No One Can Have You (Chapter 1)

No One Can Have You

Title: No One Can Have You – Chapter 1

Author: D.O.ssy

Cast: Wu Yi Fan (Kris), Kang Ji Yoo (OC), Huang Zi Tao and other

Genre: Angst, Tragedy, Family, Thriller, Romance

Rating: PG-17

Length: Short Fic

Warning : Badfict, Typo, OOC, dll

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi saya, castnya juga milik saya #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur saya, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe.. NO COPAS, NO PLAGIARISM!

Poster Credit: peaterplum @ Poster Channel

FF ini masih ada sangkut pautnya dengan FF saya yang lalu, Dear Diary. Ada 3 yeoja yang bersahabat, Yoori, Jiyoo dan Eunri. Nah, kalo di FF Dear Diary lebih fokus ke Yoori, di FF No One Can Have You ini lebih fokus ke si Jiyoo. FF ini udah disesuaikan sama FF Dear Diary mulai dari latar tempat dan waktunya, jadi jangan heran kalau FF ini berlatar tahun 2012-2013an, karena emang ini FF udah lama sebenernya, cuma baru diposting sekarang aja. Hehe..

Oh ya biar readers ga bingung, kalo tiba-tiba ada paragraph yang dicetak miring, berarti itu flashback atau ingatan masa lalu Jiyoo, yaaa 🙂


—***—

Oppa

Kau tahu????

Di dunia ini satu-satunya yang aku miliki……

 

 

Hanya Kau

 

 

Jadi, kumohon oppa… Teruslah berada di sampingku dan jadilah milikku…

 

Karena…

Jika kau tak bisa menjadi milikku…

Maka tidak ada seorang pun yang bisa memilikimu…

 

 

 

 

Selamanya…

 

—-**—-

Appa…” Aku menghembuskan nafasku sulit. Sesak… Rasanya sesak sekali…

“A… Apa yang.. kau.. lakukan???” Badanku bergetar hebat. Nafasku tercekat. Kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku luruh. Cairan pekat berwarna merah yang berceceran dimana-mana membasahi lantai tempat kedua lututku bertumpu.

Darah ini…

Darah eomma

“Kau melihatnya ya? Hahaha…” Suara menjijikkan itu menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, tidak hanya membuat gendang telingaku sakit, tapi membuat hatiku juga… bagai tercabik-cabik.

Ia berjalan menghampiriku dengan seringainya yang begitu memuakkan. Pisau berlumuran darah yang sedari tadi ada di genggaman tangannya diacung-acungkan ke arahku. Sekuat tenaga kuseret tubuhku ke belakang, berusaha menjauh.

Tuhan… aku sangat takut…

“Ji Yoo-ya… pe…pergii.. larii……” Bisikan lemah eommaku tertangkap indera pendengaranku. Kulihat yeoja  yang sedang sekarat itu bergerak mencekal kaki appa, berusaha untuk menjauhkanku dari namja bringas itu. Tapi dengan kejamnya appa menendang tubuh eomma hingga terjungkal.

Eomma…!” lirihku. Tak kuasa lagi melihat eommaku dengan luka di sekujur tubuhnya, mencoba bangkit menghentikan appa. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, eomma terus mencegah appa untuk mendekatiku. Namun lagi-lagi appa menendangnya, kini tak tanggung-tanggung menginjak-injak tubuh eomma tanpa ampun.

Tapi eomma tak menyerah…

“JANGAN SAKITI JI YOO KAU NAMJA IBLIS!!!!!!!”

 

 

 

DDDOOOOOOOOOOOORRRRRRRR!!!!!!!!!!!

Aku terperangah tak percaya. Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, orang yang selama ini kusegani karena wibawanya, orang yang selama ini kusayangi karena tanggung jawabnya, ternyata tak ubahnya hanya namja biadab yang tergila-gila pada harta. Seberapa cintakah dia pada uang hingga harus mengorbankan nyawa istrinya dan keselamatan anaknya?

Saat ini yang ingin kulakukan adalah merebut pistol appa dan menembakannya langsung di kepalanya. Tapi sial, aku benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bangkit dan melarikan diri pun aku tidak sanggup. Tubuhku terus bergetar dengan hebatnya hingga sulit kugerakkan.

Aku terlalu takut…

Dan kini sosok iblis itu berjalan ke arahku…

Tidak…

Kumohon jangan mendekat…

“Hahaha… Kemari kau anak manis!”

“TIDAK!!”

“Kau akan menjadi mesin penghasil uangku! Hahaha…” Ia terus mendekat.

“TIDAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!”

“Ji Yoo-ya…”

“TIDAK! JANGAN DEKATI AKU! PEERRRGGGIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!”

”Ji Yoo-ya.. Ini aku….”

 

“PEEERRRGGGGGGIIIIIIIIIIIII!!!!!”

“JI YOO-YA… SADARLAH! INI AKU..!”

“AAAAAKKKKKKKKKHHHHHHH……!!!!!!!” teriakku sekuat tenaga. Aku terbangun dari tidurku. Nafasku terengah-engah. Badanku basah bermandikan keringat dingin. Mataku sembab karena terus-terusan mengeluarkan air mata.

“Ji Yoo-ya, gwaenchana?” Aku terkejut melihat pemandangan yang pertama kali tertangkap mataku. Sesosok namja yang entah sejak kapan ada di kamarku, duduk di tepi tempat tidurku.

“Tidak! Pergi! Jangan dekati aku!” Aku meronta. Melemparkan segala yang ada di dekatku ke arah sosok besar itu.

“Ji Yoo-ya… Ini aku!” Ia melawan semua seranganku, kemudian menghambur ke arahku. Memelukku erat.

“Aaaaaakkkkhhhh!!! Pergi! Pergi! Jangan sakiti aku, kumohon!” Aku semakin kalap. Berusaha melepaskan diri. Tapi ia justru semakin mengeratkan pelukannya.

“Ji Yoo-ya, tenangkan dirimu. Ini aku. Jangan takut.” Suara lembut ini. Sentuhan hangat ini.

“Kris-oppa….” Aku mulai tenang, menyadari sesosok namja itu bukanlah namja yang ada di mimpiku. Aku membalas pelukannya. “Oppa.. aku melakukannya lagi?”

Ia mengangguk. “Kali ini lebih parah, kau berteriak-teriak histeris sambil memberontak.”

Mianhae…” Aku menangis di pelukan oppa.

“Shuuttt… Tenanglah…” Oppa menepuk-nepuk punggungku, berusaha menenangkanku. Aku bisa mendengar nada kekhawatiran dari suaranya.

Mianhae oppa, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu khawatir.”

Gwaenchana.” Ia melepaskan tautan tubuh kami. Lalu mengangkat wajahku dan menatap manik mataku lekat-lekat. “Berhentilah memikirkannya Ji Yoo-ya. Lupakanlah semuanya! Sekarang kau aman. Tidak ada yang bisa menyakitimu selama ada aku disini,” lanjutnya sambil menyeka air mata di pipiku dengan ibu jarinya.

Aku mengangguk pelan. Entahlah aku bisa melupakan hal itu atau tidak, tapi perkataan oppa tadi benar-benar membuatku tenang. Kris-oppa… aku menyayangimu.

Kris-oppa tersenyum lega. “Sekarang masih malam. Kembalilah tidur,” ucapnya sambil mengusap rambutku pelan.

Nae, oppa. Mianhae mengganggu tidurmu,” sesalku.

“Aku tidak apa-apa, asalkan kau baik-baik saja. Tidur yang nyenyak adik kecilku,” pamitnya. Kemudian mengecup keningku sekilas sebelum pergi meninggalkan kamarku.

Aku kembali membaringkan tubuhku di ranjang. Aku tidak bisa tidur lagi. Pandanganku tertuju pada langit-langit kamar, sedangkan tanganku meraba keningku yang tadi dikecup Kris-oppa. Saat ini aku sudah tidak bisa menyembunyikan senyumku.

Akan lebih baik jika terus seperti ini, pikirku. Meskipun bayangan kejadian buruk di masa laluku terus membayangiku, tapi kalau Kris-oppa ada di sampingku, aku merasa bahagia. Sangat bahagia. Seperti saat ini pun, entah sudah yang keberapa kalinya Kris-oppa terbangun tiap malam, menengok keadaanku yang selalu mengigau dan berteriak-teriak dalam tidurku. Tapi ia selalu mampu meredam semua emosi dan rasa takutku. Aku sungguh beruntung memiliki Kris-oppa dalam hidupku. Aku menyayanginya…

Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kang Ji Yoo. Dan namja tadi adalah Wu Yi Fan, atau biasa dipanggil Kris. Dia adalah kakakku. Kakak angkatku yang sangat kusayangi. Kedua orang tua Kris adalah sahabat eomma-ku saat kami tinggal di Beijing, China. Aku diangkat menjadi anak keluarga Wu setelah seluruh keluargaku hancur berkeping-keping —hanya aku yang tersisa dari keluargaku. Merasa tidak aman di China, keluarga Wu kemudian membawaku kembali ke tanah kelahiranku, Korea Selatan, dan tinggal disana sampai sekarang.

Kejadian yang kau lihat di mimpiku tadi adalah sepotong adegan mirisnya kehidupanku 5 tahun yang lalu, saat usiaku menginjak 12 tahun.  Berkat Kris-oppa dan keluarganya-lah aku dapat bangkit dari keterpurukanku.

Namun semenjak kejadian akhir-akhir ini aku sering gelisah. Memori kelam masa laluku kerap kali datang menghampiriku, mampir dalam otakku, terbawa ke alam bawah sadarku, hingga acap kali aku tenggelam ke dalam pengaruh buruknya.

Sungguh aku tidak ingin kembali mengingatnya.

—-**—-

[“Dari hasil otopsi, diduga keluarga korban disiksa terlebih dahulu sebelum akhirnya ditembak di bagian kepala. Di tubuh korban banyak ditemukan bekas luka memar dan sayatan benda tajam juga jeratan tali di bagian leher. Pembantaian sadis keluarga Zhang ini mengingatkan kita akan kejadian serupa 5 tahun yang lalu di negeri China dimana korban-korbannya berasal dari Korea, keluarga Yoon, keluarga Hwang dan keluarga Kang. Polisi menduga kasus-kasus ini masih berkaitan satu sama lain. Saat ini penyelidikan intensif sedang gencar dilakukan untuk mencari——”]

Klik…

 

[“Soo Yeon-ah, jangan pergi… kumohon, jangan tinggalkan aku… aku tidak bisa hidup tanpamu……”]

Ya! Oppa, kembalikan remote TV-nya!!” rengekku pada Kris-oppa yang tiba-tiba muncul dan dengan seenaknya mengganti channel TV yang sedang kutonton.

“Ah, nonton berita tidak seru. Kan lebih asik nonton ini,” jawabnya sambil tersenyum cute.

“Huuuuhhhh…!” Aku kembali duduk di sofa. Meskipun kesal aku menyerah saja. Kalau oppa sudah mengeluarkan jurus andalannya—tersenyum dengan wajah polosnya—aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Aish, oppa sudah tahu kelemahanku. Mana bisa tahan kan melihat namja jangkung bertubuh kekar, berwajah cool dan manly seperti Kris-oppa tersenyum di depanmu dengan ekspresi yang diimut-imutkan sedemikian rupa. Semua yeoja pun pasti akan takluk, termasuk aku.

[“Soo Yeon-ah… aku mencintaimu…”]

 

Terlihat di layar TV, pemain namja mendekatkan wajahnya pada pemain yeojanya.

“Wah wah wah…!” Aku heboh sendiri.

Klik…

[“—–I’m in shock, e-electric shock. Nanananananana (Electric)—-“]

“Sepertinya yang tadi juga tidak menarik…”

“Yah oppa! Padahal kan adegannya sedang seru!” Kulirik Kris-oppa yang duduk di sampingku. Wajahnya memerah sempurna.

“Yang tadi itu siaran ulang, aku sudah pernah menon—- Ah maksudku, yang tadi sama sekali tidak menarik! Tidak cocok untukmu!” jawabnya gelagapan. Mati-matian aku menahan tawa melihat ekspresi salah tingkahnya. Oppa sungguh menggemaskan!

“Huuhhh, oppa… Aku ini kan sudah 17 tahun, bukan gadis kecil berusia 12 tahun lagi. Aku sudah boleh melihat adegan di drama itu!”

“Sudahlah… Itu sama sekali tidak seru! Lebih asik melihat acara musik. Lihat! Krystal f(x) itu benar-benar cantik!” katanya sambil memasang senyum andalannya lagi.

“Tsk!” Aku berdecak. Sebenarnya apa sih maunya oppa.

[“—-E-E-E-Electric (Nanananananana)E-E-E-Electric Shock……

 

……Headline news. Pemirsa, peristiwa pembantaian keluarga Zhang dua hari yang lalu––“]

“Ah berita lagi…”

Klik…

[“—–diduga keluarga korban di serang pada malam hari—–“]

“Ah di channel ini juga berita…”

Klik…

Kulihat Kris-oppa melirikku sekilas sebelum memindahkan channel.

[“—-Kejadian ini mengingatkan kita mengenai kasus pembunuhan keluarga Kang, Yoon dan Hwang 5 tahun yang lalu—-“]

 

Klik…

[“—-saat ini pelaku masih belum ditemukan—-“]

Klik…

“Payah sekali. Stasiun TV sepertinya tidak peduli pada anak-anak. Masa semuanya berita, tidak ada kartunnya. Hahaha…” ucap Kris-oppa tertawa-tawa garing setelah mematikan TV.

Khaja, Ji Yoo-ya… Sebaiknya kita mencari hal-hal yang lebih menarik. Daripada duduk diam di depan TV seharian.” Ia beranjak dari sofa, menarik tanganku untuk mengajakku pergi. Menuntunku keluar dari rumah. Aku mengikuti di belakangnya.

*

“Ah…” Ia berhenti mendadak ketika kami sampai di depan gerbang, membuatku tak sengaja menabrak punggungnya.

“Ada apa lagi, oppa?”

“Emm… Itu— Sebaiknya… kita tidak perlu keluar rumah, di luar berbahay—– Maksudku, di luar cuacanya sedang tidak bagus. Lebih baik kita di dalam saja,” jawab oppa sekenanya. Padahal di luar cuaca sangat cerah.

Khajja, lebih baik kita belajar. Besok kau ada tugas, kan?” Ia menarikku kembali masuk ke rumah.

Oppa…” Aku mencekal tangannya. Ia berbalik menghadapku.

Nae?”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu. Aku baik-baik saja, oppa. Aku tidak akan mengingat kejadian itu lagi. Aku hanya ingin memastikan saja kalau keluarga Zhang— Maksudku pelaku pembunuhan keluarga Zhang, sudah ditemukan.” Aku menghela nafas berat.

Ya, aku paham atas sikap aneh oppa tadi. Dia hanya ingin menghindarkanku dari berita pembunuhan keluarga Zhang yang terjadi baru-baru ini, agar aku tidak mengingat-ingat lagi peristiwa yang menimpaku dulu.

“Dan akan kupastikan aku akan membunuh pelakunya, karena dia-lah yang membunuh orang-orang terdekatku juga keluargaku dulu. Aku akan—-”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Kris-oppa buru-buru menarikku ke dalam pelukannya. “Ji Yoo-ya… Aku akan melindungimu. Dan akan kupastikan kau baik-baik saja,” ucapnya tulus.

Hangat, tenang, damai… Itulah yang kurasakan jika Kris-oppa mendekapku seperti ini. Meskipun terkadang terselip perasaan aneh yang muncul di hatiku, tapi tak bisa dipungkiri bahwa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Aku… ingin Kris-oppa selalu bersamaku selamanya…

Perlahan kulingkarkan tanganku pada punggungnya. Kubalas pelukannya. Rasanya aku tidak ingin melepas pelukan ini. Aku sayang Kris-oppa. Sayaaang sekali.

“Aku menyayangimu, oppa.”

“Aahhh… Nae… Aku juga… menyayangimu…”

“EHEMMM!”

Kami berdua tersentak kaget. Buru-buru Kris-oppa melepaskan pelukannya. Aku menunduk kikuk. Malu sekali.

EomEomma… Mengagetkan saja!” Kris-oppa gelagapan.

“Dari tadi eomma mencari kalian. Ternyata kalian malah mesra-mesraan disini toh!” goda eommanya Kris yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan kami. Aigoo, kami jadi terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang kepergok.

“Ayo cepat ke ruang makan. Makan siang sudah siap. Appamu sudah menunggu dari tadi,” sambungnya.

*

”Akhir-akhir ini keadaan sangat berbahaya. Pelaku pembunuhan keluarga Zhang belum diketahui dan masih berkeliaran di sekitar kita.” Appa Kris membuka perbincangan di sela-sela makan siang kami.

Nae, aku jadi takut. Mungkin saja pembunuhnya masih mengincar korban lagi,” timpal eomonim.

“Bisakah kita membahas topik lain?” Kris-oppa menginterupsi.

“Mengerikan sekali. Sebenarnya apa motif dari pembunuhan ini?” Seolah tidak mengindahkan perkataan Kris oppa, abeonim dan eomonim terus membahas masalah ini. Jujur, ini sedikit membuatku… sakit. Mengingat anak keluarga Zhang adalah orang terdekatku dulu, Zhang Yi Xing.

“Aku yakin ini adalah pembunuhan berantai. Dilihat dari kasus-kasus pembunuhan serupa di China sebelumnya, semua korbannya adalah yang memiliki hubungan kerjasama perusahaan dengan keluarga Zhang, yaitu keluarga Yoon, keluarga Hwang, dan terakhir keluarga….Kang.“ Abeonim menghentikan perkataannya. Ia memandangku lamat-lamat.

“Dan keluarga Kang masih tersisa. Jangan-jangan target selanjutnya—–“ Semua mata tertuju padaku.

BRRAAKKK!!

Appa! Eomma! Sudahlah! Tidak sepantasnya kalian membicarakan masalah ini di depan Ji Yoo!” Kris-oppa menggebrak meja. Suasana menjadi tegang. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menunduk. Kris-oppa menggenggam tanganku erat-erat.

“Ah itu. Hahaha… Tidak usah dipikirkan Ji Yoo sayang. Lagi pula mana mungkin pelakunya akan mengincar—- Maksudku, polisi sudah disebar ke seluruh penjuru Seoul. Kau akan aman disini, ya kan, yeobo?” Eomonim menyikut abeonim.

NNae, benar! Kami hanya ingin kalian berhati-hati. Tapi kau tidak perlu cemas! Kris pemegang sabuk emas kejuaraan boxing di sekolahnya dulu. Benar kan, Kris?” jawab Abeonim asal. Bisa kulihat mereka berusaha menghiburku, agar aku tidak terlalu khawatir.

Appa aku ini pemain basket bukan boxing!” bisik Kris-oppa pada appanya, tapi masih dengan jelas dapat kudengar.

“Emm itu… Ya pokoknya kau percayakan saja pada Kris! Dia pemain basket yang lincah!” Abeonim buru-buru meralat.

Nae! Appa benar! Aku ini lincah, kuat, dan gagah berani!” Kris-oppa menimpali.

“Mulai dari sekarang kau tidak boleh keluar sendirian, arra?”

“Ahh… NNaeEomonim…” jawabku.

Eomma benar! Kemanapun kau pergi. Aku akan menemanimu! Aku akan terus di sampingmu!” Tiba-tiba mata eomonim beralih menatap Kris-oppa.

“Apa?” tanya oppa heran melihat eomma yang menatapnya jahil.

“Ya, idemu bagus sekali Kris! Tapi jangan sampai kau salah-gunakan,” ujar eomonim.

“Maksud eomma?”

“Yah, tugasmu adalah untuk menjaga Ji Yoo jangan kau jadikan ini kesempatan untuk menggodanya seperti tadi…”

“YA EOMMA! Aku tidak menggodanya!” elak Kris-oppa. Wajahnya memerah.

“Lalu yang tadi itu apa?”

“Aku tidak melakukan apa-apa!”

Eomma melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kau mesra-mesraan dengan Ji Yoo. Ah kau pasti menggodanya hingga ia mau memelukmu.” Eomonim semakin gencar meledek kami. Aigoo… Malunyaaa…

Eomma jangan mengada-ada! Aku tadi hanya—- Eh, maksudku… yang benar saja! Ji Yoo kan adikku!”

“Wah wah wah… Ternyata anakku sudah besar rupanya. Sudah mengerti yeoja! Appa jadi terharu.” Kini giliran abeonim yang mendramatisir suasana. Aisshhh keluarga iniii…

“Satu pesan eomma. Kau boleh berada di dekat Ji Yoo, tapi beri dia ruang. Kalau kau terus-terusan menempel padanya, nanti Ji Yoo tidak bisa punya pacar.”

“Uhukk!” Aku terbatuk, saking terkejutnya.

“Ji Yoo-ya, gwaenchana? Lihat, ini gara-gara eomma berbicara yang aneh-aneh, Ji Yoo jadi tersedak!” Kris-oppa menyodorkan air minum padaku, sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Hahahaha……” ucapan Kris-oppa hanya ditanggapi dengan tawa renyah dari abeonim dan eomonim. Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan ekspresi tersipuku.

Beginilah keluarga Wu. Selalu bisa mencairkan suasana tegang dengan candaan. Aku bisa merasakan kehangatan di tengah-tengah keluarga ini. Aku bisa merasakan kasih sayang mereka. Meskipun terkadang tetap saja berbeda. Kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah tergantikan oleh kasih sayang siapapun. Ah, andai saja eomma masih ada…

Sudahlah. Begini saja sudah lebih dari cukup. Bagiku, asalkan ada Kris-oppa disampingku, ini sudah lebih membahagiakan dari apapun. Aku tidak keberatan kalaupun Kris-oppa selalu menempel padaku seperti kata eomonim barusan, aku justru senang. Karena aku menyayangi Kris-oppa, lebih dari sekedar seorang kakak.

Ya, asalkan ada Kris-oppa disampingku…

Itu saja sudah cukup bagiku…

—-**—-

“Ji Yoo-ya.”

“………”

“Kita sudah sampai, Ji Yoo-ya.”

“………”

Ya! Kang Ji Yoo!” Kris-oppa mengguncang-guncang tubuhku, yang seketika membuatku sadar.

“ahhh… nae? Ada apa, oppa?”

“Dari tadi kau melamun sambil senyum-senyum sendiri. Aku jadi takut kalau aku salah mengantarkanmu, bukan ke sekolah tapi seharusnya ke rumah sakit jiwa.”

Ya! Oppa pikir aku tidak waras?”

“Dari gelagatmu orang-orang akan berpikir kalau kau adalah orang gila.”

Oppa jahat!”

“Hahaha… Ya sudah jangan ngambek begitu dong. Wajahmu jelek kalau sedang cemberut!” Ia mencubit pipiku gemas.“Ayo cepat turun! Kita sudah sampai.”

Aku pun turun dari mobil, Kris-oppa juga ikut-ikutan turun. “Masuklah… Aku akan melihatmu dari sini,” ucapnya lembut. Ah, lagi-lagi sikap oppa membuatku tidak ingin pisah darinya.

“Ini kan masih di gerbang. Oppa seharusnya mengantarkanku sampai ke depan kelas.”

“Tck! Kau ini anak kelas 3 SMA bukan anak kelas 1 SD lagi, Ji Yoo-ya!” decaknya.

“Tapi oppa… Bagaimana kalo pembunuh itu benar-benar mengincarku di sekolah? Bagaimana jika ia terus membuntutiku dan menyerangku tiba-tiba? Lihat! Sekolah kan masih sepi, pembunuh itu akan lebih leluasa. Ayolaaahhh oppaaa…” rengekku manja sambil menarik-narik ujung lengan kemejanya seperti anak kecil yang minta dibelikan balon.

Kulihat Kris-oppa terkejut, “Ah benar! Aku harus mengantarmu sampai ke kelas dengan aman!”

Buru-buru ia menarikku, menggandengku. Mengantarku ke kelas. Untung saja jarak kelasku dengan pintu gerbang sekolah agak jauh, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk berjalan sampai ke sana. Dengan begitu, aku bisa bersama Kris-oppa lebih lama, bukan? Aku tersenyum penuh kemenangan. Yeah, jurus aegyo-ku memang tidak pernah gagal.

Aku berjalan disampingnya. Kueratkan genggaman tanganku dengan tangannya. Kami betul-betul terlihat seperti sepasang kekasih. Hihi… Apa yang lebih menyenangkan daripada ini? Diantarkan ke sekolah, sekaligus ke depan kelas oleh orang yang paling disayangi. Andai saja ini terjadi sejak dulu, kuyakin mood belajarku akan bertambah 10x lipat. Ah, lain kali aku akan memintanya mengantarkanku sampai depan kelas seperti ini lagi setiap harinya. Untung saja hari masih sangat pagi, dan sekolah masih sangat sepi. Aku tidak perlu khawatir ada yang memperhatikan kami. Wah, dunia ini rasanya bagai milik kami berdua!

“Ah, mianhae… Padahal aku sudah berjanji akan memberimu ruang, seperti apa yang dikatakan eomma kemarin. Kalau seperti ini terus, kau tidak akan leluasa.”

Perkataan oppa membuyarkan lamunanku. “Ng?”

“Maksudku, aku minta maaf karena terlalu khawatir padamu, padahal aku sudah berjanji pada eomma agar tidak terlalu dekat denganmu supaya kau bisa leluasa bergaul dan mencari pacar.”

“Hmpp… Hahaha… oppa ini ada-ada saja. Ini tidak masalah, yang penting aku aman kalau ada oppa,” jawabku sambil tertawa-tawa ringan. Untuk apa lagi aku mencari pacar kalau orang yang kusayangi sudah ada di depan mata? Justru yang ingin kujadikan pacar adalah kau, Kris-oppa!

“Nah, sudah sampai. Aku pergi dulu, kuliahku akan dimulai setengah jam lagi. Ppaii ppaii, adik kecilku! Kalau ada apa-apa, telepon aku ya!” pamitnya setelah kami tiba di depan kelasku, kelas 3-2.

Nae oppa! Ppaii ppaii, hati-hati di jalan!” Aku melambai-lambaikan tanganku mengantar kepergiannya. Ia tersenyum, membalas lambaian tanganku. Aku tak lekas beranjak dari depan pintu, aku diam di tempat memperhatikan namja yang paling kusayangi itu pergi. Memandang punggung kokohnya, tubuh jangkungnya, jalan tegapnya hingga ia menghilang di balik tikungan.

Bisa kau lihat, aku dan Kris-oppa memang sangat akrab, bukan? Kalau orang lain melihat kami mungkin mereka akan mengira bahwa kami adalah sepasang kekasih. Tapi tidak!

Aku sering berpikir, kenapa nyonya dan tuan Wu tidak pernah memiliki ide untuk menjodohkan kami? Apa mereka masih terus menganggap bahwa aku adalah anak kandung mereka? Kami tidak punya hubungan darah, kan? Jadi kalau aku dan Kris-oppa pacaran memangnya kenapa? Tidak ada yang salah, kan? Toh, Kris-oppa juga menyayangiku. Argh! Terkadang keadaan seperti ini membuatku menyesal, mengapa kami dipertemukan sebagai saudara?

Sudahlah… Aku tidak ingin merusak mood baikku pagi ini.

Dengan langkah riang, aku menuju bangkuku. Hanya ada aku sendirian di kelas. Teman-temanku yang lain belum datang. Dengan santai kubuka buku pelajaranku, setidaknya aku harus mempersiapkan diri dengan materi-materi yang akan kupelajari hari ini. Sebelum akhirnya aku mendengar suara riuh dari arah luar.

BRAAAAAAAKKKKKKK!!!!!

Pintu kelas terbanting kasar. Ricuh, tiga orang murid yang sangat aku kenal masuk ke dalam dan berlari memburu ke arahku seolah-olah hendak menerkamku. Ya, menerkamku dengan pertanyaan-pertanyaan lebih tepatnya. Oh sial, firasatku tidak enak. Tuhan kumohon, jangan buat mood baikku—yang jarang kudapat ini—kandas gara-gara teman-temanku.

“Ji Yoo-ya!!! Kami melihatnya! Siapa dia?” sahabatku—Seo Yoori—membuka pertanyaan. BINGO! Akhirnya yang kutakutkan terjadi. Mereka melihat aku berduaan dengan Kris-oppa!

“Maksudmu? Aku tidak mengerti,” jawabku. Berusaha memasang tampang sedatar mungkin, meskipun dalam hati aku sedikit panik. Mudah-mudahan mereka tidak melihat —atau mendengar—scene saat aku merengek-rengek minta diantar ke kelas oleh Kris-oppa. Apalagi jika mereka melihat wajah aegyo-ku tadi. Oh, tidak! Itu memalukan!

“Ah kau jangan pura-pura. Kami melihat dia menggandengmu sampai sini! Siapa dia? Pacarmu? Sejak kapan kau punya pacar? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami? Aku tidak menyangka ternyata kau bisa pacaran juga,” sahabatku yang satunya lagi, yang paling cerewet —Jung Eunri— bertanya penuh selidik. Sedangkan dua sahabatku yang lain hanya mengangguk-ngangguk mengiyakan pertanyaan Eunri.

“Oh, maksudmu namja jangkung yang tadi mengantarku?”

“Tentu saja! Memangnya kau pikir kami sedang membahas siapa? Hantu?”

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Oke Kang Ji Yoo, rileks!

“Dia kakakku,” jawabku jujur, kalem dan tanpa ekspresi.

“MWO???” teriak mereka bertiga serempak. Demi apapun, reaksi mereka sangat berlebihan.

“Memang kau punya kakak? Kenapa kami baru tahu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami? Mengapa kakakmu begitu perhatian sampai-sampai mengantarmu sampai ke kelas segala? Dan hey, mengapa kalian terlihat mesra sekali layaknya sepasang kekasih?” Pertanyaan-pertanyaan Eunri mengintimidasiku. Huh, beginilah kalau punya teman seorang ratu gosip.

“Ya benar! Kami kami tidak menyangka kau punya kakak setampan itu! Ommo, melihat wajahnya aku benar-benar seperti melihat pangeran tampan berhati malaikat yang ada di dongeng-dongeng.” Yoori mulai berfantasi.

Ya! Seo Yoori! Jadi kau lebih memilih dia dibandingkan aku, pacarmu sendiri?” protes Jongin begitu mendengar perkataan Yoori.

“Ahh… Mianhae Jongin-ah… Bagiku kau tetap number one, kok!” hibur Yoori melihat Jongin, kekasihnya yang mulai cemberut.

“Waaahhh Jongin cemburu tuuhh!!” timpal Eunri.

Aku diam dan kembali melanjutkan kegiatanku membaca buku, tidak tertarik dengan obrolan mereka. Aku hanya bisa berterimakasih pada Yoori dan Jongin dalam hati karena telah berhasil mengalihkan perhatian Eunri terhadapku. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas lega, hingga akhirnya Eunri kembali menginterupsi perhatianku lewat celotehannya yang cukup membuatku tersentak kaget, “ngomong-ngomong siapa namanya Ji Yoo-ya? Kenalkan padaku dong… Kau kan tahu aku tidak punya pacar.”

“Tidak! Tidak boleh!” sentakku berdiri spontan. Bisa kulihat mereka semua tergemap.

“Loh memangnya kenapa?”

Aku kembali menghela nafas, berusaha tenang. “Karena oppa milikku,” jawabku dingin.

Bisa kulihat mereka membulatkan matanya, “MWO???”

Aku diam tak bergeming, tak berniat untuk menjawab, apalagi melanjutkan pembicaraan.

“Kau ini protektif sekali! Tenang saja, aku tidak akan merebut kakakmu kok. Aku kan hanya bercanda. Hahaha… Oke oke aku tidak akan bertanya lagi.”

“Wah, berarti Tao punya rival berat dong!” timpal Jongin, berusaha mencairkan suasana kembali. Mereka memang tahu betul, kalau aku sudah diam dan memasang tampang dingin, berarti aku tidak ingin mereka bertanya lebih. Oke, dan sekarang ideku untuk meminta Kris-oppa mengantarku sampai ke kelas setiap hari harus kukubur dalam-dalam. Karena kalau sampai ada yeoja lain di sekolah ini yang melihat oppa, bisa gawat jadinya! Huh, suruh siapa Kris-oppa punya wajah yang tampan! Ah, kalau sudah begini seharusnya tadi kubilang saja bahwa Kris-oppa adalah pacarku.

BRAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!

 

Sekali lagi pintu kelas terbuka kasar.

“Selamat pagi!” sapa seorang namja yang muncul dari balik pintu. Baru saja dibicarakan, orangnya datang. Ya, Huang Zi Tao, salah satu dari keempat sahabatku, datang dengan wajah berseri-seri seperti biasa. Tck, tak bisakah teman-temanku ini datang ke kelas tanpa membanting pintu?

“Wah kebetulan sekali! Hei Tao, sepertinya kau punya saingan berat! Lihat, lihat! Ji Yoo, pujaan hatimu, sepertinya lebih sayang pada kakaknya daripada kamu! Haha…” sambut Jongin.

“MWO!” Sekali lagi kulihat ekspresi berlebihan yang ditampakkan sahabatku. Tapi kali ini berbeda, ada aura gelap dari mimik terkejutnya. Aura cemburu!

“Apa itu benar? Ji Yoo-ya?” Tao menatapku tidak percaya. Mata tajamnya itu seolah-olah hendak menikamku. Dan raut wajahnya yang berubah menakutkan menambah kesan angker pada sosoknya. Oh Tuhan… Apa lagi ini? Moodku jadi benar-benar hilang. Yang bisa kulakukan sekarang adalah keep calm and DO NOT CARE!

Satu hal yang perlu kau ketahui. Aku memang lebih suka menghindari kontak dengan teman-teman di sekolahku. Aku lebih senang bersikap tertutup dan dingin di depan mereka. Aku bahkan hampir tidak pernah berbicara dengan teman-teman sekelasku sendiri, yah terkecuali dengan keempat sahabatku, Eunri, Yoori, Jongin dan Tao. Itu pun tak sepenuhnya aku membuka diriku.

Aku hanya bisa bersikap biasa dan seadanya di depan keluarga Wu, khususnya Kris-oppa. Ya, hanya di depan oppa aku bisa bersikap manis. Oh ayolah, kau tahu bahwa aku bukan yeoja yang caper dan manja! Aku hanya bisa bersikap demikian di depan Kris-oppa saja, karena hanya dia-lah yang paling memahamiku. Dan aku ingin hanya dia yang mengetahui sifat asliku. Meskipun sebenarnya ada sisi lain dari diriku yang aku tidak ingin siapapun mengetahuinya, bahkan Kris-oppa sekalipun. Tapi sekali lagi kutegaskan, aku bisa bersikap layaknya seorang yeoja biasa hanya di depan Kris-oppa dan keluarga Wu saja!

Dan satu hal lagi, aku sebenarnya masa bodoh soal si pembunuh itu. Meskipun terkadang reka kejadian di masa laluku sering datang dan membuatku gelisah jika aku mengingat-ingat hal tentang pembunuhan itu. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Maksudku, aku tidak takut ataupun khawatir kalau-kalau si pembunuh itu benar-benar mengincarku, seperti yang selalu dicemaskan oleh keluarga Wu. Tapi karena justru hal ini membuat Kris-oppa selalu menjagaku, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ya, aku hanya berpura-pura, agar oppa selalu ada di sampingku.

Karena ketakutanku yang sesungguhnya bukan pada pembunuhnya. Tapi, masa kelamku yang kembali merubahku jika aku tidak bersama Kris-oppa.

Jadi oppa… kumohon teruslah berada di sampingku. Jadilah milikku. Karena hanya kau satu-satunya yang tersisa di hidupku. Aku… mencintaimu…

–To be Continued–

RCL wajib yaa 😀

Advertisements

2 thoughts on “No One Can Have You (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s