The Last Letter (Chapter 2)

thelastletter1

Title: The Last Letter

Author: Sunkay

Cast: Zhang Yi Xing (Lay EXO), Min Ni Chan (OC), Zhang Hwang Ni (OC), Luhan (yang di cerita ini marganya jadi Kim), Kim Joon Myun (Suho EXO), Park Ri Rin (OC)

Genre: Sad Romance, Angst

Rating: PG-17

Poster Credit: Berserkheal @ Art Fantasy

FF ini buatan temen saya, yang super zibuk dan dalam masa vakum dunia korea-koreaan. Pernah di posting sebelumnya di salah satu page EXO Fan Fiction di facebook, saya hanya memposting ulang.

Previous : Chapter 1

 

Yi Xing POV

Tak mungkin Min Ni Chan sudah menikah, ini tidak mungkin terjadi. Tuhan untuk apa selama ini aku bertahan hidup melawan semua penderitaan ini, tubuhku sudah lelah tak sanggup lagi bertahan. Hanya Ni Chan yang membuatku sedikit bisa bertahan dan bernafas dalam kesesakkan. Aku takut memoriku perlahan terhapus dari ingatanku sebelum aku benar-benar menemukannya. Aku takut Tuhan …

“Apa aku boleh pergi sekarang? Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, setelah semuanya selesai aku pasti akan kembali ke sini lagi dokter Park,” ucap Yi Xing yang telah selesai diperiksa dokter.

Ne, tetap jaga kondisimu. Kau harus segera kembali secepatnya tuan Zhang Yi Xing.”

Geurae dokter Park Chanyeol, gamsahamnida.”

Aku mungkin tak akan kembali ke rumah sakit lagi, untuk apa aku di sini, toh tidak ada semangat untukku bertahan hidup lagi. Min Ni Chan yeoja yang paling kucintai di dunia ini pun sudah menikah dan meninggalkanku. Aku frustasi Tuhan. Aku sudah benar-benar kehilangan akal sehatku, aku lebih baik mati sekarang juga. Aku hidup untuk siapa dan untuk apa juga sudah tidak jelas, semuanya buntu, aku mati pun pasti tidak akan membuat orang lain susah. Aku sudah cukup kaya untuk bisa mengurusi pemakamanku sendiri. Bertahan hidup juga tidak ada yang menginginkannnya, aku hanya seorang diri di dunia ini. Aku sudah pendek akal, bunuh diri sepertinya ide yang sangat tepat untuk kondisiku saat ini. Mungkin itu jalan satu-satunya untukku agar aku bisa mendapatkan ketenangan yang abadi.

Kuseret kakiku dengan berat hati, aku tidak tahu ke mana aku akan melangkah pergi. Rasa pusing yang teramat sangat sebenarnya sudah muncul sedari tadi, aku memutuskan untuk pergi ke atap gedung rumah sakit. Aku benar-benar sudah kalang kabut, rasa ingin bunuh diri itu sudah menghantuiku, tepatnya setelah aku tahu kalau Min Ni Chan sudah menikah.

Pandanganku hanya menatap kosong ke depan, ke tepian gedung yang sudah menantiku. Dengan langkah luntai dan hati yang sudah bulat aku terus berjalan, tinggal beberapa meter lagi aku sudah sampai di atas gedung. Saat aku mulai mendekati tepi gedung, aku melihat seseorang berpakaian baju pasien berjarak dua meter dariku tengah berdiri dan menatap kosong ke arah depan. Kelihatannya ia juga sama frustasinya denganku, aku tak banyak mempedulikannya. Aku berniat untuk langsung terjun ke bawah, tapi tiba-tiba kakiku terkunci saat melihat orang itu yang tiba-tiba roboh. Entah apa yang ada di benak pikiranku, aku berniat berlari mendekatinya, mencoba untuk menolongnya, akan tetapi suster dan dokter Park telah menemukannya terlebih dahulu.

Aku yang ada di tempat itu hanya bisa diam melihat pemandangan ini. Pikiranku masih kosong dan sedikit terganggu oleh kejadian ini, dokter Park langsung menolongnya dan memanggilku untuk membantu mengangkat tubuh orang yang tak kukenali itu. Aku yang hanya diam dari jarak dua meter ini langsung beranjak menuruti titahnya. Kucoba berlari walau sebenarnya kepalaku terasa sangat berat dan pusing tak tertahan. Saat aku sampai tepat di hadapan mereka, aku tersontak kaget melihat sosok orang yang roboh itu. Aku masih tak percaya dengan sesosok yeoja yang terkulai lemas itu, wajahnya pucat bak mayat.

Kuangkat yeoja ini dengan sisa tenaga, air mataku berlinang tak karuan. Dokter Park yang melihatku hanya memasang wajah penuh tanya. Kuletakkan tubuh kurus itu tepat di ranjang kamarnya di rumah sakit ini. Dokter langsung memeriksanya, memasang semua alat kedokteran yang sepertinya ia lepas paksa sebelum pergi ke atap gedung. Aku yang menyaksikan ini hanya bisa berdoa untuk keselamatan yeoja ini. Tepat satu jam berlalu dokter pun berhasil menangani masalah dan ia pergi meninggalkan kamar yeoja itu.

Kuberanikan diri beranjak masuk ke kamarnya, masih tak percaya dengan kejadian ini, terlalu bertubi-tubi, pikirku. Kutatap wajahnya dengan haru dan tak tega, wajahnya sangat pucat, bibirnya putih dan terkunci, kantung matanya hitam dan sayu, pipi lembutnya menjadi sangat tirus, tulang belikatnya terlihat jelas dari lehernya, tangan dan kakinya sungguh kurus, terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Aku sungguh membencinya tapi perasaanku terlalu muna untuk menampiknya. Kalau boleh jujur dan seandainya ini bukan rumah sakit, aku ingin berteriak dan memarahinya, tapi aku tak berdaya melihat sosok yeoja yang kucintai ini. Aku justru mengenggam erat tangannya yang tersambung dengan selang infus, lalu menciumnya lembut.

 

Author POV

“Hei Min Ni Chan kenapa kau sangat bodoh? Kau masih saja memakai cincin imitasi yang kuberikan dulu? Apa suamimu tidak punya uang untuk menggantinya dengan cincin emas atau berlian, hah? Kau terlihat mengenaskan, bukankah kau menikah dengan lelaki yang sangat kaya raya? Lalu mana suamimu sekarang? Mana? Manaaaa? Cepat katakana!” teriak Yi Xing sambil menangis tak karuan, ia sadar ini pertama kalinya ia melampiaskan kemarahannya pada Ni Chan setelah kurang lebih sembilan tahun mengenal.

“Kenapa kau diam saja Ni Chan? Kenapa? Ireona! Cepat katakan di mana suamimu itu? Aku ingin menghajarnya sekarang! Mengapa dia tega meninggalkanmu  yang sedang sakit begini! Dia sungguh laki-laki yang tidak bertanggung jawab! Kau bodoh karena kau memilihnya, Ni Chan bangunlah, lihat aku datang! Aku datang tepat di hadapanmu, namja miskin yang begitu kau benci! Ayo pukul aku, jangan tidur saja, bangunlah, pukul aku jika perlu, aku benci melihatmu hanya diam saja! Jebaaaal, bangunlaaah hu … hu … huuuuu … hiks ….” ucap Yi Xing tak karuan dengan bergelimang air mata dan sekarang sedang menggoyang-goyangkan tubuh lemah Min Ni Chan.

“Bangunlah, aku masih mencintaimu, bangunlaaah!” tutur Yi Xing yang tengah memeluk erat tubuh Ni Chan dan menangis dalam dekapannya. Suara kerasnya yang tadi berteriak, kini melemah dan parau, tak kuasa melihat yeoja yang begitu dicintainya itu hanya diam dan belum siuman.

Krieeeettt .

Terdengar suara pintu kamar terbuka dan Yi Xing segera menghapus air matanya lalu melihat orang yang datang.

“Dokter di mana suami yeoja ini? Apa kau suaminya? Dia sakit apa? Cepat katakan dokter Park! Katakan yang sebenarnya!” ucap Yi Xing setengah emosi pada dokter yang baru masuk itu.

“Tidak, kau sudah salah pengertian, bahkan ia tidak mempunyai seorang suami, ia hanya sebatang kara. Ia sudah dirawat sejak tiga tahun yang lalu disini. Kau tahu, ia sudah melakukan uji coba bunuh diri hampir 46 kali, ia mengidap penyakit ME,” jawab sang Dokter.

“Apa??? Jadi ia belum pernah menikah? Lalu ia terserang penyakit ME? Penyakit apa itu dokter? Tolong jelaskan, apa ia bisa sembuh? Lakukan pengobatan sebaik mungkin untuknya, aku akan membayar sepenuhnya dokter, jebal. Aku mohon,” mohon Yi Xing bertubi-tubi sambil memegang tangan sang dokter.

Ne, bahkan ia tinggal seorang diri, orang tuanya sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan pesawat. Ia sering bercerita tentang sesok namja yang memiliki marga Zhang yang begitu ia cintai. Aku bahkan tidak tahu kalau orangnya itu adalah kau. Kami sudah melakukan pengobatan yang terbaik untuknya, tenanglah.”

“Ya Tuhan aku sudah salah pengertian selama ini, pasti Ni Chan yang meminta Ri Rin untuk menyembunyikan ini semua. Lalu bagaimana keadaan ia sekarang, tolong jelaskan tentang penyakitnya itu dokter.”

“Tenanglah terlebih dahulu, Min Ni Chan mengidap penyakit Myalgic Encephalopathy atau ME yang mematikan. Selama itu pula keinginannya untuk bunuh diri selalu muncul. Keinginanannya itu selalu muncul dan meminta semua orang untuk membantunya mengakhiri hidup. Ia sudah sangat putus asa, sebenarnya sebagai seorang dokter aku dilarang untuk menyampaikan informasi ini, tapi aku tahu kau adalah orang yang begitu dicintai Ni Chan dan kau orang yang tepat untuk mengetahui semua ini.”

“Dokter apa kau tidak berbohong? Tidak mungkin Ni Chanku sakit. Itu tidak mungkin ‘kan? Dia pasti akan segera sembuh ‘kan?” tanya Yi Xing seakan tak percaya.

“Sabarlah, aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi aku tidak berbohong. Tidak mungkin seorang dokter berbohong dengan kondisi sang pasien. Sebetulnya saat tadi aku menanganinya, aku secara tidak sengaja menemukan sebuah amplop di atas meja ini. Amplop dengan tulisan ‘The Last Letter’,  mungkin akan lebih baik jika kau yang membacanya. Maaf aku harus segera pergi dahulu, ada banyak pasien yang menungguku, setelah membaca itu tolonglah kau datang ke ruanganku, ingat kau juga sakit tuan Yi Xing,” ujar sang dokter sambil memegang bahu Yi Xing.

Ne, gamshamnida dokter Park, kau sudah banyak membantu.”

Yi Xing mulai membuka perlahan surat itu, terlihat jelas tulisan judul surat The Last Letter itu ditulis dengan menggunakan darah, karena warnanya yang merah pekat dan sedikit berbau anyir. Ia buka dan mulai baca surat itu, terlihat tulisan tangan Ni Chan yang sangat rapi menggunakan bolpoin bewarna hitam.

 

Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Sungguh aku ingin mati dan hanya ingin mati, Mengertilah, aku sungguh sudah tidak tahan lagi. Ini keputusanku, aku berharap semua orang mengerti dengan alasanku. Aku sangat, sangat, sangat ingin mati karena sakit ini sudah tidak tertahan lagi. Lebih dari tiga tahun aku mengidap penyakit mematikan ini, aku lelah dan merasa tidak bisa menanggung penyakit ini lebih lama lagi bahkan dalam sedetik pun.

Keputusan untuk mati ini sudah sangat lama dan keras aku pikirkan.  Aku yakin hanya itu yang aku inginkan untuk saat ini. Meskipun mungkin ada orang lain yang benar-benar tidak rela jika aku pergi. Betapa depresinya aku saat semua cara telah kucoba tapi aku masih selamat dan hidup tapi tersiksa. Obat-obatan berhasil membuatku berhenti menangis terus menerus, tapi tidak bisa menghentikan keinginanku untuk bunuh diri. Tubuh ini sudah lelah dan semangat hidup sudah patah. Aku sudah depresi berat, keinginan untuk meninggalkan semua rasa sakit ini terus memuncak. Mati adalah jalan yang terbaik. Aku tidak tahu lagi berapa jam yang sudah kuhabiskan untuk memikirkan ini walapun banyak suster dan dokter yang selalu berusaha mati-matian mengubah pandangan dan pola pikirku.

Sampai saat ini aku masih bisa bertahan karena tabung-tabung medis, pompa, selang infus dan obat-obatan. Tanpa semua teknologi modern ini, aku tidak akan ada di sini. Bayangkan saja betapa menderitanya hidupku jika terus berada di sebuah kamar rumah sakit dan terdampar di atas kasur selama tiga tahun. Bayangkan menjadi seorang yeoja di usia 24 tahun dan tidak pernah bisa merasakan rasanya cinta lagi. Bayangkan rasa sakit seperti mempunyai tulang seorang wanita berusia 100 tahun dan tidak bisa bergerak kemana-mana karena risiko patah tulang. Bayangkan para suster yang setiap harinya mengelap tubuh dan membersihkan kotoranmu setiap saat. Rahimku selalu disuruh untuk diangkat, aku selalu menepisnya. Aku masih berharap bisa menikah dengan namja yang kucintai dan bisa memeliki keturunan dengannya.

Tulangku sudah oesteoporosis, setiap kali batuk atau bersin, risiko patah tulang bisa saja terjadi. Semua impianku untuk bisa tertawa lepas, berlari, bernyanyi, berenang, berperahu, bersepeda sudah sirna sejak mengidap penyakit ini. Bayangkan terpenjara di dalam hidup yang menyedihkan ini. Aku tidak perlu membayangkan semua itu karena tubuh dan pikiranku sudah hancur. Aku sangat putus asa dengan sakit ini. Aku mencintai kedua orang tuaku, tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk mereka selama mereka hidup. Aku juga mencintai sesosok namja bernama Zhang Yi Xing yang sekarang entah di mana. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah berbohong dan meninggalkannya. Jikalau orangtuaku masih hidup dan Yi Xing ada di sini saat ini, aku hanya justru akan menyusahkan dan menyita waktu mereka.

Aku tahu hati mereka sebenarnya sangat hancur dan tidak ingin kehilanganku. Tapi untuk sembuh dan menjalani hidup normal dan bahagia seperti semula lagi sungguh mustahil terjadi. Aku tahu aku sangat egois, tapi aku sudah lelah, aku ingin keluar dari kegelapan ini, Sekali lagi maafkan aku appa, eomma, Yi Xing oppa, dan Ri Rin-ah aku benar-benar ingin mati. Aku tahu pasti kalian tidak ingin kehilanganku, tapi di sisi lain aku sudah tidak mampu menahan penderitaan terus menerus karena penyakit ini. Jeongmal mianhaeyo.

 

ME adalah penyakit yang membuat kondisi seseorang menjadi sangat lemah yang tidak wajar sehabis melakukan aktivitas ringan sekalipun. Penyakit itu telah mengubah Min Ni Chan dari seorang yeoja aktif menjadi seorang yang pendiam dan tak berdaya. Penyakit ME tengah mempengaruhi hampir semua bagian saraf dan sistem imun tubuh. Kehidupan sehari-harinya hanya dipenuhi dengan rasa lelah dan letih yang sangat parah, ia juga sedikit memiliki masalah ingatan, serta konsentrasi dan otot yang lelah. Akibatnya seseorang tidak akan bisa melakukan apapun dengan kondisi demikian. Tidak ada obat yang benar-benar efektif mengatasi penyakit ini. Bahkan dokter menyarankan agar Min Ni Chan mengangkat rahimnya.

Yi Xing yang masih memegang surat itu dengan gemetar dan menangis terisak tak karuan, tubuhnya jatuh di atas lantai kamar Ni Chan, ia baru tahu yang sebenarnya terjadi selama ini.

“Emmm … ehmmmmm ….”

Terdengar suara Ni Chan yang telah tersadar. Yi Xing langsung berlari mendekatinya dengan cucuran airmata, ia langsung memegang tangan Ni Chan dan membelai lembut rambutnya. Ni Chan langsung berusaha membuka alat yang menutupi mulutnya yang berfungi untuk membantunya bernafas itu.

Oppa …” panggil Ni Chan dengan suara lemah dan titik airmata dari sudut matanya.

“Kau sudah sadar Ni Chan? Syukurlah,” ucap Yi Xing sambil membelai pipinya penuh rasa sayang.

Oppa mengapa kau ada disini? Apa kau tidak membenciku? Maafkan aku, aku banyak melakukan kesalahan, ak―”

“Cukup Min Ni Chan, jangan banyak berbicara dulu ya. Kau tidak perlu menjelaskan semuanya, aku sudah mengetahuinya dari dokter Park dan dari surat itu,” tutur Yi Xing memotong pembicaraan Ni Chan yang begitu lemah itu.

Jeongmal?” tanya Ni Chan sambil menangis dan terlihat sangat memilukan. “Mianhaeyo Yi Xing-ah,” seru Ni Chan sambil menangis dan membalas pelukan Yi Xing.

Ne, choneun. Saranghaeyo chagi, saranghaeyo …” balas Yi Xing sambil menangis.

Nado oppa.

**

Sebulan ini mereka kembali meniti kehidupan baru, Yi Xing selalu memberi motifasi agar Ni Chan tidak menyerah dan harus bertahan hidup melawan penyakitnya. Mereka menjadi sepasang kekasih lagi, bahkan cincin emas putih yang Yi Xing beli untuk Ni Chan sudah tersemat di jari manis tangannya. Mereka melalui hari-hari bahagia bersama di rumah sakit. Waktu dihabiskan bersama-sama seperti permata yang berharga, bahwa uang tidak bisa membeli kebahagian mereka. Semua emas dan berlian di dunia tidak cukup untuk membeli cinta yang mereka miliki untuk pasangannya. Yi Xing selalu membawa Ni Chan berkeliling menggunakan kursi rodanya ke taman rumah sakit untuk memperoleh udara segar dan agar Ni Chan tidak merasa jenuh. Seperti pada hari ini …

Oppa gomawo untuk semuanya, memilikimu adalah harta berharga bagiku. Tidak ada orang yang telah mengasihiku seperti kau yang mencintaiku. Ketika aku di sampingmu, masalah hidupku tampak mencair. Bahkan kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan betapa aku mencintaimu, kau adalah pangeranku oppa, kau adalah namja sempurna bagiku. Kau setengah lainnya yang membuatku merasa utuh oppa, kau belahan jiwaku … hiks … hiks ….” ucap Ni Chan menangis karena terharu sambil bersandar di bahu Yi Xing, keduanya tengah duduk manis di bangku panjang taman yang menghadap ke kolam kecil dengan bunga teratai indah yang ikut menghiasi.

“Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu chagi, kalau bukan untukmu mungkin aku tidak akan bertahan hidup dan meraih kesuksesan seperti sekarang ini, ya walaupun semula aku berfikir kau yeoja matre sebelum mengetahui kenyataan itu, tapi itu yang mendorongku untuk bekerja keras menjadi orang kaya hehe. Kau adalah musik yang membuat hatiku bernyanyi, cintamu menghangatkan hatiku seperti cahaya mentari, kau membuat semuanya terasa manis, aku beruntung memilikimu chagi,” tutur Yi Xing sambil merangkul lembut yeojachingu-nya itu.

“Ah oppa bisa saja, sekali lagi mianhae karena dulu aku sudah banyak berbohong ne?”

“Oke chagi gwaenchana.”

Oppa aku ingin mempunyai keluarga,” ucap Ni Chan tiba-tiba.

“Maksudmu?”

“Lihat cantik sekali gadis kecil yang sedang bermain di dekat kolam itu, aku ingin punya seorang anak darimu oppa.”

“Tapi itu semua tidak bisa chagi, kau tau sendiri ‘kan? Dokter Park berkali-kali bicara tentang pengangkatan rahimmu, jika kau mengandung hal itu bisa sangat membahayakanmu. Kau terlalu lemah untuk bisa kuat mengurusi kandunganmu, mengertilah chagi.”

“Tapi aku ingin oppa, aku ingin menikahimu dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia bersama denganmu.”

“Aku juga ingin sekali chagi, tapi kenyataan berkata lain. Tenanglah akan kubuat kau bahagia, walaupun kita tidak mempunyai anak.”

Oppa jebal, mungkin ini keinginan terakhirku. Aku ingin secepatnya menikah denganmu.”

“Mengapa secepat ini chagi? Kondisimu belum berangsur membaik. Tunggu sampai kau benar-benar pulih ne?”

“Kau jahat oppa, sampai kapan pun aku tidak akan pulih. Kau tidak mau menikah dengan yeoja penyakitan sepertiku kan?” Terdengar sayup-sayup isakan tangis keluar dari bibir manis Ni Chan.

“Bukan itu maksudku chagi, aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, kau tidak boleh lelah sedikit pun. Untuk mempersiapkan suatu pernikahan pasti membutuhkan fisik yang sangat kuat dan sehat.”

Chagi kita tidak perlu membuat suatu pesta yang besar, tidak. Bukan itu yang kumau, aku hanya ingin menikah denganmu secara sederhana. Jika perlu di rumah sakit sekalipun,” balas Ni Chan dengan pasti.

“Akan tetapi aku ingin membuatkan suatu pesta besar untukmu chagi, aku sudah berusaha meraih impianku menjadi orang kaya dan itu semua sengaja aku persembahkan hanya untuk dirimu My Princess,” balas Yi Xing sambil berlutut di hadapan kekasihnya itu.

“Tapi, oppa .…”

“Ada apa lagi chagi?”

“Aku merasa waktuku tidak akan lama lagi.”

“Shuuutt … jangan berbicara asal, kau pasti akan segera pulih. Percayalah, kau akan sehat kembali. Tidak akan ada yang memisahkan kita, sekalipun itu kematian. Jika kau harus pergi untuk selamanya, pasti ada aku yang mendampingimu. Aku juga akan pergi bersamamu.”

“Tidak oppa, kau tidak boleh berbicara seperti itu! Jika suatu saat nanti aku harus pergi, tetaplah hidup bahagia dan sehat. Lupakan aku dan cari penggantiku.”

“Shutttt … kau ini sudah terlalu banyak bicara chagi. Sudah saatnya kau masuk kamar, kau harus beristirahat ne? Ayo oppa antarkan.”

Ne, chagi.” balas Ni Chan sedikit kecewa.

Yi Xing tengah mendorong kursi roda dan membawa Ni Chan menuju kamarnya, tapi tiba-tiba roda dari kursi roda itu berjalan tak beraturan arah, Ni Chan juga kebingungan dan takut bila terjatuh. Tulang-tulangnya sudah terlalu lemah untuk menopang tubuhnya sendiri dan pastinya bila terjatuh Ni Chan akan sangat sulit untuk bisa bangkit seorang diri.

Oppa hati-hati, ada apa? Apa kau sakit? Atau kau keberatan karena mendorongku?” tanyanya dengan wajah cemas.

Aniyo,” jawab Yi Xing singkat, ia masih merasakan pening di kepalanya, bahkan penglihatannya terkadang samar.

“Lalu? Berhentilah saja dulu, bila kau memang lelah. Atau jangan-jangan kau belum sempat makan ya chagi?”

Ani chagiya, kau benar sekali aku hanya merasa sedikit pusing, mungkin telat makan hehe,” balas Yi Xing sambil terus berusaha mendorong kursi roda dan sesampainnya di pintu kamar, terlihat dokter Park yang sudah menunggu kedatangan mereka.

“Selamat siang dokter,” sapa Ni Chan dengan sangat ramah.

“Siang juga Ni Chan, kau sekarang terlihat lebih semangat ya? Kedatangan namja ini benar-benar membuatmu menjadi ceria dan bahagia. Kesehatanmu juga semakin membaik,” ucap sang dokter dengan deep voice dan senyuman yang sangat lebar.

Jinjja? Ah dokter bisa saja,” sahut Ni Chan sambil tersenyum manis.

“Boleh aku pinjam kekasihmu sebentar ‘kan?” tanya dokter pada Ni Chan.

“Tentu saja dokter silahkan hehe.”

Terlihat dokter Park dan Yi Xing sedikit berjalan menjauhi Ni Chan yang tengah duduk dikursi rodanya tepat di depan pintu kamar. Keduanya terlibat pembicaraan yang entah mengapa membuat wajah mereka tegang dan sedikit aneh. Terkadang dokter Park juga mencuri pandangan pada Ni Chan berharap Ni Chan tidak mendengar pembicaraan yang berlangsung, sama halnya dengan Yi Xing yang terlihat ikut berbisik-bisik.

“Sudah selesai oppa? Apa yang kau bicarakan, terlihat serius sekali tadi,” tanya Ni Chan saat kekasihnya sudah sampai di hadapannya.

“Ah molla, dokter hanya bilang kesehatanmu semakin membaik. Ayo masuk ke kamar.”

“Begitu ya … hem iya ayo.” Yi Xing pun segera menggendong Ni Chan untuk merebahkan badannya ke atas kasur. Kemudian ia menarik selimut Ni Chan dan memakaikannya sebatas dada.

“Tidurlah chagi, aku akan menemanimu di sini.”

Aniyo oppa, kau kan belum makan. Sebaiknya sekarang kau pergi mencari makan dulu ne? Aku sendiri juga tidak apa-apa kok.”

Ne chagi.” ucap Yi Xing sambil beranjak pergi dan mencium kening yeojachingu-nya itu. Ni Chan langsung membelai lembut wajah tampan Yi Xing dan merapihkan sedikit poni Yi Xing yang hampir menutupi matanya.

Oppa .…”

Ne, waeyo?” tanya Yi Xing yang masih konsen melihat setiap lekuk wajah Ni Chan.

“Ada apa dengan rambutmu? Ini rontok tadi saat kubelai,” balas Ni Chan yang masih heran sambil terus menatap beberapa helai rambut yang ada di tangannya saat ini.

“Oh itu, mungkin hanya rontok gara-gara tidak cocok shampoo chagi hehe,” balas Yi Xing dengan tertawa yang sedikit dipaksakan.

“Benarkah? Kau terlihat pucat sekali, ayo cepat pergi makan dulu.”

“Enn.. Nee ….” balas Yi Xing sambil berlari ke arah luar. Ia terus berlari melewati beberapa dokter, suster, penjenguk dan pasien yang sedang berlalu lalang di koridor rumah sakit itu. Entah mengapa pikirannya itu membawanya ke atap gedung dan ia menangis sejadinya di sana. Cairan hangat itu kembali keluar dari hidungnya.

 

To be Continued

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s