My Angel’s Smile (Chapter 9)

My Angel's Smile (2)

Title : My Angel’s Smile – Chapter 9

Author : D.O.ssy

Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO), Sawajiri Hana (OC)

Genre : Angst, Married Life, Romance gagal, Gajelas

Rating : Bukan NC, cuma menjurus aja. Haha..

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Alur Kecepetan, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO COPAS, NO PLAGIARISM!

Chapter ini rada gak aman ya (dikit), yang baca kudu 17 tahun ke atas. XD

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

My Angel’s Smile Chapter 4: Where are You?

My Angel’s Smile Chapter 5: Missing You Like Crazy

My Angel’s Smile Chapter 6: Love is Illogical

My Angel’s Smile Chapter 7: Just a Little Bit of Your Heart

My Angel’s Smile Chapter 8: Let Me Stay by Your Side


—Hana POV—

Aku duduk diam, menunduk. Di hadapan suamiku yang tengah menghabiskan sarapan yang kubawakan untuknya pagi ini. Tak dapat kau bayangkan betapa tegang dan canggungnya suasana di tempat ini. Maksudku, aku memang sering berada dalam kondisi seperti ini jika bersamanya, hanya saja…. kejadian kemarin….. membuatku sedikit….. ––tidak tidak…. bukan sedikit, tapi banyak, sangat!–– Ah, bagaimana membahasakannya. Kalau ada kata yang bisa menggambarkan lebih dari kata “senang”, aku akan menggunakan kata itu.

Yang jelas aku tidak mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini, bahkan sekarang aku malah tidak bisa menatap wajah suamiku lagi seperti biasa, karena…. Aku akan kesulitan mengatur detak jantungku yang kian mengencang tiap detik aku melihat matanya. Sorot mata Joonmyun yang kini menatapku tidak lagi seperti dulu. Bukan lagi tatapan benci, bukan lagi tatapan tajam, bukan lagi tatapan dingin, bukan lagi tatapan meremehkan. Tapi tatapan…. kasih sayang? Anggap saja begitu.

Atau mungkin hanya aku saja yang berlebihan? Disaat aku yang mati-matian mengontrol hatiku, kenapa Joonmyun terlihat tenang-tenang saja? Apakah ia tidak merasakan debaran yang sama sepertiku?

—My Angel’s Smile Chapter 9: Chance—

“Hana-chan, bisa kita bicara sebentar?” sambut Baekhyun saat aku baru saja duduk di bangkuku.

Aku mengangguk, “mau bicara apa?”

“Ikut aku,” ajaknya sambil menarik tanganku.

“Kenapa tidak berbicara disini saja?”

“Disini terlalu banyak orang.”

DEG

Firasatku buruk. Sepenting dan seprivat apa pembicaraan Baekhyun sampai harus mengajakku ke tempat sepi? Kuharap tidak ada hubungannya dengan Joon—-

“Katakan padaku bahwa sikapmu tidak ada hubungannya dengan Joonmyun, Hana-chan,” sambar Baekhyun setibanya kami di taman belakang sekolah.

Aku membeku. Apa Baekhyun sudah mengetahui segalanya? Hubunganku dengan Joonmyun? “A.. apa maksudmu, Baekhyun-ah? Aku tidak mengerti.”

“Masih perlu kuperjelas? Kemarin setelah pelajaran olahraga, aku menengokmu di ruang kesehatan, tapi kau tidak ada di sana. Dan kau tidak masuk di jam berikutnya. Aku berkali-kali meneleponmu tapi ponselmu juga tidak aktif. Setelah kusadari ternyata Joonmyun juga tidak masuk di jam yang sama. Setelah pulang sekolah aku mencarimu, di atap sekolah, perpustakaan, sungai han, taman, dan di rumahmu, tapi kau tak kunjung kutemukan. Petang menjelang malam, aku menyerah dan berniat untuk pulang tapi ternyata aku melihatmu di daerah Cheonho il-dong, Gangdong-gu. Bukankah itu daerah tempat tinggal Joonmyun?” Aku semakin menegang. Sorot mata Baekhyun mengintimidasiku. “Hana-chan, kau punya hubungan rahasia dengan Joonmyun?” tembaknya langsung.

Aku berusaha bersikap sesantai mungkin. “Ah sore itu, aku kebetulan lewat situ. Aku ingin mengembalikan bukunya Jinwoo. Bukankah rumah Jinwoo juga di Cheonho il-dong.” Aku beralasan, membawa-bawa nama Jinwoo, teman sekelasku, yang juga penggila novel fantasi.

“Lalu kemana kau pergi selama jam pelajaran terakhir hingga menjelang malam hari?”

“Aku…. aku di toko buku. Mencari novel keluaran terbaru. Kau tahu kan, aku pasti suka lupa waktu kalau sudah berada di toko buku.” Untunglah otakku sedang bisa diajak berkompromi mencari alasan yang tepat.

“Ah benar! Toko buku! Kemarin aku lupa tidak mencarimu di sana,” gumamnya. “Jadi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Joonmyun?” ia bertanya lagi. Oh ayolah Byun Baekhyun, hentikan pembicaraan ini!

“Sepertinya bel masuk akan berbunyi sebentar lagi, Baekhyun-ah. Lebih baik kita masuk kelas.”

Aku hendak meninggalkannya tapi ia lebih dulu mencekal tanganku. “Aku tidak ingin kau menghindar lagi, Hana-chan. Ini semua demi kebaikanmu. Maka dari itu, jawab pertanyaanku, apakah kau mempunyai hubungan rahasia dengan Joonmyun?”

Aku menggigit bibir bawahku. “Demi kebaikanku? Lalu apa hubungannya dengan Joonmyun?”

“Aku tidak ingin kau mendekatinya lagi. Aku tidak suka.”

“Bukankah kau pernah mengatakan padaku, tidak akan memaksakan pendapatmu lagi padaku?”

“Jadi benar kau punya hubungan dengan Joonmyun?”

“Tidak, hanya saja aku penasaran kenapa kau mengungkit-ungkit lagi apa yang sudah selesai kita bahas di masa lalu.” (baca My Angel’s Smile Chap 4)

“Aku tarik ucapanku waktu itu. Aku tidak ingin kau mendekatinya, berinteraksi dengannnya, atau berhubungan apapun itu dengannya. Kalau kau masih tidak bisa melupakan Joonmyun, minta pada Lee seonsaengnim supaya ruanganmu dipisah saat pelajaran tambahan. Atau minta wali kelas supaya memindahkan Joonmyun dari kelas kita.”

“Hei sebentar. Aku tidak mengerti Baekhyun-ah. Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau membicarakan ini?”

“Setelah menemukanmu di daerah Gangdong-gu, aku melihat Joonmyun. Lalu aku mengikutinya ke tempatnya bekerja part time. Kau tidak pernah tahu apa yang ia lakukan disana kan?”

DEG

“Maka dari itu, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak ada hubungan apapun dengannya.”

Aku menelan salivaku sulit. Aku tersenyum hambar. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Joonmyun di tempat kerjanya, tapi… melihat Baekhyun mencemaskanku seberlebihan ini, aku tahu ini bukan pertanda baik. “Tenang saja, Baekhyun-ah. Apakah kau pernah melihat aku mendekatinya lagi? Apakah kau pernah mendengar aku membicarakannya lagi? Apakah aku terlihat memiliki hubungan dengannya?”

“Baguslah. Ternyata kekasih baru yang membuatmu seperti orang gila di kelas, bukan orang itu.” Baekhyun tersenyum lega, sorot mata dan nada bicaranya melunak. “Ya, aku menyetujui kau dengan namja manapun asal jangan Joonmyun. Tapi akan lebih bagus kalau kau denganku saja. Hahaha…” candanya, yang terdengar tidak lucu sama sekali di telingaku.

“Ngomong-ngomong, kapan kau jadian dengannya? Jahat sekali. Menolakku lalu punya kekasih baru. Kapan-kapan kenalkan aku padanya, mari kita lihat siapa yang lebih tampan. Aku atau dia. Hehehe…” lanjutnya.

“Heum,” jawabku asal, sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan perkataan Baekhyun barusan.

“Ah bel sudah berbunyi, ayo masuk kelas,” ajaknya.

—***—

Aku memang tidak tahu dimana Joonmyun bekerja part time, dan apa pekerjaannya. Tapi apakah seburuk itu hingga Baekhyun mencegahku mendekati Joonmyun? Sebenarnya apa yang Baekhyun lihat kemarin? Aku sungguh dibuatnya penasaran. Tidak mungkin kalau aku menanyakannya langsung pada Joonmyun ataupun Baekhyun. Itu akan sangat terlihat transparan. Lalu haruskah kucari tahu sendiri?

“Hana-ya, ada apa denganmu?”

“Ng?” Pertanyaan Joonmyun tiba-tiba itu membuyarkan lamunan panjangku. Siang ini, aku kembali menghabiskan waktu istirahat bersama Joonmyun di tempat kesukaan kami, balkon atap sekolah.

“Biasanya kau akan berceloteh ini itu, sampai aku jengkel. Sekarang kenapa diam saja?”

Aku menggaruk tengkukku. “Ah, tidak ada apa-apa.”

Joonmyun memicingkan matanya, dan mengeluarkan seringai isengnya, “jangan bilang kau sedang membayangkan kejadian kemarin.”

Terkaan Joonmyun berhasil membuatku hampir tersedak makananku. “A…ani! Aku tidak memikirkan hal itu!” sanggahku. Dan aku tidak berbohong. Saat ini aku memang sedang memikirkan apa yang dikatakan Baekhyun tadi pagi. Tapi tak dapat ditampik bahwa kejadian kemarin memang tidak bisa berhenti berputar di kepalaku.

“Jinjja? Ah sayang sekali, padahal aku masih terus memikirkannya. Sepertinya kau mudah sekali melupakan kejadian penting itu.”

Bodoh! Mana mungkin aku lupa! Kemarin…. adalah untuk pertama kalinya aku merasakan ciuman tulus dari Joonmyun. Pertama kalinya ia mengakuiku sebagai istrinya. Dan juga pertama kalinya kami………melakukan itu lagi setelah menikah.

Perlakuan Joonmyun sore itu, teramat lembut, teramat hangat, tak menuntut, namun tetap menggairahkan. Ia tahu cara yang pas untuk tidak menyakitiku dan juga kehamilanku. Bahkan aku sampai lupa bahwa dulu Joonmyun lah orang yang pernah menorehkan trauma dengan cara yang sama. Namun kini, luka masa laluku seakan sirna begitu saja, tatkala ia menuntunku dalam ciuman manisnya. Memaksaku untuk terus menikmatinya, hingga akhirnya kami berakhir dengan………..

Aku masih bisa mengingatnya. Sentuhannya, suara deru nafasnya, sorotan mata damainya, detak jantungnya, aroma tubuhnya, semuanya. Terekam sangat jelas di memoriku, menghapus memori kelam yang dulu sempat membuatku menderita. Kim Joonmyun… Bagaimana aku mendeskripsikan dirinya, aku pun bingung. Yang jelas, aku bisa melihat wajahnya yang beribu kali lipat lebih tampan dari biasanya kala itu, otot-otot perutnya yang membentuk six pack, juga kulit putih mulusnya yang kini sudah bersih dari luka lebam akibat berkelahi. Sungguh… ia berhasil membuatku bak melayang di udara.

Kalau aku disuruh membuat karangan tentang apa yang terjadi sore itu, aku mampu mengetik lebih dari seratus lembar. Tapi jika aku disuruh menggambarkan perasaanku, aku tak dapat melakukannya, karena tidak ada kata yang dapat menjelaskan semua rasa bahagiaku.

“Ehemm!” Joonmyun berdehem, yang lagi-lagi membuatku terkesiap.

“Ah ternyata kau berbohong. Kau masih memikirkannya kan?” tanya Joonmyun dengan tidak berperasaannya.

“Aa… itu…” Aku gelagapan.

“Sayang sekali kita tidak bisa melakukannya lagi nanti sore. Bos di tempat kerjaku menyuruhku datang lebih awal hari ini.”

BLUSH

Wajahku memanas. Astaga, apa yang ia katakan?

“Kalau kau mau, kau bisa menungguku hingga aku selesai bekerja. Tapi aku pulang sangat larut, jam 2 pagi.”

Aku menunduk, menyembunyikan wajahku yang sudah pasti berubah merah. Kumohon, jangan diteruskan Kim Joonmyun.

“Atau, kau mau ikut denganku? Jadi kita bisa melakukan itu di tempat kerjaku.”

Cukup!

Aku bangkit berdiri, berniat meninggalkannya. Aku tak tahan lagi. Tak bisa kubayangkan wajahku pasti sudah semerah tomat sekarang. Bisa-bisanya ia membicarakan hal semacam ini dengan seenteng itu, sementara aku sekuat tenaga mengatur degup jantungku.

GREPP…

Jantungku serasa mau copot ketika ia menangkap tanganku.

“Hei, kau mau kemana? Temani aku hingga jam istirahat selesai.”

“Le..lepaskan.. Kim Joonmyun,” ucapku pelan.

Ia justru menarik bahuku hingga berhadapan dengannya. Ah, ia pasti bisa melihat wajah konyolku saat ini. Rasanya aku ingin mati di tempat saja.

“Kau ini kenapa? Yang tadi itu aku hanya bercanda kok. Lagipula kita kan suami istri, wajar saja membicarakan hal ini.”

Aku tidak mempedulikan kata-katanya, yang kuinginkan sekarang adalah kabur dari sini dan mencari sesuatu apapun yang dapat menutupi ekspresi bodohku ini. Aku berusaha melepas genggaman tangannya.

“Ya! Dengarkan aku. Kali ini serius. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Tetaplah disini!” perintahnya masih menahan bahuku, kini ia lebih kepada memaksa. Baiklah, jika yang mau ia katakan adalah hal penting, aku akhirnya menyerah dan berhenti memberontak.

Tapi…

Apa ini?

Aku terkejut bukan main.

Kenapa ia justru melonggarkan dasiku? “Joonmyunie apa yang kau lakukan?” tanyaku bingung.

Namja itu tidak menggubris dan justru malah mulai membuka kancing kerahku.

Hei… Hei… Tunggu dulu….!

“Joonmyun-ah hentikan—-”

Aku panik, kemudian menahan tangannya yang masih asyik membuka kancing kemejaku. Kembali, ia menyingkirkan tanganku.

1 kancing…

“Kim Jonmyun……….!”

2 kancing…

“Yak, Kim Joonmyun, berhenti….!” Aku semakin panik.

Ia sudah menyentuh kancing ke-3 ketika aku berteriak…. “OKE… OKE! AKU AKAN MENUNGGUMU SAMPAI PULANG KERJA! JADI, JANGAN LAKUKAN DISI——“

Tring——

Ucapanku terputus tatkala mendengar suara benda logam saling beradu. Joonmyun menariknya keluar dari kemejaku. Kalung berbandul dua buah cincin yang selalu kupakai setiap hari. Yang satu adalah cincin pernikahanku dengan Joonmyun dan yang satunya lagi——

“Kemarin aku melihatnya. Cincin yang satu ini yang selalu kau pakai semenjak pertama kali masuk sekolah kan? Cincin pemberian siapa?”

Aku menghembuskan nafas perlahan, berusaha menenangkan diri setelah barusan panik luar biasa akibat perlakuan tidak senonoh dari Joonmyun. Ah, ternyata hanya menanyakan cincin ini toh, kukira ia akan melakukan——

BLUSH

Aku menggeleng keras setelah menyadari bahwa pikiranku telah kacau. Terkontaminasi oleh kejadian kemarin petang saat kami——-asdfghjkl!!!!

“Hana-ya…” Joonmyun kembali menyadarkanku.

“Ah… anu… cincin ini… bukan apa-apa… bukan pemberian dari seseorang…”

“Lalu?”

“Kau tidak akan percaya kalau aku menceritakannya…”

Ia tidak bersuara dan aku tahu bahwa ia menunggu lanjutannya.

—Flashback—

—Someone’s POV—

“Sial!” gerutuku sepanjang perjalananku yang tak tentu arah ini. Aku menendang keras-keras kaleng yang menghalangiku. Aku tertimpa apes malam ini. Aku kalah berjudi! Pria tua itu pasti bermain curang. Bagaimana mungkin dari 9 putaran yang kami mainkan ia berhasil menang 7 kali. Alhasil, seluruh uang yang kubawa ludes tak bersisa, bahkan aku tidak punya sepeserpun untuk makan esok hari. Benar-benar sial!

Pandanganku mengitari sekelilingku, melihat-lihat barangkali ada rumah atau apapun yang bisa kuterobos malam ini. Setidaknya untuk membeli rokok dan bir saja untuk besok. Pandanganku terhenti pada sebuah rumah yang cukup besar tak jauh dari tempatku berdiri di daerah Gwangjin-gu ini. Jendelanya terbuka.

Tanpa pikir panjang, diam-diam kumasuki rumah itu. Untunglah aku membawa topi, masker dan pisau lipat sebagai persenjataanku. Benda-benda itu memang sudah seperti barang yang wajib kubawa kemana-mana apabila suatu ketika aku mengalami keadaan mendesak seperti saat ini.

Aku berhasil masuk ke dalam sebuah kamar. Kamarnya kosong. Baguslah, berarti aku tak perlu repot-repot mengancam sang pemilik kamar untuk tutup mulut. Sepertinya dewi fortuna akhirnya mendatangiku. Kembali kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Sepertinya pemilik kamar ini seorang yeoja. Terlihat dari barang-barangnya.

Aku menajamkan penglihatanku, menilik setiap sudut ruangan dengan cepat. Kuacak-acak isi kamar tersebut. Menggeledah setiap tempat untuk mencari barang berharga apapun yang bisa kuambil malam ini.

Ponsel… Ponsel? Tidak ada!

Perhiasan? Tidak ada juga!

Akhirnya aku hanya menemukan sebuah dompet, yang sialnya tidak ada uang di dalamnya. Hanya sebuah kartu pengenal dan kartu atm. Yah lumayan, setidaknya aku bisa menghack tabungannya.

Belum sempat aku kabur dari kamar, aku mendengar sayup-sayup suara derap kaki mendekati kamar. Gawat!

Cklekkkkk….

Sang pemilik kamar masuk. Seorang yeoja berperawakan mungil, berambut hitam sebahu.

“Pokoknya aku ingin sekolah besok! Mama harus daftarkan aku ke sekolah paling elit disini!”

Terdengar suara yeoja itu yang mungkin sedang berbicara dengan orangtuanya sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar.

Ia terlihat sedang mengeringkan rambutnya, tampaknya ia baru saja mandi. Kemudian berjalan santai ke depan cermin, lantas bergaya-gaya narsis di depannya.

“Ahh… Sepertinya aku tambah kurus saja,” gumamnya seorang diri. Tsk, dasar yeoja!

Ia orang Jepang, ia bergumam dan berkomunikasi dengan orangtuanya dalam bahasa Jepang. Aku pernah belajar bahasa Jepang saat SMP, jadi aku paham apa yang ia katakan.

Sebenarnya aku bisa saja langsung menampakkan diri di depan yeoja itu, menyergapnya, menodongnya untuk menyerahkan semua barang berharga miliknya, kemudian mengancam akan menyakitinya kalau ia berani berteriak, lalu aku bisa keluar dari rumah ini dan terbebas tanpa masalah. Namun entah kenapa aku justru betah berlama-lama disini, mengintipnya dari celah lemari tempat aku bersembunyi sekarang ini.

Sretttt….

Mataku hampir melompat dari tempatnya, ketika indera penglihatanku menangkap suatu pemandangan dimana yeoja itu dengan santainya mulai membuka pakaiannya. Ia menyilangkan kedua lengannya dan menarik ujung kaos putihnya. Aku menelan salivaku ketika kaos itu perlahan naik hingga perut putihnya mulai terekspos, semuanya bagai terproyeksi dalam gerakan lambat di mataku.

Perlahan…

Terus naik…

Dan…

Uhuk!

Aku membungkam mulutku sendiri. Sial! Kenapa aku batuk di saat yang tidak tepat?

Yeoja itu berhenti bergerak, lantas menolehkan kepalanya menghadap ke asal suara, buru-buru ia menurunkan kaosnya lagi. Ia memandang curiga pada lemarinya yang mungkin terbuka sedikit, akibat ulahku.

Deg… Deg… Deg…

Jantungku bedegup, sangat tegang ketika ia berjalan perlahan mendekati lemari. Ada apa ini sebenarnya? Tak pernah dalam hidupku merasa setegang ini ketika melakukan aksi perampokan.

Aku bisa melihat wajah cemas yeoja itu dari balik celah. Ia meraih gagang lemari dengan ragu, sementara aku di dalam bersiap-siap dengan pisau lipatku untuk menyerangnya.

“Hana….!” panggil suara dari luar yang kupastikan adalah suara eommanya, menghentikan pergerakan yeoja itu untuk membuka lemari.

“Ya, tunggu sebentar, ma,” jawab sang yeoja seraya pergi menjauh dari lemari, terdengar dari derap langkahnya. Baguslah, cepat keluar sana! Atau kulukai kau!

Suara derap langkah itu tiba-tiba berhenti. “Keluarlah!”

DEG

“Aku tahu kau ada di dalam lemariku, jadi keluarlah!” ujarnya yang sudah pasti ia tujukan padaku. Aku sangat terkejut. Tak kusangka, berani sekali yeoja ini!

Aku menerjang pintu lemari. “Jangan bergerak!” bentakku, sambil mengacungkan pisauku, berusaha menggertaknya.

Namun aku melihat reaksi berbeda dari yang kubayangkan. Yeoja Jepang itu, tidak ketakutan sama sekali. Bahkan ia berani melakukan kontak mata denganku. Ia berjalan mendekat ke arahku. Pisauku pun tak cukup untuk menakutinya. Dan sialnya aku justru melangkah mundur, menjauhinya, seolah takut padanya. “Aku tidak akan bergerak dan tidak akan berteriak, jadi pergilah dari sini,” ucapnya yang justru membuatku terintimidasi.

Entah apa yang kupikirkan hingga dengan bodohnya aku menuruti perintahnya dan keluar dari dari kamar melalui jendelanya. Aku akhirnya berhasil keluar dari rumah itu dan berusaha kabur. Khawatir kalau ternyata ia berteriak minta tolong dan membangunkan orang-orang di sekitar yang tentu akan merepotkanku.

OKE!

Dapat dibilang ini adalah aksi terburuk sepanjang sejarahku dalam dunia rampok-merampok. Dibuat tak berkutik oleh seorang yeoja bertubuh mungil yang seharusnya bisa aku habisi dalam waktu beberapa menit saja. Aku melepas masker dan topiku lalu mengibas-ngibaskan tangan dekat wajahku. Malam ini jadi terasa gerah sekali!

Dan hey! Aku menyadari sesuatu ketika menyentuh dadaku. Kalungku hilang! Kalung berbandul cincin, benda paling berharga dalam hidupku hilang! Aku kelabakan.

Sungguh, malam ini aku tertimpa sial berkali-kali. Mungkin peribahasa yang cocok untukku sekarang adalah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kalah dalam judi, tidak punya uang untuk membeli rokok, gagal dalam aksi perampokan, kalah oleh seorang yeoja, kalungku yang berharga hilang dan terakhir, dompet yang seharusnya berhasil kucuri tertinggal di rumah itu!

What the F!@#$%^&*()_+!!!!!!!!

—Flashback End—

“Aku menemukan cincin ini tepat setelah perampok itu keluar. Aku ingin mengejarnya tapi ia sudah pergi. Saat aku memperhatikan cincin ini aku merasa bahwa ini adalah benda yang sangat berharga baginya, maka dari itu aku memakainya, berharap suatu hari jika aku bertemu dengannya aku bisa langsung mengembalikannya.”

“Kau melihat wajahnya?” tanya Joonmyun.

Aku mengangkat bahu. “Tidak. Hehe…”

“Bodoh! Bagaimana kau bisa mengembalikan cincin itu kalau kau tak tahu siapa orangnya dan tak melihat wajahnya.”

“Mungkin dia yang akan mencariku.”

“Justru kau akan berada dalam bahaya kalau dia mencarimu, Hana-ya.”

Aku menggeleng. “Dia tidak akan menyakitiku.”

“Dari mana kau tahu dia tidak akan menyakitimu?”

“Aku tidak yakin tapi…. saat itu, saat aku melakukan kontak mata dengannya. Aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku yakin dia bukan orang jahat, Joonmyun-ah.”

“Jadi kau bisa melihat isi hati seseorang dengan menatap matanya saja?” tanyanya skeptis.

“Entahlah… Tapi aku percaya. Sama seperti ketika aku pertama kali menatapmu, Joonmyunie. Dari sorot matamu, aku tahu bahwa kau tidak seburuk yang orang-orang bilang.”

Ia terdiam sejenak. “Kau masih mengatakan aku tidak seburuk itu padahal kau sendiri yang dengan jelas merasakan dampak dari sikapku selama ini padamu?”

Aku tersenyum padanya. “Aku sendiri juga tidak mengerti, kau selalu jahat padaku. Tapi aku selalu merasa nyaman berada di dekatmu.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Jalan pikiranmu memang sulit dipahami, Hana-ya.”

Joonmyun berjalan mendekati pagar pembatas, kemudian duduk bersandar disana. Aku mengikutinya lantas duduk di sebelahnya masih dengan senyum yang bertengger di wajahku.

Ia menatap langit, menerawang sesuatu. Dan aku hanya diam menikmati pemandangan di hadapanku. Wajah tampan suamiku yang tampak dari samping, yang sampai kapanpun tak akan pernah bosan kupandangi. Kami membiarkan keheningan ini berlangsung beberapa saat.

Lalu ia menoleh lagi padaku. “Tadi…… kau bilang mau menungguku pulang kerja malam ini?”

BLUSH

Astaga, topik ini lagi!

“Baiklah, kau stay saja di kamarku. Kalau kau lelah menunggu, kau boleh tidur dulu. Nanti aku bangunkan kalau aku sudah sampai di rumah,” ujarnya bersemangat. “Wah, aku jadi tidak sabar!”

Kalau sudah begini aku mana tahan lama-lama berada disampingnya. Aku berdiri lantas beranjak meninggalkannya. Kembali menyembunyikan wajah merahku. Aku setengah berlari menggapai pintu, agar namja itu tidak bisa mengejarku.

Cklekkk…

Loh pintu balkonnya terkunci? Aku menengok ke arah Joonmyun yang masih duduk santai menghabiskan makanannya sambil mengibas-ngibaskan kunci balkon di jari tangan kirinya. “Mencari ini?” tanyanya menyeringai nakal.

Tuhan, tolong aku….

—Author POV—

“Baekhyun-ah, kau melihat Hana?”

Baekhyun hanya menggendikkan bahu, ”Molla. Mungkin sedang bertemu kekasihnya.”

Minra terkejut luar biasa. “KEKASIH?”

Baekhyun mengangguk santai.

“Hana-chan punya kekasih? Siapa?”

“Entahlah, dari kelas sebelah mungkin,” jawab Baekhyun asal.

“Dari mana kau tahu Hana sudah punya kekasih?”

“Hana yang mengatakannya sendiri padaku. Ia bilang akan memperkenalkan namjachingunya itu pada kita. Heuh, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Kira-kira namja seperti apa ya dia? Berani-beraninya merebut Hana-ku. Lihat saja nanti!”

Mendengar itu Minra hanya memutar bola matanya. Tak bisakah Baekhyun berhenti berharap pada Hana, dan sekali saja melihat dirinya? “Syukurlah kalau Hana sudah punya kekasih, akhirnya ia bisa melupakan Joonmyun.” Minra membuka bekal makanannya. “Padahal aku ingin mengajak Hana makan siang bersama. Aku ingin ia mencicipi masakanku lagi,” gerutunya.

“Tsk. Berikan padaku! Sejak kapan kau lebih percaya pada Hana daripada aku?” Baekhyun merebut kotak bekal Minra. “Biar aku yang mencicipi masakan payahmu ini.”

Minra tersenyum. Ini baru namanya Byun Baekhyun, sahabatnya sejak kecil. Dan Minra percaya bahwa perasaannya yang tulus, lambat laun pasti akan mendapat balasan.

—-***—-

“APA?” Hana membanting sendok dan sumpit ke atas meja membuat suasana makan malam yang tegang di kediaman keluarga Sawajiri saat ini terasa sangat kentara.

“Tenanglah, Hana sayang…” ucap eomma berusaha mendinginkan keadaan, sedikit terkejut begitu mendengar reaksi putri semata wayangnya itu. Tapi kali ini, suara lembut eomma yang biasanya selalu menenangkan Hana bahkan tidak banyak membantu.

“Tidak! Papa telah berjanji padaku bahwa aku masih bisa sekolah disini dan tetap bersama Joonmyun hingga anak ini lahir! Kenapa papa dengan seenaknya mengatakan bahwa kita harus kembali lagi ke Jepang?”

“Mungkin ini tidak sesuai dengan rencana kita tapi ini demi kebaikanmu, sayang.” Eomma masih berusaha membujuk Hana.

“Lagipula papa sudah tidak tahan dengan sikapmu yang seperti ini jika terus bersama dengan bocah kurang ajar itu. Papa sudah beberapa kali ditelepon oleh pihak sekolah bahwa kau sering bolos. Nilaimu pun terus menurun. Dan kau tidak becus mengerjakan soal-soal matematika pada pelajaran tambahanmu untuk olimpiade. Mau sampai kapan kau mempermalukan papa dengan sikapmu itu, hah?!”

Hana mengepal tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan emosi. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hana menentang perintah appanya. Namun, bukan tanpa alasan ia melakukannya.

Hana lelah akan semuanya. Lelah dipermainkan oleh takdir. Bagai bermain sebuah game sirkus kehidupan, dimana kau berjuang mempertahankan nyawa yang sudah sekarat, lalu di tengah jalan kau menemukan tempat pengobatan hingga siap kembali melanjutkan perjalanan, namun saat garis finish sudah berada di jangkauan pandangan, kau harus mereset semuanya! Lalu pertanyaannya, apa kau bisa kembali mengulang dari awal sama seperti saat pertama kalinya kau bermain? Tentu tidak! Kau akan merasa lelah, bukan?

“Aku tidak ingin pergi, pa. Aku ingin tinggal disini lebih lama. Berikan aku waktu untuk bersama dengan orang yang kucintai, sebelum semuanya berakhir. Sebelum aku menikahi orang yang papa inginkan.” Ia memohon.

“Papa tidak bisa membiarkanmu lebih lama bersama orang yang telah menghancurkan hidupmu dan membawa pengaruh buruk padamu! Sekarang kemasi barang-barangmu, kita akan berangkat besok!”

Sebegitu sukarkah yang dinamakan sebuah kebersamaan? Hana hanya ingin bersama Joonmyun hingga waktu yang ditentukan berakhir, itu saja. Kenapa rasanya begitu sulit baginya mendapatkan kesempatan itu?

“Dari mana papa tahu bahwa aku bisa hidup lebih baik jika kembali ke Jepang? Bisakah papa berhenti mencampuri urusanku walau hanya sekali saja? Ini hidupku pa, biar aku yang memilihnya!”

“Hana sayang, dengarkan papamu, nak.”

Cukup! Hana sudah terlalu banyak bersabar. Ia sudah berada pada limitnya.

“Tidak, ma! Aku sudah tidak tahan diatur seperti ini terus! Selama ini aku selalu mengikuti keinginan papa, tapi kenapa papa tidak pernah sekalipun mendengarkan keinginanku? Aku bukan boneka yang bisa dikendalikan seenaknya.”

“JAGA BICARAMU HANA!” sentak appa.

Hana berdiri dari kursinya kasar, membuat tempat duduknya itu terjatuh ke belakang. Tanpa mempedulikan lagi kata-kata appanya, ia keluar dari ruang makan.

“Hana…!” panggilan eommapun diabaikannya.

BLAM!!!

Hana keluar rumah dengan membanting pintu.

 

–Hana POV–

Kenapa? Kenapa disaat seperti ini, disaat semua membaik, disaat aku sudah melihat harapan baru, kenapa harus hancur berantakan seperti ini? Aku menumpangi sebuah bis yang membawaku menuju tempat orang yang paling ingin kutemui saat ini. Kim Joonmyun, suamiku. Aku menyeka kasar air mataku.

Cklekkkk…

Aku membuka pintu rumahnya dengan kunci duplikatku. Aku tidak menemukan Joonmyun disana. Mungkin ia sedang kerja part time saat ini. Kekecewaan menyelimutiku.

Aku masuk ke dalam rumah kecilnya, yang jika diukur tak lebih dari seperempat luas rumaku, namun duniaku terasa sangat besar disini. Dimana setiap sudutnya menyimpan rapi kenanganku dengan Joonmyun, walaupun hanya sedikit tapi sangat dalam maknanya di hatiku. Kenangan baik dan buruk, harapan-harapan dan mimpi-mimpi yang sempat terkubur namun kini kami gali bersama.

Aku membuka lemarinya, menciumi seluruh pakaiannya, mencari aroma Joonmyun yang tertinggal disana, layaknya orang gila. Bahkan aku masih bisa mengingat baju yang ia pakai pada malam dimana kami pertama kali melakukan ciuman, lalu pada saat kami bertemu dalam keadaan ia mabuk berat, dan pada hari dimana aku melihatnya kembali setelah ia sekian lama menghilang, kemudian yang lebih penting, tuxedo yang ia gunakan saat pernikahan. Semuanya seolah tereka ulang di pikiranku.

Aku begitu merindukannya. Dan kupikir untuk saat ini mungkin menunggu Joonmyun pulang, tidaklah buruk.

Aku memutuskan untuk keluar sebentar mencari angin, sementara menunggu pukul 2 malam. Aku kembali menaiki bis menuju daerah Gangnam-gu.

*

Deg… Deg… Deg…

Apa ini? Apa yang memukul-mukulku hingga dadaku terasa sesak? Maksudku, aku memang sedang dilanda masalah dengan orangtuaku dan suasana disini memang membuatku sedikit pusing dan risih, tapi bukankah aku kemari untuk mencari hiburan? Tapi kenapa hatiku malah berkata lain, apakah ini sebuah firasat?

—***—

 

 

Apgujeong-dong, kehidupan malam dan yeoja-yeoja berpakaian minim memang tidak bisa dipisahkan. Begitu pula dengan klub malam yang selalu ramai pengunjung menjelang pergantian hari. Terlihat Joonmyun keluar dari salah satu klub malam tersebut, bersama dengan seorang namja tinggi berambut kecokelatan yang merangkulnya erat.

“Hyung, sebaiknya kau pulang saja! Aku akan panggilkan taxi.” Joonmyun berdialog dengan namja itu.

“Tidak sayang…… Aku ingin bersamamu,” racaunya.

“Kau mabuk berat hyung!”

“Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Joonmyunie sayang. Jangan tinggalkan aku!” ia masih meracau.

“Taxi!” Terlihat Joonmyun berusaha memberhetikan taxi.

“Tidak, aku tidak mau pulang ke rumah tanpamu, Joonmyunie. Kau harus pulang bersamaku.”

“Tapi aku harus kembali bekerja.”

“Aku memberimu pekerjaan lain untuk malam ini, kau harus menemaniku, heum? Aku akan memecatmu kalau kau menolak.”

Joonmyun menghela nafas, “baiklah.”

“Nah begitu dong sayang… Ahhhh aku begitu menyayangimu Joonmyunie…”

“Nae, Myungjae hyung. Aku juga.”

Namja yang bernama Myungjae itu menurunkan paksa kerah kemeja Joonmyun, membuka kancingnya hingga dada putihnya terekspos lantas menciuminya kasar.

“Jangan disini, hyung!”

“Aku sudah tidak tahan, Joonmyunie…”

“Hyung….!”

.

Aku berbalik, berjalan tertatih meninggalkan tempat ini. Kakiku bergetar dengan hebatnya. Dadaku bergemuruh luar biasa. Wajahku memanas.

Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku meminta pada Tuhan agar aku menderita kelainan penglihatan dan pendengaran, sekiranya untuk meyakinkanku bahwa namja tadi bukanlah namja yang amat kucintai dan kutunggu kepulangannya di rumah. Kim Joonmyun, suamiku…

Tapi tidak ada yang salah dengan inderaku hingga aku dengan jelas dapat melihat dan mendengar seluruhnya, bagaimana Joonmyun berusaha menarik Myungjae masuk ke taxi, diikuti dirinya yang tak lepasnya Myungjae peluk dan ciumi. Dan masih dapat kusaksikan pula apa yang namja itu lakukan pada Joonmyun di dalam taxi. Semuanya… Bagai batu besar yang menghujami jantungku.

Aku berjalan tak tentu arah. Berharap segera sampai di rumah Joonmyun, dan menemukan namjaku sedang menungguku disana, bukan namja yang tadi kulihat. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir. Tubuhku lemas, aku bahkan tak kuasa menopang tubuhku lagi, aku ambruk ke tanah.

“Hai gadis manis, kenapa menangis begitu?” Aku mengangkat wajahku dan tersentak mendapati 3 orang namja berbau alkohol sudah ada di dekatku. Sial, aku berada di sebuah jalan kecil yang sepi.

“Kau kesepian heum? Biar ajusshi yang akan menemanimu.”

Salah satu ajusshi itu menarik tanganku. “Lepas!” lirihku, berusaha membebaskan diri. Aku ingin berteriak minta tolong, tapi tenggorokanku tercekat, aku tidak bisa mengeluarkan suara.

-To be Continued-

Advertisements

4 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 9)

    • waduhhh… iya maaf chingu… belum selesai ditulis, ngantri dengan ff yang lain soalnyaaa…
      aku post secepatnya deh yaaa kalo udah selesai 🙂
      btw makasih udah baca dan komen, gak nyangka ff ini ada yang nungguin :’)

      Like

  1. akhirnya ketemu juga sama nih blog.. chingu aku selalu nunggu ff nih di fanpage exo fanfiction tapi ga di update2.. please update cepetan 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s