Regret (Chapter 6)

Regret 2

 

REGRET – Chapter 6

.

D.O.ssy present

Cast Luhan, Kim Ji Hye (OC), Kim Jongin (EXO), Yoon Jeonghan (Seventeen) | Genre Romance, Angst | Length Chaptered | Rating PG-17 | Poster credit Jo Liyeol

Beside the story, I own nothing.

.

Ini untuk 17 tahun ke atas ya please. Aku udah kasih peringatan dini, karena di fanfic ini banyak terdapat kata-kata kasar yang tidak pantas ditiru.

.

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

.

“Aku menyesal jadian denganmu.”

.

Luhan tak berkutik. Pandangan mereka bertumbukkan dalam satu garis lurus untuk waktu yang cukup lama. Wajah putih si pemuda berubah pias, seolah jantung yang memompa darah ke kepalanya kehilangan daya beberapa sekon. Namun paru-parunya berlomba-lomba mengais udara karena sedikitnya Luhan kesulitan menarik napasnya.

 

“Stroberi parfait dua porsi besar. Cokelat hazelnut waffle satu.”

 

Ji Hye yang pertama kali memutus kontak mata. Sedikit terkejut dengan suara Anna. “Ah, iya … B-baik,” ucapnya terbata-bata, masih berusaha mengukir senyum paksa kendati dwi-maniknya kini berkaca-kaca. Ia tulis pesanan sang pelanggan dengan terburu-buru, lantas mengambil langkah seribu untuk segera berlalu.

 

Luhan memang lelaki tak peka, tapi untuk tahu arti tatapan Ji Hye, siapa yang tak bisa? Gadis itu terlalu murni, terlalu bening, terlalu transparan. Bahkan seluruh isi hatinya terpancar jelas di kedua berlian kembarnya. Kutuk saja Luhan dan kebodohnya, lantaran ia masih diam membatu, tak tahu harus berbuat apa.

 

“Jangan diam saja, Luhan!” sentak perempuan yang duduk di hadapannya. Justru Anna-lah yang lebih paham situasi. “Kejar dia, beri penjelasan!”

 

Maka Luhan hanya menurut. Secepat angin ia tinggalkan mejanya, lantas menggapai tangan Ji Hye yang saat itu hampir mencapai konter. “Hye, tunggu!”

 

“Lepas Lu,” sahut si pegawai gerai, masih memunggungi Luhan, enggan memutar pandangan untuk menatap lawan bicaranya.

 

“Dengar aku, Hye! Y-yang tadi itu. J-jangan salah paham. Anna cuma sahabatku, jadi—”

 

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku!” hardik Ji Hye mematahkan rangkaian kalimat kelu yang Luhan coba utarakan, membuat si pemuda tersentak kaku.

 

Akhirnya gadis itu membalikkan badan dan Luhan tercengang. Apa benar yang berdiri di hadapannya dengan wajah memerah, mata berkaca-kaca, rahang mengeras, dan tangan gemetaran ini adalah Ji Hye, mantan kekasihnya? Perempuan itu mematri pandang pada bola mata Luhan dengan tatapan yang—entahlah, Luhan sendiri tak dapat mengartikannya. Sang gadis tetap tersenyum, meski netranya menumpahkan airmata sangat banyak.

 

Luhan tak tahu seberapa besar emosi yang Ji Hye sembunyikan di balik lengkungan bibir ranumnya. Ada luka yang menganga, ada angan yang terhempas, ada pilu yang menguar, ada kekecewaan yang mendalam, dan juga … ada amarah yang terpendam. Semua bercampur menjadi satu, diwakilkan oleh tetes demi tetes bulir berjatuhan meninggalkan pelupuknya, membasahi pipi.

 

“Buat apa susah payah memberi penjelasan, Lu? Bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa lagi?”

 

Bukan main. Seolah tertampar telak-telak, Luhan rasa semesta tengah menghukumnya sekarang.

 

“Jadi bisakah kau melepaskanku? Aku masih harus bekerja,” lanjut Ji Hye, tertawa getir. Menggeletar kering dalam telinga Luhan.

 

Ji Hye mencoba menyingkirkan tangan si pria, tapi justru genggamannya semakin kuat, semakin erat, semakin posesif. Luhan hanya diam mematung, tidak mengatakan apapun, tidak pula melepas cekalannya di pergelangan tangan Ji Hye.

 

“Kenapa lagi, Lu? Tak bisa kau lihat aku sedang sibuk? Jadi, lepaskan aku.”

 

Luhan tak menjawab.

 

“Lu!“

 

Lagi, Luhan masih bungkam.

 

“Kumohon, lepas!” Kali ini Ji Hye setengah membentak, airmata kian deras mengalir, menganak di kedua pipinya yang memucat. “Apa maumu, Lu?’

 

Tak adakah yang dapat Luhan lakukan selain membuat Ji Hye menangis? Lelaki itu memang tolol, bahkan untuk mengusap airmata gadis yang dicintainya saja, ia tidak bisa.

 

“Maaf Tuan.” Sebuah tangan tiba-tiba muncul menengahi genggaman mereka. “Kalau Anda ingin menantang saya, saya terima lain kali. Tapi sebaiknya lepaskan dulu tangan Anda.”

 

Mata Luhan membelalak lebar. Seorang laki-laki agak kurus, bersurai cokelat kastanye diikat rapi, berpakaian seragam pegawai yang sama dengan yang dikenakan gadisnya, datang sambil tersenyum miring, kemudian memisahkan tangan Luhan dengan Ji Hye sedikit paksa.

 

“Yoon Jeonghan?”

 

“Anda tidak boleh melakukan pemaksaan terhadap pegawai di gerai ini, Tuan.” Pemuda yang dipanggil Jeonghan melebarkan lengkungan asimetris di bibirnya. “Dan soal tantangan itu, mari kita bicarakan nanti.”

 

Apa-apaan ini? Jeonghan adalah rekan kerja Ji Hye?

 

Kalau ini adalah kebetulan, Tuhan tak sebercanda itu. Agaknya Sang Adikara memang tengah menghukum Luhan dengan permainan takdir-Nya. Sedikitnya dengan sebuah kejadian ‘kebetulan’ yang tak terduga. Pun dengan seorang pria berkulit putih berjas hitam yang berdiri tercengang di depan pintu atas peristiwa barusan.

.

***

.

Sudah tak terhitung berapa kali Kai melirik Ji Hye yang duduk termenung di jok sebelahnya. Matanya yang sembap menerawang pemandangan kota Seoul di luar jendela mobil Kai. Sesekali isakan kecilnya merayapi sepi sampai pada telinga pemuda yang duduk cemas sambil menyetir itu.

 

“Hye, kau kenapa? Apa yang membuatmu menangis?”

 

Kai tahu persis jikalau Ji Hye sedang menangis, ia tidak semestinya mengajukan tanya, karena yang harus ia perbuat hanya memberikan sedikit waktu untuk perempuan itu menenangkan diri. Tapi saat ini, Kai betul-betul khawatir. Pasalnya, Ji Hye yang selama ini ia kenal adalah gadis yang kuat. Yang tak pernah mau repot-repot menumpahkan air mata demi hal sepele. Kalau pun itu terjadi, pasti ada hal yang amat berat di baliknya.

 

“Aku melihatnya, Jo. Dia … bersama gadis lain … berciuman … di gerai es krim tempatku bekerja.”

 

Cemas tergantikan kesal. Kai mendesis marah. Tanpa diberitahu siapa, ia sudah tahu yang dimaksudkan Ji Hye tak lain adalah si playboy bajingan itu. Dipikirnya Luhan telah berubah kala mengakui perasaannya kemarin, ternyata tidak.

 

Kai sungguh membenci ini. Laki-laki idiot macam Luhan memang penyebab seluruh masalah yang menimpa gadis yang amat dicintainya itu. Kim Ji Hye berubah jadi gadis cengeng apabila menyangkut segala hal tentang Luhan. Dan … dirinyalah sesungguhnya asal-muasal semua ini terjadi. Dirinyalah yang seharusnya bertanggung jawab.

 

Andai waktu bisa diputar kembali, Kai berjanji tak akan memperkenalkan Luhan pada Ji Hye. Kai berjanji tak akan memberikan kontak Ji Hye pada Luhan. Kai berjanji tak akan pernah punya ide untuk menantang si angkuh Luhan untuk mendapatkan Ji Hye. Kai berjanji tak akan lagi melepas Ji Hye pada Luhan, pada siapapun. Kai berjanji tidak akan ….

 

Lalu sekarang, Kai tidak ingin menyesal lagi. Ia membanting stir ke arah lain.

 

“Kita mau ke mana, Jo? Aku ingin pulang,” protes lemah si perempuan Kai abaikan. Ia pacu mobilnya cepat, melewati jarum 80 km/jam. Ji Hye tak lagi berucap, mengetahui kebiasaan Kai kalau sudah seperti ini.

 

Perjalanan dilingkupi senyap. Tahu-tahu, kini mereka berdua telah berada 4 mil dari hiruk-pikuk pusat kota Seoul menuju ke daerah yang jarang terjamah manusia. Aroma rumput dan tanah lembab terasa lembut memenuhi indera penciuman. Sesuatu yang jarang ditemui sehari-hari di tengah kota metropolitan.

 

Kai memarkir mobilnya di ladang rerumputan. “Ikutlah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Lelaki itu membukakan pintu, lantas meraih tangan Ji Hye untuk ia genggam erat-erat. Hanya berbekal cahaya dari ponsel, Kai membawa sang gadis berjalan melintasi pepohonan dan sungai kecil berair jernih. Menanjaki jalan yang agak curam.

 

Mata Ji Hye terbuka lebar, kala kakinya menapaki destinasi yang dituju Kai. Di depan sana, ia saksikan kerlap-kerlip kota Seoul yang serupa kunang-kunang, dengan langit bertaburan ratusan bintang. Amat menawan laksana noktah terang yang membawa setitik harapan di tengah gulitanya dunia yang berpaling wajah darimu.

 

Ji Hye berdiri termangu sementara Kai maju beberapa langkah, mencari spot terbaik untuk menikmati pemandangan. “Kemarilah, Hye. Duduk di sini.” Ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, setelah mendudukkan dirinya di rumput halus. Ji Hye menurut lantas duduk di samping Kai.

 

Hening beberapa saat sebelum akhirnya vokal bariton Kai mengudara. “Aku sering ke bukit ini saat sedang sedih.”

 

“Jadi kau sekarang tengah bersedih juga?” lirih Ji Hye masih dengan netra yang tak henti menyawang pemandangan megah yang terhampar luas tepat di hadapannya.

 

“Ya. Aku sedih. Sangat sedih—” Kai memejamkan matanya sejenak. “—melihat gadis yang amat kucintai bersedih.”

 

Ji Hye sontak mengalihkan tatapan pada si lelaki. “Jo …”

 

“Makanya aku membawamu ke sini. Agar kita sama-sama menghapus kesedihan itu.”

 

Ji Hye tidak menjawab lagi. Membiarkan bunyi gemericik air dan serangga malam yang tenang memenuhi indera pendengar keduanya selama satu menit atau dua.

 

Kemudian Kai memulai prosa. “Saat sekolah dulu, aku kagum pada seorang gadis.” Arah pandang mereka kembali lurus ke depan, ke arah gemerlapnya kota Seoul dari atas bukit.

 

“Dia gadis yang kuat. Gadis yang hebat. Tidak cengeng dan tidak pernah mengeluh mengenai hidupnya yang sulit. Dia sedikit tomboy dan suka mengikat rambutnya dengan ikatan kuncir kuda. Dia juga polos, dan lugu. Aku menyukai wajahnya yang berubah semerah tomat kala kugoda. Aku menyukai caranya mengomeliku yang menjahilinya dengan memasukkan katak ke dalam tasnya, ia bilang ‘ia tidak takut katak dan serangga’ sambil mencubit pinggangku keras-keras. Aku menyukai raut mukanya yang cemas ketika aku cedera saat bermain sepak bola. Aku menyukai senyumnya yang secerah mentari pagi. Aku menyukai segala tentangnya.”

 

Kai melepas jaketnya, memakaikan pada Ji Hye yang mulai tampak kedinginan. “Dia agak tertutup dan tidak suka didekati laki-laki. Beruntunglah diriku yang dapat masuk ke tengah-tengah kehidupannya. Namun tak seberuntung itu hingga aku tidak dapat menyentuh hatinya. Aku tidak dibedakan dengan semua lelaki yang pernah menyatakan perasaan padanya. Ia menolak mereka dengan tegas. Dan aku termasuk salah satu dari ‘mereka’. Baginya, aku adalah satu-satunya sahabat, tanpa tempat istimewa di hatinya.”

 

Pandangan Kai beralih pada langit-langit. “Lima tahun telah berlalu semenjak aku menyatakan cinta padanya. Hubungan kami tak lebih dari sepasang sahabat. Sialnya, justru seorang laki-laki terbodoh yang pernah kukenal ketika masuk kuliah, berhasil mendapatkan hatinya. Dan karena pria itulah, ia berubah menjadi perempuan yang feminin, perempuan yang cengeng, perempuan yang lemah dan rapuh. Kini, ia sering menangis sendirian. Aku benci melihat matanya yang sembap, senyumnya yang pudar, hatinya yang lemah. Aku benar-benar membencinya.”

 

Kali ini Kai menutup mata, melanjutkan silabel yang sempat terhenti lima sekon. “Tapi, aku tak akan menyerah. Sampai kapanpun.”

 

Sang pemuda tidak lagi terkejut ketika menyadari wajah gadis di sampingnya telah basah berlinangan airmata. Ia mengulurkan tangannya menangkup kedua pipi Ji Hye, menghentikan butiran lain yang bakal terjatuh menggunakan ibu jarinya. “Aku ingin menjadi satu-satunya yang mampu menghapus airmatanya. Selamanya.”

 

“Maka dari itu, maukah kau memberiku kesempatan, Hye?” tanyanya penuh harap sembari melepas kedua tangan besar nan hangatnya dari pipi si gadis.

 

Ji Hye tak menjawab, lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa.

 

Kai tersenyum samar lantas mengembuskan napasnya perlahan. “Tak apa, Hye. Aku akan menunggu.”

 

Pria jangkung itu bangkit berdiri, meregangkan sedikit ototnya yang kaku karena dingin. “Kau sudah agak baikan? Ayo kita pulang. Udara semakin dingin. Kalau tidak kuat jalan, aku akan menggendongmu sampai ke mobil,” tuturnya sembari mengulurkan tangan ke arah Ji Hye.

 

Perempuan itu menahan tangannya ketika Kai menariknya untuk segera pergi dari situ, membuat si pemuda berbalik heran. “Ada apa lagi, Hye?”

 

“Kalau kuberi kesempatan itu, Jo. Akankah kau memegang janjimu?”

 

Kai terperanjat hebat. “H-hye … kau—”

 

“Aku mau memberimu kesempatan. Tapi …”

 

Sang lelaki terdiam beberapa detik, masih belum percaya. “T-tapi apa?”

 

“L-Luhan … aku … belum bisa ….”

 

“Ya, aku paham. Kau masih belum bisa melupakan Luhan ‘kan? Tak apa. Pelan-pelan saja. Aku bakal membuatmu sepenuhnya melupakan dia.”

 

“Bantu aku, Jo.”

 

“Tentu. J-jadi?”

 

“Jadi apa?”

 

“Kita … jadian?”

 

Ji Hye mengangguk rikuh, sedangkan Kai meledak-ledak. Luar biasa kegirangan. Tanpa aba-aba, ia rengkuh tubuh si gadis mungil dalam dekapan posesif. Dan ini adalah pelukan pertama yang Ji Hye terima dari seorang laki-laki, selain ayah dan adiknya tentunya. Ia lingkarkan kedua lengannya pada punggung muskularis Kai, mencoba menerima kehangatan yang diberikan.

 

“Hye ….”

 

“Hm?”

 

“Kalau aku menciummu, kau tidak akan menamparku seperti waktu itu ‘kan?”

 

Ji Hye membelalakkan matanya, seiring melepaskan pelukannya, sedikit kaget. “Jo … hmppptt.”

 

Agaknya memang akan jadi kebiasaan baru Kai untuk mencium Ji Hye tiba-tiba. Namun ciuman yang kali ini laki-laki itu berikan sangat lembut, hangat, tak ada lagi pemaksaan, tak ada lagi perasaan marah, memaksa Ji Hye tuk menghapus semua ingatan kelam bersama Luhan. Perempuan itu memejamkan matanya. Menikmati tiap perlakuan lembut bibir Kai yang tidak pernah ia dapatkan dari Luhan.

 

Kai menyunggingkan senyum lebar setelah melepas pagutannya dan mendapati gadisnya yang tertunduk malu-malu. Di cahaya temaram ini, Kai dapat menangkap semburat merah menghiasi pipi pualam Ji Hye yang nampak menggemaskan.

 

“Hye, aku mencintamu.”

 

Ji Hye memberanikan diri menengadah, menatap balik ke dalam obsidian hitam Kai. Ia sadar betapa tulus pria ini menyukainya, namun hatinya tak kunjung membalas. “A-aku …”

 

“Tak apa, Hye. Mulai dari sekarang, belajarlah mencintaiku.”

 

“Ya.”

.

***

.

“Lu, maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan kata-katamu,” sesal Anna sembari menengok pria yang sedari tadi diam seribu bahasa di jok sebelah selepas mobil Luhan akhirnya sampai di depan rumah sang gadis.

 

“Sudahlah, Anna.”

 

“Aku tak semestinya meminta cium—“

 

“KUBILANG, SUDAHLAH! AKU TIDAK INGIN MEMBAHASNYA!”

 

Anna berjengit kaget. Selama belasan tahun pertemanan mereka, sungguh ini kali pertama Luhan membentaknya sekasar tadi. Semarah itukah ia hingga berbuat demikian pada sahabatnya sejak kecil? Anna menunduk, menahan tangis. Ia keluar dari mobil Luhan cepat-cepat tanpa mengucapkan pamit. Lalu berlari ke dalam rumah sambil menutupi wajahnya. Gadis itu pastilah menangis dan Luhan memukul keras kemudi mobilnya, frustasi. Apalagi ini? Setelah Ji Hye, sekarang Anna pun menangis karena ulahnya! Luhan kalut. Apa ia harus ke bar malam ini dan mencari wanita yang bisa dibuatnya menangis lagi … di ranjang?

.

***

.

Luhan mendelik sekaligus membuang pandangannya ke lain arah kala mendapati manusia dengan seringai mahabusuk tengah berjalan menghampirinya dan mengambil kursi di dekatnya pagi ini. Bahkan ketika suara bass itu mulai mengeluarkan getaran analog di udara, ingin sekali Luhan sumpal telinganya sendiri.

 

“Kelihatannya kita sudah tahu siapa calon pecundang sebenarnya sekarang.” Kai tertawa-tawa sinis. “Kuberi kau kesempatan untuk menyerah.”

 

“Cih. Jangan sombong dulu, keparat. Karena nanti akulah yang akan membuatmu mendapatkan pengalaman paling buruk ketika Ji Hye lebih memilih datang ke pelukanku.”

 

Alis Kai terangkat meremehkan. Ia menyilangkan kaki panjangnya sembari bersidekap. “Setelah kejadian kemarin, kau pikir gadis itu bakal memilihmu dibandingkan aku? Jangan mimpi!”

 

Luhan tersenyum kecut. Dari angka satu sampai sepuluh, mungkin bisa dibilang kesempatannya untuk mendapatkan Ji Hye hanya dua atau tiga. Ia berada di ujung kekalahan, namun terlalu angkuh tuk mengakui. “Aku pasti akan mendapatkannya kembali, Kai!”

 

—sebab Luhan tahu, ini bukan saatnya menyerah.

.

***

.

Malam itu, sambil menunggu Kai menjemputnya, Ji Hye tengah sibuk merapikan meja dan kursi di gerai kala sang adik kelas sekaligus rekan kerjanya mendekatinya. Alih-alih membantu, laki-laki itu malah diam memerhatikan sembari senyum-senyum sendiri.

 

“Ada apa?” Ji Hye bertanya sebab ia merasa tidak nyaman diperhatikan lama-lama.

 

Noona, aku menyukaimu.”

 

Perempuan itu nyaris saja tersandung kaki meja, bila Jeonghan tidak menarik tangannya dan menghempaskannya ke pelukan. Alhasil pukulan di kepala pemuda itu terima dari sang gadis.

 

“Jangan bicara macam-macam, Jeong. Kalau sudah tidak ada yang bisa dikerjakan, sebaiknya kau pulang. Sudah larut.”

 

Noona, aku serius! Aku sangat sangat sangat menyukaimu, jadilah pacarku.”

 

Ji Hye mengerutkan kening. Seblak-blakan inikah lelaki di hadapannya? Kenal dekat saja, tidak!

 

“Maaf, tidak bisa.” Maka jawaban itu yang Ji Hye pikir paling tepat.

 

“Kenapa?”

 

“Karena … aku sudah—“

 

“Kau masih mengharapkan pria brengsek yang mencampakkanmu itu?”

 

Ji Hye menghentikan aktivitasnya membersihkan meja seakan tertohok dengan perkataan barusan, lantaran gadis itu tahu yang dimaksudkan Jeonghan adalah Luhan. Membawa kembali luka yang susah payah ia pendam. Walau bagaimanapun Luhan adalah satu-satunya pria yang pernah—dan mungkin masih—memenuhi ruang hatinya. Jadi Ji Hye tidak mau berbohong atau berpura-pura dengan mengatakan ‘tidak’, karena pada nyatanya nama Luhan masih tercetak di sana, kendati kini Kai berusaha memudarkannya.

 

“Tinggalkan aku sendiri, Jeong. Aku ingin menenangkan diri. Situasiku sekarang sedang tidak memungkinkan untuk berpikir jernih.”

 

Dan entah bagian mana dari kata-kata Ji Hye yang justru membuat Jeonghan berbinar-binar bahagia. “Apa itu artinya Noona mau mempertimbangkanku? Oke! Aku akan menunggu jawabanmu sampai besok, Noona! Kau pasti tidak akan pernah menyesal menerimaku di sisimu. Besok aku akan bertanding dan setelah aku menang, aku ingin menerima pelukan darimu!”

 

Gadis mungil itu terperanjat hebat. “B-bukan begitu …. Aku hanya—“

 

“Sampai ketemu nanti, Noona. Wah, aku tidak sabar! Daaahhh ….” Jeonghan segera beranjak setelah dengan lancang mengecup pipi si perempuan sekilas.

 

Apa-apaan ini? Ji Hye berdiri mematung dengan mata melotot dan mulut terbuka. Kenapa Jeonghan tiba-tiba menarik kesimpulan begitu? Bagaimana kalau pemuda itu menyebarkan gosip yang tidak-tidak? Bagaimana kalau Kai tahu? Arggghhh … Beban pikiran Ji Hye terasa beratus kali lipat lebih berat sekarang, terlebih ketika ia memutar pandangan pada pintu masuk dan mendapati Kai telah berdiri di sana sembari menatapnya.

.

To be Continued

.

Haloooo Ariska, maaf kalo apdetannya lama banget ya. Maaf juga kalo FF ini jadi gak ngefeeling lagi, entah karena Kaistal atau karena aku nulisnya yang makin ngaco ahaha. But, I do my best (jangan marah karena Kai-nya kubuat jadian sama Ji Hye yah) 😛 Di chapter ini aku harap tentang Kai udah terungkap semua, jadi nanti fokus ceritanya ke Luhannya aja hehe. BTW, ini belum nyampe klimaks, masih ada konflik-konflik yang lain.

Akhir kata, maaf banget kalo mengecewakan. Aku janji tebus di chapter selanjutnya. Ihikkkk. Buat readers tersayang, jangan pada tinggalin aku ya. Keep supporting me, please! Kalau enggak, Luhan nanti bisa sedih dan mogok syuting 😥

tumblr_nis36xJztp1rfdshmo1_r1_500

Advertisements

23 thoughts on “Regret (Chapter 6)

  1. It okay that GOOD. . .
    I GOT A GOOD GOOD, I GOT A GOOD GOOD!!!!*thatgoodmodeon
    Hallooo desoooooyyyy!!!! Iya gpp dear ^^ syeneng kamu masih semangat buat part si bang kai/plis bacanya jan disambung/ aku aja masih kitati ama berita ituu yeeah tapi apalah daya kita cuma fans doang yg cuma bisa terima kalo biasnya mendapatkan THE RIGHT ONE!!!!

    Masih dapet kok feelnyaa tapi yaah itu aku agak kesel kenapa ji hye jadian sama kai. . . Kenapa gak sama ade jeonghanie???

    Ehehe gpp kok saaay nyantai aja iih yg penting aku terhibur sama cerita kamu. . As always!!!! Dan aku juga mau minta maaf karena ff dyonya belum bisa lanjuu/deepbow/

    SEMANGAT TERUS UTK FF DAN JUGA REAL LIFENYA sayaaaang ^^ bang dyo always behind youuu!!! Luph youuuu

    Like

  2. luge…
    aduh kejar jihye ge..
    pisahin jihye ma kai..
    jihye cman buat luge..
    chapter slnjutnya hrus pnjang ya..
    smngath thor..

    Like

  3. Jihye ternyata banyak penggemarnya, tapi aku masih aneh sama Jongin..
    Kenapa dia taruhan sama Luhan kalo emang dia suka sama Jihye??
    Jangan bilang kalo Jongin ada niat jahat sama Jihye???
    Ditunggu next chapternya ^^

    Like

  4. Rasanya gak rela Jihye jadian sama Jongin, pleaseeree.. aku masih berharap kalo Luhan Jihye bisa rujuk – ya walau gak sekarang sih, soalnya aku ingin liat Luhan terluka, menyesal dan terpuruk dulu. Tapi Jihye mulai membuka hatinya buat orang lain, pleaseee no! Dan aku merutuki kebodohan Luhan yang cuma bisa diem pasca Jihye melihat adegan tak senonohnya itu. Please, apa Luhan gak punya mulut?bukannya ngejelasin dari a hingga z, dari awal hingga tuntas – tapi disini Luhan hanya bisa berdiam, Layaknya seonggok patung? Geeez… i wanna to kill you deer…

    Like

  5. 5 tahun lamanya jongin mencintai jihye dan gak dibales2. Kasian juga ya dirimu jong😢. Jihye napa dibuat jadian ama kai sih?? Kai kan udah ada yg punya, ntar kalo si jutek itu tau bisa gaswat loh. Ntar mereka bertengkar trus putus deh HAHAHAHAH (berharap kaistal putus🙏😂) (anti kaistal🙅)
    Cieeee jihye disukain banyak cowok. Mau dong jadi jihye wkwk
    Okai ditunggu ya next ya😉 jgn lama lama ok beb😚

    Like

  6. KAKDESS KAKDEESSS /YES GASALAH PANGGIL LAGI UHUK/ DEMI APA INI FIC JADI SEMAKIN KETJEH DAN OMG BANYAK BANGET KAK KONFLIKNYA DUDUDU BELUM SELESAI SAMA LUHAN EH ADA KAI NAH SEKARANG SI DD JUNGHAN JUGA IKUTAN NIMBRUNG, YAWLAH SEJAK KAPAN ITU DDJUNG JADI GENIT NA’UZUBILLAH GITU TT.TT

    AAAH POKOKE INI FIC MAKIN KETJEH DEH KAK HUHU TAK TUNGGUIN LANJUTANNYA YAAA, MBAAY LUV KAKDESS ❤

    Like

  7. Haiii reader aku baru di blog ini nihh hehe. Malem ini (12:18 am) aku udah baca seri regret 1-6, tp maaf yaaa gak kirim komen di masing masing tempat karna aku langsung ingin komen di chapt yg ini.
    Btw regret bagus bgt!!!! Aku paling suka genre genre angst hehe
    Enak banget deh hidup jd jihye disukai tiga cowo sekaligus (meskipun menyedihkan). Kalo aku jd jihye sih otomatis langsung pilih kai. Yha meskipun hati tak bisa dibohongin.
    So buat jihye, go listen to your brain not your heart, pikirkan dengan logika dan akal mu jgn dengan hatimu, jika kamu ingin hidup bahagia.
    Next chapt nya ditunggu heheheh

    Ps: maaf cmn komen di satu chap hehe

    Like

    • Halo chingu… Maaaaafff banget banget banget. Utk saat ini ff nya dipending dulu ya, selama dua bulanan lagi, berhubung akunya lagi hiatus nulis fanfic krn sedang sibuk Tugas Akhir dan persiapan sidang. Maaf ya 😥 ff ini pasti aku lanjut setelah semua masalah perkuliahan aku beres kok 🙂

      Like

    • aduhhh… sebenernya chapter 7 udah setengah jalan chinguk. mendadak hilang ingatan jd belom dilanjut XD pasti langsung kupost kok setelah beres.
      bisa kok di follow klik aja di tanda garis tiga di sebelah kanan atas. entar ada tulisan follownya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s