My Angel’s Smile (Chapter 10)

My Angel's Smile (2)

Title : My Angel’s Smile – Chap 10

Author : D.O.ssy

Cast :

Kim Joonmyun (Suho EXO)

Sawajiri Hana (OC)

Byun Baekhyun (Hana’s best friend)

Shin Minra (Hana’s best friend)

Genre : Angst, Married Life, Romance gagal, Gajelas

Rating : Bukan NC, cuma menjurus aja. Haha..

Length : Chaptered

Warning : Badfict, Typo, OOC, dll

Poster credit : lightlogy @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : FF ini murni hasil imajinasi author, castnya juga milik author #plaaakkk. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para readers atau bias yang dapat peran kurang baik. Sekali lagi, FF ini hanyalah khayalan ngelantur author, OK? So, kritik dan saran readers sangat sangat sangat dibutuhkan. Hehe..

NO PLAGIATORS, NO SIDERS!

Copas boleh asal izin dulu dan cantumin kreditnya.

Previous :

My Angel’s Smile Chapter 1: Who is He?

My Angel’s Smile Chapter 2: His Past

My Angel’s Smile Chapter 3: Please, Understand My Heart!

My Angel’s Smile Chapter 4: Where are You?

My Angel’s Smile Chapter 5: Missing You Like Crazy

My Angel’s Smile Chapter 6: Love is Illogical

My Angel’s Smile Chapter 7: Just a Little Bit of Your Heart

My Angel’s Smile Chapter 8: Let Me Stay by Your Side

My Angel’s Smile Chapter 9: Chance


—Flashback—

—Hana POV—

Joonmyun menghela napas panjang, mencoba mengatur irama hembusannya setelah sebelumnya, lebih tepatnya beberapa menit yang lalu, deru napas itu begitu memburu bagai kekurangan pasokan oksigen di dalam rongga pernapasannya.

“Hana-ya….” lirihnya pelan. Ia terbaring di sampingku, menghadap ke arahku. “Gwaenchana?” lanjutnya menanyai keadaanku saat ini.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Sakit?” tanyanya kembali.

Aku menggeleng. “Sedikit,” bisikku pelan.

“Jaemin, gwaenchana?”

Aku mengerutkan kening. “Jaemin? Siapa?”

“Kim Jaemin, anak kita.” Joonmyun mengusap lembut perutku dengan punggung tangannya, tanpa perantara apapun, karena saat ini memang tidak ada sehelai benang pun yang menutup tubuh kami berdua. “Ia masih disini kan?”

Aku terkekeh pelan. Kim Joonmyun, ia bahkan masih memikirkan keselamatan anaknya. “Nae, Jaemin masih disini, ia baik-baik saja,” jawabku malu-malu.

“Syukurlah….”

Hening.

Joonmyun memejamkan matanya, mungkin ia sedikit lelah. Rambutnya agak berantakan. Wajahnya basah karena peluh. Namun itu semua tidak sedikitpun menghalangi garis ketampanan yang dimiliki Joonmyun sejak lahir, justru semakin menambahnya berkali-kali lipat membuatku tak bosan-bosannya memandangi Joonmyun penuh takjub.

“Hana-ya..” Ia kembali bersuara, masih dengan mata tertutup. Mengintrupsi fokus pikiranku yang tengah sibuk mengamati Mahakarya Tuhan di hadapanku.

“Heum?”

“Tidurlah…. Istriku…”

Satu hal yang aku yakini sejak pertama kali aku melihat Joonmyun. Bahwa sikapnya yang kasar, tak acuh, tidak punya perasaan dan keras, bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Dan memang benar sampai saat ini pun sikapnya itu tidak bisa menutupi sifat aslinya. Aku percaya ia memiliki pribadi yang hangat dan penuh kelembutan. Hanya saja keadaan yang memaksanya memendam semuanya, hingga semua orang salah menilainya.

Namun perasaan teramat hangat yang mengalir di hatiku kala mendengarnya memanggil namaku selembut itu, adalah buktinya.

—Flashback End—

Untuk sesaat aku meragukan indera penglihatku, tapi semuanya tak terbantahkan. Dan saat aku bersikeras meneguhkan hatiku, bahwa aku jauh lebih memercayai Joonmyun dibandingkan sepotong adegan menjijikkan yang kulihat barusan, namun kenyataan yang terpampang jelas di hadapanku itu semakin menamparku keras-keras.

Setelah semuanya berlalu, setelah semua yang dihadapi dan terlewati, bahkan hingga kemarin malam pun, aku percaya kami akan baik-baik saja. Tapi kenapa semua keyakinan itu seolah menguap begitu saja hanya dalam waktu tak sampai dua hari?

Aku mengusap kasar air mataku yang meluncur bak roket di kedua pipiku.

Tidak. Itu bukan Joonmyun. Ia sedang sibuk bekerja part time. Aku seharusnya berada di rumahnya, menunggunya pulang. Ya, aku tidak seharusnya berkeliaran di tempat laknat ini, aku harus kembali.

Aku harus kembali.

Aku harus….

….kembali.

BRUKKK….

Aku ambruk ke tanah. Persendianku seolah lumpuh. Kedua kakiku bagai tak memiliki kekuatan apapun untuk menopang tubuhku. Aku membuka mulutku mencoba mengais oksigen yang saat ini sulit kuhirup.

Sesak…

Sangat…

Aku terus menepuk-nepuk dadaku, berharap rasa perih yang menjalar disana kian membaik. Namun itu malah memperparah keadaan. Luka di hatiku justru semakin menganga lebar.

Oh Tuhan hukuman apa ini? Apa kesalahan terbesar dalam hidupku hingga Kau memberi teguran seperti ini? Tak cukupkah aku menderita bahkan untuk mendapatkan secuil kebahagiaan saja? Bukankah Kim Joonmyun Kau takdirkan untuk menjadi pendampingku meski hanya sebentar saja? Bukankah Kim Joonmyun Kau ciptakan untuk menjadi tempat terakhir hatiku berlabuh? Bukankah Kim Joonmyun Kau datangkan padaku untuk membangun kembali masa depan yang telah Engkau gariskan? Atau salahkah aku terlalu memimpikan kehidupan bahagia bersamanya? Salahkah aku mencintainya? Salahkah aku berharap padanya? Salahkah aku memercayainya?

My Angel’s Smile Chapter 10 – Kiss Me and Love Me

—Author POV—

Minra berkali-kali menghela napas panjang, berusaha menghilangkan tegang. Ia berdiri bersandar pada tembok pembatas antara ruang tengah dengan kamarnya. Digenggamnya kotak kado berisikan sebuah syal yang ia rajut sendiri dengan susah payah. Ia bermaksud memberikannya pada sang tercinta sekaligus sahabat sejak kecilnya, Byun Baekhyun yang kini ada di ruang tengahnya, menghabiskan waktu sore hingga malam di rumahnya seperti biasa.

Sebentar lagi musim dingin akan tiba. Alangkah senangnya jika Baekhyun menggunakan syal rajutannya. Sudah lama Minra menunggu saat yang tepat seperti ini. Saat untuk memberikan hadiah ini sekaligus menyatakan perasaannya.

Dengan langkah ragu, Minra mendekati Baekhyun yang tengah duduk di karpet dan bersandar pada sofa, mendengarkan musik sambil membaca sebuah buku. Yeoja itu menyembunyikan kotak kado itu di belakang punggungnya, kemudian duduk di samping Baekhyun yang masih asyik berkutat dengan kegiatannya.

“Byun Baekhyun…..” panggilnya canggung.
“Hm?” jawab Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya.

Rasanya tidak enak sekali mengajak bicara orang yang tidak memperhatikan. “Baekhyun-ah dengarkan aku.”

“Aku mendengarmu.” Namja itu masih saja sibuk dengan bacaannya.

Minra mencari cara agar Baekhyun mendengarkannya dengan baik. Ia melepas headset yang dipakai namja itu. “Ada hal yang ingin kubicarakan.”
Merasa terganggu, Baekhyun menarik napas panjang dan akhirnya menutup bukunya. “Hal apa?”

Kegugupan kembali menyergap Minra. Bahkan bertambah ratusan kali lipat kala Baekhyun sudah memfokuskan atensinya pada yeoja itu. Keringat dingin mendesir di pelipis Minra. Tidak pernah dalam hidupnya ia bagai patah lidah seperti ini berbicara dengan Baekhyun. “Itu… anu…” ucapnya terbata-bata.

“Cepatlah!” ucap Baekhyun tidak sabaran. Dan Minra tahu Baekhyun memang paling benci diganggu jika sedang asyik melakukan sesuatu.

Minra menggigit bibir bawahnya, berusaha mengontrol degup jantungnya. “Baekhyun-ah, eumm…..“

“Ya?”

Kepala Minra terasa berdengung. Haruskah ia katakan sekarang? Ragu-ragu. Takut. Gugup. Tegang. Canggung. Semua perasaan itu bercampur aduk. “Ah… Kau sedang membaca buku apa? Kenapa sampulnya dibungkus kertas?” Minra menyerah. Rupanya perasaan kalutnya lebih mendominasi. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan dan menyambar buku tebal yang Baekhyun pegang.

“HEI KEMBALIKAN!” seru namja itu.

Minra tersentak, tak biasanya Baekhyun memberikan respon seperti ini hanya karena ia mengambil bukunya. Lagi pula sejak kapan Baekhyun jadi gemar membaca buku selain komik narutonya? Pasti ada yang tidak beres. “Wae Baekhyun-ah? Mencurigakan sekali,” tanya Minra penuh selidik, sedikit mengejek dan mulai meneliti buku misterius yang tadi dibaca Baekhyun. Sementara namja itu mati-matian merebut kembali miliknya.

“KEMBALIKAN MINRA-YA!” Wajah Baekhyun berubah merah. Dan itu justru membuat Minra semakin bersemangat mengerjainya. Ia sembunyikan buku itu di belakang punggungnya. “Shin Minra!” Baekhyun frustasi.

BRUKKK….

“Aisshh…” keluh Minra setelah belakang kepalanya terantuk ke lantai. Baekhyun mendorong tubuh kecil yeoja itu.

Memangnya serahasia apa buku ini hingga namja itu mendorong Minra kasar? Untung benturannya dengan lantai tidak terlalu keras hingga bisa membuatnya gegar otak, tapi tetap saja ini menyakitkan, rutuk Minra dalam hati dengan mata setengah terpejam menahan sakit.

DEG

Sekejap rasa sakit di tubuh Minra kabur begitu saja, digantikan dengan perasaan tegang luar biasa seperempat detik setelah ia membuka mata. Tubuhnya seolah membeku. Matanya melotot saking terkejutnya. Bahkan detak jantung yang bekerja dua kali lipat memompa darah ke wajahnya, dapat ia dengar sendiri. Siapa lagi yang menyebabkan itu semua selain Baekhyun?

Namja yang di klaim Minra sebagai sahabatnya sejak kecil itu kini berada di atas tubuhnya! Awalnya Baekhyun hanya ingin merebut bukunya dari Minra, namun ia justru lupa akan maksudnya tatkala netranya tak sengaja menangkap wajah Minra yang berada persis beberapa centimeter di dekat wajahnya. Dan sialnya, yeoja itu terlihat begitu manis saat ini. Rona merah yang mulai menjalar di kedua pipi pualam Minra, juga bibirnya yang dipoles dengan sedikit lipstick, menambah poin kegugupan Baekhyun. Ya, sekarang Baekhyun lah yang menjadi gugup. Tidak biasanya Minra berdandan seperti ini. Dan itu sukses membuat Baekhyun menelan salivanya perlahan.

Mata Baekhyun dan Minra bertemu dalam satu garis lurus, namun masing-masing dari mereka tidak bisa menebak sorot mata yang diberikan lawannya. Pada akhirnya Baekhyun memulai, ia tidak kuasa menahannya lagi. Masih dalam posisi tubuhnya yang berada di atas Minra, ia mencium yeoja itu. Memberikan lumatan pelan di bibir manisnya.

Reaksi Minra? Tentu saja ia tersentak kaget akan perlakuan Baekhyun, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia menyukainya. Ia senang bukan kepalang. Memberikan secercah harapan pada yeoja itu jikalau Baekhyun pun memiliki perasaan yang sama sepertinya. Tanpa ragu Minra membalas ciuman lembut itu yang sebenarnya Baekhyun pun tidak menyangka Minra akan meresponnya. Dan itu membawa mereka berdua ke dalam pagutan yang semakin dalam.

“B…Baek…Hyun…ah,” rintih Minra mendorong pelan tubuh Baekhyun, mencoba mengakhiri ciuman mereka. Menyisakan deru napas yang tak teratur dari keduanya, terlebih Minra yang tersengal akibat ciuman Baekhyun yang terlalu menuntut. Ditambah tubuhnya yang tertindih tumbuh namja itu membuatnya sedikit sesak napas.

Mereka berdua bangkit dan terduduk di karpet. Mencoba mengendalikan perasaan masing-masing. Minra dapat dengan jelas menyaksikan ekspresi salah tingkah Baekhyun. Namja itu menggaruk tengkuknya, kemudian menggigit jarinya, wajahnya terlihat sangat panik, tak tahu penjelasan apa yang mesti ia katakan pada Minra karena ulahnya tadi. “Minra-ya, itu… Aku… Tidak bermaksud… Itu… tadi wajahmu dekat sekali, dan aku melihat bibirmu yang merah itu. Jadi aku…..” Baekhyun gelagapan dan malah membuat Minra tersenyum lebar. Lebih sial lagi, senyuman itu membuat Baekhyun semakin salah tingkah.

Minra memandang ini sebagai kesempatan untuknya menyatakan perasaan. “Byun Baekhyun, sebenarnya aku—-“

“Shin Minra… Kau jangan salah paham. Tadi itu mungkin karena aku masih terpengaruh novel romance yang kubaca. Aku tidak bermaksud apa-apa,” potong Baekhyun memberikan alibi.

“Novel romance?” Minra menyatukan alisnya. “Jadi yang kau baca tadi novel romance?”

Baekhyun mengangguk. “Aku membaca itu karena penasaran Minra-ya. Aku ingin tahu bagaimana cara menyatakan perasaan pada yeoja dengan romantis.”

Mendengar itu Minra sekuat tenaga menyembunyikan seyum senangnya. Padahal tak perlu menyatakan perasaan dengan cara yang romantis pun, Minra sudah pasti akan menerimanya. “Perasaan pada yeoja?” tanya Minra pura-pura tidak tahu, dengan maksud untuk memancing Baekhyun.

Kembali Baekhyun mengangguk. “Aku penasaran apakah waktu aku menyatakan perasaanku pada Hana dulu kurang romantis, hingga aku ditolak seperti itu? Lalu dengan kejamnya Hana malah punya kekasih lain.”

DEG

Senyum yang sejak tadi disembunyikan Minra urung ia tampakkan. Memudar begitu saja. Ia telah salah sangka. Hana. Hana. Di pikiran Baekhyun hanya ada Hana. Tak adakah ruang untuknya masuk ke hati Baekhyun bahkan setelah kejadian barusan?

Byun Baekhyun, you break my heart into pieces.

Minra menunduk. Menahan bulir bening yang mulai mendesak matanya.

Drrrtttt… Drrttttt…

Baekhyun bangkit lalu mengambil ponselnya di atas meja, lantas mengangkat telepon. “HEI! APA YANG KAU LAKUKAN SEDARI TADI BODOH? KENAPA KAU TIDAK MENGANGKAT TELEPONNYA! CEPATLAH KEMARI, HANA DALAM BAHAYA!”

Cklekkkk… Tuuuttt… Tuuttt…

Baekhyun tergemap. Belum sempat mengatakan apapun ia langsung diteriaki oleh seseorang dari seberang telepon.

“Ada apa Baekhyun-ah? Kau mau kemana?” tanya Minra setelah berhasil menenangkan dirinya dan mendapati Baekhyun yang terburu-buru menyambar jaket dan kunci mobilnya.

“Hana…” jawab Baekhyun sekenanya sambil berlari menuju pintu. “Aku pinjam mobilmu.”

BLAM

Minra tersenyum pilu. Air mata yang ia tahan akhirnya lolos dari pelupuknya setelah ia mendengar suara bantingan pintu dan mobil yang keluar dari garasi. “Baekhyun-ah, lihatlah aku…” lirihnya seorang diri, melirik kado berisi syal yang tergeletak di dekat sofa tanpa sempat ia berikan pada Baekhyun.

*

Baekhyun mengutuk dirinya dalam hati. Pikirannya semrawut. Konsentrasinya terbang entah kemana saat ia mengendarai mobil Minra menuju ke lokasi yang stalker itu tunjukkan untuk menemui Hana. Baekhyun mengacak rambutnya frustasi.

Apa yang tadi ia lakukan pada Minra? Sungguh jika ditanya pun Baekhyun tidak tahu kenapa ia bisa sampai melakukan itu pada sahabatnya. Dan juga, seheboh apa ia mencium Minra hingga tak menyadari bahwa banyak pesan dan panggilan masuk ke ponselnya, yang tak lain kesemuanya adalah dari si stalker?

Kalau boleh dibilang, Baekhyun sebenarnya lebih mencemaskan Minra sekarang. Ia takut Minra akan marah padanya karena kejadian itu. Ia takut Minra akan menjauhinya dan menilainya sebagai namja yang suka mencari kesempatan. Ia takut persahabatannya dengan Minra akan rusak. Tapi kenapa justru Baekhyun pergi bagitu saja tanpa meminta maaf?

*

Baekhyun terperanjat luar biasa. Ia berdiri mematung layaknya orang bodoh ketika menjejaki tempat dimana Hana berada di daerah Apgujeong. Ia mendapati beberapa orang berkelahi hebat di sebuah jalan sempit yang sepi dan gelap. Seorang pemuda melawan 3 orang preman. Baekhyun memicingkan matanya, berusaha memastikan siapa pemuda itu, namun usahanya sia-sia karena—

“HEI APA YANG KAU LAKUKAN DISANA? BAWA HANA PERGI DARI SINI! AKU SEDANG SIBUK!”

—pemuda itu lebih dulu membentaknya, memerintahkan Baekhyun agar segera membawa Hana pergi sementara ia sibuk melawan para preman itu. Baekhyun tidak dapat dengan jelas melihat sosok si pemuda karena suasana temaram menghalangi pandangannya. Tapi Baekhyun seakan mengenal suaranya….. Bukankah dia—

“CEPAT!” bentak pemuda itu sekali lagi menyadarkan Baekhyun. Segera, namja itu berlari mendekati Hana yang terduduk di sisi jalan dalam keadaan mengenaskan. Rambutnya berantakan. Matanya sembap. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Tubuhnya gemetaran. Dan… pakaiannya… sobek seperti ditarik paksa. Dengan sigap Baekhyun menanggalkan jaketnya lalu menyelubungi tubuh yeoja itu lantas merangkulnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.

“Ya Tuhan, Hana-chan, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau ada disitu? Dan siapa orang yang menyelamatkanmu itu?”

Hana hanya menggeleng pelan, mata sayunya menatap ke depan menyusuri jalanan, namun pandangannya kosong. Tak ada apapun di sana. Baekhyun sadar ini bukan saatnya untuk mengajak Hana bicara.

“Aku akan membawamu pulang.” Satu tangan Baekhyun mengusap surai hitam Hana, berusaha menyalurkan kehangatan. Mencoba menenangkan yeoja itu.

“Jangan,” jawab Hana, suaranya yang parau terdengar memilukan di telinga Baekhyun. “Aku tidak ingin pulang Baekhyun-ah.”

“Ini sudah malam, Hana-chan. Kemana kau akan pergi?”

“Kemana saja, bawa aku kemana saja Baekhyun-ah. Asal jangan ke rumah.”

*

Ting… Tong…

“Minra-ya cepat buka pintunya!” panggil Baekhyun setengah berteriak di depan pintu rumah Minra dengan tidak sabaran. Ia tahu ini memang saat yang kurang pas jika ia kembali menemui Minra mengingat ketegangan yang terjadi di antara mereka beberapa jam yang lalu, tapi ini bukan perkara dirinya, melainkan Hana. Tidak mudah untuk mencari tempat yang tepat untuk Hana, selain rumah Minra.

“Ya Tuhan, Hana-chan apa yang terjadi padamu?” sambar Minra tercengang sesaat setelah ia bukakan pintu. Minra peluk Hana dengan erat, merasa sangat khawatir akan keadaan sahabatnya itu. Hana tidak menjawab apa-apa. Tidak merespon sedikit pun.

Minra melirik Baekhyun penuh tanya, masih bingung dengan apa yang terjadi pada Hana. Namja itu tidak menjawab, namun Minra langsung mengerti akan keadaan. “Sebaiknya kau istirahat, nae?” Minra mengantar Hana menuju kamarnya. Baekhyun takjub bahkan tanpa sepatah kata pun Minra tahu apa yang dimaksudkan Baekhyun padanya bahwa Hana butuh istirahat.

Setelah membiarkan Hana berbaring di ranjangnya, Minra kembali ke ruang tengah menemui Baekhyun. “Baekhyun-ah, sebenarnya apa yang terjadi pada Hana?” Minra mengguncang-guncang pundak Baekhyun. Panik luar biasa.

“Aku tidak tahu Minra-ya. Aku menemukannya di daerah Apgujeong. Diganggu oleh para preman.”

“Ya Tuhan…”

“Tapi untunglah ada seseorang yang menyelamatkannya. Ia hanya masih shock. Biarkan ia beristirahat.”

“Nae.”

“Mianhae, merepotkanmu.” Baekhyun menunduk, tak berani menatap Minra.

“Gwaenchana. Hana kan sahabatku juga, bukan hanya milikmu. Sekarang pulanglah. Kau pasti lelah. Besok kita masuk kelas pagi. Jadi jangan sampai kurang istirahat. Minum vitaminmu nae?” tutur Minra sambil menutup resleting jaket Baekhyun yang terbuka. Kedua sudut bibir tipis Baekhyun terangkat. Itulah Minra, yeoja paling perhatian yang pernah Baekhyun kenal. Terbesit di pikiran Baekhyun bahwa betapa beruntungnya ia memiliki sahabat sejak kecil seperti Minra yang selalu pengertian padanya tidak peduli seberapa menyebalkannya dirinya. Seperti saat ini pun, Minra tidak marah atas kejadian 3 jam yang lalu, membuat Baekhyun lega bukan main.

“Sebenarnya besok tugas pelajaran fisika dikumpulkan, aku tahu kau belum mengerjakannya. Tadinya aku tidak akan meminjamimu bukuku, tapi aku tidak tega melihatmu dihukum lari keliling lapangan jika tidak mengumpulkannya. Ditambah lagi kau sangat capek hari ini. Kau pasti akan terlihat sangat menyedihkan. Bisa-bisa besok aku menemukanmu di ruang kesehatan. Jadi—”

GREP

Celotehan panjang Minra terputus kala Baekhyun memeluknya erat. “Minra-ya mianhae,” bisik namja itu persis di telinga Minra.

Minra mengerjapkan matanya, terkejut akan perlakuan tiba-tiba Baekhyun. “Eung… Untuk apa?” tanya Minra sedikit menggeliat geli karena napas hangat Baekhyun tepat mengenai lehernya yang agak sensitif.

“Karena telah mencuri ciuman pertamamu. Sungguh, aku tidak sengaja. Salahmu sendiri berdandan manis begitu.”

Dapat Baekhyun rasakan Minra terkekeh dalam dekapannya. “Huh… Kau harus membayar semua kerugian yang aku alami Byun Baekhyun!”

“Kerugian? Hei, itu juga ciuman pertamaku. Aku juga mengalami kerugian!” Baekhyun tidak terima.

“Kalau begitu aku tidak akan memaafkanmu.”

“Aishhh… Baiklah yeoja pendek, dengan apa aku membayarnya?”

“Membelikanku cokelat setiap hari.”

“Aihhh… Kalau kau jadi gendut, aku tidak mau lagi menjadi temanmu.”

“Kau yakin tidak mau berteman denganku lagi?”

Baekhyun terbatuk. Skakmat. “Oke oke. Baiklah, tapi kau janji memaafkanku kan? Kau tidak mencapku sebagai namja mesum kan?”

Kali ini Minra tertawa. “Nae, nae… Kau bukan namja mesum Baekhyun-ah.”

 

Tapi kau adalah namja yang tidak peka, keluh Minra dalam hati.

Mungkin Minra harus menyimpan rahasianya agar Baekhyun membelikannya cokelat setiap hari, bahwa sesungguhnya ciuman pertama mereka bukanlah hari ini melainkan satu tahun yang lalu ketika Minra diam-diam mencuri ciuman Baekhyun yang sedang terlelap di sofa rumahnya saat mereka berdua sedang menonton film bersama di rumah Minra dan Baekhyun ketiduran.

Slow down, Shin Minra. Semuanya akan indah pada waktunya.

—To be Continued—

 

 

 

Maaf kalo chapter ini tidak sesuai dengan yang readers harapkan. Karena memang disini lebih difokuskan sama cerita Baekhyun dan Minra. Next chapter udah mulai ke konflik Joonmyun – Hana lagi kok.

Advertisements

4 thoughts on “My Angel’s Smile (Chapter 10)

  1. akhirnya keteme juga nih blog.. selama nih nunggu kelanjutan di fanpage exo fanfiction di facebook tapi ga dilanjutin lanjutin
    cepat update lg donk chingu 😦

    Like

  2. akhirnya ketemu juga sama nih blog.. chingu aku selalu nunggu ff nih di fanpage exo fanfiction tapi ga di update2.. please update cepetan 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s