The Last Letter (Chapter 1)

thelastletter1

Title: The Last Letter

Author: Sunkay

Cast: Zhang Yi Xing (Lay EXO), Min Ni Chan (OC), Zhang Hwang Ni (OC), Luhan (yang di cerita ini marganya jadi Kim), Kim Joon Myun (Suho EXO), Park Ri Rin (OC)

Genre: Sad Romance, Angst

Rating: PG-17

Poster Credit: Berserkheal @ Art Fantasy

FF ini buatan temen saya, yang super zibuk dan dalam masa vakum dunia korea-koreaan. Pernah di posting sebelumnya di salah satu page EXO Fan Fiction di facebook, saya hanya memposting ulang.

Happy reading!

 

-Zhang Hwang Ni POV

-Surat ke 7-

“Chagi ayo ppalli buka suratnya, ucap namja berwajah imut yang sangat aku cintai.

“Geurae.” Kulihat semua wajah di ruangan ini sedang memperhatikanku, ada ahjussi, ahjumma dan Luhan oppa yang tepat berada disampingku. Hari ini aku mendapatkan surat ke-7 ku, setelah menunggunya selama setahun. Ya, setahun sekali pasti aku akan mendapatkannya tepat ditanggal 14 Januari, hari ulang tahunku. Bentuknya sama seperti surat lain pada umumnya, tapi isinya tentu saja berbeda dan istimewa bagiku.

 

‘Saengil Chukhahamnida, hope you’re happy in your sweet seventeen birthday. Bersabarlah atas semuanya sayang, tepat setahun lagi kau pasti akan mengetahui semuanya, disaat itu kau pasti sudah cukup kuat dan dewasa. Always love you with heartfelt hugs and kisses from the heart :)’

 

“Uljima Hwang Ni-ah, uljima..” Luhan oppa menarikku ke pelukannya, berusaha menenangkanku yang tiba-tiba menangis terisak setelah membaca surat itu.

**

 

Terdiam dalam alunan suara bising

Tersudut dalam lorong kegelapan

Tertinggal dan tak lagi terbang

Hampa sunyi menusuk relung kehidupan

 

Diam walau sebenarnya berteriak

Tersenyum walau batin menjerit

Tak ada daya dan upaya untuk menoleh

Menderita dalam setiap penantian

 

**

Mungkin bagi sebagian orang mendengar atau membaca sebuah cerita sedih dan mengharukan sudahlah biasa, mereka akan terbawa emosi lalu iba dan dengan tiba-tiba menangis terisak. Setelah itu melupakannya dengan cepat. Semua itu sangat umum terjadi. Tapi disini, saat ini, di tempat ini aku bisa merasakannya sendiri. Karena inilah kisahku, sebuah kisah usang yang telah terkubur lama tapi tak pernah hilang dalam ingatanku. Kini di tempatku berada sekarang, tepat dihadapan dua buah makam, aku sedang menaruh rangkaian bunga yang telah kubeli bersama Luhan oppa tadi.  Usiaku tepat 18 tahun hari ini, seakan mengingatkanku akan waktu dimana aku dilahirkan dudunia yang penuh sandiwara ini. Bersama semua kenangan, keajaiban, perjuangan, dan peluh air mata yang turut serta dalam kisah ini.

“Hwang Ni-ah..” panggil wanita setengah baya yang datang bersama suaminya, ia langsung memelukku erat, layaknya seorang ibu yang  tak ingin kehilangan anaknya. Dengan penuh kelembutan ia membelai kepalaku membuatku merasa nyaman.

“Ne, Ri Rin ahjumma. Waeyo? Uljima jebal, aku baik-baik saja kok,” ucapku lembut padanya sambil menyeka air mata di pipinya. Kulihat Joon Myun ahjussi sedang menatap kami, lalu ia menyerahkan sebuah amplop dari balik saku jasnya yang tentunya untukku.

“Gamsahamnida ahjussi.” Aku mengambil surat itu lalu membungkukkan badan. Ri Rin ahjumma kini ada di pelukan Joon Myun ahjussi.

“Gwencanayo chagi? Apa kau siap untuk membaca surat terakhirmu ini?” tanya ahjumma padaku seakan mengkhawatirkanku setelah nanti membacanya.

“Jangan memaksakan diri bila memang belum siap, usiamu masih 18 tahun kau belum cukup dewasa untuk mendengar semua ini,” sambung ahjussi lalu menepuk pelan bahuku. Terlihat jelas wajahnya seakan berkata bahwa ‘Hwang Ni jangan baca sekarang, kau pasti belum siap untuk semuanya’

“Aku sudah siap, sudah 18 tahun aku menunggu semua ini. Aku benar-benar sudah siap, sekalipun itu menyakitkan aku akan siap dan selalu siap. Aku tidak mau menundanya lagi, ahjumma dan ahjussi tidak perlu khawatir, aku gadis yang kuat kok buktinya mengahadapi Kris gangsanim saja aku bisa.” Kucoba untuk memecahkan suasana yang sedari tadi tegang.

“Chagi-ya, kalau tidak ingin menjadi dokter pasti kau sudah tidak mampu bertahan menghadapi dosenmu yang killer itu kan,” canda Luhan oppa secara tiba-tiba sambil menyindirku. Ia baru turun dari mobil sambil membawa rangakaian bunga lainnya. Ku akui aku memang ingin sekali menjadi dokter, saat ini saja aku sedang berkuliah dan mengambil jurusan kedokteran di Yonsei University. Aku pun mengerucutkan bibir kearahnya dan membuat ahjumma dan ahjussi yang juga merupakan orangtua dari Luhan oppa tersenyum.

Suasana yang mulai mencair sedetik kemudian berubah menjadi tegang kembali ketika aku mulai membuka amplop dari ahjussi dan mulai membaca surat itu perlahan.

 

‘Zhang Hwang Ni sayang, pasti kau sedang berada di depan makam kan? Sebetulnya kau tidak perlu repot-repot datang kesini, kau hanya perlu berbahagia di usiamu yang ke 18 tahun ini. Melihatmu dari sini saja rasanya sangat bahagia. Saengil Chukhahamnida chagi, semoga apa yang kau inginkan bisa dengan mudah terkabul. Kau pasti tumbuh menjadi gadis manis yang baik hati bukan?

Kau sudah mulai masuk universitas ya? Semoga kau dapat meraih cita-citamu ya, jadilah orang yang berguna dan berhasil kelak. Carilah pasangan yang baik dan mecintaimu dengan tulus dan tentunya yang bisa menjagamu.

Baiklah mungkin ini adalah hari yang yang kau tunggu-tunggu setelah 18 tahun lamanya. Apa kau yakin benar-benar siap mendengarkan semua ini?  Kau tak perlu melakukannya jika memang belum siap, tapi jika memang kau sudah siap, jadilah wanita yang tegar ya chagi. Jangan ada air mata lagi, cukup  perlihatkan senyumanmu. Maaf waktu yang memberitahunya sekarang, pasti kau sudah sangat tidak sabar dalam penantian ini, tapi jujur saja rasa takut itu terlalu menghantui dan selalu datang seiring waktu yang tersisa. Entah harus memulainya dari mana.

Usiamu kini genap 18 tahun, jika kau sudah benar-benar siap dan kuat  mintalah Ri Rin ahjumma dan Joon Myun ahjussi untuk menceritakan semuanya, mereka adalah saksi bisu selama ini. Merakalah orang yang dipercaya selama ini untuk menyampaikannya langsung padamu.

The Last Letter with A Sense of Love

 

Aku tak mau ia melihatku bersedih, ya walau terkadang aku susah sekali menahan rasa sedihku dan terpaksa bercerita padanya di depan makam ini untuk sekedar curhat. Entah mengapa jauh darinya membuatku menjadi gadis yang cengeng. Tak perlu membutuhkan banyak waktu untuk berpikir merekalah yang paling berharga di hidupku. Sekali ku langkahkan kakiku sungguh aku takut untuk menoleh ke belakang, ku coba untuk tegar sesaat. Walau setelahnya aku menangis terisak di belakangnya. Aku hanya tahu asal usulku dari surat-surat yang kudapatkan di setiap tahun pergantian umurku.

“Ahjumma, ahjussi jadi sebenarnya kalian sudah tahu semua yang terjadi padaku?” tanyaku sedikit kaget dan tak percaya. Kupikir Ri Rin ahjumma dan Joon Myun ahjussi tidak mengetahuinya. Mereka adalah orang yang sangat baik hati. Mereka rela merawatku sejak aku masih bayi, bahkan mereka membiayai sekolahku. Aku tinggal di rumah mereka dengan penuh kebahagiaan terutama karena ada Luhan oppa, kekasihku. Luhan oppa adalah anak kandung dari ahjumma dan ahjussi, sejak kecil kami dibesarkan bersama hingga rasa cinta itu tumbuh seiring waktu berjalan.

“Ne, kami sebenarnya yang harus menyampaikannya padamu,” ucap ahjussi memulai pembicaraan. Kulihat Luhan oppa juga sedikit bingung dan sama tak percayanya denganku.

“Kami hanya akan menyampaikan semua ini jika kamu sudah genap berusia 18 tahun Hwang Ni, karena itulah amanat yang diberikan kepada kami. Oleh sebab itu kami merahasiakannya selama ini, semoga kau mau mengerti,” tutur ahjumma sambil memegang tangannku.

“Ne, arraseo ahjussi ahjumma. Baiklah kalau begitu ceritakan saja langsung, aku sudah benar-benar siap.”

Wajah keduanya berubah pilu, aku hanya bisa menghela nafas panjang berusaha untuk siap mendengarkannya. Walaupun rasa takutku muncul, tapi kucoba untuk terlihat tenang. Seperti yang surat terakhir itu katakan, Jangan ada air mata lagi, cukup  perlihatkan senyumanmu.

Ya aku tidak boleh menitikkan air mata, aku hanya boleh tersenyum. Akan kucoba untuk bisa kuat.

Tuhan kuatkan aku saat ini.. Jebal...

Joon Myun ahjussi membuka mulut, memulai semua ceritanya…

-FLASHBACK-

-Yi Xing POV-

Tak mungkin kutaklukan megahnya malam, bagaikan pungguk yang merindukan sang bulan. Tak mungkin kupungkiri hasrat di jiwa ini, hampa. Aku hanya bisa mengukir asa dalam hati, bersama hembusnya sang bayu, setelah berjuta rasa aku padamkan, namun hanya kesedihan yang tak berujung menggelayut memecah perasaan.

“Gadis itu cantiknya bukan main, selembut sutra cahaya, sebening kaca permata, seindah mentari pagi, sewangi mawar berduri yang membuat semua namja tak ada yang berani menyakitinya, membuat hatiku bergetar tak karuan setiap bertemu dengannya. Haissh aku sudah benar-benar gila Kim Joon Myun! Aku sudah tidak tahan!”

“Ya!! Kau ini, sudah tembak saja langsung, tunggu apa lagi?” ucap namja berkulit putih bersih bak susu murni itu tak sabaran.

“Ah itu mustahil, aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukan itu! Kau tahu kan semua yeoja menjauhiku, karena aku orang miskin. Padahal wajahku tak buruk-buruk amat bukan?”

“Kalau yeoja yang bernama Min Ni Chan itu benar mencintaimu pasti ia tidak akan memikirkan materialistik! Yi Xing-ah kau harus mengejarnya, penyesalan itu pasti akan datang terakhir, jangan pedulikan kekayaan atau embel-embel apapun, toh kita mati tidak akan membawa harta kan?”

“Iya memang kau benar, tapi…”

“Ah sudahlah itu hanya pendapatku, terserah kau mau dengar atau tidak. Aku pergi dulu ya, datanglah ke rumahku nanti malam, bantu aku untuk menyelesaikan proposal bisnis itu, nanti aku beri bonus lebih!”

“Ne..”jawabku pasrah. Mataku belum beralih dari wajah manisnya, sungguh memesona. Aku terbuai dibuatnya, ia bagaikan malaikat yang menerangi kehidupanku.

Dia masih disana, di meja makan kantin bersama teman-temannya, senyumnya selalu membuatku buta. Buta karena tidak bisa melihat cahaya hari yang terhisap olehnya, karena ia mengalahkan kilaunya. Kudengar banyak namja yang menyukainya tapi ia menolak semuanya. Aku semakin ragu untuk mengungkapkan perasaanku, aku takut mendapatkan penolakan itu. Apalagi banyak rivalku yang jauh lebih kaya dan pintar daripadaku, aku hanyalah seorang namja biasa yang sungguh tak layak untuk yeoja anggun sepertinya. Ya, dia begitu anggun, feminin, hanya dengan bersenyum saja sudah banyak memabukkan namja-namja di kampusku, tak terkecuali diriku yang sedang terserang virus cintanya.

Kuputuskan untuk segera pulang dan menuju rumah Joon Myun untuk bekerja. Disana aku biasa membantu ia menyelesaikan semua tugas bisnisnya, walaupun umur kami baru 18 tahun tapi Joon Myun telah diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaan milik appanya. Aku masih tidak mengerti mengapa Joon Myun mau berteman denganku, padahal ia anak orang kaya dan berasal dari kalangan elit di kampus. Ia berbaik hati memberikanku pekerjaan bahkan menggajiku. Ternyata Tuhan masih menyayangiku, penderitaanku sedikit berkurang sekarang.

Kuterobos jalanan Kota Seoul dengan menggunakan kendaraan kesayanganku ini, walapun sedikit lama tapi aku mencoba menikmati semilir angin yang bertiup mengikuti aluran jalanan. Keringat, itulah yang selalu menemaniku. Walaupun lelah aku terus melaju sambil sesekali bernyanyi-nyanyi kecil mencoba meramaikan suasana. Samar-samar sesosok yeoja kutemukan tepat di pinggir jalan dekat taman kota, ia kelihatan cemas dan uring-uringan. Kuberanikan diri untuk mendekatinya dan…

“Emm.. kau…???” Rasanya bom atom meledak dihatiku, keringat yang sedari tadi membasahi tubuhku bertambah banyak hingga membuatku sedikit kaku dan gemetar tak karuan. Aku putusakan untuk menaiki kendaaraan kesayanganku ini berniat meninggalkannya pergi karena aku benar-benar salah tingkah dibuatnya.

Greeep..

Tangannya menarik tanganku dan sukses membuat jantungku berdegup kencang.

“Hei Zhang Yi Xing tunggu dulu!” Ia setengah berteriak. Astaga dia tahu namaku, aku sungguh tidak menyangka.

“N..ee… ne wae… yo?” jawabku gelagapan, kurasa wajahku terlihat sangat buruk di hadapannya.

“Kau mau kemana? Seperti melihat hantu, langsung kabur begitu saja!”

“Ani hehe, kau sedang apa sendirian disini? Hari sudah malam loh, apa kau tidak takut?” sahutku mencoba ramah kepadanya. Jujur ini pertama kalinya aku terlibat pembicaraan dengannya. Berbicara dengannya sungguh seperti menenggak anggur paling enak sedunia.

“Aku sedang menunggu temanku, namanya Park Ri Rin. Dia bilang dia akan datang tepat pukul 7 malam, tapi sekarang sudah 1 jam berlalu dan ia bilang tidak bisa datang. Aisssh sungguh menyebalkan bukan?”

Tuhaaaan suaranya begitu indah, semakin membuatku merinding takjub dibuatnya. Matanya tajam dan bulat, bibirnya tipis dan merah merona, benar-benar sempurna. Aku bisa benar-benar gila dibuatnya, kalau Joon Myun tahu aku bisa bertemu Min Ni Chan pasi dia tidak akan percaya. Ah betapa beruntungannya aku malam ini.

“Heloo..” ucapnya sambil melambaikan tangan tepat diwajahku dan seketika membuyarkan semua lamunanku.

“Mianheyo.. emm.. tadi kau bilang apa?” tanyaku jujur karena memang aku tidak mendengar apa yang dia bicarakan, aku terlalu sibuk dengan lamunan dan rasa kagumku padanya.

“Ah aniyo sudahlah, eh tunggu sebentar, apa yang terjadi dengan hidungmu?” tanyanya membuatku sedikit terkaget. Omoo.. kenapa aku bisa mimisan seperti ini? Aih ini sungguh memalukan.

“Cepat sini aku bersihkan!”

Aih ternyata mimisan ini membawa keburuntungan, yeoja yang selama ini aku kagumi sekarang tengah membersihkan darah yang mengalir dari hidungku dengan menggunakan sapu tangannya. Tak berapa lama wajah kami begitu sangat dekat, hingga tiba-tiba ia berhenti melakukan aktifitasnya dan memandangku lekat. Suasana canggung menyelimutiku saat ini dan entah mengapa ia juga terlihat gugup.

“Em.. eh selesai, ini pegang sapu tanganku supaya darahnya tidak terus mengalir,” ucapnya memecah suasana yang begitu awkward ini. Aku pun menerimanya dengan senang hati.

“Sebagai ucapan terimakasih, bagaimana kalau kau antarkan saja aku pulang?” sambungnya cepat dan lagi lagi berhasil membuatku gugup tidak karuan. Kurasakan darah mimisan dari hidungku terus mengalir membasahi sapu tangannya, entah mengapa ini terjadi, aku pun bingung.

“Mwoo? Kau yakin mau pulang dengan menggunakan sepeda tuaku ini?” tanyaku padanya, seakan tak percaya. Karena setahuku namja-namja yang mengejar cintanya selalu membawa mobil keren, sedangkan aku? Jangan ditanya.

“Ne, aku yakin. Apa kau keberatan?”

“Oh ani aniyo, with pleasure Min Ni Chan,” ucapku dengan tersenyum lebar. Ia langsung naik ke jok di belakang sepeda. Aku tersadar bahwa aku baru saja memanggil namanya untuk pertama kali, untungnya dia tidak sadar. Padahal kan berkenalan pun belum pernah.

“Kau ternyata benar-benar mengenalku jauh lebih dari yang kubayangkan,” ujarnya tiba-tiba.

“Maksudnya?” Ia begitu misterius.

“Iya kau ini sungguh lucu!”

Apa dia bilang aku lucu? Mimpi apa aku semalam? Ah tidak, kakiku jadi melemas seperti ini, rasanya aku tidak mampu lagi mengayuh sepeda tuaku ini.

“Lucu apanya? Pasti aku terlihat bodoh di depanmu kan?” tanyaku meminta penjelasan.

“Aniyo, kau terlihat tampan di depanku!”

Astaga Tuhan apa yang baru saja ia bilang? Aku mulai tak konsen mengendarai sepedaku, rasa senang mengejolak di hatiku dan aku bingung meluapkannya dengan cara apa. Tapi dengan tiba-tiba ia memelukku dari belakang, berpegangan erat ke perutku. Menambah rasa gugup dan aku mulai kehilangan keseimbangan hingga kemudi sepeda bergerak ke kanan-kiri tak beraturan. Sepeda mulai oleng dan Ni Chan berpegangan padaku dengan lebih erat dari sebelumnya. Ommooo…

Bruuukkk…

“Aih sakit, lihat lututku berdarah,” ringisnya kepadaku setelah sepeda yang kukayuh jatuh.

“Aduh bagaimana ini? Mianhae Ni Chan aku tidak bisa menjagamu, bahkan memboncengmu menggunakan sepeda saja aku tidak becus. Mian, biar aku pergi ke apotik sebentar untuk membeli obat ya?” tawarku padanya, bersyukur kami jatuh ke rerumputan dan aku tidak terluka apapun.

“Tidak perlu.”

“Waeyo? Tenang saja aku punya uang kok untuk membelinya, ya cukuplah untuk sebotol kecil obat merah serta kapas dan plester, tapi kalau untuk membeli salep penghilang bekas luka uangku tidak cukup. Bagaimana kalau besok aku belikan, ne?”

“Bukan itu maksudku, tetaplah disini aku tidak mau jauh-jauh darimu Yi Xing-ah.” Serrrrr.. Keringatku mengalir deras bagai air terjun, aku gugup bukan main.

“Tapi… Kau terluka, aku harus bertanggung jawab atas semua ini.”

“Dengan kau tetap berada disampingku saja, aku merasa kau sudah bertanggung jawab. Jadi duduklah, ada yang ingin aku tanyakan.”

“Itu bisa infeksi nanti. Aigoo bagaimana ini? Baiklah, ayo cepat kau mau tanya apa?” Aku tidak sabar dengan apa yang akan ia tanyakan.

“Apa kau mencintaiku?”

Omoo… Ya ampun aku tak percaya ia berkata demikian. Untuk apa ia tanyakan hal ini? Tentu saja jawabannya iya, tapi aku… aku bingung… aku masih tidak percaya…

“Baiklah kalau kau tidak mau menjawabnya aku akan pergi sekarang!” ancamnya tiba-tiba.

“Eh tunggu dulu.”

“Apa?” tanyanya sedikit ketus membuat wajahnya semakin terlihat cantik.

“Aku.. aku…“

“Apaa?”

“Aku.. emm.. emm.. aa..kuu..uu…..”

“Aish lama sekali. Apa kau malu untuk mengungkapkan sedikit perasaanmu pada gadis yang kau kagumi sudah 3 tahun ini? Aku tahu kau mencintaiku! Kau selalu menatapku dengan tulus selama ini. Memang aku tidak pernah menyadarinya ya? Kau selalu memperhatikanku dimanapun aku berada. Kau tahu namaku sebelum aku memperkenalkannya padamu. Kau juga tahu arah kemana rumahku berada. Lalu kau mimisan walau hanya berbicara padaku. Apa itu tidak cukup sebagai bukti atas perasaanmu?” ucapnya dengan nada tinggi lalu menghela nafas sebentar dan melanjutkan ucapannya. “Apa kau takut mendapat penolakan dariku? Apa kau menyerah sebelum berjuang? Kau hanya akan menyakiti perasaan mu sendiri! Kau pasti berpikir aku hanyalah yeoja impian para namja kampus, yang dengan mudah menolak semua namja yang menggagumiku. Bahkan sekalipun namja itu keren, terkenal dan kaya di kampus, iya kan? Kau pasti berpikir demikian. Akan tetapi aku melakukan semua ini ada alasannya, aku melakukan ini bukan semata-mata aku mencari namja yang perfect dan kaya raya. Aku hanya ingin aku hidup bahagia dengan orang yang mencintaiku dengan tulus.” tuturnya panjang lebar dan itu membuatku terperangah tak percaya.

“Min Ni Chan mianhae, semua yang kau katakan itu memang benar. Saranghaeyo Ni Chan-ssi. Berarti aku punya peluang untuk menjadi namjachingumu dong?” Entah keberanian dari mana aku bisa mengatakan hal itu padanya.

“Menurutmu?”

“Aku tak tahu, aku terlalu tidak pantas untuk yeoja sepertimu. Kau intan yang berkilau sedangkan aku hanyalah sebuah batu gosok yang usang. Aku tidak layak untukmu, lagipula kau pasti tidak mungkin mencintaiku kan? Bisa bertemu denganmu saja sudah merupakan kebahagian bagiku. Aku tidak mau berharap lebih, karena itu semua hanya akan menyakitiku.”

“Aisshh.. Kau terlalu banyak bicara tuan Zhang Yi Xing!! Bisa-bisa rasa cintaku padamu ini luntur jadi rasa benci loh!”

Aku tersontak kaget. “Apa? Jadi kau?”

“Ne, nado saranghaeyo Zhang Yi Xing.”

**

 

Sudah 3 tahun aku menjadi namjachingu Min Ni Chan dan ini adalah kebahagiaanku yang sangat luar bisa sepanjang hidupku. Orang tuaku sudah lama meninggal, untungnya kini ada ia yang selalu membuatku tersenyum, aku benar-benar beruntung di tengah kemiskinanku ini. Sudah banyak hal kami lalui bersama, penuh kesederhaan dan bermodal kasih sayang tulus dan cinta. Aku kagum kepadanya, disaat semua orang kencan dengan kekasihnnya menggunakan mobil, ia mau menggunakan sepeda tuaku. Disaat orang lain makan malam di restoran bintang 5, ia rela hanya makan di kedai-kedai pinggir jalan, bahkan terkadang kita makan sepiring berdua. Sejauh ini aku belum bisa memberikan hal yang berharga untuknya, aku hanya bisa membeli sebuah cincin imitasi, yang harganya jauh lebih murah tentunya. Ia hanya tersenyum senang dan tak menampakkan wajah kekecewaan. Ia terlalu sempurna untuk orang sepertiku, oleh sebab itu ia kusayangi dengan tulus melebihi diriku sendiri. Hubunganku dengannya berjalan menyenangkan sejauh ini dan semoga tetap begitu.

Hari ini kami berniat untuk pergi lari pagi bersama, aku sudah mengumpulkan gajiku selama sebulan ini. Aku sudah membeli cincin emas asli untuk melamarnya, aku tidak tega dengan jari manisnya yang harus mengenakan cincin imitasi itu.

“Chagi apa kau sudah datang dari tadi? Mian aku sedikit terlambat, aku punya sesuatu yang spesial untukmu. Ini bunga mawar kesukaanmu, terimalah. Dan tunggu sebentar aku masih punya kejutan lainnya, lihat ini. Maukah ka—“

“Cukup…….!!!” bentaknya padaku menghentikan untaian kata yang sudah kususun khusus untuknya hari ini.

Aku mengernyitkan kening. “Waeyo chagi?”

“Aku mau putus detik ini juga, aku lelah berpacaran denganmu. Kau pikir aku adalah gadis yang sabar dan menerima mu apa adanya hah? Apa aku gila bisa terus bersabar menghadapi namja miskin sepertimu! Aku sudah lama muak dan tidak tahan diperlakukan seperti ini, dan sekarang kau dengan entengnya mau melamarku? Kau benar-benar gila Zhang Yi Xing, jangan-jangan kau hanya mau memberiku cincin imitasi lagi hah? Kau sungguh memalukan dan hina! Aku membencimu, jangan temui aku lagi setelah ini. Aku pamit.”

Nafasku tercekat. “Chagi… Min Ni Chan waeyo? Ada apa denganmu? Tunggu jangan pergi dulu… Ni Chan-ah tunggu…”

Brukk...

Aku terdampar ditengah kerumunan orang-orang yang sedang berlari pagi. Hatiku terbakar dan terlalap api, bagai kilatan petir di siang hari. Hatiku menangis karena perpisahan ini. Semuanya terasa begitu cepat dan mengagetkan. Aku masih tidak percaya dengan yang barusan Min Ni Chan katakan, ia tidak pernah berkata kasar seperti itu selama ini. Bila ia ingin putus denganku seharusnya ia tidak menghinaku seperti ini, tapi ku akui semua itu memang salahku. Aku lelaki yang sungguh memalukan. Tuhan ambil saja nyawaku sekarang karena aku yakin aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Aku terlalu mencintainya lebih dari apapun, tak kusangka selama ini di belakangku ia sudah tidak tahan berhubungan denganku. Kasihan, ia pasti sangat tersiksa. Andai ia tahu mengapa aku jatuh miskin seperti ini… Banyak hal yang telah aku korbankan…

**

 

Sudah hampir 4 bulan aku putus dengan Min Ni Chan, aku berpikir harapanku sudah kandas tak karuan, bahkan semangatku untuk hidup seakan perlahan sirna. Joon Myun sebagai teman baikku selalu memberi nasihat dan menyadarkanku akan banyak hal. Aku bersyukur mempunyai ia sebagai sahabat karibku, dan yang membuatku lega adalah kekasih dari Joon Myun adalah Park Ri Rin sahabat dari Ni Chan. Ri Rin bilang Ni Chan baik-baik saja saat ini, ya setidaknya walau aku tidak bisa melihatnya langsung, aku bisa sedikit bernafas lega. Aku berjanji tidak akan menyerah sampai kapanpun. Tentunya sampai ajal menjemputku, jadi aku selalu berharap Tuhan mau membantuku agar aku masih bisa bertahan hidup untuk mengejar cintaku itu. Aku bersedia melakukan perjalanan seribu mil bahkan hanya untuk mengejarnya. Hidup tanpanya hanya akan seperti pergi tidur dan tidak pernah memiliki impian manis lagi.

“Tuhan, kumohon berikan sedikit kelonggaran waktu lagi untuk aku bisa membahagiakannya. Sebelum aku menutup mata dan harus pergi untuk selamanya.”

 

-3 Years Later-

Kulangkahkan kakiku keluar dari bandara Incheon, sudah lama rasanya aku tidak menginjakkan kakiku di Kota Seoul. Tepat 3 tahun yang lalu aku pergi meninggalkan Korea ke Jepang. Terbesit semua kenangan indah saat aku masih bersama Ni Chan. Yeoja itulah yang membuatku masih bertahan hidup sampai sekarang, bertahan dari semua penderitaanku, penderitaan yang sudah lama bersarang ditubuhku. Rasa cintaku padanya benar-benar membuatku harus terus bertahan hidup sampai bisa membahagiakannya.

Syukurlah diusiaku yang kini 24 tahun aku sudah menjadi pengusaha besar di Jepang, aku sengaja banting tulang kesana kemari untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Awalnya aku sampai di Jepang layaknya gembel yang tak punya uang dan tempat tinggal, dari sana aku bekerja di pasar dan membantu mengangkat barang-barang pembeli, terkadang aku juga bekerja sebagai pelayan di rumah makan, aku juga bekerja sebagai kuli panggul dari kapal-kapal besar di dermaga untuk aku bawa langsung ke pasar, rasanya badanku remuk-remuk saat itu. Tapi aku tidak menyerah, aku yang biasa bertemu dengan para awak kapal sesekali mencari kesempatan lain untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi. Aku juga ikut menjual ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dan membuatku mendapatkan sedikit bonus dari sana, aku mulai menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mengumpulkan modal untuk bisnis. Bahkan aku rela hanya makan 1 kali sehari demi ini semua. Aku juga hanya mengenakan pakaian lumuh selama ini, aku tidak mau boros untuk berbelanja pakaian ataupun lainnya. Ya keinginanku untuk membahagiakan Ni Chan di atas segalanya.

Banyak belajar dari bisnis Kim Joon Myun sangatlah membantu hidupku beberapa tahun ini. Semua kerja kerasku itu berbuah hasil, hingga akhirnya aku berhasil menjadi penguasaha ikan tuna yang cukup besar. Semua ini aku lakukan hanya untuk membahagiakan Ni Chanku. Aku ingin membuatnya tersenyum seperti dulu lagi. Aku ingin menebus semua rasa bersalahku padanya. Kini aku sudah cukup kaya, aku pasti bisa membahagiakannya. Hari ini sesampainnya di Seoul aku berniat langsung mendatangi rumah Ni Chan. Sejak kejadian putusnya hubungan kami 6 tahun yang lalu, aku tidak pernah mendatangi rumahnya, aku takut ia malah akan bertambah membenciku.

Kupacu mobilku menuju kediamannya, jantungku berdegup kencang saat ini. Min Ni Chan pasti akan senang melihatku datang dan sudah menjadi orang berhasil, apalagi aku sudah mempunyai mobil sekarang, bukan sepeda tua itu lagi. Min Ni Chan tunggu aku chagi..

Ting.. tooong..

Suara bel rumah Ni Chan saat ku tekan, aku benar-benar gugup, sama gugupnya saat petama kali bertemu dengannya. Untuk mengurangi kegugupanku itu dengan memegang dan menciumi saputangan milik Ni Chan. Sebuah saputangan yang dipakai olehnya untuk membersihkan darah dari hidungku ketika aku mimisan saat pertama kali bertemu. Kenangan itu mucul lagi dan membuatku tersenyum mengingatnya. Kutekan lagi bel itu, namun tidak ada seorang pun yang membukanya, rumah Ni Chan terlihat sangat sepi seperti sudah lama tidak dihuni.

“Yi Xing-ah,” panggil seorang yeoja yang kelihatannya baru datang. Apa itu Min Ni Chan? Aku berbalik badan secepat mungkin, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Kulihat wajah gadis itu samar-samar, ya itu Ni Chanku, eh tunggu dulu itu seperti Park Ri Rin… bukan-bukan itu Ni Chan, tapi kenapa seperti Ri Rin? Aku merasakan pusing yang teramat sangat, aku tidak bisa menatap jelas yeoja dihadapanku itu, perlahan pandanganku mulai samar dan kepalaku sudah sangat berat. Aku terjatuh dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

-Author POV-

“Emm.. Ni Chan.. Ni Chan jangan pergi kumohon…”

“Oppa opaa, Joon Myun oppa cepat kemari Yi Xing sudah siuman. Dia mengiggau tak karuan.”

“Yi Xing bangunlah,” ucap Joon Myun sambil menepuk pelan pipi namja berlesung pipi itu.

“Joon Myun… Park Ri Rin ada apa denganku? Mana Ni Chan? Dimana dia? Apakah dia baik-baik saja?” lirih Yi Xing yang baru terbangun dari pingsannya yang hampir sudah 8 jam lamanya.

“Kau di rumah sakit, tadi kau pingsan di depan rumah Ni Chan. Jangan bilang kau tidak melakukan kemoterapi selama di Jepang?” jawab Joon Myun sambil memegang pundak sahabatnya itu.

“Ah sudahlah itu tidak penting, cepat katakan dimana Ni Chan berada sekarang?”

“Aku tidak tahu oppa,” jawab Ri Rin cepat seakan sadar kalau pertanyaan itu tertuju padanya.

“Jangan berbohong, tolong katakan saja ia dimana?” Yi Xing terus saja bertanya dan bertanya.

Ri Rin menggigit bibir bawahnya ragu. “Dia sudah menikah jadi oppa berhentilah mencarinya.”

DEG

“Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi!” pekik Yi Xing sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit itu.

“Tapi itu yang sebenarnya terjadi, oppa harus bisa berlapang dada atas semua ini, jebal!” balas Ri Rin yang membuat raut muka Yi Xing semakin tak karuan.

“Kau pasti sudah berbohong kan?” tanya Yi Xing lagi dengan nada yang mulai lemah.

“Ti…. Tidak…” balas Ri Rin sedikit gagu.

“Chagi, sebenarnya dimana Min Ni Chan berada? Kau tentunya tahu bukan?” tanya Joon Myun pada Ri Rin.

“Aku tidak tahu chagi, aku sudah mengatakannya tadi bukan.”

“Benarkah? Tatap mataku kalau begitu!” tantang Joon Myun. Park Ri Rin menunduk dan tak berani menatap kekasihnya itu. Hal itu membuat Joon Myun sadar kalau ada yang berbeda pada yeojachingunya.

“Baiklah bila kau tidak mau memberitahu kami, tidak apa-apa chagi.” Terlihat wajah bingung tampak jelas dari Ri Rin, ia hanya menunduk dan sekarang mulai menangis terisak. Joon Myun hanya mencoba menenangkan kekasihnya.

“Oppa sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan.”

“Sudah jangan memaksakan diri bila itu memang berat untukmu, kami akan coba untuk mengerti.”

“Mianhaeyo Yi Xing-oppa, Ni Chan bilang jika suatu hari kau menanyakan tentangnya jawab saja bahwa ia sudah sangat membencimu dan tak mau melihat wajahmu lagi. Ia sudah pergi ke China, ia sudah menikah oppa. Jadi bersabarlah, pasti ini mungkin berat bagimu, tapi ini kenyataan yang harus kau terima siap atau tidak.” Penjelasan dari Ri Rin semakin membuat Yi Xing terkulai lemah di ranjang rumah sakit, sudut matanya sudah tidak sanggup menahan titik air mata yang akan segera tumpah, dan air mata itu dengan seketika bercucuran membasahi pipi Yi Xing. Sungguh dirinya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, banyak hal yang telah terlewatkan hanya untuk memikirkan Ni Chan, karena Yi Xing sadar tak ada yang bisa ia lakukan lagi tanpa Ni Chan disisinya, ia terlalu mencintainya.

-To be Continued-

Advertisements

One thought on “The Last Letter (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s