My Angel’s Smile (Chapter 5)

My Angel's Smile (1)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 5

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIAT!

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

My Angel’s Smile Chapter 4: Where are You?


–My Angel’s Smile Chapter 5: Missing You Like Crazy–

“Hana-shi, sepertinya kondisimu sedang tidak baik beberapa hari belakangan ini,” ucap Lee seonsaeng ketika ia memeriksa hasil pekerjaan Hana.

“Nae?” tanya yeoja itu sedikit terkejut.

“Lihatlah. Jawabanmu banyak yang salah. Dan kesalahmu hanya kesalahan sepele. Salah mengalikan atau menjumlahkan bilangan. Dan kesalahan seperti ini selalu terjadi berulang-ulang selama seminggu.”

“Ah.. Jinjjayo? Jeosonghamnida seonsaeng-nim, sepertinya aku kurang berkonsentrasi,” sesal Hana sambil membungkuk berkali-kali. Betul-betul takut Lee seonsaeng akan marah besar dan menghukumnya.

“Pulanglah, pelajaran tambahan hari ini dicukupkan sampai disini saja. Kau istirahat saja di rumah. Sepertinya kau lelah.”

“Ta.. Tapi, seonsaeng-nim aku tidak apa-apa. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi,” sergah Hana, sedikit terkejut dengan sikap guru matematika sekaligus pembimbing killer-nya itu.

“Dipaksakan pun tidak baik. Aku memberikanmu libur pelajaran tambahan ini selama seminggu. Jadi pergunakan baik-baik untuk istirahat di rumah dan selesaikan semua masalahmu.” Lee seonsaeng menepuk-nepuk pundak Hana lalu beranjak keluar dari ruangan.

Hana menunduk, “nae, seonsaeng-nim. Jeosonghamnida.” Dengan ragu Hana membereskan semua alat tulisnya.

“Ah.. Dan berjanjilah padaku, dipertemuan selanjutnya kau sudah kembali seperti sedia kala, tanpa kesalahan,” pesan terakhir namja paruh baya itu dengan penekanan di akhir kata sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.

“Ba… Baik” jawab Hana.

Yeoja itu luruh ke lantai. Jantungnya berdegup keras. Demi apapun, ia ketakutan sekali. Hana menatap kertas jawaban matematikanya, kemudian merutuki kecerobohannya.

“Bodoh sekali kau Sawajiri Hana!” Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Untunglah, sepertinya Lee seonsaeng sedang good mood hari ini sehingga ia tidak menjatuhkan hukuman berat pada Hana.

Yeoja itu terdiam. Seperti menerawang pada sesuatu. Sesuatu yang entah kenapa selalu ada di pikirannya tanpa bisa menghilang sedikitpun. Segera ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia tidak mau memikirkan hal itu lagi!

Buru-buru ia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo.. Baekhyun-ah, pelajaran tambahanku sudah selesai——“

*

Hana tersadar dari lamunannya ketika ia merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya.

“Baekhyun-ah, kau membuatku kaget,” gerutu Hana lalu mengambil kaleng minuman dingin yang ditempelkan Baekhyun di pipinya tadi.

“Kau melamun terus, sampai-sampai tidak menyadari kalau aku sudah dari tadi duduk di sebelahmu.”

“Ah, hehe.. Mian…” Hana berusaha terseyum dan bersikap sesantai mungkin lalu meneguk minuman kalengnya.

“Memikirkan dia lagi?”

“Ani!” Hana menggeleng cepat. “Aku hanya memikirkan jawaban matematikaku tadi,” jawabnya bohong.

“Ah nae, ada apa dengan Lee seonsaeng? Tumben sekali dia memberikan pelajaran tambahan hanya setengah jam.”

“Itu semua karena aku.. Aku tidak berkonsentrasi mengerjakan soal-soalnya. Untunglah ia tidak menghukumku dan malah menyuruhku libur selama seminggu.”

“Jinjja? Kalau begitu selama seminggu ini, sepulang sekolah kita bisa bermain!” seru Baekhyun girang.

“Tsk, Baekhyun-ah kenapa di pikiranmu hanya ada bermain, bermain dan bermain? Kita punya banyak tugas penelitian, presentasi dan soal-soal menumpuk yang harus dikerjakan.”

“Hana-chan, kenapa pikiranmu hanya ada belajar, belajar dan belajar? Kau tidak bosan apa? Kau jarang-jarang kan mendapatkan waktu senggang sepulang sekolah. Hanya seminggu ini saja. Kedepannya kau pasti tidak akan punya waktu luang sama sekali menjelang olimpiade. Jadi apa salahnya waktu yang sempit ini kau manfaatkan untuk bersenang-senang dan menghilangkan stressmu.”

Hana menunduk ragu, membuat Baekhyun merasa sedikit cemas Hana akan menolaknya. Namun tak lama yeoja itu mengangkat kepala dan menoleh pada Baekhyun, “baiklah..” putusnya yang membuat Baekhyun tersenyum girang.

“Sudah lama sekali tidak bermain bertiga,” lanjutnya.

“Mwo? Bertiga?” Baekhyun mengangkat alisnya.

“Nae.. Aku, kau dan Minra..”

Bisa Hana lihat senyum Baekhyun memudar, “tsk, bisakah kita hanya pergi berdua?” tanyanya sambil memanyunkan bibirnya.

“Ya sudah, kalau begitu tidak jad—”

“Ah.. Oke oke oke.. Kita bertiga okay? Hana, Baekhyun dan Minra, kita bertiga akan bermain bersama sepulang sekolah besok hingga seminggu ke depan.” potong Baekhyun cepat, takut Hana meralat keputusannya.

Hana tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. Hari sudah mulai sore dan taman sekolah juga sudah mulai sepi. “Baiklah.. Sampai jumpa besok, Baekhyun-ah.”

—***—

“Terima kasih atas seminggu yang menyenangkan ini, Minra-ya, Baekhyun-ah,” ucap Hana ketika mobil Baekhyun berhenti di depan rumah yeoja asal Jepang itu.

“Nae! Kami senang bisa melihatmu ceria lagi Hana-chan,” jawab Minra sambil memeluk sahabatnya itu.

“Masuklah, dan istirahat yang banyak. Besok kau sudah harus bertemu dengan Lee seonsaeng di pelajaran tambahan lagi kan?” ucap Baekhyun.

Hana mengangguk. “Sampai jumpa besok.” Ia keluar dari mobil Baekhyun.

“Daaahhhhh…..” serunya sambil melambaikan tangan seiring dengan mobil Baekhyun yang melaju meninggalkan rumahnya.

Hana berbalik, masuk ke dalam, dan langsung menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang tamu. Lalu menghempaskan tubuhnya yang lelah ke tempat tidur. Ia terdiam. Bergelut dengan pikirannya. Bukan pikiran mengenai esok ia akan kembali mengikuti pelajaran tambahan. Tatapi, ia berpikir cara mengatasi pesan horror Lee seonsaeng terakhir kali padanya.

“Di pertemuan selanjutnya kau sudah harus kembali seperti sedia kala, tanpa kesalahan.”

Hana mengacak rambutnya frustasi. Tak terasa air matanya meleleh membasahi pipinya.

“Aku merindukanmu, Kim Joonmyun,” rintihnya tertahan. Dan ia sangat pesimis bahwa besok ia bisa berkonsentrasi mengerjakan soal-soal matematikanya.

Sementara itu, di dalam mobil Baekhyun dalam perjalanan pulang dari rumah Hana…

“Sayang sekali Hana hanya diberikan waktu seminggu. Padahal belum seluruh pelosok Seoul kita kunjungi. Kalau ada waktu lagi, aku ingin ke Istana Gyeongbokgung, Teather Nanta di Myeongdong, dan Desa Bukchon. Dan kurasa menonton pertunjukan seni di Seoul Art Center juga tidak buruk. Ah aku lupa, kita belum melihat rainbow fountain di jembatan Banpo! Bagaimana menurutmu?” ucap Minra, sebenarnya mengajak Baekhyun mengobrol, tetapi yang diajak berbicara tidak menanggapi.

Entah karena berkonsentrasi menyetir atau karena Baekhyun terlalu tenggelam dalam lamunannya. Yang jelas ia memikirkan Hana. Ia menyadari bahwa Hana tidak sepenuhnya tersenyum, tidak sepenuhnya tertawa seperti sedia kala. Satu yang ia yakini bahwa Hana masih memikirkan Joonmyun. Sudah beberapa kali Baekhyun memergoki Hana tengah melamun. Saat di bioskop, saat dalam perjalanan, saat naik wahana di taman bermain, saat berjalan-jalan di kebun binatang dan masih banyak lagi. Hana juga kerap kali meninggalkan mereka untuk ke toilet dan betah berlama-lama disana. Namun setiap kali Baekhyun bertanya, yeoja itu selalu mengelak dan memberikan berbagai macam alasan.

Baekhyun sangat membenci itu. Hana, sahabatnya sekaligus yeoja yang disukainya telah berubah karena namja brengsek, tolol, bejat, kurang ajar dan tidak tahu diri benama Kim Joonmyun. Tak peduli seberapa besar namja itu menyakiti Hana, tapi dengan keras kepalanya Hana tetap memikirkan keselamatan Joonmyun. Baekhyun meremas gagang stir, sebagai bentuk peralihan dari emosinya. Betapa ia ingin menghajar namja laknat itu habis-habisan. Dan ia bersumpah akan melakukannya jika suatu saat ia bertemu dengan Joonmyun.

—***—

Baekhyun terengah-engah, menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah setengah jam paru-parunya sesak bagai kekurangan pasokan oksigen. Ia berlari-lari mencari Hana yang menghilang sejak pelajaran kedua. Alih-alih pergi ke toilet, yeoja itu tidak kembali sampai pelajaran terakhir usai. Setelah berlari berkeliling mencari di setiap penjuru bangunan sekolahnya yang sangat luas, akhirnya ia menemukan Hana sendirian di balkon atap sekolah. Baekhyun benar-benar hampir ambruk ke lantai saking lemasnya ia karena terlalu mengkhwatirkan Hana. Juga betapa lelahnya kakinya berlari.

“Hana-chan… Hosh… Kau… Hosh… sedang apa di situ?” Baekhyun berjalan tertatih menghampiri Hana yang sedari tadi bediri di tepi dengan tangannya bertumpu pada pagar pembatas. Yeoja itu menoleh ke belakang ke arah Baekhyun setelah mengusap wajahnya. Dan terjawab sudah pertanyaan Baekhyun tentang sedang apa Hana disini.

“Ah… Baekhyun-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa kemari?” Hana balik bertanya sambil menyunggingkan senyum andalannya. Seyum terpaksa yang sangat Baekhyun tidak sukai.

“Aku mencarimu bodoh!” bentak Baekhyun, ia berdiri di samping Hana yang sudah mengedarkan kembali pandangannya ke luar pagar pembatas itu.

“Kenapa mencariku?”

“Hei! Kau menghilang sejak pelajaran kedua! Bagaimana aku tidak khawatir?”

“Aku… hanya sedang tidak mood belajar, Byun Baekhyun.”

Seorang siswi teladan seperti Hana tidak mood belajar? Yang benar saja! Pikir Baekhyun. Dan itu membuat Baekhyun harus benar-benar bersabar menahan emosinya.

“Setidaknya kalau ingin membolos beri tahu aku. Aku kan bisa menemanimu.”

“Aku tidak ingin membuatmu tertinggal pelajaran.”

“Tidak masalah. Daripada harus melihatmu menangis sendirian.”

“Ng?”

“Kau habis menangis kan?”

“A.. Ani.. Aku tidak menangis!” sanggah Hana, yang sudah Baekhyun tahu itu bohong.

“Buktinya matamu merah.”

“Ini…. Karena mataku kemasukan debu. Hari ini anginnya cukup kencang. Apalagi aku sedari tadi ada disini memandang keluar.”

“Jangan berbohong, Hana-chan.”

“Baiklah aku mengaku. Aku habis menangis. Itu semua karena aku khawatir tidak bisa mengerjakan soal-soal matematikaku dengan benar. Dan aku takut Lee seonsaeng akan menghukumku.”

“Kubilang, jangan berbohong, Sawajiri Hana.”

“A.. Aku tidak berbohong!”

“Aku tahu kau menangis bukan karena itu. Kau menangis karena Joonmyun kan?”

“Ani! Untuk apa aku menangis karenanya? Aku sudah tidak peduli lagi padanya. Dia sedang sakit atau tidak, hidup atau sudah mati, dan dimana dia atau jasadnya sekarang. Aku benar-benar tidak mau tahu. Aku benci padanya dan tidak ingin melihatnya lagi mucul dalam kehidupanku. Lagipula aku sudah berjanji padamu akan melupakannya kan? Dan kau akan membantuku….”

“Pembohong. Lihat kau menangis lagi.”

“Ah…” Hana buru-buru menyeka air matanya yang tanpa sadar mengalir begitu saja membanjiri pipi pucatnya. “Ini karena aku kesal padanya. Dan aku menyesal sudah menyukainya dulu.”

“Sudahlah Hana-chan, tidak usah kau tutup-tutupi. Kau masih menyukainya dan mengharapkan ia kembali, begitu kan? Kau masih mencemaskan keadaannya. Itu sangat jelas terlihat. Tapi sekalipun ia kembali, aku tidak yakin kejadian yang sama tidak akan terulang kembali. Maka dari itu tidak ada jalan lain, Hana-chan. Kau harus benar-benar menghapus semua perasaanmu padanya.”

Tangisan Hana pecah, ia memeluk Baekhyun erat. “Bagaimana caranya Baekhyun-ah? Aku sudah mencoba, tapi aku tidak bisa. Kau bilang seiring berjalannya waktu, aku bisa melupakannya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, aku semakin mengingatnya,” rintihnya.

“Ada satu cara, Hana-chan..” jawab namja itu. Hana diam menunggu kelanjutan kalimat Baekhyun.

“Jatuh cinta lagi…” lirihnya nyaris tak terdengar.

DEG

Hana terkejut, melepaskan pelukan Baekhyun. “A…Apa?”

Bisa ia lihat namja itu memandangnya lamat-lamat. “Jadilah yeojachinguku Hana-chan. Dan aku berjanji tidak akan membuatmu menderita….”

Hana terdiam, tidak tahu harus menjawab apa dengan pernyataan Baekhyun barusan. Ragu untuk mengambil keputusan yang tepat saat ini. Bukan perihal Baekhyun yang memintanya untuk menjadi kekasihnya, karena Hana sudah tahu Baekhyun menyukainya, dan bisa saja Hana menerima Baekhyun begitu saja untuk mengentaskan perasaan kecewanya terhadap Joonmyun. Tapi ini mengenai rasa pesimisnya jika ia bisa jatuh cinta lagi. Sedangkan selama ini Hana berprinsip untuk tidak menjalani hubungan jika bukan dengan orang yang dicintainya. Namun Hana berpikir lagi, jika ia menolak Baekhyun, tentu ia tidak akan mungkin terlepas dari belenggu cintanya pada Joonmyun. Cinta yang mungkin tak akan pernah dapat ia raih sampai kapanpun.

Jadi apa keputusan yang akan Hana ambil? Ia masih bingung.

“Kau mau, Hana-chan?” Suara Baekhyun memutus lamunan panjang Hana.

Tapi Hana masih diam tak bergeming.

“Baiklah, kau tidak perlu memberikan jawabanmu sekarang. Pikirkan baik-baik. Aku akan menunggumu.” Baekhyun kembali memeluk Hana. Yeoja itu tetap diam tidak membalas namun ia bisa rasakan ketulusan Baekhyun dalam dekapan hangatnya.

Mereka berdua membiarkan kedaan itu tetap berlanjut beberapa saat. Terhanyut dalam perasaan masing-masing dan pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepala mereka.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan mereka dalam diam, dalam kesakitan.

Even if the tip of my heart hurts like this

Even if the tip of my hands tremble like this

I can only think of you

—***—

Beberapa hari ini berjalan tidak seperti biasanya. Hana semakin kacau. Ia sudah beberapa kali ditemukan sedang menjalani hukuman dari Lee seonsaeng-nim. Mengerjakan ribuan soal matematika tambahan. Dan itu betul-betul menyita sebagian besar, tidak.. seluruh waktunya.

“Lee seonsaeng keterlaluan!”

“Guru jahat, kejam, sadis, tidak berperikemanusiaan!”

“Dasar ibliiiis!!!!!!”

“Ku kutuk kau!”

Begitulah kira-kira umpatan-umpatan kasar dari mulut Hana selama jam pelajaran tambahan berlangsung. Kalau boleh memilih, Hana lebih baik membersihkan gudang, menyapu halaman sekolah, membereskan arsip di ruang guru, atau membersihkan toilet. Bagaimana tidak, sudah jelas-jelas saat ini otak Hana sedang tidak bisa diajak berkompromi untuk mengerjakan soal-soal matematika, tapi masih saja guru menyebalkan itu memberikan hukuman dengan menambah jumlah soalnya, bahkan sampai ribuan. Ditambah lagi hari sudah mulai larut, dan di ruangan ini ia hanya sendirian, karena Lee seonsaeng lebih memilih menonton TV di ruang guru daripada mengajarkan atau sekadar menemaninya mengerjakan soal. Lihat! Lee seonsaeng memang betul-betul tidak punya hati! Pantaskan sikap seperti itu disebut sebagai guru pahlawan tanpa tanda jasa? Bahkan Hana tidak menyangka ada guru yang seperti itu di sekolah elit ini, bukannya mengayomi malah menelantarkan muridnya. Daebak!

-Hana POV-

Aku teringat akan percakapanku beberapa waktu yang lalu bersama Minra, dan jujur saja itu menambah beban pikiranku.

 

 

-Flashback-

 

“Kemarin Baekhyun menembakmu?”

“Ba.. Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihatnya sendiri, kalian berdua di balkon atap.”

Aku menunduk, merasa bersalah, “mianhae..”

“Gwaenchana, aku tidak marah kok.” Minra tersenyum. Senyum yang sangat pilu.

“Tapi, kau—-“

“Ya benar.. Aku sakit Hana-chan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menyukaimu dan aku tidak ingin egois pada perasaanku sendiri.”

“Tidak, bukan begitu. Ia hanya tidak mengetahui perasaanmu, Minra-ya. Maka dari itu katakanlah padanya.”

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Baekhyun ingin membantumu melupakan Joonmyun. Dan kalau kau menerimanya ia pasti akan senang sekali. Apa yang lebih membahagiakan melihat kedua orang sahabatnya bahagia?”

“Dengan mengorbankan perasaanmu sendiri?”

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Lagipula disini yang sedang mengalami kesulitan adalah kau, bukan aku. Jadi jangan mencemaskanku, okay? Berbahagialah bersama Baekhyun, maka aku akan ikut bahagia. Kau tahu, aku tidak tahan melihat wajahmu yang terus bersedih.”

“Kau yakin?”

Ia mengangguk, “sekalipun suatu saat aku punya kesempatan mengatakan perasaanku padanya. Aku takut, Hana-chan. Aku takut ia akan menjauhiku dan merusak persahabatan kami selama ini. Akan lebih baik aku mencintainya diam-diam, dan tetap berada di sampingnya sebagai sahabatnya.”

-Flashback End-

Kenapa pernyataan Minra seolah mengharuskanku untuk menerima Baekhyun? Nyatanya hingga saat ini aku belum memberikan jawabanku pada namja itu, pun perasaanku belum bisa menerimanya. Namun kami sudah terlihat seperti sepasang kekasih. Dan itulah kesan yang ditangkap oleh Minra, ia mengira kami sudah berpacaran. Yeoja itu menanggapinya dengan ceria seperti biasa, namun tak bisa kupungkiri aku melihat luka yang dalam dari sorotan matanya.

Hei, sepertinya kata-kata Minra waktu itu harus kubalikkan padanya karena justru kenyataannya sekarang ia juga mengalami hal yang sama sepertiku. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dan aku membenci wajah Minra yang terus bersedih beberapa hari ke belakang ini.

Benar juga, Minra dan Baekhyun sudah saling mengenal sejak kecil. Rumah mereka bersebelahan. Mereka sudah bersama sejak lama, bermain bersama, berangkat sekolah bersama, dan belajar bersama. Sudah mengetahui kebiasaan dan sifat satu sama lain, berikut kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di dunia ini sangat jarang adanya persahabatan yang terjalin lama antara dua insan yang berlawanan jenis tanpa ada cinta yang timbul diantara mereka. Entah itu dari salah satu pihak atau keduanya. Itulah yang kupahami dan kuyakini adanya. Maka dari itu aku sangat paham perasaan Minra. Betapa hancur hatinya ketika Baekhyunnya lebih menyukai aku yang notabene-nya baru dikenalnya beberapa bulan dibandingkan dengan dirinya yang sudah bersama-sama hampir seumur hidupnya.

Kadang aku iri pada Minra. Cinta yang Minra miliki pada Baekhyun, cinta yang murni, cinta yang masuk akal. Tidak sepertiku. Cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang bahkan tidak ingin dicintai. Ironis. Memang, jika dibanding-bandingkan aku memiliki cinta yang lebih tragis daripada Minra. Kalau aku ingin egoispun, bisa saja aku menjadikan Baekhyun sebagai pelarian.

Tapi tidak! Jika aku berbuat demikian, maka sama saja dengan aku menyakiti mereka berdua bersamaan kan? Aku menyakiti Minra karena aku merebut Baekhyunnya. Dan akupun akan menyakiti Baekhyun jika aku menerimanya di sisiku sedangkan di hatiku yang paling dalam aku mencintai Joonmyun.

Ya, Baekhyun tahu aku mencintai Joonmyun. Dia tidak mempermasalahkan jika aku masih mengingat Joonmyun, justru ia menawarkan bantuan untuk menghapus nama Joonmyun di hatiku. Tapi.. untuk jatuh cinta lagi? Untuk membalas perasaan Baekhyun? Aku… tidak yakin bisa melakukannya…

Karena…

Kim Joonmyun..

Namanya…..

Sudah terpatri di hatiku..

Kim Joonmyun kau dimana? Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan teratur? Ku harap Tuhan selalu melindungimu…

Air mataku melesat cepat di pipiku. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahannya. Kepalaku pusing sekali. Tubuhku lemas, tak kuasa lagi menahan sakitnya dadaku, hatiku, perasaanku.

Kupandang lembar jawaban matematika di depanku yang sejak sejam yang lalu tidak sampai 10 soal berhasil kukerjakan. Dalam keadaan normal aku bisa mengerjakan soal sulit hanya dalam waktu maksimal 3 menit. Sekarang, jangankan soal sulit, 12 dikali 5 pun aku tidak bisa menghitungnya. Kedengarannya ini berlebihan, tapi aku serius. Kepalaku betul-betul seperti mau meledak.

Tuhan, tolong aku…

The person I miss like crazy

The words I want to hear from you like crazy

I love you, I love you.. where are you?

The person I long for, who is deeply stuck in my heart

*

Aku berjalan pulang menembus guyuran hujan. Tak peduli aku akan kebasahan. Tak peduli semua buku-buku dan catatan di dalam tasku akan luntur terkena air. Tak peduli dengan kepalaku yang mulai berdengung. Karena yang aku inginkan adalah hujan menghapus semuanya. Semua beban di pikiranku, pun semua ingatan tentang Joonmyun.

Namun debaran ini.

Sesak.

Benar-benar sesak.

Bahkan saat aku terus menepuk-nepuk dadaku, sesak itu tak juga hilang.

Bolehkah aku bertanya sekali lagi? Beginikah rasanya cinta yang indah itu? Inikah cinta yang selalu diagung-agungkan manusia itu? Kenapa rasanya sesak sekali, hingga membuatku hampir mati?

Hujan kian deras disertai gemuruh petir, merefleksikan keadaanku saat ini.

Hatiku menjerit.

Tuhan, izinkan aku bertemu lagi dengannya, meskipun hanya sekali seumur hidupku. Hanya untuk menyampaikan betapa aku merindukannya. Aku mencemaskannya. Aku ingin mengetahui keadaanya. Aku ingin melihat wajahnya, sosoknya, sikap dinginnya, dan matanya yang selalu memandangku sinis, juga mendengar suaranya yang selalu meremehkan dan membentakku kasar. Semuanya…

Aku ingin bertemu dengannya, Tuhan….

Kim Joonmyun, apa kau bisa mendengar suaraku? Hatiku selalu mencarimu…

Maka pulanglah, kembalilah…

Aku merindukanmu…

Aku mencintaimu…

 

DEG!

Aku membungkam mulutku tak percaya.

Tuhan mendengar permohonanku..

Di sana. Di seberang jalan sana. Aku melihatnya. Sosok itu, tengah berdiri memandangku sendu. Mataku kabur terhalang oleh air mata juga hujan yang telah menyatu. Namun aku yakin, tidak, hatiku yang yakin, seiring dengan debarannya yang semakin kencang. Dia yang sedang berdiri di tengah hujan di sana adalah namja yang paling ingin kutemui saat ini, namja yang paling kucintai di dunia ini. Kim Joonmyun..

Aku menyeret kakiku yang sudah bergetar hebat sejak tadi untuk menghampirinya. Namun seiring dengan langkahku yang semakin dekat, wujudnya semakin kabur dari pandanganku. Ia menghilang bersama dengan kegelapan. Terakhir kusadari bahwa sosok itu sebenarnya tidak pernah ada disana. Itu bukan dia, bukan Kim Joonmyun. Hanya sebuah khayalan belaka. Hanya fatamorgana di tengah tandusnya hatiku.

Tapi kenapa gemuruh di dadaku ini tak kunjung berhenti? Seolah menyuruhku untuk tidak menyerah mengejarnya, sekalipun itu hanyalah bayangannya. Hatiku tidak ingin kehilangannya. Hatiku tak ingin melepaskannya. Namun tubuhku yang lemah tak sanggup melakukannya lagi. Aku ambruk ke aspal. Merintih tanpa suara di tengah derasnya hujan.

—***—

Hari selanjutnya aku sedikit demam, hingga aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Sebenarnya aku tidak sampai separah itu hingga harus diam di rumah dan meninggalkan pelajaran hari ini. Hanya saja demam ini kugunakan sebagai alibi. Jujur setiap aku pergi ke sekolah, aku selalu teringat akan semuanya. Permasalahnku dengan Baekhyun, kerinduanku pada Joonmyun, rasa bersalahku pada Minra, juga rasa malasku bertemu dengan Lee seonsaeng dan pelajaran matematika. Aku lelah akan semuanya. Setidaknya untuk hari ini saja aku tidak ingin diusik oleh pikiran-pikiran itu. Aku ingin istirahat dengan tenang.

Baby don’t cry tonight…….

 

Aku terbangun karena ponselku berbunyi. Aku mendesis kesal. Siapa sih yang meneleponku siang hari begini? Mengganggu tidur siangku saja…

“Yeoboseyo. Ada apa Minra-ya?” jawabku malas.

“Hana-chan, bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Demamku sudah turun.”

“Syukurlah. Besok kan hari sabtu, pergunakan waktu liburmu untuk istirahat sebaik-baiknya, supaya hari senin kau bisa sekolah lagi.”

“Nae… Gomawo..” Aku tersenyum. Entahlah, bad moodku langsung hilang begitu saja. Minra-ya, kau memang sahabatku yang paling baik.

“Semoga kau lekas sembuh, Hana-chan. Aku mengkhawatirkanmu.” Lihatlah, bagaimana ia begitu mencemaskanku.

“Aku akan baik-baik saja Minra-ya. Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

“Nae…”

Aku hendak menutup telepon, namun suara Minra kembali terdengar.. “Emmmm… Hana-chan….”

“Ada apa?”

“Ah, tidak jadi….” kutangkap suara ragu-ragu Minra.

“Ayolah, ada apa?”

“Emmmm…. Itu…”

“Itu, apa? Jangan berbicara setengah-setengah, Minra-ya.”

Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya Minra kembali bersuara. “Kim Joonmyun….”

DEG!

“Kenapa? Ada apa? Kim Joonmyun kenapa?” serbuku.

“Kim Joonmyun kembali….”

“A….Apa?” aku menutup mulutku tak percaya.

“Dia datang di jam terakhir. Lalu saat pulang sekolah, Baekhyun menghajarnya habis-habisan.”

“Sekarang katakan padaku dimana dia?”

“Entahlah, mungkin sudah pulang….”

Tak perlu banyak waktu, kuterjang pintu kamarku dan berlari keluar. Tak peduli lagi dengan ponselku yang masih tersambung dengan Minra, kugeletakkan begitu saja di atas tempat tidur. “Hana-chan, Hana-chan, kau masih disana?”

Juga teriakan eommaku. “Mau kemana, Hana? Kau masih sakit.”

Aku terus berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Air mataku terus bercucuran. Yang semalam… Yang semalam itu, aku tidak salah lihat, kan? Ia nyata. Ia betul-betul kembali. Aku melihatnya. Aku tidak berhalusinasi.

Kau tahu Kim Joonmyun, aku ingin hilang ingatan, jikalau itu bisa membuatku terlepas dari belenggu rasa ini. Namun satu hal yang kusadari, bahwa namamu sudah tersimpan rapi di sudut hatiku. Tak peduli jika aku kehilangan semua memoriku, aku akan mengingatmu di hatiku. Tak peduli jika aku terus menyangkal rasa sesak di dadaku, hatiku akan tetap bersikeras memanggil namamu.

Kakiku berhenti berlari di depan sebuah bangunan yang selalu kukunjungi setiap hari sepulang sekolah. Namun saat ini terasa berbeda. Aku bisa merasakan kehadiran Kim Joonmyun disini. Pelan, kuraih gagang pintu itu.

Ckkleeeekkkk…

Pintu tidak terkunci. Dengan langkah kaku, aku berjalan masuk. Jantungku berdetak kencang. Badanku bergetar hebat.

Kumohon siapapun, katakan padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Aku melihatnya. Ia berdiri di dekat tempat tidur, bersandar pada lemari. Memandangku dengan tatapan tajam ciri khasnya. Kakiku terus melangkah mendekatinya. Ia diam saja, masih menatapku. Aku berhenti tepat di hadapannya. Mata kami saling beradu. Kuangkat tanganku, menyentuh wajahnya yang dipenuhi luka. Air mataku meleleh. Oh Tuhan ini nyata, dia nyata. Sosok itu nyata. Bukan lagi bayangan semu atau fatamorgana.

“Kim Joonmyun…..”

Ia memegang tanganku dan menyingkirkanya dari wajahnya. Lalu menghela napas pelan, mencoba mengontrol suaranya. “Kalau kau mencemaskanku, aku baik-baik saja. Jadi sekarang pulanglah. Lebih baik kau khawatirkan kondisi tubuhmu sendiri.”

Aku bungkam. Masih mencoba mengatur campur aduknya perasaanku saat ini.

“Kubilang pulanglah.”

“Tapi… kau… terluka…”

“Aku tahu, aku bisa mengurusnya sendiri. Jadi pulanglah sebelum kesabaranku habis.”

Aku menggeleng lemah, “tidak, aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku ingin bersamamu. Kim Joonmyun, aku mencintai—-“

“Berhenti memiliki perasaan menjijikkan seperti itu padaku. Aku membencimu.”

DEG

What do I do? You were so cold to me

But I still miss you

I still can’t forget you

“Ke.. Kenapa?” tanyaku perih.

Ia diam tak bergeming.

“Kenapa? Kenapa kau membenciku? Apa salahku padamu? Apa karena aku terlalu ikut campur urusanmu? Aku hanya ingin menolongmu. Aku mengerti yang kau rasakan Kim Joonmyun. Tapi tak bisakah kau membagikannya hanya padaku? Aku mencintaimu dan aku tak sanggup melihatmu seperti ini. Aku—–“

“Aku tidak butuh pertolonganmu.”

Aku menelan ludah sulit. Percuma saja. Segala sesuatu yang aku utarakan percuma. “Se.. setidaknya kau hidup dengan baik, Joonmyun.”

“Hidup dengan baik kau bilang? Kau pikir bisa semudah itu merubah segalanya?”

“Maka dari itu, Kim Joonmyun, tak bisakah kau memberiku kesempatan? Aku akan membantumu.”

“Cihh… Sudah kubilang, aku tidak butuh bantuanmu!”

“Kalau begitu, satu hari saja. Berikan aku waktu satu hari saja, bersamamu. Aku ingin merawatmu. Semua lukamu. Setelahnya, aku tidak akan pernah lagi mengganggumu.”

Ia kembali diam, tak merespon.

“Aku akan melakukan apa saja untukmu, Kim Joonmyun. Jadi berikan aku kesempatan hanya satu hari saja. Kumohon…”

Ia tetap bungkam.

“Kumohon…”

Please tell me that you cherish me

Please don’t blankly erase me

Because you’re my everything

Ia tidak menjawab apapun namun detik berikutnya ia meraih wajahku, menggapai bibirku. Menciumku dengan kasar, kemudian menghempaskan tubuhku ke tempat tidurnya, terakhir dia menindihku. Aku membelalakan mataku ketika ia mulai membuka kancing kemeja yang ia sandang.

“Kim Joonmyun.. Apa yang—-“

“Bukankah kau yang mengatakannya sendiri, akan melakukan apa saja untukku.” Ia menyeringai.

Aku bisa saja berteriak. Aku bisa saja melawan. Aku bisa saja memberontak. Tapi yang kulakukan hanya memejamkan mataku rapat-rapat, menggigit bibir bawahku keras-keras, dan menangis tak bersuara. Bahkan saat ia melakukan itu, aku hanya bisa menutup wajahku dan diam menahan segalanya. Menahan tangisku. Menahan sakitnya hatiku.

Sangat sakit..

I want to cherish you forever

I love you, I love you

Kim Joonmyun, setega itukah dirimu?

-To be Continued-

Advertisements

4 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s