mendekat. Dan..

Cuupppp….

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

Suasana yang tadinya ribut akibat pertengkaran mereka berdua berubah hening ketika Hana yang entah sadar atau tidak, mencium lembut bibir Joonmyun. Menumpahkan semua perasaan yang bersarang di hatinya melalui ciuman hangatnya. Ciuman yang penuh dengan perasaan yang tulus dari yeoja itu. Perasaan bahwa ia benar-benar mencintai Joonmyun sepenuh hatinya bagaimanapun keadaan Joonmyun sekarang. Dan bahwa ia ingin Joonmyun sadar bahwa yang barusan ia katakan adalah salah, karena di dunia ini masih ada yeoja yang menyayanginya.

“Joonmyunnie, kalau kau berkata demikian, maka kau salah..” ucapnya lirih di sela-sela ciuman.

Tangan Hana beralih pada punggung Joonmyun. Memeluknya erat. Menyalurkan kekuatan pada namja itu. Joonmyun hanya bisa diam. Tidak membalas, tidak juga menolak. Ia masih terlalu terkejut dengan perlakuan Hana yang tiba-tiba itu.

Namun sedetik kemudian..

Bruukkk…!!!

“Aaaarrghhh…” erang Hana setelah tubuhnya terhempas keras ke tanah. Joonmyun mendorong keras tubuh yeoja itu.

“Jangan bermain-main denganku!!” Cepat, namja itu bangkit. Dan dengan langkah pincang ia berjalan pergi meninggalkan yeoja yang kini mulai menangis itu.

“Joonmyun.. Aku tidak bermain-main. Aku serius.. Kumohon dengarkan aku!!” teriak Hana dari kejauhan, berusaha menghentikan Joonmyun. Tapi sia-sia, namja itu seperti tidak mau mendengarkan Hana. Ia tetap berjalan.

“Joonmyun, aku mencintaimu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu!”

Deg..

Perkataan Hana tadi membuat langkah Joonmyun terhenti. Ia terdiam sejenak, seolah mencerna apa yang barusan Hana katakan padanya. Sungguh, baru pertama kalinya ia mendengar kata-kata itu lagi semenjak terakhir kali ia mendengarnya bertahun-tahun yang lalu sebelum insiden kecelakaan pada balapan liar itu terjadi. Kata-kata cinta yang indah yang ia dapatkan dari mantan kekasihnya dulu, Song Ji Yoo, yang kini ia sadari itu hanyalah dusta. Joonmyun mengepalkan tangannya. Tidak, ia tidak akan mungkin terbuai dengan kata-kata itu lagi.

Tapi, sadarlah Joonmyun. Kali ini berbeda. Jika Song Ji Yoo mengatakan itu pada saat Joonmyun masih menjadi anak pengusaha kaya, yang tampan, pintar dan jago olahraga. Maka Hana mengatakannya pada saat Joonmyun dalam kondisi yang seperti sekarang ini.

Mana ada kan seorang yeoja cantik, kaya raya dan cerdas serta memiliki masa depan cerah seperti Hana, mau menyatakan cinta pada seorang namja miskin dengan tubuh cacat dan perilaku layaknya orang tak berpendidikan seperti Joonmyun?

Apa kesimpulan yang dapat kau tarik?

Ya, Hana benar-benar tulus mencintai Joonmyun tanpa melihat keadaannya. Ia tulus menerima Joonmyun bagaimanapun kondisinya.

“Joonmyun.. Kumohon…” Suara Hana mulai serak.

Tapi tetap saja itu percuma. Tanpa mengindahkan perkataan Hana, Joonmyun kembali melangkahkan kakinya tanpa mau sedikitpun berbalik pada Hana. Yeoja itu hanya bisa pasrah melihat Joonmyun pergi, sampai akhirnnya ia benar-benar menghilang dari kejauhan.

“Kenapa Joonmyun. Kenapa kau tidak mau melihatku sekali saja? Apakah aku benar-benar mengganggumu? Apakah kau benar-benar membenciku? Kenapa?” Hana menangis seorang diri di tengah gelap dan dinginnya malam.

—**—

“Hei, Hana -chan.. Gwaenchanayo? Dari tadi kau melamun,” ujar Baekhyun sambil melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Hana.

“Ahh.. Nae.. Gwaenchana..” Seketika Hana buyar dari lamunan panjangnya.

“Ada yang ingin kau ceritakan pada kami? Beberapa hari ini kau terlihat lesu sekali. Ada masalah apa?”

“Ani.. Aniyo.. Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah karena pelajaran tambahan untuk olimpiade nanti,” tukas Hana berbohong.

“Sepertinya kau butuh refreshing, Hana -chan. Hari ini kan hari Sabtu. Ayo ikut kami nanti malam. Aku dan Baekhyun akan pergi ke pasar Namdaemun,” ajak Minra.

“Emmm.. Ya, boleh deh.” Hana mengangguk mengiyakan ajakan kedua orang sahabatnya itu, meski sebenarnya ia sedang tidak ingin pergi kemanapun, dan tidak ingin melakukan apapun.

*

“Waaahhh.. Lihat, lihat! Lucu sekali gantungan kunci ini!” teriak Minra sumringah.

“Nae, ayo kita beli gantungan kunci yang sama untuk kita bertiga!” tambah Baekhyun.

“Ahh.. Baekki lihat! Gantungan babi ini mirip sekali denganmu!”

“Ya, Minra! Enak saja! Aku yang rupawan ini dikatai babi! Sial..”

“Memang benar kan? Persis seperti namamu ‘Bacon’..”

“Aiisshhh.. Kau juga mirip sekali dengan gantungan monyet ini!”

“Ya! Aku tidak mirip monyet itu. Dasar Baekki jelek!”

“Enak saja kau mengataiku jelek! Aku ini tampan, Minra -ah! Ibuku juga bilang begitu..”

“Ya tentu saja, mana ada seorang ibu yang bilang anaknya jelek. Dasar pabo!”

“Eittsss.. Kau lebih pabo dariku. Ulangan kimia kemarin nilaiku lebih besar daripada nilaimu!”

“Aku kan memang lemah di pelajaran kimia. Lihat saja nilai ulanganku di pelajaran yang lain, semuanya lebih besar dari nilaimu.”

“Aiisshhh.. Terserahmu lah.. Yang penting aku tetap tampan!”

“Kau ini terlalu kepedean, Baekki jelek!”

“Kau yang jelek..”

“Kau lebih jelek..”

“Kau lebih jelek daripada orang jelek.”

“Kau orang terjelek yang pernah kutemui.”

Hana yang sedari tadi berada di samping mereka hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Minra dan Baekki yang terus saja mengoceh tiada henti. Dasar mereka ini, bukannya membeli malah bertengkar… Ckckck.

Hana menghela nafas pelan. Ia berlalu meninggalkan kedua orang sahabatnya yang masih cekcok di toko aksesoris itu. Ia berniat untuk berjalan-jalan sendirian mencari angin. Walau bagaimanapun moodnya sedang tidak baik hari ini. Ia berjalan melewati beberapa blok toko-toko di sepanjang pasar Namdaemun. Hemm.. tidak ada yang menurutnya menarik, padahal biasanya ia sangat suka kerajinan Korea.

Akhirnya ia duduk di sebuah kursi panjang sambil menikmati harum manis yang ia beli. Perlahan ia memegangi bercak kebiruan di sekitar lengan kananya dekat dengan siku. Luka itu ia dapat ketika Joonmyun mendorongnya keras ke tanah tempo hari. Hana meringis. Ini masih terasa sakit.

“Apakah memang tidak ada cara lagi untuk merubah pola pikir Joomyun?” gumam Hana frustasi.

Tiba-tiba kepala Hana terasa berdenyut. Mungkin karena suasana disana yang terlalu ramai. Yeoja itu pun beranjak pergi meninggalkan pasar Namdaemun.

Hana berjalan tak tentu arah. Ia ingin pulang, tapi kakinya terus saja melangkah, membawanya ke suatu tempat. Dan akhirnya ia sampai di kediaman Joonmyun.

“Haiisshhhh… Kenapa aku malah kesini?” Hana mengacak-acak rambutnya sendiri.

Baru saja ia berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu, Joonmyun datang sempoyongan. Hana terkesiap. Ia menunduk. Takut Joonmyun akan marah padanya karena ia dengan lancang datang kemari. Padahal sungguh ia datang dengan tidak sengaja.

“Hei, apa yang kau lakukan disini hei yeoja manis? Kau mau menemaniku malam ini heumm?” racau Joonmyun tak jelas. Rupanya ia mabuk.

Brukk…

Namja itu terjatuh di depan pintu kamarnya.

“Ya, Joonmyun ireona! Jangan pingsan disini dong!” teriak Hana panik mengetahui Joonmyun tak sadarkan diri.

“Kalau aku bawa Joonmyun masuk ke kamarnya, kuncinya kan ada di saku celananya. Masa aku harus mengambilnya?”

“Kalau aku bawa pulang ke rumahku tidak mungkin. Jarak rumahku jauh dari sini. Masa aku harus menggotong Joonmyun sendirian sampai rumah?”

“Eotteohke? Eotteohke?” Hana uring-uringan sendiri.

“OK.. Mianhae Joonmyunnie, aku bukannya mau bertindak kurang sopan padamu, tapi aku terpaksa melakukannya karena aku tidak tega membiarkanmu pingsan disini, arraseo?” ujar Hana pada Joonmyun, meskipun ia tahu Joonmyun pasti tidak mendengarnya.

Kemudian dengan segenap tenaga dan pikiran (?) Hana memberanikan diri untuk merogoh saku celana Joonmyun, mengambil kunci kamarnya.

“Fiuuhhh.. Akhirnya dapat juga. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat,” gumam Hana seraya menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Takut-takut ada yang melihatnya, nanti orang lain bisa salah paham kalau sampai tahu Hana berduaan dengan Joonmyun masuk ke kamar.

Ingat, etika! Anak perempuan tidak boleh masuk ke kamar laki-laki yang bukan muhrimnya, begitu juga sebaliknya *apasih.

Blamm… Ia menutup pintu cepat, setelah ia masuk ke dalam kamar.

Dengan hati-hati Hana membaringkan tubuh Joonmyun di tempat tidurnya.

Yeoja itu menyeka keringat di keningnya. Ternyata meskipun badan Joonmyun kecil, dia berat juga.

Ya tentu saja terasa berat, karena tubuh Hana lebih kecil daripada Joonmyun. Dan ia harus mengangkat namja itu seorang diri. Pasti akan sangat melelahkan untuknya.

Ia duduk di tepi ranjang, menilik wajah tampan yang sedang tertidur itu. Banyak terdapat luka baru. Ia pasti berkelahi lagi.

Mata Hana beralih. Meneliti setiap sudut ruangan kamar Joonmyun. Mencari sesuatu.

“Ahhh.. Itu dia!” celetuk Hana. Segera ia meraih benda yang tadi dicarinya itu. Kotak P3K.

Dan dengan penuh kasih sayang dan perasaan tulus, ia dengan sabar mengobati luka-luka di wajah Joonmyun yang sudah tidak terhitung berapa jumlahnya itu.

“Tsk.. Apa dia tidak bosan berkelahi melulu? Kenapa dia tidak menjadi petinju saja sekalian?” decak Hana.

Selesai.

Hana menaruh kembali kotak P3K itu. Sejurus kemudian, pandangan yeoja itu terhenti pada sesuatu yang tergeletak di atas meja tak jauh dari tempat kotak P3K itu diletakkan. Sebuah album foto usang milik Joonmyun.

Bukan Hana namanya kalau hidupnya tidak dipenuhi dengan rasa penasaran. Iseng-iseng ia membuka album itu. Melihat-lihat isinya.

Terdapat foto Joonmyun kecil di halaman paling depan. Yeoja itu terkekeh pelan. Yahh, itu foto Joonmyun ketika ia berusia 3 tahun kira-kira.

Halaman berikutnya agak sulit dibuka, karena menempel pada halaman sebelumnya. Namun akhirnya berhasil juga terbuka meskipun dengan sedikit paksaan. Ternyata terdapat foto Joonmyun kecil bersama dengan… emm appa dan eommanya disana. Sepertinya bekas air mata yang membuat halaman itu jadi lengket.

Hana menghela nafas pelan. Joonmyun pasti sangat merindukan orangtuanya.

Ia beralih pada halaman-halaman yang lain. Banyak sekali foto-foto Joonmyun ketika SD dan SMP. Imutnya! Waktu SMP dia banyak mendapat penghargaan, cerdas cermat, olimpiade, siswa berprestasi dan lain-lain. Dia memang cerdas. Adapula fotonya bersama dengan pamannya. Foto yang sama dengan foto yang Hana temukan di rumah Kim ahjussi tempo hari.

Deg..

Hana terpaku. Pandangannya tertuju pada sebuah foto di halaman terakhir. Foto Joonmyun yang sedang memegang sebuah medali emas lari atletik. Penghargaan yang Joonmyun dapatkan saat mengikuti kejuaraan di sekolahnya dulu, sewaktu Joonmyun belum mengalami kecelakaan itu. Sebelum kakinya diamputasi. Ia digandeng oleh seorang yeoja cantik yang diyakini adalah mantan yeojachingunya, Song Ji Yoo. Yang membuat Hana terkejut adalah diantara foto-foto yang lain, hanya foto inilah yang menampakkan Joonmyun yang sedang tersenyum. Senyum yang penuh dengan kebahagiaan. Meskipun agak berkeringat, tapi wajah namja itu terlihat begitu tampan. Tampan sekali..

Hana duduk di tepi ranjang. Membandingkan wajah Joonmyun dengan wajah di foto itu, seakan ia tak percaya bahwa yang di foto itu benar-benar Joonmyun yang ia kenal. Joonmyun yang selama ini selalu hinggap di hati dan pikirannya. Joonmyun yang selalu menampakkan wajah muram dan tak pernah tersenyum.

Ya, itu benar-benar Joonmyun. Yang ada di foto itu benar-benar Joonmyun. Ia tetap tampan. Tapi terasa jauh berbeda. Mimik wajah penuh kebahagiaan itulah yang menjadi pembedanya.

“Joonmyunnie, aku ingin membuatmu bahagia seperti di foto ini. Aku ingin kau bisa tersenyum lagi,” lirihnya. Perlahan Hana menggerakkan jari-jari lentiknya di wajah Joonmyun. Mengusap lembut pipi namja itu.

“Akankah aku bisa melihat senyummu?” Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Joonmyun. Mengecup lembut kening Joonmyun.

Ini terlihat sedikit nekat memang. Dan Hana tahu persis konsekuensinya. Joonmyun pasti akan sangat marah padanya jika ia mengetahui hal ini. Tapi Hana sudah tidak mempedulikannya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bahwa ia sangat menyayangi Joonmyun dan bagaimana caranya agar Joonmyun menyadarinya. Menyadari bahwa perasaan Hana terhadapnya tidak main-main. Ia ingin melindungi Joonmyun. Ia ingin melihat Joonmyun kembali seperti dulu, seperti di foto itu.

Deg..

Sekali lagi Hana tercekat. Melihat Joonmyun yang tiba-tiba membuka matanya. Hana menggigit bibir bawahnya menyadari posisinya yang tidak tepat. Wajah mereka masih sangat dekat, bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas Joonmyun menyapu wajahnya yang kini berubah merah. Ia ingin segera bergerak menjauh, namun badannya seakan membeku.

Srettt… Brukkkk…

Joonmyun menarik Hana hingga yeoja itu terjatuh berbaring di sampingnya. Dengan cepat Joonmyun bergerak menindih tubuh Hana. Mengunci yeoja itu agar tidak bisa bergerak.

“Jun… Junmyun.. Apa yang kau—hmmppp.”

Joonmyun mencium Hana. Melumat bibir yeoja itu dengan liar.

“Arrgghhh… Lepas— hmmpp.”

Sekuat tenaga Hana memberontak. Namun ia tak cukup kuat melawan tenaga Joonmyun yang notabenenya adalah tukang berkelahi. Hal itu justru membuat Joonmyun semakin kasar. Ia menggigit bibir bagian bawah yeoja itu hingga berdarah.

Setelah puas, ia beralih ke leher jenjang Hana. Menciumnya penuh nafsu. Menggigitnya kasar.

“Saaakkiiitttt….” erang Hana ketika lehernya kini meneteskan darah akibat perbuatan Joonmyun.

“Hentikan Joonmyun kumohon.” Hana menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut.. Sangat takut.. Takut jika Joonmyun akan melakukan hal yang lebih parah lagi.

Namun tiba-tiba Joonmyun berhenti. Tubuhnya limbung. Dia kembali ambruk, menindih tubuh Hana. Cepat, yeoja itu menyingkirkan tubuh Joonmyun yang kini kembali tak sadarkan diri. Ia sungguh ingin pergi.

Greeppp…

Tangan Joonmyun mencekal kuat tangan Hana. Menahan yeoja itu agar tidak pergi.

Hana ingin memberontak, tapi ia sudah tidak mampu lagi melakukan itu. Tenaganya sudah habis. Dan entah mengapa ia merasa pusing. Pusing sekali. Kepalanya serasa berputar-putar. Rupanya ini efek alkohol dari mulut Joonmyun yang Hana rasakan karena ciuman tadi. Lama-kelamaan pandangan Hana kabur.

—**—

Cahaya mentari pagi merembes melewati celah jendela mamaksa Hana membuka matanya yang masih berat. Astaga, ia tak sengaja tertidur disini. Di kamar Joonmyun. Di tempat tidur Joonmyun. Di samping Joonmyun.

Ia terkesiap dan berusaha untuk bangkit, meski badannya masih terasa lemas. Ssshhh… dirasakannya perih pada ujung bibir dan lehernya. Terdapat luka disana.

“Apa yang kau lakukan disini?!” Terdengar suara Joonmyun yang baru sadar. Ia menatap yeoja itu sinis.

“Aa.. Aku melihatmu pingsan. Jadi aku membawamu kemari,” jawab Hana takut. Emosi Joonmyun kembali memuncak melihat album fotonya yang tergeletak tidak pada tempatnya. Semalam Hana lupa menaruhnya kembali pada tempatnya.

“Lalu, mengapa album fotoku ada di sana?” Ia mendelik. Menatap tajam manik mata Hana.

“A.. Aku.. Aku hanya—- Ya! Kim Joonmyun kenapa kau mabuk-mabukan? Itu sangat berbahaya bagi tubuhmu!” Hana berusaha mengalihkan pembicaraan.

“CEREWET..!!!!”

GREPPP…!!

“J.. Joon..myun…”

Hana terkejut bukan main. Matanya terbelalak. Mulutnya terbuka lebar. Nafasnya tertahan. Tak percaya dengan apa yang dilakukan Joonmyun.

“L.. Le..pas..kan…”

Kedua tangan Hana yang lemah bergerak memegang tangan kiri Joonmyun. Berusaha melapaskan cengkraman tangan namja itu di lehernya.

“Aku sudah memperingatkanmu secara baik-baik. Tapi kau tidak pernah mau mengerti. Apa perlu aku gunakan cara yang kasar?”

“La.. Laku..kan… Lakukanlah!” jawab Hana sesak. Joonmyun mengernyitkan dahinya mendengar jawaban tak terduga yeoja itu.

“Kalau memang itu bisa membuatmu senang. Maka lakukanlah! Pukul aku! Tampar aku!” Ia memejamkan matanya pasrah.

Merasa tertantang, Joonmyun makin menguatkan cengkramannya.

Hana membuka mulutnya lebar-lebar. Berusaha mengais oksigen yang tak dapat ia hirup.

Sesak..

Sesak sekali..

“Ya.. Ce..kik s..sa..ja a..ku s..sam..pai m..mati ka..lau k..kau me..mang.. mem..ben..ci..ku…….. T..tapi to..long dengar..kan a..ku se..ka..li la..gi sa..ja…….. J.. Joon.. Joonmyun, a..aku men..cin..tai..mu….. A..aku ingin k..kau hi..dupp b..bahagia…… To..long… har..gai hi..dup..mu…… Har..gai eom..ma dan ap..pa y..yang te..lah me..ra..wat..mu…… A..a..jussi y..yang meng..kha..wa..tirkan..mu….. O..rang – o..rang y..yang me..nya..ya..ngi..mu…… Har..gai me..mereka…. To..long hi..dup..lah de..ngan b..baik… Ku..mo..hon…….” ucap Hana terbata-bata. Nafasnya tak teratur. Airmatanya tumpah. Mengalir. Membasahi tangan kiri Joonmyun yang bertengger mencekik leher Hana. Joonmyun.. Kenapa kau setega ini?

Namun kini tangan kokoh itu bergetar hebat.

Diperhatikannya yeoja itu. Terdapat luka di lengan, leher dan bibir. Joonmyun sadar, itu semua karena ulahnya.

Perlahan dikendorkannya genggaman tangannya. Membuah leher Hana sekarang terbebas.

Joonmyun terduduk lemas. Menunduk. Entah apa yang dia pikirkan, ia kini terlihat sedih.

“Pergilah…” pinta namja itu. Nada suaranya rendah.

“T..Tapi….” sergah Hana.

“Kumohon. Dengarkan aku sekali ini saja. Pergilah….” lirihnya.

Hana tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan namja itu sendirian.

“Eomma…….” gumam Joonmyun seorang diri.

“A..Aku.. kejam….”

Ia memegangi dadanya. Perasaan kalut menyelimutinya.

“Aku memang seperti iblis….”

Bulir-bulir bening mulai menetes deras menciptakan anak sungai di kedua pipi putihnya yang sekarang terlihat memucat.

“Aku tak pantas hidup….”

Ia meremas kaos yang ia kenakan tepat di bagian dada.

Tangan kanannya bergerak menyentuh wajahnya. Luka-lukanya telah tertutup rapi oleh plester. Hana yang mengobatinya..

Tangan yang lainnya meraih sebuah benda yang selalu ia simpan apik di laci nakasnya. Sebuah sapu tangan berwarna cream dengan motif bunga di sisinya. Sapu tangan yang digunakan untuk membersihkan lukanya akibat berkelahi waktu itu. Sapu tangan milik yeoja itu…

“A.. aku sudah sangat menyakitinya…”

—**—

-Keesokan Harinya-

“Ya, Hana –chan. Kenapa kau meninggalkan kami di pasar Namdaemun kemarin? Kami mencarimu. Kenapa kau tidak mengirim——“ teriak Baekhyun dan Minra ketika Hana menjejakkan kakinya di kelas. Namun tiba-tiba ucapan mereka terpotong melihat keadaan yeoja keturunan Jepang itu. Wajahnya pucat. Matanya sembab, akibat menangis semalaman. Plester tertempel di sudut bibir dan lehernya.

“Hana kau kenapa????” Mereka terlihat sangat khawatir.

“Ani.. Tidak ada apa-apa…” elak Hana seraya menggeleng pelan. Suaranya serak.

“Dengan keadaanmu yang seperti ini kau masih bisa bilang tidak ada apa-apa???”

“Ceritakan pada kami, Hana –chan. Siapa tahu kami bisa membantumu….”

Hana menatap sendu wajah serius kedua sahabatnya itu. Tangisannya kembali meledak. Ia menghambur ke pelukan Minra.

“Cup… Cup… Cup… Hana tenangkan dirimu….” Minra menepuk-nepuk punggung Hana. Berusaha menenangkan yeoja yang sedang menangis sesenggukan di dekapannya.

Akhirnya Hana menceritakan semuanya pada Baekhyun dan Minra. Ia sudah tak tahan lagi jika harus menyimpan beban di hatinya seorang diri. Berharap mereka dapat memberikan solusi terbaik atas masalah yang menimpanya.

“Kurang ajar! Lancang sekali dia melakukan itu padamu!!” Baekhyun terlihat sangat emosi. Ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju pintu kelas.

“Kau mau kemana???” teriak Minra.

“Aku akan mencari Joonmyun! Biar kuhajar namja brengsek itu!”

“Jangan…!” Hana mengejar Baekhyun. Menahan tangan namja itu.

“Tidak! Namja itu sudah sangat keterlaluan. Ia harus diberi pelajaran!!”

“Sudahlah Baekki. Jangan lakukan itu… Ini semua salahku kok. Harusnya aku langsung meninggalkan Joonmyun waktu itu, bukannya malah menungguinya. Ia masih dalam keadaan mabuk. Jadi dia berbuat seperti itu di luar kesadarannya..” jelas Hana. Mencoba menghentikan Baekhyun.

“Lalu, ketika dia mencekikmu. Dia dalam keadaan sadar, kan? Kau jangan terus-terusan membelanya, Hana. Dia yang salah!” ketus Baekhyun sambil terus berjalan.

“Sudahlah Baekhyun. Kekerasan tidak akan menyelesaikan semuanya..” Minra ikut angkat bicara.

“Kenapa kau jadi ikut-ikutan membela Joonmyun? Harusnya kau membelaku. Namja itu memang pantas diberi pelajaran!”

“Kumohon Baekhyun ayolah.. Kita harus kembali ke kelas. Pelajaran akan segera di mulai.” Sekuat tenaga Hana membujuk Baekhyun.

“Aku tidak akan kembali sebelum membuat namja itu babak belur!” Baekhyun masih saja ngotot.

“Byun Baekhyun…”

“Tidak, jangan hentikan aku…”

“Kumohon…” Hana menarik tangan Baekhyun.

Plakkk…

Ditepisnya kasar tangan Hana.

“Baekki –ya. Dengarkan apa kata Hana…” bela Minra.

“Tidak.. Aku tidak akan bisa tinggal diam melihat yeoja yang aku sayangi terluka!” bentaknya seraya terus berjalan melewati gerbang sekolah.

Hana dan Minra terdiam.

Byun Baekhyun.. Kau…

Greppp…

Langkah Baekhyun benar-benar berhenti ketika Hana memeluknya dari belakang.

“Baekki –ya… Justru aku –lah yang takut… Aku takut kau yang kenapa-kenapa. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kau sampai terluka karena aku… Jadi kumohon. Hentikanlah…” mohonnya.

“Ya, Hana benar. Kami tidak ingin kau terluka…”

Baekhyun mengepalkan tangannya kuat. Kalau sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Baiklah… Jika ini maumu. Tapi kalau sampai Joonmyun berbuat yang tidak-tidak lagi padamu. Jangan pernah halangi aku.” ucap Baekhyun pasrah. Minra dan Hana tersenyum lega.

“Kajja, kita kembali ke kelas…” ajak Minra. Meraka berjalan beriringan menuju kelas mereka kembali.

DEGG…

Belum sampai mereka ke tempat tujuan, kini langkah Hana yang terhenti. Entah mengapa dadanya sakit sekali. Perasaannya benar-benar tidak enak. Ada apa ini?

“Lho kenapa Hana?” tanya Baekhyun.

“Emmm… Kalian kembali ke kelas saja duluan. Aku ada urusan!” ucap Hana seraya berlari meninggalkan mereka berdua. Baekhyun dan Minra pun saling berpandangan heran.

“Hana tunggu…!!”

“Kenapa.. Kenapa ini? Hatiku… merasa tidak enak sekali. Anehhh…” ujar Hana dalam hati sambil terus berlari. Ia sendiri tidak mengerti, kemana kakinya akan melangkah.

Ia berhenti. Di depan kamar Joonmyun.

Kenapa kakinya membawanya kemari? Ada apa dengan Joonmyun?

“Hana…!” terdengar suara dari arah belakang. Hana menengok ke asal suara. Ternyata Baekhyun dan Minra mengejarnya sampai kesini.

“Kenapa.. kau.. lari.. begitu.. saja? Hosh.. Kami.. mengejarmu… Hosh.. Hosshhh…” Mereka terengah-engah sambil membungkuk dan menopang tangannya di lutut.

“Jadi ini tempat tinggal Joonmyun?” Kini Baekhyun menegakkan badannya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada melihat pintu kamar bernomor 12 di hadapannya itu.

“Pintunya terkunci!” teriak Minra saat ia berusaha membuka pintu itu.

“Minggir.. Biar kudobrak saja..”

 

Brakkkkk….

Pintu itu terbuka setelah Baekhyun menendangnya sekuat tenaga.

ASTAGA….

Mereka bertiga terkejut luar biasa…

Minra menangis di pelukan Baekhyun tidak tahan melihat pemandangan di depannya.

Baekhyun yang pada awalnya memasang tampang sinis berubah ngeri.

Hana terduduk lemas. Kakinya seakan tak mampu menopang tubuhnya ketika menemukan sosok pemilik kamar yang terbujur di lantai bersimbah darah.

-To be Continued-

Advertisements

6 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s