My Angel’s Smile (Chapter 8)

My Angel's Smile (2)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 8

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Romance gagal, Gajelas

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIARISM!

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

My Angel’s Smile Chapter 4: Where are You?

My Angel’s Smile Chapter 5: Missing You Like Crazy

My Angel’s Smile Chapter 6: Love is Illogical

My Angel’s Smile Chapter 7: Just a Little Bit of Your Heart


-Hana POV-

“Kim Joonmyun, tunggu aku!” panggilku takut-takut. Setelah jam pelajaran tambahan selesai Joonmyun langsung beranjak dari tempatnya, meninggalkanku yang masih membereskan alat tulisku.

Ia tidak mengucapkan apa-apa, hanya menengok ke arahku yang berusaha mengejarnya. “Aku… ingin… kita pulang bersama,” ajakku penuh harap.

Joonmyun memandangku datar, “kenapa?” tanyanya dingin, membuatku tercengang.

Kenapa?

Ia masih bertanya kenapa? Ini kan sudah sore dan semua murid sudah pulang jadi tidak apa-apa kan kalau kita……..

“Ah.. Nae, mian. Aku pulang sendiri saja.” Aku membungkuk berkali-kali, lalu berlari meninggalkannya. Air mataku menetes tak terasa, menganak sungai di kedua pipiku. Kim Joonmyun kau benar-benar….selalu membuatku ingin menangis. Aku tidak lupa akan perjanjian itu. Hanya saja… Tak bisakah perjanjian itu tidak berlaku pada keadaan dimana hanya ada kita berdua?

Sebentar, sebentar saja Kim Joonmyun. Tak bisakah aku minta waktumu walau hanya satu menit? Tak bisakah kau memikirkanku walau hanya satu detik? Tak bisakah kau memandangku walau hanya sekejap?

Aku berhenti berlari ketika dadaku mulai terasa sesak. Percuma, segalanya adalah percuma. Aku memohon dan bersimpuh pun kau tidak akan pernah mendengarku, Kim Joonmyun. Untuk apa lagi kuberharap? Sampai kapan harus kubertahan?

Tidak! Aku tidak akan menyerah!

Kuusap air mataku kasar. “Hana-ya, jangan menangis! Kau harus kuat!” ucapku sesenggukan, berusaha menghibur diriku sendiri.

Aku tahu ini semua akan terjadi. Aku tahu seperti apa dirimu. Tapi aku tidak akan menyerah terhadapmu, Kim Joonmyun. Aku tidak apa-apa! Kami akan baik-baik saja.

Kurasakan ponselku berdering. Nomor asing menelepon.

“Yak! Kau berlari begitu saja meninggalkanku! Kau tahu kan aku tidak bisa mengejarmu!” suara dari seberang begitu ponsel kuangkat.

DEG

“I…Ini….”

“Nae, ini aku Kim Joonmyun. Aku ada kerja part time makanya tidak bisa pulang bersamamu. Kau tidak apa-apa?”

 

“A…aku…tidak…apa-apa,” jawabku dengan suara bergetar.

“Ya sudah, hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa hubungi saja nomor ini. Ini nomor ponselku.”

 

“Nae.”

Aku mengakhiri sambungan telepon lantas kupeluk ponselku. Air mataku kembali menggenang di pelupuk mataku, namun kini adalah air mata bahagia. Sungguh, ini lebih membahagiakan dibandingkan pulang bersama dan duduk berjauhan di bis. Mendapatkan nomor Joonmyun, disaat tidak ada seorangpun di sekolah yang mengetahui nomornya, ini artinya hanya aku yang dapat berinteraksi dengannya lebih banyak, bukan?

Ya, kami akan baik-baik saja.

*

“Yeoboseyo..”

“Ada apa? Kau ada dimana sekarang?” terdengar suara panik Joonmyun.

“Aku sudah sampai di rumah. Aku hanya merindukanmu..”

“Yak! Aku kan sudah bilang, hubungi aku hanya kalau ada apa-apa di jalan! Aku sampai kaget tahu!”

“Mian. Tapi aku betul-betul merindukanmu.”

“Tsk, aku memberimu nomor ponselku bukan berarti kau bisa meneleponku seenak jidatmu. Aku sedang sibuk sekarang.”

“Arraseo.. Mianhae.”

“Ya sudah, selamat malam.”

Cklekkk… Tuuttt… Ttuuttt.. Tuuttt…

Aku tersenyum, ah tidak… Lebih tepatnya tertawa, saking senangnya. Ini benar-benar kemajuan. Joonmyun meresponku! Tak hanya itu, ia bahkan mencemaskanku dan mengucapkan selamat malam padaku. Rasanya….. Mendengar suaranya saja bagai obat penyembuh semua rasa mual, pusing dan sakit kepala yang selalu menggangguku tiap malam dan pagi hari.

Andai aku bisa selalu mendengar suaramu yang mencemaskanku seperti ini…

–My Angel’s Smile Chapter 8: Let Me Stay by Your Side–

Hari-hari berlalu dengan cepat. Pernikahanku dan Joonmyun menginjak 2 minggu. Hubungan kami pun sudah semakin akrab sekarang. Meskipun sebenarnya tidak juga, jika kalian orang biasa yang melihat kami. Kau tahu, kami hanya mengobrol satu kali sehari pada pagi hari sebelum berangkat sekolah, itupun intensitasnya sedikit sekali. Hanya sepatah dua patah kata, kemudian hening dan canggung lebih mendominasi. Percakapan kami pun, sama sekali tidak mencerminkan sepasang suami istri, lebih kepada teman diskusi matematika. Sekalipun ada percakapan panjang, itu aku yang memulainya. Dan Joonmyun hanya meresponnya dengan anggukan, “nae”, “oh ya?” atau “begitukah?”

 

Sekali lagi tidak apa-apa. Aku sudah bertekad, aku tidak akan mengharapkan balasan cinta dari Joonmyun, karena itu hal yang paling mustahil. Dengan Joonmyun menerimaku sebagai teman dan mau mengobrol denganku saja –tidak membentakku kasar atau mengusirku– itu sudah benar-benar berita menggembirakan. Dan satu hal lagi yang kukategorikan sebagai kemajuan besar-besaran dari hubungan ini yaitu, Joonmyun memangkas jarak kami. Di bis, ia tidak lagi duduk di kursi paling belakang, tapi kini tepat berada di kursi belakangku. Di kelas, terkadang Joonmyun membalas SMS iseng yang kukirimkan padanya saat guru sedang menerangkan, membuatku beberapa kali ditegur karena senyum-senyum sendiri dan tidak memperhatikan pelajaran. Lalu saat pelajaran tambahan selesai, kami pulang bersama-sama (dengan jarak yang sama seperti pada pagi hari saat kami berangkat bersama).

Ya, setidaknya menjadi teman, jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Sugesti inilah yang membuat hatiku merasa sangat ringan, tidak ada beban.

“Joonmyunnie, kau tidak pernah mengunci pintumu? Setiap aku datang kesini, pintunya pasti tidak terkunci,” tanyaku di suatu pagi saat Joonmyun tengah menghabiskan sarapannya.

“Kenapa memangnya?”

“Bukankah itu berbahaya, bagaimana kalau ada pencuri yang masuk.”

“Nae, tempat tinggalku memang sering kemasukan pencuri.”

“Jinjja? Barang apa saja yang hilang? Ah.. Sudah tahu banyak pencuri kenapa kau tidak langsung menguncinya?”

“Pencurinya tidak banyak, cuma satu orang. Dan yang hilang pun bukan barang.”

“Mwo? Bukan barang?”

“Nae, karena yang diambilnya adalah foto-fotoku.”

“Ng?”

“Bukankah kau selalu memotretku saat aku sedang tidur, pencuri kecil?”

Aku membelalak, jadi yang dimaksud Joonmyun pencuri itu adalah diriku? Dan hey, selama ini ia mengetahui perbuatan diam-diamku kala ia sedang terlelap! Kurasa wajahku sudah berubah merah padam. Aku menunduk dalam, takut Joonmyun akan marah lagi padaku. “Mi…Mianhae, aku janji… tidak akan mengulangi——“

“Gwaenchana, kalau aku keberatan aku pasti sudah mengunci pintunya dari dulu.”

Aku terdiam, mengerjap-ngerjapkan mataku. Apa katanya barusan? Aku tidak salah dengar kan?

Joonmyun merogoh sakunya, kemudian meletakkan sebuah benda logam diatas meja kemudian menyodorkannya padaku. “Ini kunci duplikatku khusus untuk si pencuri kecil, karena mulai sekarang aku akan mengunci pintuku.”

Hari ini sungguh, rasanya aku ingin berguling-guling di aspal panas. Mimpi indah apa aku semalam?

—***—

“Hana-chan, kau yakin kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun padaku saat jam istirahat, di kelas. Aku dapat menangkap kekhawatiran dari nada bicaranya.

“Aku? Memangnya aku kenapa?”

“Seharusnya kami yang bertanya kenapa. Hari ini saja kau sudah 4 kali bolak-balik ke toilet,” timpal Minra tak kalah cemas.

“Ah itu, aku tidak apa-apa sungguh. Kau tahu kan siklus bulanan itu sangat merepotkan.” Aku jelas berbohong. Mana mungkin aku memberitahukan mereka bahwa aku ke toilet karena mual akibat kehamilanku.

“Begitu, kalau sakit sebaiknya kau istirahat saja di ruang kesehatan.”

“Ani… Gwaenchana, aku mana mungkin meninggalkan pelajaran hanya karena nyeri datang bulan.”

“Oke, tapi sebaiknya kau jangan memaksakan diri.”

Aku mengangguk dan menyunggingkan senyum kedokku. Mianhae, Baekhyun-ah, Minra-ya. Ini bukan hal yang seharusnya kalian ketahui.

Kami akhirnya membuka bekal masing-masing. Aku sengaja menghindari makan di kantin, karena takut bau makanan disana membuatku mual dan tidak berselera makan.

“Aku dan eommaku memasak banyak bulgogi hari ini. Jadi aku sengaja membawakan untuk kalian juga.” Minra dengan riang membuka sekotak besar bekal makanannya.

Baekhyun menyambar bulgogi bagiannya dengan semangat. “Waaahhh… Enak!” seru namja itu senang setelah mencicipinya.

Namun aroma sedap bulgogi yang menyeruak itu justru membuatku mual. “Cobalah, Hana-chan. Bulgogi buatan eommanya Minra memang selalu paling enak!” tawar Baekhyun.

“Baekhyun-ah, meskipun eommaku juga ikut membantu, tapi aku yang paling banyak ambil andil dalam membuat bulgogi ini,” protes Minra.

“Jinjja? Ini buatanmu? Kalau begitu kutarik kata-kataku. Wah bulgogi ini benar-benar tidak enak……… Awwww, appo!” canda Baekhyun yang kemudian dihadiahi cubitan sadis Minra di pinggangnya.

“Hana-chan,” Minra berbalik padaku dengan mata berbinar. “Cobalah. Ini pertama kalinya aku memasak, aku ingin dengar komentarmu.”

“Ahh… Aku…” Aku memutar otak, mencari alasan untuk menolaknya. “Aku..sebenarnya sudah kenyang Minra-ya.”

“Jinjja?” Ia terlihat kecewa, aku jadi tidak enak hati padanya.

“Kenyang? Padahal kau hanya makan buah mangga saja, kenapa sudah kenyang?” timpal Baekhyun. Ah, sial!

“Mianhae, tapi aku betul-betul sudah kenyang.”

“Kalau begitu satu suap saja, Hana-chan.” Minra memandangku penuh harap dan aku sudah kehabisan ide.

“Baiklah…” Tanganku gemetar memegang sumpit. Minra-ya, aku bukannya mau menolak memakannya, sebenarnya aku juga ingin mencicipi masakan pertamamu, hanya saja aku—

“Sawajiri Hana, kau dipanggil Lee seonsaeng ke ruang guru.”

DEG

Suara ini… Kim Joonmyun? Aku bahkan tidak sadar kalau namja itu sudah ada di dekatku.

“Nae,” jawabku. Aku lekas berdiri. “Minra-ya, bungkuskan saja untukku. Aku akan memakannya sepulang sekolah,” pamitku sebelum pergi.

Aku mengejar Joonmyun yang sudah mendahuluiku keluar kelas. Aku berjalan di belakangnya, karena tidak mungkin kalau kami berjalan beriringan. Aku mengernyitkan dahi, heran ketika ia berbelok menuju tangga balkon atap sekolah. “Ikut aku!” perintahnya.

“Loh? Bukannya kita mau ke ruang guru?”

Ia diam saja, tidak menjawab pertanyaanku. Mungkin karena masih banyak murid disini, makanya ia menghindari agar kami tidak terlihat mengobrol. Aku mencoba sedikit mengerti keadaan.

“Aku tahu kau sering mual, tapi bukan berarti kau tidak makan apapun.” Ia melemparkan sesuatu padaku setibanya kami di balkon atap. Dengan sigap aku menangkapnya. Mataku membulat. Ini… sekotak susu cokelat kemasan untuk ibu hamil?

“Jaga kesehatanmu dan………anak kita.”

DEG

Aku terpaku di tempatku. Tak mampu berkata apa-apa lagi.

Kim Joonmyun, ia….sengaja….

Ia sengaja memanggilku saat sedang kebingungan untuk menolak mencicipi masakan Minra tadi. Ia sengaja mengajakku ke balkon atap agar tidak ada yang melihat kami. Ia juga sengaja memberikanku susu karena melihatku sering mual dan tak makan apa-apa.

Kim Joonmyun, ternyata kau….peduli.

Joonmyun duduk bersandar pada pagar pembatas. “Kemarilah. Duduk disini….” ujarnya, sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruhku agar duduk disana.

“Nae.” Aku menurut dan duduk di sampingnya. Gugup.

Kau tahu, duduk berdua dengan Joonmyun seperti ini rasanya……hangat. Walau ia berbicara dingin padaku, walau ia berbicara tanpa menatapku. Tapi aku betul-betul merasa hangat.

“Kok bengong? Minumlah. Susu itu tidak akan membuatmu mual.”

“Nae.” Lagi-lagi aku hanya menurut, lalu menusukkan sedotan ke kotak susu itu.

-Author POV-

“Minra-ya, kau tidak merasakan sesuatu yang aneh pada Hana?” tanya Baekhyun selepas Hana pergi meninggalkan mereka di kelas.

“Aneh apanya?” tanya Minra balik.

“Sikapnya. Kau tidak menyadari ada perubahan dari sikapnya?”

“Sikap yang mana?” Baekhyun mengerang frustasi. Sebegitu tidak-pekanya kah sahabatnya itu? Atau dirinya saja yang terlalu peka?

“Sikapnya pada Joonmyun! Tidakkah kau merasakan kalau Hana bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi padanya dan Joonmyun akhir-akhir ini? Padahal kau tahu kan betapa tergila-gilanya ia pada namja itu. Bukankah ini aneh?”

“Hmm, mungkin Hana sudah menyerah,” jawab Minra asal.

“Setelah semua yang terjadi selama ini bahkan sampai ia menolakku, lalu ia menyerah begitu saja?”

Minra sebenarnya sudah malas menanggapi. “Ayolah Byun Baekhyun. Apapun yang terjadi padanya, yang jelas ini keputusan Hana. Dan sekarang kau bisa lihat kan Hana sudah kembali seperti semula. Kurasa keputusannya untuk menyerah memang sudah tepat. Jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi tentang Hana, Baekhyun-ah.”

Baekhyun melipat tangannya di depan dada. “Tapi tetap saja ini aneh.”

Dan Minra lebih memilih untuk cuek. Ia bukannya tidak peduli pada Hana, namun ini masalah Baekhyun sahabatnya yang sangat peka pada Hana, tapi tak peka pada orang yang selalu ada di sampingnya.

-Hana POV-

Detik demi detik waktu berjalan tanpa sedikitpun kualihkan pandanganku dari sosok yang sedang terduduk sambil memejamkan mata. Kim Joonmyun, suamiku, yang tengah terlelap dalam tidur siang damainya. Ia tertidur dalam kondisi duduk bersandar pada pagar pembatas balkon atap, tepat di sampingku. Bahkan bisa dibilang tak ada sekat yang memisahkan jarak kami, karena bahu kami bahkan bersentuhan. Belum pernah aku merasa betul-betul sedekat ini dalam kondisi setenang ini dengannya.

Tak henti-hentinya aku mengagumi betapa tampannya suamiku ini. Tak ada lagi bercak luka dan memar yang menghiasi wajah putih bersihnya. Tak ada lagi rambut berwarna merah yang berantakan. Tak ada lagi pakaian layaknya seorang preman.

Seandainya saja ia benar-benar menjadi milikku. Ah… eotteohkkae? Memikirkannya membuat jantungku berdebar kencang sekali. Tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu!

“Sudah kubilang jangan memandangiku seperti itu,” ucap Joonmyun tiba-tiba. Mataku rasanya hampir lompat dari tempatnya saking kagetnya.

Lagi-lagi aku dibuat salah tingkah. “Mian….” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku memilin-milin kotak susu yang sudah habis isinya, mencoba mengatur degup jantungku.

Ia membuka matanya, lalu bangkit sambil meregangkan tubuhnya. “Turunlah duluan. Sebentar lagi bel istirahat selesai akan berbunyi.”

“Nae.” Buru-buru aku berdiri dan membungkuk berkali-kali di depannya. “Terima kasih sudah menolongku tadi Joonmyun-ah, juga…. Terima kasih untuk susunya, meskipun sebenarnya aku lebih suka susu rasa strawberry.”

“Tck. Kau ini sudah dikasih hati, minta jantung.”

Aku hanya bisa menunjukkan senyumku, lantas pergi meninggalkannya.

“Emm… Hana-ya,” panggilnya ketika aku hendak menuruni tangga.

Aku berbalik. “Nae?”

“Bulgogi dari Minra, kalau kau tidak ingin memakannya. Untukku saja.”

“Nae.”

Aku kembali berbalik dan berlari kecil, tak dapat menahan girangnya hatiku. Jantungku semakin berdebar kencang tak karuan.

Joonmyun-ah, kalau kau bersikap manis seperti itu terus, aku jadi sedikit…..GR.

-Baekhyun POV-

Hanya perasaan saja, atau bagaimana, tapi aku merasakan sesuatu yang janggal. Percakapanku dengan Minra tadi siang tidak membuat rasa penasaranku hilang. Sikap biasa-biasanya Hana-lah yang justru jadi pemicunya. Setelah kehebohan yang terjadi beberapa minggu yang lalu, Hana yang ditemukan pingsan di daerah Gangdong-gu, kemudian appa Hana yang melarang siapapun menjenguk Hana sesudahnya, juga ponsel Hana yang tidak aktif selama berminggu-minggu. Setelahnya, Hana kembali ke sekolah begitu saja tanpa penjelasan apapun lalu bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi padanya selama ini. Bahkan ia enggan menceritakan apapun.

Hana sudah melupakan cintanya pada Joonmyun? Yang benar saja! Kalau ia mau melakukan itu, ia seharusnya pindah sekolah, atau bahkan pindah rumah sekalian. Bagaimana mungkin bisa melupakan cinta pada seseorang yang bahkan masih bisa ia jumpai di kelas setiap hari. Ditambah lagi perubahan drastis penampilan Joonmyun memperkuat kecurigaanku bahwa mereka sebenarnya memiliki hubungan, benar begitu? Akhirnya Joonmyun menerima cinta Hana, lalu mereka bersikap biasa saja untuk menyembunyikan hubungan mereka. Ya, pasti begitu!

Ah tidak, tidak, tidak! Tidak mungkin! Joonmyun tetaplah Joonmyun, si namja gay brengsek yang tidak punya belas kasihan pada siapapun. Sampai lebaran monyet pun, ia tidak akan pernah menyukai yeoja, termasuk Hana.

Hmmm… Atau mungkin Hana sudah jatuh cinta lagi pada namja lain? Terbukti, di kelas Hana sudah beberapa kali terlihat senyum-senyum sendiri di depan ponselnya. Ya, setidaknya itu lebih masuk akal. Tapi…. Ah tidak, tidak! Tidak boleh! Ia tidak boleh jatuh cinta lagi pada namja selain aku!

Aku menengok sedikit di balik majalah yang sebenarnya tidak kubaca, hanya kugunakan untuk menghalangi wajahku agar penyamaranku tidak terlihat oleh yeoja yang duduk beberapa baris di depanku di bis ini. Siapa lagi kalau bukan Hana. Aku diam-diam mengikutinya sepulang sekolah. Sebenarnya aku bukan hanya ingin memata-matai Hana, tapi juga namja yang sialnya satu arah dengan Hana sehingga menaiki bis yang sama. Kim Joonmyun. Aku hanya ingin memastikan perkiraanku pada mereka sebelumnya, bahwa mereka menjalin hubungan rahasia, adalah salah. Dan memang sepertinya begitu…

Aku sempat curiga ketika Joonmyun mengambil tempat di kursi belakang Hana. Beragam dugaan langsung muncul di kepalaku. Tapi ternyata mereka tidak berinteraksi sama sekali, dan malah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Oke, spekulasiku yang pertama gugur, tapi spekulasi kedua mungkin saja benar. Hana sibuk mengetik pesan, lalu membaca balasannya sambil tertawa-tawa sendiri, bahkan sesekali mencium ponselnya. Jadi ternyata benar Hana memang sudah punya kekasih baru?

Sungguh, ini justru lebih menyakitkan bagiku. Aku jadi seperti orang bodoh yang membuntuti yeoja yang sedang berpacaran. Hiks… Malang nian kau Byun Baekhyun.

Kumasukkan majalah yang kupegang asal ke dalam tasku. Hana kan sedang sibuk berpacaran, mana mungkin ia menyadari keberadaanku disini. Lalu iseng-iseng kukirim pesan singkat padanya.

Hai, sedang apa?

Aku menunggu balasannya sejenak.

2 menit…

5 menit…

8 menit…

Mwo? Ia tidak membalas pesanku? Padahal dari tadi ia memegang ponselnya, bahkan aku bisa mendengar bunyi ringtone pesan masuknya, tapi ia tidak membalasku? Keterlaluan! Aku menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Menimang-nimang ponselku sendiri.

Drrrttt… Drrtttt…

 

Ponselku bergetar tanda pesan masuk. “Akhirnya setelah 10 menit, ia membalas pesanku,” gerutuku dalam hati.

Aku membulatkan mataku, terkejut luar biasa. Pesan yang masuk di inbox-ku ini, bukan dari Hana. Tapi, si stalker! Nomor asing yang selalu menghubungiku kalau terjadi sesuatu pada Hana. (baca My Angel’s Smile Chap 6)

Sedang memperhatikan yeoja itu? Percuma saja… Ia sedang asyik membalas pesan dari kekasihnya.

 

Tanpa pikir panjang langsung kuhubungi nomor itu.

Kriiiingg… Kriiiiinggg….

Aku tersentak. Lalu berdiri saking terkejutnya saat kudengar sayup-sayup dering ponsel seseorang di bis ini, yang dapat kupastikan adalah si stalker itu. Aku berjalan perlahan di lorong bis, mencari asal suara itu. Jantungku berdegup kencang. Suara itu semakin jelas tertangkap indera pendengaranku, semakin dekatnya aku dengan kursi Hana. Itu berarti si stalker duduk tak jauh dari Hana!

Nomor yang anda tuju sedang sibuk.

Terdengar suara operator dari ponselku seiring dengan berhentinya suara dering ponsel si stalker. Ia mereject teleponku. Aku kembali menghubungi nomor itu.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

Sial! Ia langsung mematikan ponselnya! Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru bis, berusaha mencari seseorang yang sedang memegang ponselnya –selain Hana dan Joonmyun tentunya. Tapi usahaku gagal, karena sebagian besar bahkan hampir semua penumpang adalah murid Hannyoung High School yang juga tengah sibuk dengan ponsel masing-masing.

Bis berhenti di halte pemberhentian daerah Gangdong-gu. Buru-buru, aku duduk di sembarang kursi di dekatku dan menaikkan syalku hingga menutupi sebagian wajahku –agar tidak ketahuan– ketika melihat Joonmyun dan beberapa penumpang lain bangkit untuk turun dari bis. Kemudian dengan cepat, aku pindah ke tempat duduk di belakang Hana –yang tadi ditempati Joonmyun– hanya untuk mengawasinya, berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk menimpa Hana nantinya.

Beberapa pemberhentian selanjutnya, barulah Hana turun dari bis. Aku mengikutinya dari belakang, hingga ia sampai di rumahnya. Syukurlah, tidak terjadi apa-apa padanya.

Drrrttt… Drrtttt…

Sebuah pesan kembali masuk di inbox-ku. Ternyata pesan dari Hana.

Baekhyun-ah, maaf baru membalas. Aku baru saja sampai di rumah. Ada apa?

Oke, setelah 30 menit Hana baru membalas pesanku sekarang. Aku tak membalasnya. Itu tidak penting lagi sekarang, karena yang lebih penting adalah….si stalker itu ternyata murid Hannyoung High School!

—***—

-Hana POV-

“Minra-ya, aku sudah mencoba bulgogi buatanmu, enak sekali. Kau memang punya bakat memasak!” ujarku berbohong ketika kami sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran berikutnya, pelajaran olahraga.

“Jeongmal? Wah… senangnya. Aku jadi tambah percaya diri. Lain kali aku akan meminta Hana-chan saja untuk mencicipi masakanku yang lain. Baekhyun sangat tidak bisa diandalkan,” jawab Minra sumringah, sengaja mengeraskan suaranya.

Baekhyun yang mendengarnya hanya bisa mendelikkan mata. “Lagipula siapa yang sudi jadi kelinci percobaan eksperimen memasakmu yang payah itu,” ejeknya tak mau kalah.

“Lihat saja nanti. Kau akan menyesali perkataanmu itu, Byun Baekhyun!”

“Tidak akan pernah! N-E-V-E-R!” ucap Baekhyun dengan penekanan disetiap ejaannya. Tsk, dasar dua orang ini memang seperti Tom dan Jerry yang selalu bertengkar, tapi saling membutuhkan satu sama lain.

“Hei, kalian sampai kapan mau bertengkar terus. Lim seonsaeng sudah menunggu di lapang. Ayo cepat!” perintah Seungyoon sang ketua kelas, menegur kami.

“Baik!” jawab kami bersamaan.

Sedang Baekhyun dan Minra bergegas menuju lapangan, aku berjalan berlawanan arah. Aku sengaja tidak mengikuti pelajaran olahraga hari ini dengan alasan sedang nyeri datang bulan. Bagaimana tidak, olahraga hari ini adalah tes lari 2 kilometer! Itu sama saja dengan membunuhku dan janin yang dikandungku.

Aku berlalu meninggalkan kelas, menuju ruang kesehatan. Namun di perempatan lorong kelas yang sepi –karena pelajaran ke-2 tengah berlangsung di masing-masing kelas– tiba-tiba sebuah tangan menarikku. Aku terlonjak kaget, terlebih ketika tahu siapa yang menarikku. “Kim Joonmyun?”

Ia membawaku ke balkon atap. Satu-satunya tempat paling sepi di sekolah ini. “Daripada berdiam diri di ruang kesehatan, lebih baik temani aku makan.”

Joonmyun membuka bungkusan yang ia bawa. “Aku membuatkan salad tuna untukmu. Makanlah, kau tidak boleh membiarkan perutmu hanya diisi dengan buah mangga saja.”

“Kudengar omega 3 pada tuna dan folid acid pada brokoli, wortel, jagung dan kacang kedelai, bagus untuk kesehatan janin. Jadi kumasukkan semuanya pada salad itu, semoga rasanya tidak aneh.“

Senyum haru tercetak jelas di bibirku. Kim Joonmyun… Orang yang tidak pernah menganggapku ada, orang yang paling membenciku, orang yang tidak pernah mengharapkanku. Kini tengah duduk di hadapanku, menyodorkan makanan yang ia buat sendiri demi kesehatanku dan anak yang dikandungku. Sikapnya yang dingin, tapi tulus. Lalu apakah salah jika aku kembali berharap padanya? Membangun kembali puing-puing fantasi yang sempat kukubur dalam-dalam. Masa depan indah yang kudambakan bersama namja yang paling kucintai di dunia ini.

Kim Joonmyun… Bolehkah aku mempunyai harapan seperti itu, bersamamu?

“Ibu hamil betul-betul merepotkan,” gerutunya membuyarkan lamunanku. “Ini cobalah, aku berusaha membuat tuna ini tidak anyir lagi, mudah-mudahan tidak akan membuatmu mual.”

Tentu saja aku mencobanya dengan suka cita.

“Bagaimana? Enak?”

Aku mengangguk sumringah. “Ini bahkan lebih enak daripada makanan di restoran bintang lima.”

“Tsk. Kau berlebihan.”

Sedang ia mulai membuka bekal makanan miliknya, aku diam-diam memperhatikannya seperti yang biasanya kulakukan jika bersamanya. Aku tidak pernah tahu ternyata Joonmyun bisa memasak (dan bahkan aku tidak tahu kapan ia membuat makanan ini, sedangkan tadi pagi ia memakan sarapan yang kubawakan). Ini pertama kalinya aku mencoba makanan buatannya. Jujur, aku saja kalah. Aku tidak bisa memasak. Selama ini aku selalu membawakan Joonmyun masakan mama. Sebagai seorang istri, aku merasa sangat gagal. Bagaimana bisa membahagiakannya sedangkan untuk membuatkannya makanan saja aku tidak becus? Hiks…

Dan lihatlah, aku juga baru tahu kalau Joonmyun suka susu cokelat. Aku terkekeh pelan. Ia membawa dua buah susu kotak, yang satu susu kotak untuk ibu hamil rasa strawberry yang sudah pasti untukku, dan satu lagi susu kotak rasa cokelat yang ukurannya lebih besar dari milikku. Hihi… Mungkin nanti aku akan membelikan susu cokelat yang banyak untuknya.

Joonmyun memakan bekalnya dengan lahap, nafsu makannya besar sekali, padahal ini belum waktunya makan siang. Ia tipe yang mudah lapar kah? Ah… Ternyata banyak sekali yang tidak kuketahui tentangnya. Memang kalau dilihat dari segi waktu, kami belum lama saling mengenal. Aku bahkan lupa sejak kapan kami bisa berinteraksi sesantai ini. Tidak tiga bulan yang lalu saat kami pertama kali bertemu, tidak juga saat aku pertama kali menciumnya di malam itu, ataupun saat aku bertemu dengannya dalam keadaan mabuk, lalu… saat ia…….

Aku teringat sesuatu.

“Kim Joonmyun, bolehkah aku bertanya?”

“Emm..” jawabnya sambil sibuk menghabiskan bekalnya, tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

“Waktu itu…. kenapa kau ingin bunuh diri?” Aku bertanya betul-betul ingin tahu. (baca My Angel’s Smile Chap 3)

Ia menghentikan aktivitasnya lantas memandangku tajam. Aku sedikit terkejut dengan perubahan air mukanya. Apakah ini pembicaraan yang sensitif baginya? “Aku akan bertanya balik dengan pertanyaan yang sama. Kenapa waktu itu kau ingin bunuh diri?” (baca My Angel’s Smile Chap 6)

Aku membulatkan mataku, “kenapa kau tahu tentang hal itu? Jangan-jangan—–“

“Benar. Aku yang menolongmu saat kau hampir tertabrak.”

Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat kejadian itu. Jadi di malam saat aku hendak mengakhiri hidupku, ketika aku yang setengah sadar melihat namja yang menangkapku dari sambaran mobil yang melaju kencang ke arahku, kupikir aku hanya berhalusinasi bahwa namja itu adalah Joonmyun. Tapi ternyata aku tidak salah, sosok itu benar-benar Joonmyun. Ia yang menolongku sebelum aku jatuh pingsan dan Baekhyun menemukanku.

“Kenapa? Kenapa kau menolongku?” Aku kembali bertanya. Berharap akan jawaban yang kuinginkan.

“Aku akan bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Kenapa kau menolongku saat aku ingin bunuh diri?”

“Itu…. karena aku tidak ingin kau mati.”

Karena aku mencintaimu Kim Joonmyun!

“Dan aku memiliki alasan yang sama.”

“Ng?” Ia juga memiliki perasaan yang sama denganku?

“Karena aku tidak ingin kau mati. Kau pernah menyelamatkanku dari maut. Dan aku melakukan hal yang sama. Anggaplah ini sebuah balas budi.”

“Eng… Hanya itu alasannya?”

“Nae, hanya itu.”

Aku menghembuskan nafas berat. “Lalu kemana kau pergi setelah kabur dari rumah sakit?” (baca My Angel’s Smile Chap 4)

“Aku menginap di rumah Myung Jae-hyung.”

Kutangkap nada bicaranya yang semakin tidak ramah. Aku tahu mungkin ia tidak nyaman dengan obrolan ini, tapi…. aku hanya penasaran. Sebagai orang yang akan selalu berada di sampingnya selama 9 bulan ini, tak bolehkah aku lebih mengenalnya? “Myung Jae-hyung? Siapa?”

“Kau pernah melihatnya. Namja tinggi berambut cokelat yang mampir ke rumahku waktu itu.” (baca My Angel’s Smile Chap 1)

DEG

Seharusnya aku tidak bertanya. Bukankah namja tinggi berambut cokelat yang pernah kutemui itu… adalah teman gay nya? Aku menunduk. Sungguh, aku tak ingin bertanya lagi, tapi entah kenapa mulutku terus saja berbicara. “Apa yang kau lakukan disana?”

“Perlukah aku ceritakan apa yang aku lakukan bersamanya?”

Tanganku bergetar, sekuat tenaga aku menahan cairan bening yang mulai bergerombol di mataku. “Se…sebenarnya apa hubunganmu dengannya Kim Joonmyun?”

Tepat di titik rawan. Joonmyun bahkan terlihat mulai emosi. “Bukan urusanmu!”

Bukankah aku sudah bertekad akan menganggap Joonmyun sebagai teman? Tapi kenapa rasanya aku tidak bisa merelakannya? Kenapa rasanya sesak sekali? Kenyataan yang terpampang jelas ini, seolah menamparku telak-telak, seakah mengubur begitu saja harapan yang baru kubangun kembali. Kenyataan bahwa kami tidak akan pernah baik-baik saja, kami tidak akan pernah bisa bersatu.

“Sekarang giliranku yang akan bertanya… Kenapa kau tidak menggugurkan saja kandunganmu sebelum appamu tahu?”

DEG

Entah mengapa pertanyaan sederhana ini begitu menyayat hatiku. Bolehkah…. Bolehkah aku mengatakan alasan yang sebenarnya?

“Karena… kalau aku menggugurkan anak ini, aku tidak bisa berada di sampingmu lagi.” Seberapapun usahaku menyembunyikannya, bulir kepedihan itu tetap jatuh juga. Menetes perlahan membasahi kedua pipiku yang mulai memucat.

“Sebegitu inginkah kau berada di sisiku? Bahkan setelah aku mengatakan bahwa aku membencimu? Tidakkah kau sadari bahwa itu sangat egois?”

“Kalau kau tidak ingin bersamaku, kenapa kau tidak menceraikan aku saja? Kenapa kau datang pada appaku saat itu dan menikahiku?” Air mataku terburai, tak kuasa lagi kutahan. Hentikan pembicaraan ini Kim Joonmyun, kumohon.

“Lalu kenapa kau tidak mengugurkan saja kandunganmu agar aku bisa menceraikanmu?”

“Cukup Kim Joonmyun. Aku akan lakukan itu. Aku akan menggugurkan anak ini jika itu yang kau inginkan.”

Aku berdiri seraya berlari meninggalkannya.

Apakah harapan itu tidak akan pernah ada selamanya? Harapan untuk masa depan bahagia bersamamu. Apakah kita hanya akan terus seperti ini? Menjalani hidup tanpa memiliki apa tujuan hidup ini sebenarnya.

 

Tuhan, apa salahku? Mengapa Engkau menakdirkan garis kehidupan yang begitu kejam ini padaku?

Aku bersandar pada dinding lorong yang sepi saat aku sudah lelah berlari. Nafasku terengah-engah. Kutepuk-tepuk dadaku. Menahan gemuruh menyesakkan yang ada disana.

“Kim Joonmyun kau memang brengsek!” makiku. “Tapi kenapa aku mencintai orang sebrengsek dirimu?” Aku terduduk di lantai dan membenamkan wajah pada lenganku yang bertumpu pada lutut, sambil terus menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semuanya.

 

Sretttt…..

Aku mendongak kaget lalu berdiri spontan, saat tiba-tiba sebuah tangan menarikku. Ia memegang tanganku dan membawaku pergi. “Kim Joonmyun apa yang kau lakukan ini tempat umum! Kau tidak ingat perjanjian kita?” Aku berusaha menepis tangannya, tapi justru genggamannya semakin menguat.

Joonmyun membawaku menaiki bis. “Hei! Kita mau kemana? Sebentar lagi jam pelajaran selanjutnya akan dimulai!” Aku masih berusaha meronta. Ia diam tak bergeming, tidak pula menatapku.

Aku gelisah, tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Takut jika ada siswa Hannyoung di bis ini yang melihat kami. Tapi Joonmyun terlihat tidak peduli sama sekali. Untunglah bis ini cukup sepi.

Akhirnya kami sampai ke tempat tinggalnya. Dengan cepat ia menarikku masuk. Ia menyeretku ke dinding, mengunciku pergerakanku dengan kedua tangannya. “Apa maksudmu mengatakan hal itu, ha?” Ia marah, betul-betul marah.

Aku bungkam. Mengalihkan pandanganku dari matanya yang memandangku tajam.

“APA MAKSUDMU MENGATAKAN BAHWA KAU AKAN BENAR-BENAR MENGGUGURKAN KANDUNGANMU?” ulangnya. Ia membentakku kasar. Menarik daguku agar wajahku kembali menghadap wajahnya.

“Bukankah kau tidak mengharapkan anak ini? Bukankah kalau anak ini tidak ada kau bisa terbebas dan menceraikan——“

“AKU TIDAK BENAR-BENAR SERIUS MENGATAKANNYA. AKU HANYA JENGKEL KARENA KAU BERTANYA MACAM-MACAM PADAKU,” sentaknya lagi.

Hening sesaat.

Ia terlihat mengatur nafasnya. Suasana ini. Suasana mencekam ini. Suasana yang selalu aku benci. Dan suasana yang berlangsung beberapa saat ini, bagai neraka bagiku.

“Bisakah kau tidak menanyakan masa laluku, dan apapun mengenai kehidupanku? Aku benci itu!” Joonmyun mulai berbicara, melunakkan kembali suaranya. Meski masih dapat kudengar deru nafas emosinya.

“Mianhae…” Aku menunduk tak berani menatapnya.

“Sudahlah.” Ia menarikku untuk ikut duduk di sebelahnya di karpet ruang tengahnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya. “Tetap disini! Kita bolos saja di pelajaran terakhir,” ucapnya dan aku memilih untuk diam mengikuti apa yang ia inginkan.

Joonmyun memejamkan matanya. Ia terlihat mulai tenang. “Hana-ya, tarik kembali kata-katamu,” lirihnya.

“Nae,” jawabku pelan. Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah, ia tidak marah lagi.

Srettt….

Aku terkejut bukan main saat ia menjatuhkan tubuhnnya ke arahku dan menjadikan pangkuanku sebagai alas kepalanya. “Sayang sekali disini tidak ada sofa,” gumamnya masih dengan mata terpejam.

Suasana kembali senyap. Yang bisa tertangkap indera pendengaranku saat ini hanya suara dentingan jarum jam dan…….suara debaran jantungku sendiri.

Hei jantungku, jangan berdetak kencang seperti ini terus. Kau membuatku sesak. Kumohon, jangan begini.

.

.

.

“Akhir-akhir ini aku sering melihatmu ditegur Lee seonsaeng,” Joonmyun membuka pembicaraan tiba-tiba, memecah hening, mencairkan suasana.

Ia bangkit dari pangkuanku. Lalu mengambil tasku yang tergeletak tak jauh dari tempat kami. Ia mengambil buku matematikaku, lantas memeriksa hasil pekerjaanku. “Kau ini siswi teladan peraih juara umum di Horikoshi Gakuen itu kan?”

Aku mengangguk kikuk, masih mengontrol degup jantungku, “bagaimana kau ta—“

“Apa-apaan ini siswi peraih juara umum tapi penjumlahan dan perkalian saja masih salah?”

“I…itu, aku memang sedang tidak berkonsentrasi, jadi—–“

“Aku jadi meragukan titel juara umummu itu,” komentarnya tanpa perasaan.

“Yak! Saat itu aku memang sedang tidak sehat!”

“Ditambah lagi tulisanmu jelek sekali.” Ia membolak-balikkan bukuku, sambil terus berkritik pedas. “Masa kalah dengan tulisanku yang jauh lebih rapi, padahal aku kan namja.” Betul-betul cerewet. Sisi lain dari Joonmyun yang baru kali ini kulihat.

Senyum simpul terkembang di bibirku. Begini jauh lebih baik. Benar, aku tidak peduli lagi Joonmyun di masa lalu, karena aku hanya ingin melihat Joonmyun yang sekarang. Joonmyun yang saat ini ada di sampingku.

Ia menyentuh perutku tiba-tiba. “Apa ini membuatmu sulit berkonsentrasi?”

“Ah.. Nae, aku—” Aku gugup luar biasa. Kenapa ia sering sekali membuat perasaanku campur aduk seperti ini?

Joonmyun membungkukkan tubuhnya merapat padaku, kemudian menempelkan telinganya di perutku. “Hei yang di dalam sana, jangan merepotkan eomma. Lihatlah eommamu sangat lelah. Maka dari itu, cepatlah kau lahir, biar appa yang akan menjagamu,” bisiknya di perutku. Layaknya seorang ayah yang sedang berdialog dengan anaknya.

“Jangan nakal di dalam sana. Makan yang banyak, tumbuhlah dengan sehat. Jadilah anak yang baik, pintar dan kuat, supaya bisa menjaga eommamu kelak. Eomma dan appa menyayangimu.”

Benarkah ia Kim Joonmyun yang aku kenal? Benarkah ia adalah orang yang sama sekali tidak punya perasaan? Orang yang kasar dan selalu melakukan kekerasan? Melihatnya melakukan ini, aku bahkan lupa bahwa ia adalah orang yang paling ditakuti dan dibenci di sekolah.

Tetesan bening kembali menaliri pipiku, terharu. Tanpa sadar tanganku sudah ada di puncak kepalanya, mengelus surai hitamnya, menyalurkan rasa kasih sayangku padanya. Merasakan itu, Joonmyun mengangkat wajahnya. Aku siap kalaupun ia akan marah lagi padaku karena tanganku yang sudah lancang menyentuh kepalanya.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia tidak marah. Untuk pertama kalinya Joonmyun menatap mataku dengan tatapan yang…..lembut. Jarak wajah kami sangat dekat. Nafasku memburu, jantungku semakin berdentam keras. Kugigit bibir bawahku keras-keras untuk melawan gejolak di dadaku. Hati kecilku bersorak bahagia mendapat perlakuan ini. Joonmyun yang selama ini membenciku, kini menatapku dengan teduhnya. Namun logikaku memaksaku sadar bahwa ini adalah salah, membiarkan hatiku seperti ini hanya akan menyakitiku di kemudian hari. Kenyataan bahwa Joonmyun adalah seorang penyuka sesama jenis, akan melukaiku jika aku tidak bisa berhenti berharap padanya.

“Ja…jangan..” Aku menunduk. “Jangan berbuat seperti itu lagi Kim Joonmyun, kumohon. Kalau begini terus aku tidak bisa menganggapmu hanya sebagai teman.”

Joonmyun terlihat terkejut dengan perkataanku, ia menjauhkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya. Terpancar kekesalan dari ekspresinya namun akhirnya tertawa-tawa remeh. “Teman?”

“Kau pikir kita berteman? Sejak kapan?” Air mukanya berubah. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ia mendekatkan tubuhnya. Memojokkanku di dinding. “Dengar! Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai teman!” bentaknya.

Aku diam saja. Masih menunduk, sedikit menyesal akan pernyataan bodohku barusan. Aku membuatnya marah lagi.

“Karena kau istriku!”

DEG

 

Joonmyun semakin mendekatkan wajahnya hingga berhasil menggapai bibirku. Menciumku kasar. Melampiaskan emosinya.

Ia melepas tautan bibir kami lantas menatapku sekali lagi dengan sorot mata itu… sorot mata yang menatapku lembut. Sorot mata yang mampu menciptakan getaran halus yang menembus dadaku, membuatku terlihat seperti yeoja yang begitu lemah di hadapannya. Aku memberontak, mengalihkan pandanganku dari kontak matanya.

Cukup Kim Joonmyun, kumohon. Jangan biarkan aku berharap.

“Hana-ya, Lihat aku!” Ia menangkupkan kedua tangannya di pipiku, memaksaku agar kembali melihat mata teduhnya. “Siapa aku di matamu?”

Air mataku jatuh berhamburan. Lidahku kelu. “Kau…..”

“Heum?” Bahkan ini pertama kalinya aku mendengar suaranya sehalus ini.

“Kau….suamiku….”

“Benar. Aku suamimu, dan kau istriku. Kau mengerti?”

Aku mengangguk. Pertahananku runtuh tatkala ia kembali mencium bibirku. Kini ciuman yang berbeda dari semua yang pernah kami lakukan sebelumnya. Percayalah, ciuman yang Joonmyun berikan padaku kali ini teramat lembut, hangat, manis dan penuh perasaan. Ciuman yang mengusir semua keresahanku. Aku bahkan tak sungkan mengalungkan lenganku ke tengkuknya untuk memperdalam ciuman ini. Ia pun memberikan respon positif. Ia memeluk pinggangku, merapat pada tubuhnya. Sungguh aku dibuatnya terhanyut oleh ciuman memabukkan ini.

Ini nyata. Ini bukan mimpi, kan?

Ia mencintaiku. Ya, Joonmyun mencintaiku. Apa artinya ciuman ini selain karena cinta? Bolehkan aku menarik kesimpulan seperti itu? Kumohon siapapun, jangan ada yang meralat ini. Dan seandainya kau mengatakan bahwa ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Aku ingin tidur selamanya.

-To be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s