My Angel’s Smile (Chapter 6)

My Angel's Smile (1)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 6

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIARISM!

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

My Angel’s Smile Chapter 4: Where are You?

My Angel’s Smile Chapter 5: Missing You Like Crazy


-Flashback-

Cklekkkk…

Semua mata tertuju pada pintu kelas yang terbuka. Hanya berselang berapa detik setelah orang itu masuk ke kelas, semuanya kembali berkonsentrasi ke papan tulis, mengikuti pelajaran bahasa Inggris yang dibawakan Choi seonsaeng. Namun ada dua orang yang tidak bisa kembali mengikuti pelajaran dengan tenang. Minra dan Baekhyun. Terlebih Baekhyun yang ingin segera mengakhiri kelas ini.

Dan benar saja, tak lama setelah mata pelajaran terakhir itu selesai dan Choi seonsaeng telah menginjakkan kaki keluar kelas, dengan tak segan-segan Baekhyun menghadiahkan orang itu sebuah tinjuan. Menciptakan kegaduhan di kelas 2-1, kelas mereka.

“Brengsek! Kenapa kau baru muncul sekarang. Kemana saja kau selama ini, hah?” Baekhyun menarik kerah Joonmyun setelah memukul jatuh namja itu.

Tetapi orang yang baru saja dipukul itu justru tertawa-tawa kecil dengan santainya, membuat Baekhyun semakin meradang. “Jawab aku, brengsek!”

“Hei, hei.. Aku baru datang, dan kau tiba-tiba memukulku. Apa salahku?”

“Tidak usah banyak bicara. Jawab saja pertanyaanku.”

Joonmyun kembali tertawa, “sejak kapan kau peduli padaku? Bukankah membolos itu sudah merupakan hal yang biasa bagiku. Kenapa kau tiba-tiba marah? Kau mengkhawatirkanku?”

“Brengsek!” Baekhyun kembali memberikan bogem mentah. Teman-teman kelas 2-1 hanya bisa tercengang, tak menyangka Baekhyun berani-beraninya melakukan hal itu pada Joonmyun, mengingat namja itu bukanlah saingan bagi namja tukang berkelahi seperti Joonmyun dan bisa saja Joonmyun mematahkan tangan Baekhyun dengan mudahnya setelah ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Joonmyun tidak melawan.

“Setelah apa yang kau sebabkan, kau dengan seenaknya kabur begitu saja dari rumah sakit. Begitukah caramu berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkanmu?”

“Aku tidak pernah meminta untuk diselamatkan,” ucap Joonmyun masih dengan ekspresi santai.

“Kau memang betul-betul iblis!”

“Ya kau benar, aku memang iblis. Bukankah sudah julukanku malaikat berhati iblis?”

Baekhyun benar-benar sudah naik pitam.

Buuggghhh.. !!

“Tak sadarkah kau telah menyakiti Hana? Orang yang selama ini sudah menjagamu di rumah sakit. Orang yang sudah mengkhawatirkanmu dan selalu memikirkanmu.”

“Lalu apa salahku kalau ia memikirkanku?” Joonmyun masih saja menjawab dengan remeh, membuat Baekhyun semakin bernafsu menghajarnya.

Buuggghhh..!!

 

“Ia sakit sekarang karenamu, bodoh! Karena kau egois dan tak pernah memikirkannya.”

”Kenapa? Kenapa aku harus memikirkan yeoja itu?”

Buuggghhh..!!

“Karena ia begitu mencintaimu, bahkan sanggup melakukan apapun untukmu. Kenapa kau dengan tak berperasaan mengabaikannya begitu saja.”

Buuggghhh..!!

“Tahukah kau, bahwa kau tidak akan mungkin bisa hidup sampai sekarang, tanpa darahnya.”

“Apa kau bilang?”

“Hana, yeoja itu bahkan rela mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanmu yang sedang sekarat karena kehilangan banyak darah waktu itu. Dan sekarang kau masih bisa bersikap tak acuh seperti ini padanya? Lebih baik kau mati!”

Buuggghhh..!! Buuggghhh..!!

 

Baekhyun sudah seperti kesetanan. Minra sedari tadi menangis histeris, meminta teman-teman namja yang lain untuk menghentikan Baekhyun. Namun mereka hanya bisa diam menyaksikan Baekhyun memukuli Joonmyun habis-habisan, takut ikut-ikutan menjadi sasaran amukan Baekhyun selanjutnya.

Akhirnya Baekhyun baru bisa dihentikan setelah guru-guru datang.

-Flashback End-

My Angel’s Smile Chapter 6: Love is Illogical

“Baekhyun-ah, aku sudah lelah. Pulanglah..” keluh Minra. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Baekhyun masih saja asyik bermain game di rumahnya.

“Tidak mau, abeoji pasti akan memarahiku lagi.”

“Tapi ini sudah malam.”

“Aku menginap di sini saja. Appa dan eommamu sedang ke luar kota kan? Jadi aku sekalian menemanimu. Lagipula besok kan hari sabtu.”

“Ya sudah, kau main sendiri saja, aku mau tidur.”

“Ayolah Minra-ya, ini masih seru. Temani aku sebentar lagi. Kalau kau menang, kau boleh tidur.”

Tsk.. Minra berdecak kesal, kemudian kembali memainkan stick gamenya. “Kalau begini namanya aku yang menemanimu, bukan kau yang menemaniku.”

Baekhyun hanya bisa menunjukkan cengirannya.

“Lagipula siapa suruh kau menghajar Joonmyun sampai babak belur seperti tadi. Akhirnya kau dipanggil guru bimbingan konseling kan. Pantas saja abeoji mu marah besar.”

“Jangan bahas tentang Joonmyun. Atau aku bisa marah lagi.”

“Arra… Arra…”

Na eureureong eureureong eureureong dae

 

Ponsel Minra berdering, membuatnya menekan tombol pause. “Tunggu, Baekhyun-ah. Ada telepon.”

“Hei! Aku baru saja akan mencetak gol!” Baekhyun kesal ada yang mengintrupsi konsentrasinya bermain game. “Siapa sih yang menelepon malam-malam begini?” gerutunya.

Minra terkejut begitu melihat siapa yang menghubunginya. Buru-buru ia mengangkat teleponnya dan menjauh dari Baekhyun.

“Cepatlah..” teriak Baekhyun tak sabaran.

*

“Yeoboseyo. Ada apa Hana-chan? Kau sudah menemui Joon—-”

“Apakah benar ini Minra, temannya Hana?”

 

Minra tertegun, orang yang meneleponnya bukan Hana sahabatnya. “Nae, saya sendiri. Ini siapa dan ada apa? Kenapa menggunakan ponsel Hana?”

“Ini eommanya Hana. Apa Hana ada disana?”

Minra sedikit tegang, “Tidak ada… Ada apa dengan Hana?”

“Sejak pukul 2 siang tadi Hana pergi entah kemana dan sampai saat ini belum juga pulang. Padahal keadaannya masih lemah, belum sepenuhnya sembuh dari sakitnya. Dan ponselnya ia tinggalkan di kamar. Apa kau tahu Hana kemana?”

Tangan Minra gemetaran, “Aku tidak tahu, ahjumma. Tapi nanti kalau aku temukan Hana, akan langsung kuhubungi.”

“Nae, terima kasih banyak, Minra-sshi. Tolong segera beritahu ahjumma secepatnya ya.”

 

*

Minra kembali ke ruang tengah takut-takut, melihat Baekhyun yang tengah menunggunya di depan TV. Keringatnya bercucuran, sangat menyesal telah memberitahukan Hana bahwa Joonmyun kembali, padahal Baekhyun sudah melarangnya. Dan lihatlah sekarang, Hana pasti sedang menemui Joonmyun. Ia begitu mencemaskan Hana, tapi juga takut kalau Baekhyun akan memarahinya.

“Hey lama sekali, ayo cepatlah. Lihatlah kali ini aku pasti akan mengalahkanmu lagi,” panggil Baekhyun. Minra kembali duduk di samping Baekhyun dan menekan tombol start untuk melanjutkan kembali permainan.

“GOOOLLLLLL!!!! Yeay, lihat-lihat kau kalah lagi Minra-ya. Kau tidak boleh tidur. Temani aku main sampai pagiiii……!” jerit Baekhyun girang.

“Em… Baekhyun-ah..” ucap Minra gugup.

“Eits.. Kau tidak boleh protes. Ini sudah perjanjian!” sahut Baekhyun masih tidak mengalihkan pandangannya dari layar. “Ah sebaiknya aku tidak perlu mengganti formasi pemain…”

“Byun Baekhyun dengarkan aku…”

“Nae, aku mendengarmu Minra-ya. Jangan bilang kau ngantuk. Ayolah, kau bisa tidur sepuasnya besok.”

“Bukan itu, Byun Baekhyun…”

“Lalu apa? Kau lapar? Mau kubuatkan ramyun?” Akhirnya Baekhyun menoleh pada Minra.

Yeoja itu menggigit bibir bawahnya semakin tak tenang. “Ini… tentang Hana….”

“Apa?” Baekhyun terlonjak kaget. Ia mencengkram bahu Minra, “ada apa dengan Hana? Jangan bilang kau sudah memberi tahunya mengenai Joonmyun.”

Minra menunduk tak berani menatap Baekhyun yang mulai terlihat emosi, “mianhae, aku pikir kondisi Hana akan membaik kalau aku memberi tahunya.”

“Shit!” Baekhyun benar-benar marah. “Aku sudah melarangmu kan?”

Minra mengangguk ketakutan.

“Dan kau tahu Joonmyun itu orang seperti apa kan?”

Minra kembali mengangguk.

“LALU KENAPA KAU TETAP MEMBERI TAHU HANA?” sentak namja itu. Mata Minra memanas, ingin menangis saat itu juga. Mereka memang sering bertengkar, tapi ini pertama kalinya Baekhyun membentak Minra seperti itu. Bisa ia lihat sekarang Baekhyun membanting stick gamenya lalu menyambar jaket dan kunci mobilnya.

“Mianhae, aku tidak bermaksud—– Hiks,” rintih Minra seorang diri. Merutuki perbuatan bodohnya.

—***—

Brugh… Brugh… Brugh…

“Buka pintunya, brengsek!” Baekhyun menggedor-gedor pintu kamar Joonmyun. “Aku tahu kau di dalam Kim Joonmyun! Buka pintunya!” Baekhyun tidak bisa menahan kesabarannya lagi.

BRAKKKKKK!!!

Akhirnya ia mendobrak pintunya. Baekhyun langsung menyerbu ke dalam, mencari orang yang sedari tadi membuatnya mati-matian mencemaskannya. Ia meneliti setiap inchi ruangan yang terdapat di tempat tinggal namja yang paling ia benci itu. Ia tidak menemukan Hana disana, hanya Joonmyun yang terduduk lemah di lantai, di sudut ruang tengahnya.

Ia menarik kaos Joonmyun kasar, “mana Hana?”

Tak ada respon.

Buuggghhh..!!

“JAWAB AKU, KEMANA YEOJA ITU?”

Joonmyun meringis kesakitan, “ia sudah pergi, sejam yang lalu,” lirihnya.

“Kau apakan dia?”

Joonmyun kembali bungkam. Ia memandang Baekhyun dengan tatapan yang….sulit diartikan.

Buuggghhh..!!

“JAWAB AKU!”

“Daripada mengurusi aku, alangkah lebih baik kau mencari Hana.”

Betul juga. Keberadaan Hana jauh lebih penting sekarang dibandingkan menghajar Joonmyun. Baekhyun mengerang frustasi.

Brruggh…

Akhirnya ia menghempaskan tubuh Joonmyun keras. “Urusan kita belum selesai!” bentaknya lantas pergi meninggalkan tempat itu. “Dan jika hal buruk terjadi pada Hana, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”

Joonmyun terdiam, melihat Baekhyun yang panik baru saja keluar dengan membanting pintu. Ia memejamkan matanya perlahan, menenangkan dirinya. Namun tak bisa. Badannya gemetar hebat, air matanya mulai jatuh berhamburan, hati dan otaknya berperang. Ini bukan tentang Baekhyun yang bisa saja merealisasikan ucapannya. Perlu di garis bawahi, Joonmyun tidak takut siapapun.

Tapi ini tentang…… Sawajiri Hana.

—***—

 

Baekhyun kelimpungan. Sudah satu jam ia berkeliling, tapi sosok yang dicarinya tak kunjung ia temukan. Di atap sekolah, perpustakaan, toko buku, taman. Baekhyun sudah kehabisan ide kemana biasanya Hana pergi.

“SIAL!” Ia memukul-mukul stir mobil. Ia menangis, mengumpat, berteriak. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa sekalut ini.

Drrrttt… Drrrttt…

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal masuk ke inboxnya. Baekhyun tersentak sesaat setelah membaca isinya.

Hana ada di tepi sungai Han. Sepertinya ia kedinginan.

 

Tak banyak berpikir, Baekhyun langsung menancap gasnya. Dan benar saja, Hana ada disana. Duduk sendirian di tengah rumput di tepi sungai Han. Badannya gemetar kedinginan karena hanya mengenakan pakaian yang tipis.

Srekkk…

Ia menoleh kebelakang saat Baekhyun menutupi tubuhnya dengan jaket tebal.

“Gwaenchana?” tanya Baekhyun seraya duduk di sebelah Hana. Yeoja itu kembali memfokuskan pandangannya ke arah sungai. Pemandangan yang entah kenapa disukainya saat ini. Ia menjawab pertanyaan Baekhyun dengan sebuah anggukan lemah.

Bohong besar. Baekhyun tahu Hana tidak baik-baik saja. Lihat saja keadaan Hana sekarang. Wajah pucat, bibir sedikit membiru, badan menggigil, dan mata sembap. Baekhyun menatap yeoja itu miris. “Sebenarnya apa yang dilakukan Joonmyun padamu hingga kau seperti ini, heum?”

Hana menggeleng, dan Baekhyun tahu Hana tidak ingin menceritakannya. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tapi apapun itu, aku berjanji padamu akan membuat Joonmyun membayar ini semua.”

“Jangan,” sergah Hana. Suaranya parau. Ia menangis. Yeoja itu kembali menangis. Baekhyun menarik Hana ke dalam dekapannya. Mencoba menenangkan yeoja yang sangat dicintainya itu. Rapuh. Hana terlihat sangat rapuh saat ini. Hati Baekhyun sangat sakit melihatnya.

“Baekhyun-ah… hiks,” tangis Hana dalam pelukan Baekhyun. “Mianhae… Mianhae, aku tidak bisa menerima perasaanmu.”

DEG

Baekhyun tersentak, ada rasa perih yang menjalar di hatinya, tapi sebisa mungkin tidak menunjukkannya pada Hana. Ia tahu kondisi Hana saat ini lebih buruk darinya.

“Mianhae, aku….. Aku tidak pantas untuk menjadi yeojachingumu,” raungnya yang Baekhyun tidak mengerti apa alasannya.

Yang jelas Hana tidak ingin Baekhyun tahu penyebabnya, bahwa dirinya sudah kotor. Dirinya tidak lagi berharga. Dirinya, tubuhnya, kehormatannya, sudah direnggut oleh namja biadab dan tidak punya hati yang sudah pasti kau tahu siapa orangnya. Bahkan setelah ia menyerahkan segalanya, namja itu tidak secuilpun berbelas kasihan padanya. Yang Hana rasakan sekarang hanyalah penyesalan tak berujung. Andai saja dulu ia mau mendengarkan kata-kata sahabatnya, untuk tidak terlibat apapun dengan Joonmyun. Andai saja dulu ia mau menerima Baekhyun menjadi namjachingunya tanpa mempertimbangkan apapun.

Sekarang semuanya sudah berakhir. Cintanya, harapannya, cita-citanya, masa depannya. Apa lagi yang akan Hana lakukan sekarang? Ia tidak punya ide. Beginikah rasanya tidak memiliki harapan dan tujuan untuk hidup?

Hana semakin terisak. Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya. “Gwaenchana, tidak usah kau pikirkan. Mianhae, membuatmu terbebani karena perasaanku.” Baekhyun mencoba memahami meski sebenarnya ia tidak pernah paham. Ia lebih memilih menahan diri untuk menanyakan alasannya mengingat keadaan Hana saat ini.

“Sebaiknya kita pulang. Angin di malam hari sangat tidak bagus untuk kesehatanmu.” Baekhyun melepaskan dekapannya setelah Hana mulai tenang. “Kau bisa berdiri?”

Hana menggeleng. Baekhyun tersenyum tipis. “Baiklah….” Ia mengangkat tubuh Hana, menggendongnya masuk ke mobil Baekhyun yang terparkir tak jauh dari sana untuk kemudian membawanya pulang ke rumah.

Mereka tak sadar bahwa sedari tadi seseorang memperhatikan di balik pohon. Orang itu… adalah orang yang sama yang mengirimkan pesan pada Baekhyun tentang keberadaan Hana.

—***—

“Hana-chaaaan…” Minra menghambur memeluk Hana di tempat tidurnya. Setelah mendengar kabar tentang Hana kemarin malam, Minggu pagi ini Minra buru-buru melihat keadaan sahabatnya itu.

“Neo gwaenchana? Aku benar-benar mencemaskanmu Hana-chan.” Minra menyentuh pipi Hana dengan kedua tangannya.

Hana mengangguk sedikit tersenyum melihat kehebohan Minra sahabatnya, yang tak tahu kenapa selalu membuat perasaan Hana jauh lebih baik.

Minra duduk di tepi ranjang Hana seraya memberikan bungkusan besar makanan. “Ini… Aku membawakanmu buah apel kesukaanmu. Kemudian roti gandum, biskuit lemon, dan susu strawberry.”

Hana membulatkan matanya. “Banyak sekali Minra-ya.”

“Kau harus banyak makan Hana-chan. Kau tambah kurus. Kau tahu, kau terlihat menakutkan dengan pipi tirusmu itu. Bagaimana namja-namja bisa jatuh hati padamu kalau kau jelek seperti itu.”

“Gomawo.” Hana terkekeh.

Minra tersenyum sambil mengusap rambut Hana yang tergerai. “Mianhae, aku betul-betul tidak berniat mencelakaimu dengan memberitahumu bahwa Joonmyun kembali.”

“Mencelakaiku?” Hana mengernyitkan keningnya. “Maksudmu?”

“Apakah kau tidak sadar setiap kali kau mendatangi joonmyun adalah petaka bagimu? Lihatlah dirimu sekarang. Keadaanmu semakin buruk setelah bertemu dengannya kemarin kan..”

Hana tersenyum getir, “kau benar Minra-ya. Dan satu hal lagi yang kusadari, bahwa cinta memang tidak ada yang masuk akal. Aku tidak pernah merasakan cinta sebelumnya, makanya aku amatir sekali. Memperturutkan perasaan aneh itu dan… beginilah aku sekarang. Ah.. Andai saja perasaan itu tidak pernah datang, aku tidak akan begini jadinya.”

Minra menggeleng, “Hana-chan.. Cinta tak pernah salah. Yang salah itu orang sasarannya. Maka dari itu jangan menyerah, nae? Masih ada orang yang mencintaimu dan kali ini pasti tidak akan salah.”

“Aku sudah menolak Baekhyun kemarin,” ucap Hana, tahu kemana arah tujuan pembicaraan Minra.

“Mwo?”

“Seperti yang kau bilang.. Aku tidak ingin Baekhyun salah karena telah mencintaiku.”

—***—

Hana membasuh wajahnya di westafel. Cermin memproyeksikan bayangannya yang kini terlihat lebih buruk. Tubuhnya kurus sekali, berapa hari ke belakang Hana mogok makan. Entahlah, perutnya selalu mual seakan menolak diberi asupan. Seperti pagi ini pun, sudah 3 kali ia muntah-muntah tak jelas. Ditambah lagi sakit kepala hebat terus mengganggu tidurnya setiap malam. Dengan tangan bergetar ia melihat testpack yang baru saja dipakainya. Terjawab sudah penyebab kegelisahannya beberapa hari belakangan ini –hal yang paling ditakutkannya terjadi!

“Mamaaaa……” Hana mendekati eommanya yang sedang menonton TV di ruang tengah.

“Ada apa Hana? Kau pusing dan mual lagi? Mau mama panggilkan dokter Hwang?”

Hana menggeleng, “tidak, jangan panggil dokter. Mama kan tahu aku paling benci dokter.”

“Oke.. Tapi cepat habiskan obatnya ya, sayang.”

Hana mengangguk kemudian memeluk eommanya manja. “Aku sayang mama…”

“Wah wah ada apa ini? Kalau sudah manja-manja begini pasti ada maunya.”

Hana kembali menggeleng. “Mama, dulu waktu pertama kali kenal papa. Papa orangnya seperti apa?”

Yeoja paruh baya itu tersenyum membalas pelukan putri kesayangannya dan mulai bercerita. “Pertama kali mengenal papa sewaktu mama kelas 2 SMA, tepat seumuranmu. Papamu orang yang keras, namun sangat bertanggungjawab. Ia orang yang populer di sekolah karena kecerdasannya dan prestasi akademiknya, tapi justru kalau soal percintaan ia sangat kaku. Haha.. Waktu itu, papamu berjanji akan menembak mama kalau ia memenangkan olimpiade fisika yang diikutinya.”

“Kemudian papa memenangkan olimpiade itu dan akhirnya kalian jadian?” tanya Hana antusias.

“Sayangnya papa hanya menempati posisi ke-tiga. Tapi kami tetap jadian. Papamu memang pemaksa. Hahaha..”

“Waktu itu mama sudah mencintai papa, kan? Makanya mama terima papa walaupun papa tidak memenangkan perlombaan itu..”

“Justru papa lah yang tergila-gila pada mama. Kau tahu? Papa sama sekali bukan tipe laki-laki kesukaan mama. Mama tidak suka laki-laki yang kaku, berkaca mata, kutu buku, dan selera humornya payah.”

“Lalu kenapa kalian bisa jadian? Jangan-jangan mama menerima papa karena papa populer di sekolah?”

“Sayangnya, mama juga tidak kalah populer dari papa. Tapi bukan populer karena prestasinya. Justru mama populer karena mama ini sering membuat kekacauan di sekolah. Begini-begini mama dulunya preman. Hahaha… Makanya mama sampai bingung, kenapa papa bisa menyukai mama.”

“Lalu?”

“Kalau kau bertanya bagaimana mama bisa menerima papamu, mama juga tidak bisa menjawabnya. Mungkin karena ketulusan perasaan papa. Meskipun papa bukan orang yang romantis, tapi sikap papa selalu membuat mama senang berada di dekatnya.”

“Karena perasaan papa yang tulus?”

Eomma mengangguk, “sampai sekarang mama tidak tahu kenapa papa bisa mencintai mama. Dan mama rasa pertanyaan itu akan jadi misteri selamanya, karena sewaktu mama tanyakan pun papa juga tidak bisa menjawabnya. Begitulah, cinta memang tidak ada yang masuk akal, nak.”

Bolehkah Hana sebut ini kebetulan? Kisah cinta mama dan papanya tak jauh berbeda dengan yang ia alami sekarang, namun tentu dengan ending yang berbeda…

Ya, berbeda. Karena jikalau Hana meminta ending yang sama, apakah itu akan terjadi pada Joonmyun? Apakah cintanya yang tulus dapat meluluhkan hati Joonmyun yang seperti bongkahan es itu?

—***—

Harus ada ending dalam sebuah cerita. Kalau kau disuruh memilih sad ending atau happy ending, apa yang akan kau pilih? Happy endingkah? Sudah kuduga. Tapi mungkin tidak untuk kisah ini.

Hana pernah mengatakan bahwa cinta Minra pada Baekhyun itu cinta yang masuk akal, tidak seperti cintanya pada Joonmyun. Tidak! Hana meralat. Cinta itu memang tidak ada yang masuk akal! Saking tidak masuk akalnya, apapun akan dilakukan demi membuat orang yang dicintainya bahagia, meskipun akan berakhir dengan luka. Itu dilakukan Minra juga Hana, tapi dengan cara yang berbeda.

Hanya saja, ada luka yang sulit dihilangkan, seperti milik Hana sekarang. Ah tidak, mungkin bukan sulit dihilangkan, tapi tidak dapat dihilangkan. Kalau tubuh kita keracunan terkena bisa ular, maka penawarnya adalah bisa ular yang sama. Itulah yang kini berlaku bagi Hana. Sedangkan penyebab luka tersebut sudah bisa dipastikan tak akan pernah datang menolongnya. Lalu apa yang bisa ia lakukan sekarang?

Hana menatap langit tak berbintang, merasakan rintik hujan yang mulai turun menerpa tubuhnya. Tak lama tetesan itu mulai menyerbu, membasuh wajahnya, menyapu air matanya. Sepertinya langitpun ikut menangis merasakan kepedihan hatinya saat ini. Ia memijat sedikit pelipisnya, kepalanya terasa sangat berat, seberat perasaannya saat ini. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Tidak banyak, tapi kesemuanya melaju sangat kencang.

Jalanan kota Seoul ini biarlah jadi saksi. Saksi bisu perasaan cintanya pada Joonmyun. Dan atas nama cinta yang tidak masuk akal ini, Hana sungguh mengharapkan ending yang bahagia. Tapi biarlah, biarlah ini jadi ending dalam kisahnya.

TIIINNN… TIIINNN… TIIINNN……..

 

Ia tersenyum getir menyaksikan sebuah mobil melaju kencang ke arahnya, bersiap menghantam tubuhnya, pun mimpi-mimpinya, cintanya, harapannya, cita-citanya, hidupnya, masa depannya..

Kim Joonmyun…. Karena aku mencintaimu…

 

 

I know you haven’t made your mind up yet

But I would never do you wrong

I’ve known it from the moment that we met

There’s no doubt in my mind where you belong

BRRUUUKKK….!!!

-To be Continued-

Advertisements

3 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s