Love in Full Moon (Oneshoot)

Love in Full Moon

.

Love in Full Moon

Presented by D.O.ssy

Cast Wu Yifan (Kris), Park Shera (OC) | Genre School life, Romance, Fantasy | Rating PG-15 | Length One Shoot | Warning Typo(s), Alur kecepetan, Badfict, dll

Poster Credit Babyglam @ Indo Fanfictions Arts

 

Cerita di FF ini diambil dari komik Jepang, Love Beat karya Morie Mako dengan sub judul yang sama, Love in Full Moon. Bagi yang belum baca, saya bikin versi FF nya. Hehehe. Mudah-mudahan suka, ya.

.

Whatever you are, I love you.

.

Malam itu, pukul 22.30 lebih tepatnya, kala bulan menampakkan wujud penuhnya, di dekat taman kota yang telah sepi dari pengunjung, aku menangis sendirian. Merintih tanpa suara. Sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan barang sedikit pun melainkan para hewan kecil dan serangga malam yang tertangkap indera pendengarku.

 

Sakit.

 

Aku mengamati luka robekan di kakiku yang cukup besar. Sungguh, aku hanya iseng saja berjalan-jalan lebih jauh dari biasanya. Ke kota, tempat para manusia tinggal. Aku menginjak sesuatu yang sangat tajam, benda apa ya namanya? Menyerupai potongan tipis dan bening yang dapat melukaimu. Lupakan apa namanya, yang jelas ini menyakitkan dan aku tidak bisa berjalan pulang dengan hanya menggunakan tiga kaki.

 

Adakah seseorang yang dapat menolongku?

 

 

SREK

 

Tiba-tiba aku mendapati bunyi lain disertai bayangan sesosok besar mendekat ke arahku. Aku panik bukan main, aku ingin berlari dan bersembunyi, namun rasa perih di kakiku jauh lebih mendominasi.

 

“Kau terluka, ya?”

 

DEG

 

Aku mendengarnya. Suara berat itu. Sangat lembut menyapa gendang telingaku. Ia menghampiriku. Figur lelaki bertubuh tinggi, berambut cokelat, berwajah tegas, bermata tajam, berhidung mancung dan berkulit putih. Aku dapat melihatnya, sangat jelas, meskipun hanya dengan mengandalkan penerangan temaram sinar rembulan.

 

“Nah, sudah selesai,” ucapnya seiring dengan senyum yang terkembang di bibir tebalnya. Laki-laki itu mengobati kakiku dan membalutnya dengan sapu tangan miliknya. “Istirahat lah sebentar. Setelahnya kau pasti bisa berjalan lagi.”

 

Ia menaruh tangannya di puncak kepalaku, mengusap halus surai cokelat keemasanku, menciptakan rasa teramat hangat mengaliri tubuhku. Tak lama, ia beranjak pergi, meninggalkanku dengan berjuta kupu-kupu yang hinggap di hatiku.

 

 

Rembulan, perasaan apa ini?

 

 

Sang bulan menjawab. Ia meredupkan sinarnya tatkala awan-awan hitam memotong pancarannya. Membuat diriku berubah tanpa bisa kucegah. Bulu-bulu di sekujur tubuhku dan ekorku menghilang. Jariku memanjang. Rambut di kepalaku terurai. Badanku membesar. Aku berdiri tegap dengan dua kaki. Aku kini menyerupai sesosok berjenis sama dengan seseorang yang menolongku tadi. Manusia.

 

 

Jadi, inikah jawabannya, bulan?

 

 

—***—

 

 

Namaku Park Shera. 16 tahun. Aku adalah manusia serigala yang hidup di gunung agak jauh dari kota, namun tak lagi. Sebab sekarang aku dan keluargaku meninggalkan tempat tinggal kami. Aku memaksa ayah dan ibu menuruti kemauanku berbaur dengan manusia. Tinggal di kota. Untuk mencari dia, sang malaikat penolongku.

 

Tapi tentu dengan satu syarat, aku harus menyembunyikan identitasku.

 

“Kalian kedatangan murid baru yang pidah dari luar kota.” Nam seonsaeng, sang wali kelas menoleh ke arahku. “Nah, perkenalkan dirimu.”

 

“Hai, namaku Park Shera. Hobiku bermain bola dan melatih penciumanku di bawah sinar rembulan. Salam kenal semua,” tuturku mengundang gelak tawa teman-teman kelasku di sekolah baruku ini. Aku mengedarkan pandangan. Meneliti setiap wajah mereka, tentu saja untuk menemukan dia.

 

Netraku berhenti ketika akhirnya kudapatkan sosok itu. Pria yang duduk di deretan belakang dekat dengan birai jendela, penglihatannya menerawang keluar dengan dagu yang bertopang pada telapak tangannya. Tanpa pikir panjang, aku menyerbu ke arahnya. “KYAAAAA …. AKU MERINDUKANMU!!!!” sergapku.

 

Pria itu menatapku horror. Sorotan matanya mengisyaratkan sekelumit perasaan heran bercampur marah karena aku dengan tiba-tiba memeluknya erat-erat. “HEI APA-APAAN KAMU! JANGAN SEMBARANGAN YA! KAU INI BERAT TAHU!” sentaknya sembari mendorong tubuhku.

 

“Kris Wu, jangan kasar pada murid baru,” tegur seonsaeng. Mencoba melerai.

 

“Jadi namamu Kris Wu? Wah, nama yang indah sekali, sangat cocok dengan hatimu yang lembut!” seruku sumringah tanpa mengacuhkan sayup-sayup suara yang mulai riuh terdengar memenuhi ruangan―

 

“Apanya yang berhati lembut? Kris itu siswa paling kasar sesekolah.”

 

“Sulit dipercaya.”

 

“Gadis itu mengajak Kris bicara?”

 

––dan bisikan-bisikan lainnya juga pandangan aneh mereka, termasuk tatapan geram seorang gadis yang duduk di pojok ruangan.

 

 

Kris Wu, setelah berminggu-minggu mencari, akhirnya aku menemukanmu!

 

 

**

 

“Kris!” Aku berlari riang menuju salah satu pohon rindang di taman belakang sekolah, tempat dimana Kris menghabiskan waktunya di jam istrirahat ini. Aku bisa langsung menemukannya dengan mudah, tentu saja. Jangan ragukan indera penciuman seekor serigala. “Ayo, makan siang bersamaku!” ajakku.

 

Kris diam saja. Tidak menerima, tidak pula menolak. Dan kelihatannya ia pun tak terlalu menghiraukan kehadiranku. Tidak ada senyum merekah seperti yang ia tujukan padaku waktu itu, namun itu tidak masalah. Dengan senang hati aku mulai membuka bekal makananku, dan menyantap daging panggang setengah matang yang dimasakkan ibuku.

 

“Kau tidak takut padaku?” tanya Kris tiba-tiba memecah hening. “Dan kenapa kau mengatakan bahwa aku berhati lembut? Padahal semua orang menjauhiku karena aku adalah siswa kasar dan suka berbuat onar. Tapi aku tidak peduli. Aku lebih senang menyendiri. Kau sebaiknya jangan dekat-dekat denganku sebelum kau jadi bahan omongan semua murid.”

 

Mendengarnya, aku hanya bisa menyembunyikan senyumku. “Kau memang kasar, Kris. Tapi kalau tersenyum lembut sekali.”

 

Ia membulatkan matanya, memperlihatkan bola mata hazel yang begitu indah terbiaskan cahaya matahari. “Dasar gadis aneh. Hari ini pun kau bilang merindukanku. Memangnya kapan kita pernah bertemu?”

 

Kali ini aku menahan tawaku. “Rahasia.”

 

—***—

 

Pelajaran pertama di pagi ini adalah pelajaran olahraga. Dengan semangat, kuregangkan otot-ototku. Kudengar Kris jago berolahraga. Aku sungguh tidak sabar menanti penampilannya!

 

“Hai boleh aku memanggilmu Shera? Aku Seulgi,” sapa seorang gadis jangkung berambut panjang ketika aku tengah mengumpulkan bola-bola tenis yang berhamburan. “Aku kaget, baru kali ini ada murid baru di sekolah kami,” lanjutnya.

 

“Ya, boleh. Salam kenal Seulgi,” jawabku, mencoba bersahabat dengan manusia ini.

 

“Kulihat kau mendekati Kris, ya? Sebaiknya kau berhati-hati. Banyak gosip miring tentang dia.”

 

Aku tersenyum simpul, meletakkan keranjang bola di depanku. “Dibandingkan gosip, aku lebih percaya pada perasaanku sendiri,” tukasku menepis kecemasan teman baruku.

 

 

“Ada apa Kris?”

 

Sontak kepalaku menoleh ke asal suara dari lapangan sebelah sepersekian detik selepas kudengar Kim seonsaeng yang menyebut-nyebut nama Kris.

 

“Tidak apa-apa, saem. Mukaku hanya tergores terkena raket tadi.”

 

Oh, tidak. Kris-ku ….

 

Secepat angin aku berlari menghampirinya. “Kris, kau terluka?”

 

“Hanya luka kecil kok.” Kris memandangku penuh tanda tanya saat aku sekonyong-konyong mendatanginya, menangkupkan kedua tanganku di wajahnya, menariknya, lalu …

 

 

Menjilat luka di pipinya!

 

 

“AAAA! APA YANG KAU LAKUKAN? HENTIKAN!” pekik Kris panik, berusaha menjauhkan wajahku dari wajahnya.

 

Kuperhatikan teman-temanku yang lain sama shock-nya seperti Kris. Mereka tidak tahu saja bahwasanya air liur serigala itu obat yang paling mujarab untuk luka.

 

“Wah, wajah Kris memerah.”

 

“Apa dia malu?”

 

“Shera menjilat pipi Kris? Apa-apaan dia?”

 

Begitulah mereka berkomentar. Aku tak peduli. Yang lebih penting sekarang aku bisa mendapati Kris-ku yang sudah agak baikan. Tapi mungkin akibat ketidak-acuhanku ini, aku tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seorang gadis yang memerhatikanku tak suka. Ia meremukkan kuat bola tenis di genggamannya menahan emosi, lantas mengayunkan raketnya, melontarkan bola tenis itu kepadaku dari arah belakang dengan keras.

 

Untunglah telinga sensitifku dapat menangkap bunyinya, sehingga kepalaku berputar tepat pada waktunya dan ….

 

 

HAP!

 

 

Lapangan tenis mendadak senyap. Semua teman bahkan guru-guru berdiri mematung menatapku dengan mata membelalak dan mulut menganga lebar saking tak percaya atas apa yang meraka lihat barusan.

 

Sejemang kemudian, meledaklah tawa mereka semua.

 

“Bo-bola tenisnya ditangkap pakai mulut?”

 

“Buseet.”

 

“Sakti sekali.”

 

“Shera, orangnya lucu. Seperti anjing.”

 

“Gigimu tak apa-apa, Shera-ya?”

 

Aku hanya menunjukkan cengiranku, memperlihatkan pada teman-teman bahwa gigiku sehat-sehat saja. Ada yang lebih menarik atensiku dibandingkan mencari tahu siapa pelakunya.

 

 

Kris.

 

 

Ia tertawa!

 

 

Untuk pertama kalinya semenjak aku tinggal bersama manusia, akhirnya kusaksikan Kris tertawa begitu lepas. Demi bulan yang selalu menjagaku tiap malam, aku senang. Senang sekali! Duh, rasanya ekorku mau muncul sekarang juga.

 

**

 

“Hei! Aku ingin berbicara denganmu!” Kudengar ajakan tak ramah dari seorang gadis saat pelajaran olahraga baru saja selesai. Ia membawaku ke koridor yang cukup sepi untuk membicarakan hal yang penting dan privasi.

 

“Kau teman sekelasku, kan?” tanyaku padanya membuka pembicaraan.

 

“Benar. Aku Kwon Eun Joo teman sekelasmu.” Ia memutar bola matanya sinis, kemudian mengacungkan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajahku. “Kuperingatkan kau, jangan sekali-kali mendekati Kris lagi atau kau akan menerima akibatnya!”

 

“APA?” Aku terkejut luar biasa.

 

“Selama ini aku sudah bersusah payah menyebarkan gosip buruk tentang dia, agar tidak ada seorang pun gadis yang mendekatinya!”

 

Aku kembali tercengang. “Mengapa kau berbuat sepicik itu?!” tanyaku tak terima.

 

“Di saat semua orang menjauhi Kris, hanya aku lah yang selalu menemaninya. Dengan begitu, aku bisa jadian dengannya dan kami berdua pun pasti akan jadi pasangan serasi.” Eun Joo mengeluarkan seringai yang sangat memuakkan. “Jadi, jangan halangi rencanaku, gadis liar!”

 

Rahangku mengeras. Aku mengepal kuat-kuat jemariku hingga kuku yang cukup tajam mengoyak telapak tanganku. “Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Lihat saja nanti!” Aku balik menatapnya tajam.

 

Tak akan kubiarkan gadis ini menyakitimu, Kris Wu!

 

**

 

Aku menghentak-hentakkan kakiku kasar seraya melempar asal tasku ke atas tempat tidur sepulangku dari sekolah. Aku jengkel bukan kepalang. Bagaimana tidak, gadis yang mengaku bernama Eun Joo itu sungguh menyebalkan. Hanya untuk mendapatkan perhatian dari Kris, ia sampai menyiar-nyiarkan fitnah kejam yang membuat Kris tidak memiliki teman. Gadis macam apa dia? Rasanya aku ingin menjambak rambut hitam baunya, atau mengingit pahanya, atau menarik lidahnya, atau mencakar-cakar wajah buruk rupanya––sebenarnya dia sangat cantik, tapi percayalah sikapnya itu membuatnya menjadi gadis terjelek yang pernah kutemui, bahkan lebih jelek dari nenek sihir di film snow white yang baru kutonton kemarin. Uggghhh … aku kesal sekali! Dan entah mengapa udara di sini terasa sangat panas!

 

Kubuka lebar-lebar pintu kamarku yang menghadap ke arah balkon, membebaskan angin sore yang berdesakkan masuk ke dalam, dengan harapan bisa sedikitnya memadamkan api emosi di hatiku. Sang surya kembali ke peraduan digantikan dengan bulan penuh yang menyinari petang. Sepertinya memang rembulan lah yang paling mengerti diriku, bukankah selagi dongkol begini paling asyik bermandikan sinarnya? Aku memejamkan mataku rapat, membiarkan tubuhku seluruhnya tenggelam dalam lajur cahaya yang dikirim Sang Kuasa melalui candra malam, merubah rupaku sepenuhnya menjadi hewan.

 

“SHERA, KENAPA KAU BERUBAH WUJUD DI BALKON?” Teriak kedua orangtuaku selepas kujejakkan kembali kakiku masuk ke dalam. Seperti yang kukira, mereka kaget luar biasa. “BAGAIMANA KALAU ADA YANG MELIHATMU?”

 

“Ma-maafkan aku …” sesalku.

 

“Kau harus berhati-hati, Shera-ya. Kalau sampai identitasmu diketahui oleh manusia, kita semua harus kembali ke gunung.”

 

“Iya … iyaaa ….”

 

Mungkin aku terlalu ceroboh, mungkin aku terlalu terbawa nafsu dan amarah hingga tidak memerhatikan sekelilingku, bahwa yang ditakutkan ibu dan ayahku terjadi hari itu juga tanpa kusadari sedikit pun.

 

—***—

 

Endus … Endus ….

 

 

SREK

 

 

Nah, itu dia!

 

Setelah kuhabiskan waktu sepuluh menit di jam istirahat ini meneliti tiap sudut sekolah demi mencari si pangeran tampan, akhirnya aku menemukannya. Ternyata ia sedang asyik tidur siang di bawah pohon maple yang tumbuh kokoh di taman belakang.

 

Aku pun ikut berbaring di sampingnya. “Mungkin ia akan terbangun setelah dicium seorang putri,” ujarku tanpa ragu mendekatkan wajahku dengannya, bermaksud memberikan kecupan manis di bibir tebal nan ranum milik sang pangeran.

 

“PARK SHERA APA YANG KAU LAKUKAN? BIKIN KAGET SAJA!” jerit Kris tiba-tiba.

 

Ah, belum sempat sang putri memberikan ciuman, pangeran sudah sadar duluan.

 

“Ada perlu apa?” tanyanya lagi setelah dirasa atmosfir cukup stabil kembali setelah kejadian tadi.

 

“Tidak ada,” jawabku dengan seulas senyuman di bibirku. Entahlah, setiap berada di dekat Kris seperti ini, aku sama sekali tak kuasa menahan rasa bahagiaku yang kusalurkan melalui sebuah senyuman.

 

Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering, menyibak tatanan rambut hitam Kris. Kuamati figur lelaki di sampingku ini. Kulit putih mulusnya. Mata tajamnya. Alis tegasnya. Hidung mancungnya. Bibir tebalnya. Rahang kokohnya. Semuanya. Betul-betul sempurna. Aku heran, apa yang diidamkan ibu Kris saat mengandungnya dulu hingga pemuda ini terlahir sangat tampan? Aku saja yang serigala bisa jatuh cinta padanya.

 

Suasana ini, hanya berdua di bawah naungan sebuah pohon maple yang mulai berguguran daunnya––yang kalau dari drama-drama manusia yang sering kutonton––adalah waktu yang sangat pas untuk menyatakan perasaan. Jadi, kupikir tidak salah bila kumanfaatkan juga momen ini untuk menyatakan perasaanku pada Kris.

 

Kulirik pria yang duduk di sampingku itu, “emm … Kris.”

 

“Hm?”

 

“Kris, aku ….”

 

“Ya?”

 

Deg … Deg …

 

Duh … Inikah namanya debaran cinta yang sering manusia-manusia itu bicarakan? Walau lidahku terasa sangat kelu hanya untuk mengucapkan sebuah kalimat “aku menyukaimu” saja. Walau indera pendengar dan penciumanku seakan berkurang kesensitifan atas rangsangan di sekitar saat berada di dekatnya. Tapi semuanya terasa amat menyenangkan, lebih mengasyikkan dibandingkan bermain lempar tangkap bola. Rasanya, seolah ada ratusan tangan manusia yang membelai dan menggelitik perutku. Aku bagai menjadi serigala paling bahagia di dunia ini.

 

“Kris, sebenarnya aku suk― “

 

“HEI SHERA!”

 

Aku menggantung kalimatku kala runguku kembali berfungsi dan menangkap vokal jelek nan cempreng seseorang yang tiba-tiba mucul dari balik semak. Siapa lagi kalau bukan Kwon Eun Joo. “Akhirnya kutemukan kau!” seringainya. Ah, kalau sudah begini aku lebih memilih menjadi tuli sekalian daripada harus mendengar ocehannya.

 

“Maaf mengganggu acara kalian,” lanjut Eun Joo tertawa-tawa. Aku mendelik seiring helaan napasku, sebenarnya sudah malas menanggapinya tapi ia lebih dulu mencengkaram bahuku dengan sebelah tangannya lalu membisikkan sesuatu persis di depan telingaku. “Kau mau menyatakan perasaan pada Kris? Yang benar saja. Kau pikir Kris mau menerimamu?”

 

Aku menggingit bibir bawahku. Sabar Park Shera. Sabar.

 

“Lebih baik kau pulang saja ke gunung.”

 

DEG

 

Aku membeku. Apa katanya barusan?

 

“Ada apa?” Kris angkat bicara.

 

Eun Joo memalingkan wajahnya dariku, menengok ke arah pria itu sambil memasang senyum semanis mungkin. “Tidak ada apa-apa, Kris. Sebulan dari sekarang pasti akan ada kejutan seru!” Ia menggamit lengan Kris. “Ayo kembali ke kelas.”

 

“Hei, lepaskan tanganmu!”

 

“Hahaha ….”

 

Mereka berdua berlalu meninggalkanku, sedangkan aku masih terpaku di tempat.

 

Yang dikatakan Eun Joo tadi ….

 

Sebulan lagi? Maksudnya bulan purnama berikutnya?

 

Apa mungkin ia sudah tahu jati diriku?

 

 

—a month later—

 

Bel tanda jam pelajaran berakhir baru saja berdentang. Semua murid, termasuk aku, berhambur keluar dari kelas. Setelah kejadian sebulan yang lalu, tak ada hal apapun yang terjadi kemudian. Eun Joo pun tidak pernah menggangguku lagi. Ah, mungkin hanya perasaanku saja bahwa gadis bodoh itu sudah menyadari identitasku. Semua pasti akan baik-baik saja. Pokoknya aku harus berhati-hati jangan sampai aku berubah wujud di sembarang tempat malam ini.

 

Langit jingga kemerah-merahan menemaniku berjalan kaki pulang. Aku harus cepat-cepat, kalau tidak bisa gawat.

 

Bulan, kumohon jangan dulu mucul sebelum aku sampai di rumah.

 

SRET…

 

“KYAAAAAAAAAAA……… HMPP!”

 

Seseorang membekapku dari belakang.

 

**

 

“HEI, APA-APAAN INI? LEPASKAN AKU!” pekikku berusaha melepaskan tanganku dari cekalan dua orang lelaki bertubuh besar yang tadi dengan tiba-tiba membekapku dan membawaku ke tempat sepi.

 

“Hai Park Shera. Sudah siap dengan kejutan malam ini?” Kudengar suara seseorang yang begitu kubenci. Kwon Eun Joo. Sudah kuduga, ini pasti ulahnya.

 

Gadis itu muncul, lalu berdiri di hadapanku dengan angkuhnya sembari melipat tangan di depan dada. “Sepertinya sudah saatnya memanggil Kris kemari.”

 

“APA?!”

 

Oh, tidak! Jangan sampai Kris tahu bahwa aku adalah……

 

“LEPAS!” Aku semakin gencar melawan, mencoba membebaskan tanganku untuk segera melarikan diri.

 

Oppa, pegang dia erat-erat. Jangan sampai kabur,” perintah Eun Joo kepada dua manusia yang dengan kuatnya mencengkram tanganku sedari tadi. Sungguh, tanganku gatal sekali ingin mencongkel dua mata yang memandangku sinis itu.

 

“Kumohon lepaskan aku!” pintaku, hampir putus asa, karena jika aku memberontak seperti apapun percuma saja. Kekuatan dua orang pria dewasa jauh lebih kuat dibandingkan aku yang notabenenya adalah seorang gadis berusia 16 tahun, meskipun aku serigala sekalipun.

 

“Eun Joo… Ada apa? Kenapa memanggilku ke sini?” Samar-samar suara berat yang mucul dari arah utara menyambangi runguku.

 

Oh tidak! Itu Kris. Dia datang!

 

“Kris…” Sambut gadis itu sumringah.

 

Tidak!

 

“KRIIIISSSS, JANGAN KEMARI—— HMPPP!!!” Sial, orang itu membekap mulutku.

 

Kris terkesiap sejurus kemudian selepas menatapku yang dalam posisi terdesak. “Hei apa yang kalian lakukan pada Shera?” bentaknya pada kedua orang pria yang membelenggu pergerakanku.

 

“Tunggu!” Buru-buru Eun Joo mencegah. Ia memegangi lengan Kris. “Dia bukan manusia, Kris! Dia perempuan serigala! Sebentar lagi kau akan melihatnya!”

 

PLAK

 

Kris menyentak lengannya dari pegangan Eun Joo lantas memandang gadis itu geram. “Jangan mengoceh sembarangan! Cepat lepaskan Shera!”

 

“K…Kris…”

 

Bulan purnama perlahan menampakkan sinarnya, aku tidak boleh tinggal diam.

 

GRAAUUKKKKK

 

“ARRRGGHHH… BRENGSEK!” jerit salah seorang yang membekap mulutku setelah sekuat tenaga aku menggingit tangannya, membuatku terbebas dan berhasil melepaskan diri.

 

BRUUUGGGHH

 

Dengan cepat Kris menghadiahkan orang itu bogem mentah. Ia terkapar di tanah.

 

Oppa!” Eun Joo berlari ke arah lelaki itu dengan panik. “Oppa tidak apa-apa?” Oh, jadi orang itu adalah kakaknya Eun Joo? Cih, adik dan kakak sama saja busuknya.

 

“KURANG AJAR!!” Salah seorang lagi, yang bertubuh gemuk tak terima. Ia ikut menyerang. Pria besar itu mendorong tubuh Kris seraya meninju pelipisnya. Namun Kris bukan lah pria lemah, ia membalas. Menendang perut orang itu dan melayangkan pukulan habis-habisan.

 

Oh Tuhan.

 

“KRISSS!” Aku berteriak histeris.

 

“Aku bisa menyelesaikan ini! Shera, cepat pergi!”

 

“Tapi….” Tidak! Aku mana mungkin meninggalkan Kris sendirian.

 

“CEPAT!”

 

Perkataan Kris benar, aku harus segera pergi. Bulan menyadarkanku bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk tetap bersikukuh.

 

Namun…

 

Apakah bulan pernah mengerti perasaanku betapa aku mencintai Kris dan tidak ingin ia terluka?

 

Maaf bulan, untuk kali ini aku membangkang.

 

 

WUSSSSHHHH

 

Aku menerjang si gendut dengan sekuat tenaga hingga ia tersungkur ke tanah, layaknya beribu batu amarah menghujami hatiku. Kuku jariku yang tajam mengoyak bajunya. Mataku yang merah menyala menatap nyalang wajahnya. Rahangku yang mengeras memperlihatkan deretan taring mengerikanku padanya. Dan bulu cokelat keemasan di seluruh tubuhku berdiri sebagai pertanda bahwa emosiku begitu meluap karenanya.

 

Ya, aku telah berubah sepenuhnya menjadi serigala di depan semua orang, termasuk Kris.

 

“APA KUBILANG, KRIS. DIA ITU PEREMPUAN SERIGALA! KAU LIHAT KAN SEKARANG?” Suara Eun Joo menggema, menghentikan aksiku untuk menghabisi pria ini. “HEI PARK SHERA, KAU PIKIR BISA MENJALIN HUBUNGAN DENGAN MANUSIA? DASAR SILUMAN MENJIJIKKAN!”

 

DEG

 

Kris memandangku tak percaya. Aku tersudut. Pria gendut itu melarikan diri, disusul dengan Eun Joo yang ditarik kakaknya untuk segera angkat kaki.

 

“Cih, apa sih mau mereka?” ujar Kris geram menatap kepergian mereka, sedang aku dengan sigap pergi ke antara semak-semak. Menyembunyikan wujudku. Menyembunyikan air mataku.

 

Kris menyadarinya. “She… Shera…” panggilnya takut-takut, berusaha mencariku.

 

“Jangan mendekat!” bentakku.

 

Ia tersentak. Biarlah seperti itu. Karena… Aku tidak ingin Kris menganggapku siluman. Aku tidak ingin Kris jijik padaku. Aku tidak ingin…

 

“Apa yang Eun Joo bilang, itu benar. Aku adalah siluman serigala yang kau tolong waktu terluka.” Aku berusaha mengontrol diriku agar tangisku tak pecah detik itu juga. “Aku mengingatmu Kris, senyum lembutmu diterangi sinar rembulan. Begitu jelas tersimpan rapi di memoriku, membuatku ingin bertemu lagi denganmu. Sejak saat itu lah, aku―“

 

Ada jeda singkat ketika aku mati-matian menahan perihnya tenggorokanku dan cairan bening yang bergerombol di sudut mataku. “Aku… menyukaimu, Kris. Sangat.”

 

“Shera…” Ia justru berjalan mendekati semak.

 

Aku berlari. Tak memiliki secuil keberanian untuk bersua dengannya, ataupun mendengar jawabannya. Karena… aku sudah tahu. Siluman serigala tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan manusia.

 

**

 

Di rumah, ibu menyambutku dengan sebuah pelukan menenangkan, selepas mendapatiku pulang dalam wujud sebenarnya dengan keadaan basah berlinang air mata. Ia membiarkanku menumpahkan semua di bahunya. “Ayo kita pulang ke gunung, sayang,” ucapnya sambil mengusap punggungku lembut. Memberikan kehangatan.

 

“Iya…” jawabku sesenggukan.

 

Kris…

Tak pernah terpikir olehku untuk mengucapkan selamat tinggal padamu dengan cara seperti ini. Kuharap kau tetap mengingatku walau kehadiranku hanya sebentar di sisimu. Aku senang Tuhan telah mempertemukan kita dengan cara yang istimewa, meski tidak berakhir bahagia.

 

Oh, bulan…

Aku akan tetap menyayangi Kris, sampai kapan pun. Karena kau tahu, seekor serigala hanya akan mencintai satu kali seumur hidup.

 

—***—

 

Siang hari ini, aku bersandar di atara pepohonan maple di belakang sekolah. Tempat dimana Kris biasa menghabiskan waktunya sepanjang istirahat kedua.

 

Untuk apa kemari?

 

Aku hanya ingin melihat sosoknya untuk terakhir kali, setelahya aku akan pergi.

 

SREKKK

 

Kris datang. Buru-buru aku bersembunyi di belakang pohon berharap ia tidak menemukanku. Namun bunyi derap langkah kakinya justru berhenti. Apa aku ketahuan?

 

“Aku juga.”

 

“Eh?” Aku mengernyitkan kening tatkala pria itu berucap yang entah ditujukan pada siapa.

 

“Itu jawabanku yang kemarin, Park Shera.”

 

DEG

 

Akhirnya aku memberanikan diri keluar dari persembunyianku, meningkap figur jangkung yang berdiri tegap di hadapanku itu. Meneliti kembali apa yang ia katakan barusan.

 

Kris tersenyum melihat ekspresi bingungku. “Aku juga menyukaimu, Park Shera,” ulangnya.

 

Dan bodohnya aku, tubuhku tak mampu bereaksi apapun. Bahkan aku meragukan indera pendengarku sendiri seandainya saja ia tidak berjalan menghampiriku seraya menggenggam kedua tanganku. “Apa pun itu dirimu. Shera tetap lah Shera. Dan aku menyukaimu, apa adanya.”

 

Kurasakan kedua persendianku seolah lumpuh dan hendak ambruk ke tanah tapi Kris lebih dulu menarik bahuku. Masih dengan senyum yang tersampir di wajah tampannya, ia menghapus jejak air mata di kedua pipiku yang bahkan aku tak sadar pernah meneteskannya.

 

Demi bulan, ini adalah senyum yang sama yang pernah Kris berikan padaku dan ini adalah perasaan hangat yang sama yang menjalari seluruh pembuluh darahku. Bola mata hazel Kris menerawang manik mataku lekat-lekat seakan ingin menyampaikan sesuatu lewat isyarat pancaran teduhnya. Aku tidak perlu membuka mulutku untuk tahu apa arti semua maksudnya karena sekon berikutnya ia mendaratkan kecupan manisnya di bibirku.

 

Tak perlu kata-kata lagi―karena aku belum pandai berbahasa manusia, namun kurasa sebuah senyuman sudah cukup mewakilkan seluruh perasaanku, pun betapa bahagianya aku sekarang.

 

 

Wahai rembulan, terangi lah cinta kami, selalu.

 

 

END

.

.

Komentar dan saran pembaca ditunggu ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s